Different World: Dandelion

Different World: Dandelion
Monster



Hutan masih sunyi, Mereka tidak banyak bicara.Semilir angin senja menghanyutkan Revan dalam lamunan, Antara percaya dan tidak, kini dia benar benar berada di masa depan .


"Apa?"Rey bertanya kepada Arin yang menatap nya heran.


"kamu tidak terkejut?" Arin membalikkan pertanyaan. Revan hanya diam dan mulai mengenakan pakaian nya kembali , sedangkan Dio mentap keduanya dengan wajah datar.


Rey melangkah pergi tanpa tahu tujuan nya, Arin segera menahan."Mau kemana?"Tanya Arin dengan tangan nya yang masih menggenggam pergelangan tangan revan.


"Jakarta"Jawab nya singkat.


" tau jalan?" Revan tampak berfikir kemudian mengurungkan niatnya dan kembali duduk di dekat perapian.


"Dasar konyol" Ucap Arin dengan sedikit senyum simpul .Revan menatap Arin tanpa sepatah katapun,Dia berharap semua ini tidak nyata dan dia akan segera bangun dari mimpinya.


"tak ada apapun disana, hanya monster Monster jelek yang berkeliaran di malam hari" Arin bercerita sembari menghangatkan tubuh, Sedangkan Revan hanya menatap api tidak berpaling sedikit pun.


"Bukan kah sebentar lagi malam" Tanya Revan tanpa sadar ucapan nya menggangu arin,Arin mentap dio setelah mendengar ucapan Revan .


"Bodoh , " Arin mengumpat lagi, ia memimpin jalan untuk pulang.


" Kemana?" Revan bertanya dengan suara tanpa gairah . " kamp area 600 , disana kami tinggal . jika ingin, pergilah bersama kami " Arin menawari Revan untuk datang ke kamp nya.


"lagi pula aku tidak punya tujuaan lain". Jawab revan singkat lalu berdiri mengikuti langkah Arin.


Suara gemerisik gesekan daun yang tertiup angin membuat Revan bergidik ngeri, Matahari sudah tenggelam seluruhnya, hanya menyisakan sedikit Cahaya jingga di ufuk barat , nampak raut wajah tidak tenang arin, bukan kegelapan yang ditakut kan ,Namun sesuatu yang bersembunyi di balik ke gelapan, berbahaya dan patut di waspadai.


Srek.. srek.. srek..


Arin mengangkat tangan mengisyaratkan untuk berhenti, Mereka menghentikan langkahnya,Arin mengarahkan yang lain untuk bersembunyi di balik pohon. Suara itu masih terdengar jelas, Revan yang masih trauma setelah di kejar kejar serigala siang tadi hanya mengekor di belakang Dio.


Arin memberanikan diri untuk lebih dekat, Suara tersebut berasal dari Semak semak ,jarak nya hanya sekitar 20 meter, Langkah kaki nya tampak penuh kehati-hatian,ia tidak ingin melakukan kecerobohan yang dapat mengancam nyawa mereka . Sedikit lagi arin sampai di semak semak , Namun dasar nya Revan Menyebal kan ,Dia melemparkan kayu ke arah Arin dan membuat nya melompat mundur .


Seekor kelinci melompat keluar dari persembunyian, Gerakan arin tadi telah mengganggu makan malam nya . Arin tampak marah hendak memukul Revan yang tertawa terpingkal pingkal, Namun ia menghentikan langkahnya dan menatap Revan dengan tatapan beku,begitupun dengan Dio ,eksperinya terkejut lalu mengarah kan busur nya kearah Revan .


Revan yang menyadari gelagat Aneh mereka hendak membalik an tubuh nya kebelakang, namun arin menggelengkan kepalanya . Arin mengambil pedang di belakang tubuhnya, tangan nya mengisyaratkan ke arah dio, 3.. 2.. 1.. saat semuanya jari Arin menutup Dio melepaskan anak panah nya dan dengan cepat mengisi ulang. Saat anak panah tersebut melesat dan melewati Revan,Arin berlari dengan kekuatan penuh dengan pedang yang di genggam kuat. sayang nya sebelum arin Sampai monster itu telah mendapatkan Revan dan mencabik-cabik nya.


Belum Sempat Revan berbicara ,Arin menarik tangan Revan ."Berdiri"Arin memapah Revan yang masih dalam keadaan syok .


Dio segera membantu memapah , karena keadaan gelap gulita Dio tidak sengaja menyentuh lengan revan Yang digigit monster .Argghhh Revan berteriak dan segera di tahan oleh arin , tanpa bicara sepatah pun Mereka segera memboyong Beban mereka ini ke tempat yang lebih aman .


saat sudah cukup jauh dari tempat kejadian, Arin mengehentikan langkah nya karena menyadari sesuatu.


"Bukan nya tangan mu yang terluka, Kenapa berlagak pincang" Arin memeriksa kaki revan mulai dari jari jari kaki hingga ke selangkangannya semua aman aman saja .


Revan tersenyum menampakkan baris baris Gigi nya yang rapi, sedangkan Arin hanya menggerutu dibuat kesal berkali kali dengan orang menyebalkan ini . Arin melangkah pergi dan meninggalkan Revan di belakang sedangkan dio hanya menahan tawa setiap kali melihat mereka bertengkar .


"Bukan aku yang salah, kamu yang memapah ku terlebih dahulu, Aku hanya mengimbangi" Goda Revan sembari menyusul langkah Arin yang semakin cepat .


" mengimbangi Apa?" Tanya arin yang berhenti sejenak kemudian menendang betis bagian luar Revan.


"ouwhh" keluh revan lirih saat kaki Arin tak lagi terkontrol dan hampir saja menghempas nya .


"Kita beristirahat disini" ucap Arin sembari menatap pohon yang cukup besar di hadapan nya.


"Disini?"tanya Revan mengkonfirmasi. Sementara Revan dan Arin bertengkar .


Dio sudah memanjat lebih dahulu "Aman" ucap dio mengisyaratkan.


Arin menatap luka Revan yang masih menganga, Ia menarik lengan Revan mencoba mebasuh luka nya dengan alkohol dan membalut luka revan dengan kain yang ia simpan di dalam kantong kecil nya . Revan menatap gadis ini dengan tatapan yang tidak biasa,ada perasaan campur aduk yang tidak bisa ia jelas kan, dia sadar apa yang terjadi, Respon tubuh nya atas perlakuan arin ini menandakan sesuatu , Sesuatu yang tumbuh dan membuat dada nya berdebar debar lagi .


"Dio.., Bantu Rey Naik "pinta Arin kepada adiknya itu.


Dio segera turun dan membantu Revan naik dengan cara menjadi batu pijakan nya. Revan naik di atas pundak Dio dan mulai merangkak keatas, Meskipun berat ia tetap menunggu di bawah dan memastikan Revan sudah aman . Revan yang sudah sampai di Cabang pertama mulai naik lagi ke batang kedua dan seterusnya, Sampai lah dia pada tempat yang cukup tinggi.


Setelah Revan aman ,Arin segera menyusul untuk naik . Ia membereskan barang-barang nya dan mulai memanjat, Sedangkan dio masih mengawasi area sekitar menunggu kakak nya Sampai ke atas.


"Rin" Dio memanggil kakaknya ,saat arin Menoleh dio melemparkan tas nya yang tertinggal di bawah. Dio mulai memanjat menyusul mereka setelah me mastikan tidak ada apapun yang tertinggal.


Malam itu mereka lewati dengan menjaga satu sama lain , Entah apa yang akan terjadi selanjutnya,Namun , tidak ada alasan untuk takut jika masih ingin hidup.