
Bug!
"Lo jangan gangguin dia brengs*k!"
Satu pukulan telak mendarat di wajah pria itu. Ester memekik, kaget bukan main. Pria yang tadi hendak memaksakan diri padanya sudah terkapar di atas pelur parkiran.
"Dasar bajing*n! Lo itu senior dia! Pantes lo berbuat sehina ini hah?!"
Lagi dan lagi, tubuh pria yang sudah macam kapas itu di hajar habis-habisan. Kaosnya sudah penuh dengan noda darah, dia tampak sudah hampir tewas.
"Ardhan cukup! Dia bisa mati!"
Ester mencoba menarik pria yang entah kapan datang itu. Menjauhkan dia dari laki-laki yang sudah sangat tidak berdaya itu.
"Dia kurang ajar Es! Harus gue bunuh!"
"Jangan! biarin aja udah ... i'm fine," Ester memeluk laki-laki itu, berharap kemarahannya berhenti. Benar saja, ketika pria itu balas memeluknya Ester bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Tubuh Ardhan panas bukan main, napasnya memburu.
Semua ini berawal dari sore tadi ....
Selepas mengikuti kegiatan masa Orientasi Ester beristirahat sebentar di depan aula. Teman-teman kelompoknya sudah berpamitan pergi, Sejak awal acara dia yang paling diandalkan dalam tim, mungkin selain karena dia ketua kelompok, Ester termasuk yang paling pandai diantara semuanya.
Bajing*n itu bernama Revan. Senior tingkat dua yang tadi pagi menjaga gerbang. Sejak awal dia selalu memperhatikan Ester, berkali-kali mencoba kontak langsung dengan alasan apa saja.
Awalnya Ester biasa saja, menganggap itu hal wajar. Apalagi beberapa senior laki-laki memang memperhatikannya, entah karena keatifan Ester atau karena wajahnya yang memang enak dipandang lama-lama.
"Belum pulang?"
Revan tahu-tahu duduk di sebelahnya. Membuat tubuh kecil Ester spontan bergeser. Demi sopan santu Ester menggeleng sambil tersenyum kecil, masa Orientasi masih beberapa hari lagi, kalau dia mencari gara-gara sudah jelas hari kedepan tidak akan mudah dilewati.
"Nama kamu Ester Liem kan?" Dia kembali bertanya.
Ester mengangguk.
"Chinese?"
Lagi-lagi mengangguk, well, sebenarnya Ibunya yang Chinese, sementara Babap nya yang kabur itu kata ibu blasteran Korea-Indonesia.
"Udah punya pacar belum sih?"
Mendengar pertanyaan itu Ester langsung bangkit. "Saya permisi dulu kak, sudah hampir malam." Dia mengangguk dan bermaksud pergi. Namun Revan meraih lengannya.
"Bareng yuk, saya anter kamu sampai rumah." Ajaknya.
Mula-mula Ester menolak, namun dia terus memaksa. Akhirnya, sekalipun enggan dia mengangguk. Revan tampak senang, berjalan lebih dulu ke arah parkiran. Suasana remang dan sepi, sebentar lagi adzan Isya.
"Silahkan masuk," Revan membuka pintu penumpang di belakang. Ester ragu hendak masuk, entah kenapa perasaannya tidak enak. Apalagi sejak tadi Revan tersenyum dengan aneh di belakangnya.
"Enggak jadi deh kak, saya mau langsung-"
Kalimatnya belum selesai tahu-tahu Revan menarik paksa tubuh Ester masuk ke dalam mobil. Mulutnya yang hendak menjerit di bekap, Ester kaget luar biasa, dia meronta sekuat tenaga.
"Tolong!"
"Tol-hmpp ...."
Revan kembali membekap, bersikeras mendorong tubuh Ester ke dalam mobil, dia bermaksud memaksakan diri pada gadis itu.
Sesaat pikiran Ester sudah kalut, bayangan mengerikan melintas di kepalanya. Dia menjerit dalam hati, memanggil Tuhan dan satu-satunya malaikat yang dia tahu.
"Ardhan ...."
"Lepasin dia bajing*n!"
Dan sampai kapanpun Ester akan selalu bersyukur. Tuhan mengabulkan do'a nya, Ardhan datang entah kapan dan dari mana. Menyelamatkannya dari tangan iblis terkutuk itu.
***
"Bisa diem enggak sih? Kalau dibiarin ini bisa jadi infeksi Ardhan!"
Tangan gadis itu mencengkram pergelangan tangan Ardhan. Satu tangan yang lain sibuk membersihkan lukanya dengan alkohol. Setelah itu meneteskan betadine pada lukanya.
"Harusnya kamu enggak ngelukain diri sendiri kayak gini terus Ar, apalagi cuma buat aku."
Ardhan tidak menjawab, tangannya yang lain meraih dagu Ester, "are you okay?"
