
Air terjun yang disebutkan Arin memiliki ketinggian kurang lebih 5 meter, Di sekitarnya di tumbuhi pohon perdu dan Semak semak yang cukup lebat, Banyak bebatuan besar yang tersusun acak akibat erosi air.
Benar saja, Sesampainya mereka di air terjun tersebut , nampak Dio tengah membuat api hendak memanggang ikan. Tanpa banyak bicara Arin segera menghampiri dan memeluk adik satu satunya itu. ia memeriksa satu persatu secara bergantian seluruh tubuh dio memastikan dia baik baik saja.
Plakk.. Plakk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi chubby dio"sekali lagi di ulangi bukan cuma tangan, tapi Busur ini yang akan menancap di kepala mu"Ancam Arin kesal dengan kecerobohan adik nya, Dio hanya meringis menahan sakit sedangkan Revan bergidik ngeri mendengar cekcok kedua adik kakak tersebut.
Dio masih tampak bingung dengan respon kakak nya, tidak menyangka ia akan mendapatkan pukulan Arin yang legendaris. bukan pertama kalinya Arin seperti ini, meskipun Arin bersikap kasar dan terkesan mengekang, Namun jauh di dalam hatinya ia sangat menyayangi adik nya.
Setelah melampiaskan kekesalannya, Arin menanggalkan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan sepasangan bikini berwarna cream,ia menceburkan diri ke dalam kolam dan berusaha mendekat ke tempat jatuhnya air terjun untuk merasakan sensasi tersendiri. Revan hanya terpaku melihat pemandangan indah di hadapan nya, Darah nya berdesir, wajahnya tampak tegang , Pikirannya sudah tak dapat dia kontrol ,Ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu sebelum arin menyadari gelagat aneh nya.
"Apa apaan ini, konyol.. sangat konyol" Berulang kali ia memaki dirinya sendiri, ia masih belum bisa menerima perasaan itu kini telah Tumbuh subur di dalam hatinya. Revan menelusuri hutan di sekitar sembari menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk, ia melangkah tanpa tujuan di tengah tengah hutan hujan tropis.
Sedangkan Arin masih asyik berenang tanpa memperdulikan Dio yang sibuk dengan ikan bakar nya,"Mana Revan?"Tanya arin kepada adik nya tersebut ,Dio membuat gestus tidak tau keberadaan mahluk purba tersebut , Arin segera menyudahi kegiatan nya tersebut dan mengenakan kembali pakaiannya.
"Ayok . . "Ajak arin pada dio yang masih memadam kan api dengan air.
Arin mengambil busur dan pedang nya yang berada tak jauh dari dio, ia mengaitkan anak panah ke punggung nya . setelah siap tak ada yang tertinggal mereka segera menyusul Revan yang sudah pergi lebih dahulu.
Disisi lain Revan yang sudah lebih dulu pergi menemukan jalan setapak yang mengarah ke sebuah Rumah yang terbengkalai, Ia menyusuri jalan hingga sampai ke muka pintu rumah. halamannya di tumbuhi tanaman semak yang sudah mengering , terdapat pula beberapa pohon mangga yang tengah berbuah lebat.
ia melihat ke sekeliling , tidak ada apapun yang menarik kecuali Sebuah lumpur yang berbentuk sepatu orang dewasa. ia memeriksa dengan seksama, lumpur tersebut masih basah itu artinya ada orang lain yang belum lama ini datang ke rumah ini.
" Ada apa?" Tanya Arin yang tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya, Revan terkejut dan hampir saja terjengkang .ia segera berdiri dari posisi sebelumnya yang tengah berjongkok.
" Jejak sepatu, masih Baru" Ucap Revan Sembari menunjukkan temuan nya , Arin segera memeriksa jejak tersebut ,ia sedikit mengambil lumpur dan membenarkan deduksi Revan.
"Masuk .. Tidak..?" Arin bertanya kepada mereka berdua apakah mereka memeriksa rumah atau tidak, Dio tidak menanggapi dan asyik memainkan belati nya, berbeda dengan Revan tanpa pikir panjang ia memilih mengikuti kemana arah jejak itu berakhir.
Revan memimpin jalan masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar, ada bekas sayatan di beberapa titik seperti bekas pertarungan. Kondisi rumah sudah kacau balau , beberapa barang yang tertinggal tampak sudah berjamur dan tertutupi debu tebal, Jejak sepatu tersebut terlihat jelas karena debu debu tersebut. jejak nya bukan hanya satu, namun ada beberapa lagi yang tampak tak beraturan.
