
"Belum tidur, Lil?" tanya mamahnya sambil mengintip dari balik luar pintu kamar nya.
"Dikit lagi kok mah..." sahutnya
"Yaudah jangan ke maleman ya, besok telat ke sekolah loh..."
"Siap grak!"
(Mamahnya pun kembali menutup pintu kamar Lylian)
Lylian yang masih di duduk di depan meja belajar nya, kembali mengerjakan tugas PR sekolahnya yang akan segera selesai. Hingga waktu tanpa di sadari sudah larut dan menunjukan pukul 23.56 malam.
Sambil merileks-kan tubuhnya, ia pun bersandar sejenak untuk mengecek ponselnya. Rupanya ada sebuah 'direct message' masuk ke instagramnya yang baru ia sadari. Matanya yang semula mengantuk seketika langsung terbelalak mendapati sebuah pesan dari akun Airuz. Dengan sigap ia membuka isi pesan tsb dan membacanya dengan seksama.
..."thanks for folback Lil :) ...
...aku denger kabarmu hari ini di sekolah, are you okay??"...
Melihat isi pesan dari Airuz tsb ia pun segera membalasnya,
..."i'm fine, santai aja kak. thanks :)"...
Merasa pesan itu tidak ada respon balik, Ia pun mulai kembali meletakan ponselnya begitu saja lalu beranjak ke arah ranjang tidurnya. Lylian merebahkan badannya diatas ranjang dan menatap langit-langit kamar nya termenung. Dalam batinnya tak lupa untuk mengucapkan doa dan selamat malam untuk almarhum papahnya yang jauh di alam sana. Seketika ia pun meredupkan lampu penerang kamarnya untuk bisa segera memejamkan matanya.
Menjelang pagi tiba...
Arion bersama kawan-kawanya sedang duduk diluar sekolah. Ia duduk diatas motornya yang terparkir dekat gerobak tukang bubur ayam. Sambil melahap semangkuk buburnya tersebut, samar-samar dikejauhan ia melihat Lylian yang baru saja turun dari mobilnya di depan gerbang sekolah. Dalam keadaan mangkuk bubur yang belum sempat dihabiskan, Arion pun langsung meletakan makanan yang masih tersisa itu kembali ke si abang penjual nya. Melihat Arion yang hendak beranjak ingin pergi, membuat kawan-kawannya yang sedang ikut makan jadi melirik heran.
"Tumben gak abis tuh bubur" tanya salah satu kawannya yang juga sedang makan.
"Kenyang..." jawabnya sambil mengeluarkan uang di kantong sakunya, "Nih bang, kembalian nya ambil aja" sambungnya.
"Waduh, makasi. jadi enak nih pagi-pagi dapet rejeki lebih hehehe..." seru si abang penjual bubur tsb.
(Arion pun terburu-buru memakai jaket dan ransel nya)
"Lah, mau kemana coy?"
"Berburu singa!" ceplos Arion asal bicara.
"Hah?! singa siape?"
"Nih!!" Arion pun melemparkan kunci motornya kepada kawannya tsb, "Tolong ntar sekalian bawa masuk motor gue ya" Sambungnya.
"Lahh, ntar motor gue siape yang bawa?" ujar Adit kebingungan.
"Ya elo gendong kek, apa kek!! udah ya gue duluan dit..."
"Lah woiii...!!! wah bener-bener ya si Rion kebangetan banget!" gerutu Adit.
Arion berlari kencang ke dalam sekolah mengejar sosok Lylian yang sudah berada di tengah lapangan. Tampak Lylian sedang jalan perlahan untuk menyusuri kelasnya yang ada di lantai 2. Arion yang masih berada di belakangnya berusaha berlari menggapai ransel milik Lylian secepat mungkin. Seketika gapaian tangannya dapat menarik ranselnya, sontak Lylian terkejut hingga langkahnya tersentak mundur selangkah ke belakang. Dengan sekuat tenaga Arion pun menahan punggung Lylian yang oleng ke belakang itu hingga tubuhnya tepat mengenai Arion yang ada di belakangnya.
Menyadari bahwa ada seorang yang sengaja menarik ranselnya dari belakang. Lylian pun menoleh ke arah kanannya dan seketika mendapati wajah Arion yang sudah berada tepat sejengkal dengan wajahnya. Matanya terbelalak shock hingga bola mata mereka jadi saling melekat menatap satu sama lain
"Pagi... oh, jadi begini ya kalo ngeliat dari jarak deket" sapa Arion.