Mula-mula Ester hanya diam, namun entah kenapa air di pelupuk matanya menggenang. Ardhan menarik baru ringkihnya kemudian memeluk Ester erat, dia tahu kejadian tadi pasti begitu memukul perasaan Ester.
Tubuh gadis itu bergetar dalam pelukannya. Tidak, dia tidak menangis. Sekalipun kejadian itu begitu memukul, tidak sampai hati membuat seorang Ester Liem menangis, Ardhan tidak pernah tahu terbuat dari apa hati gadis ini sehingga begitu kuat. Yang dia tahu perempuan adalah orang yang paling cepat menjatuhkan air mata, berbeda sekali dengan Ester. Sesedih apapun dia, hanya akan ada genangan air sebentar di matanya.
"Serius enggak akan nangis?" ditatapnya ubun kepala gadis itu.
Ester menggeleng, "air mata aku terlalu mahal buat bajing*n macam Revan!"
Ardhan tertawa, Ester-nya memang kuat. Bahkan mungkin lebih kuat dari dirinya sekalipun.
"Kenapa kamu bisa tiba-tiba datang ke sini?" Kali ini Ester mendongak, menatap obsidian yang gelap di remangnya lampu taman.
"Kamu keterlaluan Es, pergi begitu aja tanpa kabar berita, aku nyari kamu kemana-mana!"
Mendengar keluhan Ardhan, Ester terkekeh. Dia memang bersalah karena tidak langsung menghubunginya, apalagi ponselnya mendadak mati. Rusak karena tidak sengaja masuk ke dalam ember cucian. Dia bersumpah di masa depan akan menciptakan ponsel yang water resintance. Agar tidak ada lagi orang yang bernasib sama dengan dirinya.
"Lalu gimana ceritanya kamu bisa nemuin aku?"
"aku nyari wajah kamu di instagram kampus kamu ini."
Alis Ester terangkat, yang benar saja? di Instagram kampus ada ratusan foto dari ribuan mahasiswa baru, bagaimana mungkin dia bisa menemukan wajah Ester?
"Jangan pasang wajah kayak gitu, wajah kamu itu mudah dikenali Es,"
"Oh ya?" Kembali alis gadis itu terangkat. Selama ini dia benci sekali kamera, tidak pernah mau mengambil foto selain di paksa. Bahkan bercermin saja hanya dua kali sehari, tidak lebih dari empat detik.
"Iya ... kayak bunga Aster ditengah Lilac, ya seperti itulah ...," ungkap Ardhan kebingungan. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Analogi macam apa itu?" Ester tertawa, sekalipun Ardhan adalah penyuka sastra, tidak lantas membuatnya romantis apalagi puitis.
"Ah ... forget it! Lagian kamu itu famous Es! Lihat nih," Sambil berbicara begitu dia mengasongkan ponsel ke depan Ester, benar saja, di postingan Instagram itu banyak sekali foto Ester, candid yang sangat sempurna. Mungkin karena pada dasarnya dari sudut manapun Ester Liem itu bagus di potret. Bahkan saat dia sedang tertawa. Tidak aneh fotografer kampus lebih sering memotretnya.
Ester menyunggingkan bibir, tidak lama mengembalikan ponsel itu kepada empunya. Menurut dia itu bukan hal menarik.
"udah lah, pulang yuk? Aku lapar." Gadis itu bangkit dari bangku taman, mengulurkan tangan.
Ardhan menerima uluran tangan itu, namun bukan berdiri, dia justru menarik Ester hingga jatuh ke dalam pelukannya.
Mata gadis itu membulat, kaget bukan main. Dia tidak menyangka apa yang dilakukan Ardhan saat ini.
"Hei ... apa-apaan ka-"
"Jangan menghilang lagi Es," bisiknya tepat di kuping. Kedua lengannya mendekap tubuh mungil Ester dengan erat. Bahkan saat ini gadis itu bisa mendengar degup jantungnya, kencang.
"Jangan lagi tinggalin aku tanpa kabar ... kamu boleh pergi sejauh apapun, tapi aku harus tahu ...." lanjutnya.
Gadis itu terdiam, seumur hidup ini kali pertama Ardhan bicara dengan nada yang begitu dalam. Dia bahkan harus mengerjap beberapa kali untuk memastikan kalau itu Ardhan.
"k-kenapa?" terbata Ester bertanya.
"Karena aku sayang kamu."
Seketika jutaan kupu-kupu terbang dari perutnya. Hanya satu kalimat, namun mampu menggugurkan semua duka yang pernah singgah di ingatan dan hidupnya.
Ester hanya ingin hidup di detik ini, biar ... biarlah waktu berhenti. Dia tidak ingin jeda ini beralih masa, selama Ardhan ada mendekapnya, itu sudah cukup, benar-benar cukup.