Krtakkk . .
kkkrrrkkk. .. kk
Brakkkkk . . .
Bugghh. .
Lantai tempat arin berpijak tak mampu menahan beban nya yang hanya 50 kilo gram, ia terjatuh kedalam Ruangan bawah tanah di bawah kaki nya. "Rinn.. " Revan Spontan berteriak dan menghampiri segera memastikan tak terjadi apa apa, " .. Aman " Arin merespon dengan posisi telentang yang masih sama saat ia terjatuh, beruntung tempat nya terjatuh dipenuhi tumpukan jerami kering.
"cari jalan masuk, jangan kemana kemana" Dio membawa Revan dan memerintahkan kakak nya untuk tetap di tempatnya, sedang yang dia perintah malah menjelajah ke seluruh isi ruangan. Arin memeriksa lemari lemari di sekitar nya yang terlihat sudah lama tidak di buka.
Dio yang mencari jalan masuk tampak tercengang setelah menuruni tangga,Di hadapan nya kini terdapat 3 Orang dengan tubuh yang sudah tak berbentuk, Beberapa bagian tubuh nya telah terlepas dari tempat nya. Revan yang menyaksikan pemandangan di hadapan nya kini tak sanggup menahan mual , Berbeda dengan dio yang tampak lebih tenang, Mungkin dio sudah lebih sering melihat mayat di banding si mahkluk purba.
Dio melangkah kan kaki nya perlahan menghindari darah yang yang tergenang di lantai, bukan hanya di lantai saja tapi di seluruh dinding pun juga terkena bercak darah. Revan tidak sanggup melihat pemandangan di hadapan nya,ia melangkah dengan sengaja menutupi hidung nya menghindari bau amis yang menyengat . ia menemukan pintu ruangan bawah terhalangi dari luar, Revan membantu Dio memindahkan tumpukan kotak yang menghalangi pintu.
"Dioo.. " Arin Yang berada di dalam Ruangan berteriak keras memanggil adik nya, Dio yang mendengar teriakannya segera berlari menghampiri. "Kenapa?" Dio bertanya Sembari mengatur nafas nya yang tersengal sengal, begitupun dengan Revan yang mengekor dibelakang.
Seseorang tengah terluka berada di dalam lemari penyimpanan, terdapat luka yang cukup lebar di Dada orang tersebut, Dio memeriksa kondisi nya . "Masih hidup " Ucap dio singkat setelah memeriksa orang asing tersebut , Arin yang sedari tadi menatap nya meminta Dio membawa orang tersebut keluar dari basemen. Mereka cukup berhati-hati membawa orang tersebut agar pembuluh darah nya tidak pecah dan menimbulkan banyak pendarahan, Revan membantu memapah orang tersebut meninggal Ruangan.
"Kemana?"Tanya Dio singkat dalam posisi yang masih sama, "Bawa ke halaman"Arin yang menuntut jalan menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah dipan ,ia memerintahkan agar orang tersebut telentang di atas dipan.
Ia buka pakaian orang tersebut dan mulai menyeka darah di tubuhnya, Luka di dada orang tersebut sepanjang 15 cm deng lebar 3 cm. Arin membersihkan luka orang tersebut agar tidak mengalami infeksi, Arin membuka perlengkapan p3k nya hendak menjahit luka orang tersebut tanpa bius . Raut wajah orang asing tersebut tampak kesakitan saat satu persatu jarum mencekeram menembus kulit tubuh nya , Revan yang tidak sanggup menyaksikan pemandangan seperti ini membalikkan badan tidak berani melihat.
"Kita beres kan mayat di dalam" Dio mengajak Revan untuk menangani mayat mayat yang masih tergeletak di ruang bawah, Revan hendak menolak namun pada akhirnya ia tetap melakukan nya . Dio mencari kain untuk mengumpulkan bagian tubuh mayat tersebut, Revan melakukan nya dengan raut wajah ngeri. setelah terkumpul seluruhnya mereka segera menyemayam mereka ke dalam tanah yang lokasinya di halaman rumah.
Arin telah menyelesaikan pekerjaan nya , Ia membalut luka luka orang tersebut dengan kain perban, luka di punggung, Di lengan bahkan di pelipis orang tersebut sudah di tangani dengan baik. Arin meninggalkan orang tersebut membiarkan nya beristirahat menunggu pemulihan. sedang Revan dan dio hanya duduk termenung di ambang pintu.