DEAR TARGET

DEAR TARGET
PENASARAN



Di lapangan sekolah ada Airuz, Banyu dan beberapa siswa cowok dari kelas lainnya sedang bermain bola basket di waktu senggang jam istirahat sekolah. Meski bukan jam pelajaran olahraga sekalipun, mereka selalu bermain basket dengan yang lainnya untuk hiburan semata.


Dari kejauhan lantai 2, Lylian, Rivana dan Alea sedang melihat keberadaan mereka di tengah lapangan yang asyik bermain bola basket. Sambil berdiri menopang dagunya, Lylian menatap ke arah lapangan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ketika teringat kembali ucapan Airuz yang mengatakan untuk menjauhi sosok Arion. Meski Lylian itu sendiri tidak kenal bahkan tidak ada niat untuk mengenal sosok Arion tsb, ia tetap saja memikirkan arti maksud dari ucapan Airuz. Melihat Lylian yang sedang melamun, Rivana dan Alea pun menyadarkannya.


"Heh,Lil... malah ngelamun lagi" Rivana pun menyenggol bahu kirinya, sejenak langsung tersadar.


"Oalah... ngelamunin yang dibawah, kak Banyu apa kak Airuz nih?"  celoteh Alea yang usil sambil mencolek pipi Lylian.


Tak menggubris ledekan Alea, ia pun menatap kedua sahabatnya itu penuh tanda tanya. Meski ragu untuk bertanya, rasa penasaran itu terus meluap di benak nya sehingga Lylian pun membuka topik pertanyaan yang kemungkinan mereka malah akan mengoloknya dengan respon candaan. Tapi mau bagaimana lagi? ia pun mengabaikan rasa gengsinya demi mendapatkan info yang lebih pasti dari pada terus menduga-duga nya sendiri. 


"Eh girls, hmm... kak Airuz itu gak akur ya sama kak Arion?"


"Hah?" mereka berdua sontak kaget dengan pertanyaan Lylian yang tiba tiba tsb.


"Gue juga gak begitu tau pasti sih... cuma info yang beredar di sekolah ini mereka berdua emang gak akur gitu" Jelas Rivana.


"Yap! bahkan sama kak Banyu juga" imbuh Alea menambahkan.


"Kenapa gitu?" tanya Lylian masih penasaran.


"Entahlah Lil. kronologinya gimana sama kak Airuz, tapi nih ya... kalo sama kak Banyu malah dulunya pernah sahabatan gitu" sambung Alea.


"Aneh banget sih kak Banyu sama kak Arion jadi musuhan gitu" sahut Rivana.


"Oh ya??? "


"Kenapa nanya gitu Lil?" tanya balik Rivana curiga.


"Gapapa sih, nanya aja hehehe..."  jawabnya.


"Tapi elo belum pernah ketemu kak Arion kan?" 


(Lylian pun hanya memandang kedua sahabatnya itu dengan ekpresi serba salah untuk menjawabnya).


"Mending jangan berurusan deh sama kak Arion, ganteng sih tapi sayang doi galak bin jutek !" tegas Alea langsung menyilangkan kedua tangannya seolah membentuk kode tanda bahaya.


Tiba-tiba di bawah lapangan sana, terjadi ketegangan yang memicu siswa-siswi lainnya jadi heboh. Semua berhamburan untuk melihat ke arah lapangan. Ternyata sosok yang baru saja di bicarakan muncul di tengah lapangan. Ya benar! Arion. Dia datang di tengah-tengah lapangan menjadi pusat perhatian semua seketika membuat Airuz, Banyu dan yang lainnya yang sedang bermain basket jadi terhenti. Gemuruh bisik- bisik heboh siswa lainnya membuat Lylian jadi kebingungan menyaksikan di tengah lapangan sana. Pasalnya ia tidak tau bahwa rival diantara mereka begitu memicu kehebohan dan sorotan bagi kalangan siswa-siswi di sekolah ini. Bahkan Alea, Rivana yang ada di sebelahnya pun ikut heboh.


Arion dengan style berandalnya yang selalu membiarkan semua kancing seragamnya terbuka dan hanya berlapis dalaman kaos polos hitam dengan santai nya berhadapan di depan Airuz dan Banyu. Aksi nya itu memantik reaksi geram yang terlihat di raut wajah Airuz dan Banyu. Terlebih lagi seperti nya Airuz melangkah selangkah lebih depan dari Banyu untuk berhadapan empat mata dengan Arion.


"Ngapain elo kemari !" tanya Airuz dengan tatapan tak senang.


"Emang ada yang salah seorang murid nginjekin kakinya di lapangan sekolahnya sendiri?" jawab Arion begitu santai sambil tersenyum tipis.


