Different World: Dandelion

Different World: Dandelion
Prolog



    Satu dari banyak nya penyesalan yang tak sempat tersampaikan dari  seorang pemuda berdarah bangsawan,  menyimpan rasa bersalah yang menyiksa selama bertahun-tahun. Revan Wiyanda ,satu satunya yang masih bersimpuh diantara Gundukan tanah ber nisan .


Raut wajahnya Tampak sendu, mata nya sembab akibat tangis yang tertahan. Di hadapan nya , Terdapat pusara tertanda atas ARUM ANGGRAINI Milik mendiang Ibunya yang meninggal belasan tahun yang lalu.


   Bukan tanpa sebab luka di hati nya kian membengkak, Peristiwa yang telah merenggut nyawa ibunya sebab kecerobohan nya sendiri . Hingga detik ini,rasa bersalah itu enggan pergi dan menetap menjadi cindera mata menyakitkan dalam nostalgia kenangan nya.


  saat insiden memilukan itu terjadi Usia nya masih 15 tahun, ia terlibat aksi kejar kejaran dengan sesama komunitas Supercar dijalan raya yang tengah ramai lalu lintas . pukul 19:15 WIB , Lamborghini Huracan evo awd milik nya melesat dari Arah Utara dengan kecepatan 120km/jam menerobos lampu merah dan Menghantam sebuah SUV putih di persimpangan jalan .


    Terlepas dari Lamborghini milik nya yang terbalik dengan kerusakan sedang Di Bahu jalan, nasib SUV putih tidak seberuntung itu . Mobil itu terpental sejauh 15 meter sebelum akhirnya berhenti berguling diatas jalan aspal yang sudah bercampur bercak merah dan bagian mobil berserak ke sembarang arah tak berbentuk lagi.


    di dalam Lamborghini dengan posisi yang masih terbalik , Mata nya melirik ke arah SUV putih dengan ekspresi tak terbaca. Ia tidak memedulikan lagi rasa sakit akibat pecahan pecahan kaca yang tertancap dan merobek beberapa titik bagian tubuh nya. luka itu tidak Sebanding dengan perih hati nya saat ini , SUV Milik ibunya kini sudah tak berbentuk lagi . detak jantung nya tak beraturan  , ia kehilangan banyak darah . Penglihatan nya mulai kabur, Samar samar ia melihat SUV itu terbakar sebelum akhirnya semuanya Gelap .


Revan Sudah tidak lagi berada di area pemakaman, mengikuti langkah kaki nya yang panjang. Masih dengan setelan Kemeja Putih dan Celana Abu abu slimfit membuat bentuk tubuh ideal nya menjadi perbincangan gadis gadis sejauh ia melangkah. ia masuk ke sebuah cafe retro dengan ciri khas aroma kopi Arabika yang kuat .


Tempat favorit nya adalah Meja paling sudut di lantai dua dengan 4 kursi yang material keseluruhan nya adalah kayu. di tempat itu pula ia sering menghabiskan waktu bersama ibunya dahulu, kenangan kenangan indah itu sulit dilupakan , bahkan setiap kali ia datang ,ia merasakan kehadiran ibunya yang tengah menunggunya datang dengan Senyum seribu Rahasia.


tap.. tap.. tap..


gadis berpakaian waiters membawakan pesanan di atas nampan hitam , Segelas capuccino hangat dan seporsi spaghetti carbonara . dengan senyum nya yang Ramah seperti biasanya ia meletakkan satu persatu hidangan layaknya melayani seorang putra mahkota.


Sang waiters masih berdiri setia "ada pesanan yang lain mas?" waiters tersenyum ramah menunggu jawaban pelanggan nya .


"ini Udah Cukup" Revan mengisyaratkan puas atas pelayanan waiters tersebut.


" Ada titipan untuk mas Revan,dari pemilik cafe" waiters memberikan sebuah amplop putih dari balik saku nya .


Revan hanya mengernyitkan dahi memegang amplop tersebut sembari menatap waiters yang kini melayani pelanggan lain.