Dalam situasi mereka yang ditengah lapangan itu, membuat suasana di sekeliling mereka menjadi heboh dan riuh berbisik tentangnya. Semua murid-murid yang baru saja berdatangan ke sekolah hingga yang berada di lantai atas pun ikut menyaksikan mereka yang ada di tengah lapangan itu. Lylian masih dalam keterpakuannya tak bisa berkata apa-apa hanya diam membeku sedangkan Arion hanya bisa tersenyum manis. Dan dengan sadarnya Lylian pun langsung menepis tangan Arion dari ranselnya lalu membuang pandangan itu jauh-jauh. Melihat sikap Lylian yang canggung itu, Arion pun tertawa kecil.
"Bisa sopan sedikit gak sih?! jangan asal tarik tas orang lain aja!" ketus Lylian.
"Ternyata galak ya idolanya mereka" ujar Arion.
"Hah?? mereka? ngomongin apa sih gak jelas!"
"Ngomongin dua ekor kelinci lagi rebutan wortel" ledek Arion.
"Gak lucu!"
(Arion tertawa kecil melihat raut Lylian yang mencibir kesal).
"Wah.. sakit nih orang. bodo amat ah!"
Lylian yang ingin segera berlalu meninggalkan Arion, tiba-tiba langkahnya terhenti saat seketika pergelangan tangan kanannya di tarik. Untuk yang kedua kalinya Lylian lagi-lagi terkejut melihat sikap Arion yang arogant tsb. Sambil memegang pergelangan tangannya, Arion jalan mendekat ke telingannya lalu berbisik dan bilang... "Sampe ketemu lagi di istirahat kedua".
Tak lama Arion melepaskan genggamannya dan berlalu meninggalkan Lylian yang masih mematung tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
Menyadari bahwa murid-murid lain berbisik-bisik negatif ke arahnya, Lylian pun mulai kembali jalan sambil menundukan kepalanya seolah tak ingin wajahnya tersorot publik. Dengan melangkah cepat ia pun mulai menaiki anak tangga ke lantai 2 untuk bisa sampai ke kelasnya. Dengan perasaan risau ia terus memegang dadanya yang berdetak kencang. Bukan!, ini bukan karena terpesona melainkan ia takut harus bertemunya kembali.
Setibanya di kelas ia terduduk lemas dengan keadaan masih terus memukul-mukul pelan di dadanya. Lylian mencoba terus menarik nafas panjangnya dalam-dalam untuk bisa tenang dan rileks. Seketika dari arah luar kelas, masuk lah Alea dan Rivana yang teriak histeris.
"LYLIIIIIIIIIIII.....!!!"
Mereka masuk ke kelas terpingkal- pingkal dengan nafas yang terengah-engah. Alea dan Rivana duduk menghadapnya dengan tatapan terkejut. Mulut Alea yang seolah sulit berkata-kata hanya bisa menepuk-nepuk pahanya sendirri.
"Itu... itu... barusan gue salah liat doang kan elo sama kak Arion???" tanya Alea dengan nafas yang belum terkontrol.
"Wah gilaaaa... beneran serius dong!! " sahut Rivana tercengang
"Perfect! belum juga sebulan disini, elo udah bisa bikin gosip sekolah sama tiga cowok populer sekaligus Lil" Seru Alea.
(Lylian menggaruk kepalanya seolah gusar)
"Ini sih malah bikin rival jadi makin sengit!" imbuh Rivana.
"Aduh... aku gak peduli lah mereka populer atau rival! sekarang gimana caranya aku menghindar dari si dangerman itu pas istirahat kedua nanti coba" tegas Lylian.
"SERIUS DIA MAU NEMUIN ELO LAGI???" kaget Alea malah makin heboh.
(Lylian pun hanya bisa mengangguk lesu)
"Kayaknya dia punya maksud tersembunyi deh Lil, feeling gue sih gitu" gumam Rivana.
"Maksudnya?" tanyanya heran.
"Ya soalnya aneh banget, seorang kak Arion itu terang-terangan deketin cewek sedangkan dia aja selama ini jutek banget"
"Ah iya bener banget tuh Lil!" kata Alea membenarkan firasat Rivana.
"Mending nanti elo ngumpet deh ke perpustakaan, dia tuh gak pernah masuk ke perpustakaan dan gue yakin sih dia gak bakal kepikiran elo ada disitu" Jelas Rivana memberikan sebuah ide.
"Yakin girls?"
