
2 Jam kemudian, Orang yang terluka itu mulai menunjukkan tanda tanda kesadaran, Perlahan-lahan ia membuka mata nya ,ia mencoba menggerakkan tubuhnya meskipun kesulitan. Arin membantu orang tersebut untuk duduk dan menyandarkan tubuh nya ke dinding.
"Bagaimana ? "Arin bertanya sembari membantu nya bangun , "Nyeri . "Jawab orang itu Singkat.
"Yang Lain Bagaimana?"Orang asing tersebut tampak mencari cari sesuatu,
"Maaf.. tidak ada yang selamat" Jawab arin berupaya menenangkan nya. Orang tersebut tertunduk lesu penuh penyesalan,Ia merintih pelan saat tubuhnya melakukan gerakan.
"Jangan Banyak bergerak,Luka mu baru saja di jahit, Tak lama pasti akan membengkak" Seru Arin berusaha menahan orang tersebut yang sedang mencoba berdiri. orang tersebut menurut dan kembali pada posisi nya semula.
"Aku Arin , Ini adik ku Dio dan yang duduk di sebelahnya itu Revan"Ucap arin memperkenalkan mereka satu persatu
"Panggil aku Zein, Terima kasih sudah menolong ku"orang asing tersebut mengaku bernama Zein.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa kondisi mu sampai separah ini, bagaimana dengan mayat mayat di basemen itu" Tanya arin kepada Zein yang sedang menahan sakit.
"Kami Sedang dalam misi memberantas philax di Area ini, Sayang nya kami kalah jumlah dan menjadi mangsa empuk monster monster sialan itu" Zein menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Saat itu kondisi ku sudah begini,luka lebar ini terkena tebasan monster,Masih dalam keadaan setengah sadar , mereka membawa ku ke tempat ini.Setelah nya aku tidak ingat apapun"Ucap Zein melanjutkan ceritanya yang terpotong
Arin mendengar kan cerita Zein dengan seksama,"Ini minum lah terlebih dahulu"Arin memberikan sebotol air kepada zein agar terhidrasi,Zein menyambut nya .
"Jadi bagaimana?, Kondisi mu tidak memungkinkan untuk kami tinggal. ikutlah bersama kami ke area 600 " Dio menyela percakapan kakak nya,Zein tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menolak tawaran itu.
"Tidak usah, Tinggal kan saja aku disini ,Teman teman ku akan segera datang" tolak zein ragu.Arin merasa tidak tega bila harus meninggal kan nya , iya mendiskusikan masalah ini dengan adik nya terlebih dahulu.
"Gimana? "Tanya arin kepada mereka berdua,
"Ayolah Rinn.., Dia sendiri tidak ingin pergi " Sela dio dengan kebimbangan Arin
"Kamu liat kan kondisinya.. , Dia gak akan bertahan sampai besok pagi . Memang nya ada kepastian teman teman nya akan datang, bagaimana jika mereka datang terlambat sedangkan Zein sudah tidak bernyawa lagi" Arin menjelaskan berusaha meyakin kan mereka berdua.
"Oke.. Stop.. Stop. jangan berdebat lagi, Kita bawa Zein tapi bukan ke kamp, Cari tempat yang sekiranya bisa di tinggali. Gimana?" saran Revan di sela sela perdebatan adik kakak tersebut. akhirnya Dio menghentikan kegiatan nya, ia setuju dengan ide Revan , begitupun dengan Arin.
Revan yang pergi sedari tadi telah kembali, ia mebawa sebuah kain yang cukup lebar."Kita bisa menggunakan ini untuk membawanya. " ucap revan Sembari memberikan kain itu kepada Arin.
Mereka segera merakit sebuah tandu untuk membawa Zein, Revan cukup mahir dalam bidang ini, dalam sekejap tandu buatannya siap di gunakan. Dio memapah Zein untuk di naik kan keatas tandu, Setelah siap Revan membantu membawa tandu tersebut. Dio berada di depan sedangkan revan memegang ujung di belakang, Arinn memimpin jalan melangkah terlebih dahulu mencari jalur yang bisa mereka lalui.
Beberapa kali mereka beristirahat , Zein yang merasa bersalah karena menyulitkan mereka berinisiatif untuk berjalan sendiri. Namun Arin tidak mengizinkan nya karena luka nya bisa saja terbuka lagi. Zein tak dapat berbuat apa apa karena mereka bersikeras membantu.
Mereka sampai ke tempat tujuan,benar yang dikatakan dio tempat ini masih layak untuk dihuni. meskipun sudah kosong bertahun tahun namun masih tetap terlihat kokoh . Arin memerintahkan mereka membawa Zein kedalam rumah , Mereka mencari tempat yang sekiranya aman.
"Disini saja"ucap arin saat mereka tiba di ruang Tengah yang cukup luas, Revan mencari dipan untuk tempat Zein berbaring sedang kan dio memeriksa area sekitar memastikan tempat ini benar benar aman.
Revan masuk ke dalam ruangan dengan membawa meja makan yang lumayan panjang,ia meletakkan di sudut ruangan dan membantu Zein berbaring di atas nya.
"rey. Jendela nya lebih baik dipasang penghalang " Pinta arin terhadap Revan yang masih membetulkan posisi Zein. Pintu dan jendela sudah mulai rapuh mereka harus segera memasang penghalang agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Revan mencari kayu di sekitar ,ia menemukan 5 buah yang tergeletak di teras rumah . satu persatu jendela yang rapuh itu ia segel dengan kayu kayu yang barusan dia dapat .
Dio yang sebelumnya pergi berkeliling telah kembali, ia membawa seekor Ayam hutan untuk santapan mereka hari ini, Revan tampak bersemangat dengan perolehan Dio, dia menawarkan diri yang akan memasak nya.
Dio menatap revan menyelidik, Baru sejauh ini Revan menawarkan bantuan. arin segera mengambil buruan dio dan memberikannya kepada revan,Revan menerimanya dengan bersemangat .
Revan mulai membuat api di belakang rumah, sebenarnya saat ini mereka hanya bisa memanggang daging tersebut karena tidak adanya bumbu bumbu, tidak mengapa dengan Revan ,mungkin dia sudah sangat lapar.
Sembari menunggu Revan menyelesaikan pekerjaan nya,Dio duduk termenung dengan belati kesayangan nya . Arin mengimbangi dan menemani nya , mereka sedikit mengobrol tentang kejadian kejadian yang pernah mereka lalui bersama, Disitu arin terlihat sangat antusias tanpa sadar ternyata Revan selalu memperhatikan nya dari kejauhan.
Senyum simpul itu terlukis begitu saja di wajah ayu Riana, Ia menelisik jauh kedalam ingatannya bagaimana dulu mereka hidup bahagia sebelum orang tuanya meninggal. Dio menggenggam tangan arin berusaha menguatkan nya, Dia meyakinkan mereka saling memiliki satu sama lain .
"Makan malam siap" Revan yang datang dengan ayam panggang nya membuyar kan obrolan adik kakak tersebut. Revan meletakkan ayam tersebut diatas daun pisang yang sebelumnya sudah dia bersihkan.
dio membantu Zein duduk , ia memberikan seporsi ayam untuk zein Makan,Zein mengucapkan terima kasih atas perlakuan hangat mereka. Sore itu Mereka menutup hari dengan gurauan dan candaan, mereka bersemangat saling mencurahkan isi hati masing masing . hubungan mereka semakin erat, tidak peduli malam akan segera datang, tidak peduli bagaimana mereka akan melewati malam , detik itu juga semua kekhawatiran itu sirna tergantikan rasa nyaman ikatan kekeluargaan.