DEAR ARDHAN

DEAR ARDHAN
HARI BERHUJANNYA ESTER



Akhir Juni 2016


"Dasar anak pembawa sial! Pergi sana!"


"Pak, jangan usir Ester, saya mohon pak."


"Halah, pergi sana, anak yang cuma bisa jadi beban!"


"Tapi pak ...."


"Kubilang pergi, kerjamu apa selain sekolah dan sekolah? Bukannya cari duit buat makan, ini yang diurus sekolah lagi-sekolah lagi!"


Malam itu hujan turun lebat. Petak kontrakan di gang sempit itu berisik oleh suara barang-barang yang dilempar bapak. Ester tergesa memunguti semuanya. Beberapa buku catatan dan pakaian basah terkena tampias hujan.


Ibu terbatuk ikut memunguti. Sejak tadi beliau nampak terisak di pojok teras. Tidak menyangka berita baik yang dibawa anaknya membuat mereka justru diusir dari kontrakan.


"Ibu ... bapak! Ester lulus seleksi beasiswa!"


Itu yang diteriakan anaknya sore tadi. Dia lupa kapan terakhir kali melihat Ester segembira itu. Diterima beasiswa di salah satu Institut terkenal kota kembang Bandung merupakan prestasi yang sangat besar untuk anaknya. Dia bangga dengan itu, namun akhirnya malah seperti ini.


Sambil mencoba tegar Ester memasukan semua barangnya kedalam tas butut dan kopor bekas mereka terlunta-lunta. Untung ada beberapa tetangga yang iba, mereka memberikan tas dan kardus tak terpakai untuk mengemasi sisanya.


Dan malam itu Ester tidak akan pernah lupa, di bawah rintik hujan malam bulan Juni  dia berjalan tertatih-tatih bersama ibunya menyusuri peron stasiun Mangga Dua. Bingung harus kemana.


***


"Kamu sudah punya rencana akan kemana?"


"Sepertinya kita akan langsung ke Bandung saja bu,"


"Memangnya di sana kita akan tinggal di mana? Kamu kan belum punya tempat kost?"


Ester mengajak ibunya duduk di salah satu kursi tunggu. Karena berjalan jauh mereka baru tiba di stasiun Mangga Dua lewat tengah malam. Dan keretanya baru beroprasi subuh nanti.


Dia lalu mengeluarkan dompet kodok dari dalam tasnya. Dompet pemberian Ardhan satu minggu selepas MOS. Dia bilang itu hadiah ulang tahun Ester. Entah dari mana dia dapat informasi tentang itu.


Sejak saat itu mereka bersahabat, dompet kodok milik Naruto dalam serial anime Jepang itu selalu dipakainya hingga sekarang, sudah mulai usang dan di dalamnya hanya beberapa uang lembaran seratus ribu, lima puluh ribu, dan seribuan.


Ester menghela napas, uang itu hanya cukup untuk menyewa tempat kos kecil di sana. Sedangkan untuk uang makan dia harus berpikir lagi.


"Ini ambilah,"


Tahu-tahu ibu mengasongkan buntalan kecil plastik hitam yang dia selipkan di jaket lusuhnya.


"Apa ini?"


"Ini uang simpanan ibu, tadinya mau ibu berikan pada kamu kalau sudah pindah ke Bandung, jumlah nya tidak banyak."


"Tapi bu-"


"Sudah ambil saja, kita butuh itu untuk hidup di sana kan? Siapa tahu itu bisa mengganjal perut selagi kamu nyambil mencari kerja."


Ester menunduk, menyembunyikan wajah berdukanya agar tidak dilihat ibu. Sejak ditinggalkan ayah gadis itu pantang meneteskan air mata. Dia harus kuat di depan dunia yang selalu menganggap orang sepertinya sebelah mata.


"Kamu mau menangis?"


Tahu-tahu tangan kasar khas milik ibu mengangkat dagunya. Ester mencoba menggeleng dan tersenyum.


"Aku benci air mata bu."


"Kenapa?"


"Karena itu membuatku terlihat lemah."


Ibu tersenyum mendengar jawaban putrinya. Dia mengelus pundak ringkih itu penuh sayang.


"Ada kalanya kamu harus menangis nak, agar beban di bahu kecilmu ini berkurang."


Ester tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangan pada para tunawisma yang tidur bergeletakan diselimuti kantong plastik. Mereka tampak lelap sekalipun tidur di samping tempat pembuangan sampah.