"Gak usah belagak bego!"


"Oh ya?hahaha..." sahut Arion seketika tertawa jahat, "Gue berati salah lawan kalo gitu".


"Elo mau apaan sih!" sahut Banyu.


"Gue cuma mau mastiin kalo lawan gue kali ini jagoan"  jawab Arion melirik Airuz dengan tatapan tajamnya.


"MAKSUD ELO APAAN, HAH ?!!" geram Airuz seketika menarik kerah seragam Arion dengan erat.


Tampaknya ekpresi Airuz mulai mengencang. Gigi gerahamnya mulai menggeretak tertahan, bahkan nafas nya mulai menghembus kencang seolah gejolak amarahnya yang tertanam. Tatapan Arion yang begitu tajam tapi santai, memnyulut emosi Airuz. Dalam keadaan masih gemuruh dan jadi sorotan murid lainnya yang menyaksikan hal itu pun tampak tak di hiraukannya. Arion yang di tarik kerah seragamnya pun tak menepis dan tak membalasnya balik. Ia hanya menatap balik tajam kearah Airuz seolah tak mau kalah akan tatapan Airuz yang penuh kekesalan tsb.


Melihat akan pertikaian itu, Banyu pun segera menarik tangan Airuz untuk melerai dan melepaskan genggaman tsb dari kerah seragam Arion yang hampir tercekik.


"Stop Ruz, banyak orang liat"  bisik Banyu.


Dengan nafas yang masih berat tertahan, akhirnya Airuz menepis tangannya dari kerah seragamnya Arion. Masih dalam keadaan tersulut benci, Airuz mulai melangkah selangkah mundur untuk menjauh dari wajah Arion. 


"Mending elo cabut deh, Rion!"  ketus Banyu.


(Arion hanya tersenyum tipis)


Namun sebelum beranjak meninggalkan lapangan, Arion pun mendekat ke arah Airuz dan berbisik ke telinga kanannya. Reaksi itu tak Airuz tepis dan membiarkan Arion berucap sepatah-kata kepadanya secara pribadi.


"Air susu di balas air tuba"  bisiknya lirih.


Airuz yang enggan merespon ucapan peribahasa tsb, membiarkan Arion berlalu meninggalkan mereka semua di tengah lapangan. Melihat aksi keduanya tsb, Banyu pun hanya menepuk bahu Airuz seolah memberi isyarat untuk tenang. Airuz melihat sekelilingnya sudah ramai menjadi sorotan murid lainnya dan berusaha untuk mengontrol dirinya tetap tenang di hadapan semuanya. Mereka semua pun akhirnya memilih memutuskan untuk bubar lalu kembali untuk ke kelas. Serentak kerumunan dan kehebohan di sekelilingnya mulai merenggang.


Lylian yang juga menyaksikan hal itu dari lantai 2 bersama Alea dan Rivana di buat spechlees. Baru kali ini ia melihat sosok Airuz yang begitu tenang seketika tersulut emosi karena Arion. Lylian beranggapan pasti ini memang karena sikap Arion yang suka semena-mena terhadap siapapun. Tak lama dari arah koridor ia melihat sosok Airuz yang baru saja naik ke lantai 2  dan berjalan menuju ke kelasnya dengan wajah penuh kebisuan seolah menandakan hatinya sedang tidak baik.


"Gila banget ya kak Arion! baru juga masuk sekolah lagi, udah mancing keributan aja"  seru Alea membuat Lylian seketika mengalihkan pandangan kepadanya.


"Dia tuh emang suka begitu ya?"  tanya Lylian.


"Namanya juga dangerman, gak ada yang berani sama sikap dingin dan berandalnya itu" celetuk Rivana.


"Dangerman ???"


"Iya, kita julukin kak Arion di sekolah ini sebagai dangerman"


Lylian melihat dari kejauhan punggung Airuz yang terus berlalu kembali kelasnya, hingga menghilang dari pandangannya. Ia merasa sedikit penasaran akan bagaimana situasi tadi yang mengubahnya menjadi begitu emosi. Di benak nya masih banyak kejanggalan yang ia belum bisa pahami. Namun yang bisa ia pastikan saat ini adalah bagaimana situasi hati nya saat ini?


KRINGGGGGGGGGGGGGGGGG.......


"Yuk!"  sahut Rivana


(Mereka bertiga pun mulai berjalan memasuki kelas).


                                                                     


 ***  ***  ***


Malam pun tiba...


Lylian sedang pergi ke sebuah minimarket yang tak jauh di rumah nya untuk membeli pesanan mamahnya yaitu beberapa bumbu dapur. Hujan sempat mengguyur sore hari ini hingga malam menjadi terasa dingin. Dengan mantel hangat yang Lylian kenakan setidaknya bisa mengurangi kedinginan di malam ini. 