"Yakin banget gue Lil, dia itu males sama penjaga perpus soalnya kiler!" Bisik Alea
(Lylian pun mengangguk setuju dengan saran ide kedua sahabatnya itu)
KRIIIIINNNNGGGGGGGGGGGGG.....!!!!!!!
Bel tanda masuk pun akhirnya berbunyi. Pelajaran pertama akan segera dimulai dengan kehadiran pak Gunar yang akan siap mengawali materi hari ini dengan pelajaran matematika.
Lylian mencoba menarik nafasnya dalam-dalam untuk bisa fokus dengan materi hari ini. Tak ingin isi kepala dan hatinya semakin tercampur aduk hingga mengganggu konsentrasinya, ia pun sejenak berdoa agar bisa di mudahkan segala urusannya hari ini.
*** *** ***
Sekumpulan tiga gadis datang berlari terburu-buru masuk ke sebuah kelas yang terlihat sedang tidak ada guru pengajarnya hari ini. Tampak sosok Yura sedang duduk di kursi paling belakang sedang asyik dandan dan membenahi bandana di rambutnya. Melihat ketiga sahabatnya itu datang mengahampirinya dengan nafas terengah-engah, membuat Yura memandang kebingungan. Ketiga sahabat nya itu ada Nadine, Dara dan Lula.
Yura yang awalnya melihat kedatangan mereka dibuat kebingungan, malah acuh kembali melanjutkan berias dengan cermin kecilnya itu. Nadine yang melihat Yura terus sibuk bercermin, mencoba mengatur nafasnya untuk bisa berbicara. Sedangkan Dara dan Lula yang ragu malah saling bersikutan seolah enggan berbicara duluan pada Yura. Melihat gerak gerik aneh ketiga sahabatnya itu pun, membuat Yura jadi menatap jengkel.
"Aduh... kalian kenapa sih!" bentak Yura.
"Itu loh Ra....itu..." jawab Dara terbata-bata.
"Itu apaan sih! ngomong yang bener dong cepetan"
"Barusan tuh di lapangan Arion ngejar cewek gitu, Ra..." jelas Nadine
"HAH?! RION NGEJAR CEWEK??? SIAPA!" kejut Yura langsung seketika terbangkit dari kursinya.
"Iya Ra, si cewek freak yang ditoilet itu loh..." tegas Lula menambahkan.
"Emang tuh ya si ade kelas gatel banget! udah diperingatin masih aja gatel" tambah Dara tak ingin kalah.
Ekpresi Yura terlihat memanas dan emosi saat mendengar itu semua dari mulut ketiga sahabatnya. Kedua tangannya mengeras dan mengepal seolah ingin memukul. Sorotan matanya mulai meruncing seolah sangat tak terima dengan apa yang terjadi. Seketika Yura membanting cermin kaca miliknya tsb ke lantai hingga retak, sontak ketiga sahabatnya dan seisi murid lainnya yang ada di kelas dibuat terpana melihat kekesalan Yura itu.
"Te...tenang Ra, kalem... kalem..." kata Dara yang menjadi tegang.
"Masa elo ngejar Arion eh dia malah ngejar yang lain sih, Ra?" celetuk Nadine seolah membuat suasana makin memanas.
"Bener banget Ra, masa elo kalah sama Ade kelas!" sambung Dara menambahkan.
"Gak bisa dibiarin!!!" geram Yura, "Gak bakalan gue kalah sama cewek freak itu!!" sambungnya lagi dengan emosional.
"Terus rencana elo apa, Ra?" Tanya Nadine
(Yura terdiam sejenak seolah berpikir)
"Gimana kalo kita samperin lagi aja?" imbuh Lula memberi ide.
"Di tegor juga gak ngefek kayaknya, mesti gue kasih pelajaran kali ini!"
"SETUJU!!!" kata ketiga sahabatnya itu bersemangat
Yura pun tersenyum menyeringai jahat seolah di benaknya timbul ide buruk yang ingin di lakukannya terhadap Lylian. Ketiga sahabatnya hanya bertepuk tangan riang seolah mendukung aksi Yura tsb. Dalam keadaan penuh amarah yang meluap, Yura seperti menanti waktu jam luang untuk bisa menghardik Lylian.
*** *** ***
>> HALLO GUYS, BANTU VOTE DAN KOMENNYA YA BIAR AKU SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA. KARENA SETIAP VOTE DAN KOMEN KALIAN SANGAT BERATI BUAT KU. TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR DISINI YA :) :)<<
NEXT PART 9...