"Lihat, mereka nyenyak sekali bukan?"


Ester tersenyum dan mengangguk.


"Kau tahu kenapa?"


Dia menggeleng.


"Karena mereka tidur tanpa membawa beban nak, sekeras apapun hidupnya di siang hari, beban itu akan mereka taruh dengan rapih ketika malam menjelang. Mereka mencoba melupakan semua kesulitan dan memejamkan mata."


"Apa ibu menyindir aku yang jarang tidur kalau malam hari?"


Gadis itu memberenggut. Ibu justru tertawa. Anaknya yang kelewat cerdas tidak pernah bisa dikelabui dengan pernyataan menyindir seperti itu.


"Lagian ibu heran kenapa sih kamu itu kerjaannya nguprek terus kalau malam? Enggak capek apa siangnya sekolah?"


Ester nyengir. Dia memang hobi membuat sesuatu. Entah itu barang, tulisan, atau apapun yang nyeleneh dan jarang dipikirkan orang.


"Kenapa coba sampai bikin sedotan multifungsi begini? Ribet aja yang ada."


Ardhan pernah mengeluh soal bentuk sedotan yang di buat Ester dari bahan daur ulang. Sedotan minum itu bisa dilipat dan dirangkai jadi pesawat mainan kecil.


"Baguslah, jadi masih bisa dipakai walau es teh nya sudah habis. Sayangkan kalau kamu tiap hari buang sedotan?"


"Tapi ini aneh tauk! Coba lihat, bentuk nya beda sebelah kayak gini. Kalau kamu tambahin sisi luarnya pakai kayu atau apalah yang aman kalau masuk mulut ini pasti lebih balance."


Ardhan menjelaskan dengan detil.


"Katanya aneh, sendirinya malah sedetil itu jelasin tambahannya!" Ester mencibir. Sebenarnya dalam berimajinasi Ardhan adalah jagoannya. Dia suka sekali membayangkan hal-hal nyentrik yang tidak pernah terpikirkan. Itu sebabnya urusan pelajaran bahasa Indonesia dia selalu mendapat nilai sempurna.


"Kan kamu yang pinter Fisika. Aku enggak ngerti yang ginian."


"Yaelah,"


Biasanya setelah begitu maka mereka akan janjian sepulang sekolah dan mengerjakan projek kecilnya bersama.


***


"Ardhan tahu kita pergi?"


Ibu membuyarkan lamunannya. Ester menggeleng, dia tidak sempat menghubungi pria itu. Ponselnya keburu mati, lagi pula laki-laki itu tadi pagi mengabarinya mau ada ulangan. Sudah pasti dia akan sibuk belajar. Ester tidak ingin mengganggu, agar kawannya tidak perlu remedial soal matematika seperti bulan lalu.


"Apa dia tidak akan marah?"


Ibu bertanyaan lagi. Kali ini Ester hanya bisa melempar cengiran. Sudah pasti dia akan marah besar, jangankan pergi sejauh ini malam-malam. Ester terlambat satu jam sampai di rumah saja dia langsung mengomel. Terkadang dia juga bingung kenapa laki-laki itu bisa lebih cerewet dari ibunya.


Sejak mengenalnya dua tahun silam, laki-laki yang masih keturunan China muslim dan Korea itu berubah menjadi pria bersayap malaikat yang melindunginya lebih dari saudara.


Ardhan adalah tameng paling kuat yang pernah hadir dalam hidupnya. Dia tidak segan menghajar siapapun yang menghina kawannya. Bahkan guru Bahasa Inggris.


Ester masih ingat itu waktu dia masih kelas sepuluh. Guru memintanya membawa alat musik untuk mengiringi lagu yang harus dibawakan. Namun Ester tidak memiliki satupun alat musik. Dia sudah bertanya pada hampir semua teman kelas, tidak ada yang bisa memberi pinjam.


Mungkin sebenarnya memang tidak mau karena takut rusak atau hilang jika dipinjamkan pada orang miskin seperti dirinya. Saat itu Ardhan masih belum masuk sekolah karena dispensasi lomba debat di stasiun TV nasional.


"Dasar miskin! Masak bawa alat musik saja tidak mampu?"


Itu kalimat yang keluar dari mulut sang guru. Ester hanya menunduk,  dadanya mendadak sesak. Orang-orang di dalam kelas memperhatikannya dengan beragam ekspresi.