Di dalam minimarket ia sedang sibuk memilih beberapa bumbu dapur sambil mencari beberapa brand yang belum ia temukan di antara susuan rak-rak tsb. Akhirnya ia pun mendapatkan beberapa barang yang sudah sesuai dengan pesanan mamahnya. Lylian bergegas ke kasir untuk segera membayar belanjaannya. Ia pun harus mengantri di belakang seorang ibu yang sudah lebih dulu. Sambil antri menunggu ia pun melihat handponenya untuk sejenak scroll instagramnya, tanpa melihat ke arah belakangnya yang juga ada beberapa orang ikut mengantri.


"Mau masak?" tanya seseorang dari arah belakangnya.


(Lylian pun sontak terkejut mendegar suara dari arah belakangnya  dan menoleh)


"Eh?! kak Airuz?"  kejutnya.


"Malem malem mau masak nih?" 


"Oh ini? hehehe... disuruh mamah beli kok, kak"  jawabnya tersenyum.


"Hehehe... berbakti banget ya"  sahut Airuz tertawa kecil.


"Kak Airuz tinggal daerah sini juga?".


"Enggak kok, rumah ku di komplek Anggrek sekitar 20 menitan lah dari sini" .


(Lylian pun mengangguk mengerti)


Tak lama kemudian seorang ibu di depannya sudah selesai membayar, Lylian pun maju kearah kasir untuk membayar belanjaannya. melihat Airuz yang antri di belakangnya hanya membeli 1 botol minuman dingin, dengan baiknya Lylian menawarkan bantuan.


"Bayar bareng aja kak, satuin kesini" sahutnya.


"Oh, oke..."


"Totalnya 134.800 rupiah ya kak" kata pihak kasir minimarket tsb menyebutkan total biaya belanjaan nya.


(Dengan sigap Airuz mengeluarkan card debit ATM nya ke pihak kasir untuk membayar semuanya)


"Eh kak, pake uang cash ini aja" tepis Lylian saat Airuz menyodorkan card ATM nya.


"Udah gak usah, sekalian aja" jawab nya sambil tersenyum manis.


"Yaudah, aku ganti ya kak soalnya kan belanjaan aku yang banyak"


"Gak usah, simpen aja ya" 


"Yahh... kalo tau gitu tadi gak usah di satuin deh!"  gerutu Lylian.


"Hehehe... ya ampun segitunya. gapapa kali"


Mereka pun pergi keluar bersama dari minimarket dan berhenti sejenak. Sambil meneguk air minum, Airuz pun melirik ke arah Lylian yang berdiri di sebelahnya.


"Oh ya, nama kamu serius Lyli?" tanya Airuz.


"Iya kak, kenapa?"


"Hahaha...gapapa sih! gak pernah kenalan sebelumnya, cuma sering denger aja dari beberapa orang termasuk Banyu katanya kamu tuh cantik"  jawab Airuz diiring tawa kecilnya.


"Aduh... hoax itu kak!" bantahnya.


"Aku Airuz kelas 12- IPA 4" 


"Hehehe, kan udah tau kak"  celetuk Lylian.


"Kan tau dari orang, bukan langsung"  


(Seketika ucapan Airuz tersebut membuat Lylian refleks tersenyum lepas dengan manisnya)


"Mau bareng?" 


"Eh gak usah kak, rumah ku deket kok. makasih ya udah di traktir bumbu dapur hahaha..."  ujar nya dengan gelak tawa.


"Oke, Yaudah hati-hati ya. see you Lil" jawab Airuz sambil melambaikan tangganya ke arah Lylian.


Mobil hitam Airuz pun perlahan melaju meninggalkan keberadaan Lylian yang masih tengah berdiri sejenak melihat kepergiannya lebih dulu. Terdengar suara klakson mobil itu sengaja dibunyikan seolah tanda Airuz pamit lebih dulu dengan mobilnya. Lylian hanya merespon dengan senyum.  Melihat keberadaan mobil Airuz yang sudah pergil hilang dari pandangannya, ia pun kembali melangkah bergegas untuk pulang kerumah yang memang tak jauh. Di dalam benaknya kini mulai sedikit lega. Kenapa? karena ia melihat sosok Airuz hari ini kembali lebih baik.


>> HALLO GUYS, BANTU VOTE DAN KOMENNYA YA BIAR AKU SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA. KARENA SETIAP VOTE DAN KOMEN KALIAN SANGAT BERATI BUAT KU. TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR DISINI YA :) :)<<


NEXT PART 6...