Tidak ada yang spesial dari amplop tersebut kecuali bentuk nya yang sudah lusuh dan usang , Terdapat secarik kertas , Sebuah Kunci dan Foto yang tampak seperti Rumah terpencil di area Perbukitan. Revan membuka surat "Arum" , Jantungnya berdegup kencang tatkala membaca nama yang tertulis dalam surat tersebut .


..."Rey, Ini Mama...


...Pasti Sudah 2030 bukan? Jika surat ini sudah ada di tangan mu , itu Artinya mama sudah tidak ada di Dunia . Selamat Ulang tahun Sayang , Kesayangan mama pasti sudah dewasa .Jangan sedih Rey, Banyak sekali hal yang ingin mama ceritakan, Namun waktunya tidak tepat. kamu masih terlalu muda untuk memahami. usia mu sekarang sudah matang, Sudah sepantasnya kamu mengetahui nya . Datang lah ke alamat di balik foto rumah tersebut, ibu akan menunggu mu disana. Salam hangat sayang. mama sangat menyayangi mu"...


surat yang selesai di baca ia genggam sangat kuat , perasaan nya campur aduk antara sedih dan bingung . dalam benak nya ia berharap ibu nya benar benar masih hidup dan menunggu nya di pondok itu, namun itu semua mustahil. masih dengan jelas iya ingat , bagaimana api melahap SUV putih itu tak bersisa. lalu kejutan macam apa yang ada didepan , Fakta seperti apa yang akan ia dapatkan.


Tak banyak berfikir segera bergegas . dua lembar uang seratus ribuan ia tinggalkan di atas meja untuk makanan yang belum disentuhnya.langkah nya tak lagi berirama,ia tergesa gesa dan terkadang berlari kecil. beruntung cuaca sangat bersahabat , tidak akan memakan banyak waktu untuk perjalanan nya ke Bogor.


ia melangkah menuju mobil sedan hitam yang terparkir di halaman cafe, sekejap dia sudah mengendarai nya . satu hal pasti yang saat ini sedang dia tuju , kediaman Supir pribadi ibunya dulu .


jalan gang menuju kerumah pak dirmo tidak bisa di lalui mobil, Revan terpaksa memarkir mobilnya nya di di pinggir jalan. dengan langkah pasti ia membawa tubuh nya pada sebuah harapan, harapan pak dirmo supir ibunya dulu mengetahui letak pasti rumah tersebut.


Saat itu, Pak dirmo sedang mengutak-atik kursi kayu Yang tampak masih baru di buat.


"Siang Pak " revan menyapa ramah , pak dirmo Menoleh mendengar suara yang tidak asing.


"Tuan Muda" pak dirmo tampak terkejut dengan kedatangan mantan majikan nya dulu.


"Apa kabar nya?, Lama bapak nggak liat udah gagah sekali sekarang ." tanya pak dirmo sembari membersikan tangan nya dengan Kain hitam.


"Mari masuk biar nanti Mak ida buat kan minum" revan hanya menurut menerima ajakannya.


di dalam ruang tamu seluas 4x4 , Revan menikmati secangkir kopi buatan mak ida. sudah sangat lama dia tidak mengunjungi rumah ini, sudah 10 tahun pula ia tidak bertemu dengan pak dirmo sekeluarga . dulu saat ibunya masih hidup, dia sering datang ke rumah ini untuk bermain dengan anak laki laki pak dirmo. namun sayang, Anak itu meninggal di usia nya yang ke 12 tahun karena terlambat mendapat tindakan medis setelah mengalami kecelakaan .


revan mengatur nafas nya untuk memulai percakapan, "saya butuh bantuan bapak" terus terang mengatakan maksud dan tujuan nya datang.


revan menunjukkan foto pemberian ibunya " Bapak tau lokasi tempat ini?" tanya revan penasaran.


Lama pak dirmo berfikir, dia masih meneliti foto tersebut. "Iya bapak ingat, bapak yang memotret ini . dulu nyonya sering minta di antar ke tempat ini" jelas pak dirmo setelah menelaah ingatan nya.


" Bisa bapak antar saya kesana, saya mohon pak " revan memelas .


pak dirmo diam sejenak " Revan yakin mau kesana, tempatnya sangat terpencil. takutnya nanti revan nggak nyaman" jelas pak dirmo meragukan tekad Revan.