"Kamu itu harusnya berterimakasih sudah bisa masuk sekolah elite tanpa mengeluarkan biaya. Yang lain masuk sini perlu uang sampai ratusan juta! Uang merekalah yang membuat kamu bisa memakai almamater kami. Tidak tahu diri!"


Tangan Ester mengepal hingga buku jarinya memutih. Dia ingin sekali menghajar pria berkumis dan berkepala plontos di hadapannya.


"Saya masuk kemari dengan jalur prestasi bukan jalur tidak mampu!"


"Hey! Kamu berani melawan saya?"


"Kenapa bapak memandang saya serendah itu?"


"Beraninya kamu-"


Saat tangan besar itu melayang di udara dan bersiap menampar pipi Ester satu tangan lain menyambarnya.


Ester belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Namun tiba-tiba kelas itu pecah oleh teriakan dan jerit. Di tengah kelas tampak seorang laki-laki yang sedang baku hantam dengan gurunya.


Ester membekap mulut begitu melihat Ardhan-lah yang ada disana.


"Kau itu guru! Harusnya bisa menjaga mulut!"


"Memangnya kau siapa bisa menghina murid seperti itu?"


"Contoh buruk macam apa yang kau berikan pada kami hah?"


Sambil bilang begitu Ardhan terus menerus memukuli guru yang badannya jauh lebih besar dari tubuh kurus Ardhan. Kepala sekolah, guru, dan teman-temannya kewalahan memisahkan mereka berdua.


Saat baru saja tiba di sekolah tadi dia tidak sengaja mendengar dua orang siswa menceritakan seorang anak di kelas 10 Ipa yang sedang dimaki oleh gurunya. Ardhan tidak enak hati akhirnya buru-buru menuju kelas itu. Benar saja, di sana dia melihat tangan gurunya sudah melayang hendak menampar Ester.


"Ardhan cukup!"


Mendengar suara Ester menggema memecah semua kegaduhan, Ardhan tiba-tiba membatu. Kepal tangannya melayang di udara. Orang-orang juga terdiam, kaget hanya dengan satu perintah laki-laki yang mendadak bringas itu diam begitu saja.


Ini dimanfaatkan teman-temannya untuk memisahkan mereka. Kondisi guru Bahasa Inggris itu mengenaskan, lebam dan berdarah-darah. Ardhan pun sama saja, pakaian dan rambutnya acak-acakan. Ada bercak darah menempel di kemeja nya. Luka juga tampak meneteskan darah dari pelipis dan sela bibir.


"Cukup!" Gadis itu menegaskan untuk terakhir kali.


***


"Kenapa sih kamu sampai harus berantem sama pak Yoko?"


Ester mengomel sembari membersihkan luka di bibir dan pelipis Ardhan. Laki-laki itu meringis menahan perih.


"Dia ngehina kamu Es! Jangankan dia, bapak mu saja kalau berani mukul aku habisi dia!"


"Kenapa kamu jadi bodoh seperti ini?"


"Apa membela kamu adalah sebuah kebodohan?"


"Iya kalau dengan berantem seperti tadi. Kamu tidak takut dikeluarkan, hah?"


"Memangnya kamu yakin aku bakal dikeluarkan?"


Ester mendengus, laki-laki itu selalu saja meringankan hal yang sebenarnya tidak ringan. Dia jadi makin merasa serba salah.


Namun untung saja ternyata benar, dia tidak sampai dikeluarkan. Hanya skorsing satu minggu, mungkin karena kesaksian anak-anak yang melihat Ester di maki-maki dan hampir ditampar.


Apalagi Ardhan memang tidak pernah membuat masalah sebelumnya. Prestasi yang dia raih juga lebih dari cukup untuk jadi bahan pertimbangan sekolah agar tidak menendangnya keluar.


Sejak saat itu tidak ada satupun yang berani menghina apalagi sampai berbuat kurang ajar pada Ester. Mereka takut harus berakhir tragis macam guru Bahasa Inggris itu.


***


"Ah bu, keretanya sudah sampai."


Ester menggelengkan kepala, menepis bayangan masalalu itu. Setelah memberikan tiket pada petugas yang terkantuk-kantuk dia bersama ibu memasuki gerbong.


Lenggang sekali di dalam sana. Hanya ada beberapa orang yang membawa tas besar, mungkin mau pulang kampung atau mencari peruntungan seperti mereka.


Ester memejamkan mata, berdo'a pada Tuhan agar ini adalah awal mula kebebasan dia dan ibunya. Satu langkah untuk maju ke masa depan.