" Saya yakin pak, mama sering kesana , pasti itu tempat yang sangat berharga" jelas revan tanpa ragu sedikit pun.


" Baiklah bapak antar, tapi bapak tidak bisa menginap. bapak harus pulang setelah mengantar Kamu .


" terima kasih pak " revan memeluk pak dirmo dengan bahagia. mereka bergegas,namun sebelum itu ia harus menghubungi sekertaris nya bahwa ia akan melakukan perjalanan bisnis selama seminggu, tentu saja itu bohong, revan bukan melakukan perjalanan bisnis, namun menantang maut dengan datang ke tempat itu.


Tempat yang tertera di foto pemberian ibunya cukup sulit di jangkau, melewati hutan dengan pepohonan yang sangat rimbun. udara di sana cukup lembab dikarenakan cahaya matahari tidak dapat menembus lebat nya hutan .


memasuki jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu buah mobil , jalur ber kerikil tersebut tampak sudah lama tidak digunakan. rumput rumput liar setinggi pinggang menutupi kanan kiri jalan .


memasuki halaman yang luas tanpa pagar, Sebuah Villa bergaya kontemporer berdiri megah di hadapannya. "Tempat ini sudah lama tidak dihuni, tapi kenapa halaman nya sangat terawat " tanya revan ke heranan dengan kondisi villa yang sangat terawat .


"memang tidak dihuni lagi, tapi setiap hari mbak Lastri selalu datang membersihkan tempat ini , sampai sekarang pun begitu" jelas pak dirmo menjawab kebingungan revan .


Revan menurunkan barang bawaannya , keperluan keperluan yang sulit di dapat bila tidak di persiapkan. dia membawa persediaan sangat banyak ke tempat terisolasi ini .


" mbak Lastri tinggal disini pak?" Tanya revan penasaran dengan seseorang yang disebutkan pak dirmo tadi.


" nggak, mbak Lastri tinggal di desa Dasan , di bawah sana 2 km dari sini " jelas pak dirmo sembari mengangkat tumpukan kardus persediaan.


" Nanti mbak Lastri yang bantuin nak revan kalau ada kesulitan disini, biasanya dia datang ke villa pagi hari dan pulang saat sudah selesai membersihkan villa . Kalau menjelang malam begini dia sudah pulang" lanjutnya .


Semua barang sudah di masukkan , pak dirmo membawa revan berkeliling untuk mengetahui seluk beluk tempat ini . Villa ini memiliki 2 lantai, di lantai satu terdapat ruang tamu dan ruang Santai Yang disekat rak rak buku . di samping kiri ruang santai terdapat 2 kamar tidur yang bersebelahan, terdapat pula anak tangga menuju lantai 2 dan mini bar . sedang kan area dapur terletak paling belakang bargabung dengan meja makan.


Melanjutkan kelantai dua, terdapat ruang santai dengan Rak buku yang tertata Rapi di ruang tersebut , buku buku yang lebih ke ilmu pengetahuan dan sains. disamping itu ada satu ruang kamar lagi di rumah ini , kamar dengan ukuran 2 kali lipat kamar di lantai 1. untuk penerangan villa ini menggunakan panel panel Surya, untuk menghidupkan nya memerlukan panas matahari.


revan sudah berkeliling , namun ia sangat penasaran kenapa pak dirmo tidak mengajak nya berkeliling kamar di lantai atas.


"Kenapa tidak masuk pak ?" revan menatap pak dirmo lekat lekat .


"nggak bisa revan , Ruangan ini terkunci . Hanya nyonya yang Pernah masuk , selebihnya saya tidak tau ada apa disana" pak dirmo menjelaskan alasannya tidak mengajak revan masuk.


Revan masih penasaran,namun ia harus menahan diri karena sudah waktunya pak dirmo untuk pergi .


" Bapak pamit , Tiga hari kemudian bapak datang lagi " pak dirmo berpamitan dengan Revan .


Revan mengantarkan pak dirmo sampai di ambang pintu . Setelah nya ia menutup rapat rapat pintu dan menguncinya. ia tidak terfikir untuk menyelidiki rumah malam ini,ia sangat kelelahan dan memilih beristirahat mengembalikan tenaga nya untuk penyelidikan esok hari .


"Different World"~