DEAR ARDHAN

DEAR ARDHAN
SEPATU DAN PERTEMUAN KITA



Jakarta, Indonesia 2016


Prang!


Celengan berbentuk kodok itu kini tinggal berupa serpihan dan puing. Diantara puing tanah liat ada tumpukan uang receh seribu, dua ribu, lima ribu, dan koin-koin kecil. Ester remaja mengumpulkannya dengan apik agar tidak ada satupun yang tertinggal. Walau cuma lima ratus rupiah, itu sudah bisa membuatnya kekurangan uang. Jadi lebih baik teliti dari sekarang.


"Kenapa celengan nya kau pecahkan? Mau jajan kah?"


Pak Dirham, Ayah tirinya menatap dengan pandangan sinis nan menghina. Sejak lama dia selalu bilang Ester itu beban hidup yang paling tidak berguna. Sekalipun ibu kerap membela bahkan mengancam cerai kalau dia tetap berlaku buruk, Pak Dirham tidak pernah peduli.


"Cerai kau bilang? Makan saja tak mampu bayar kalau bukan karena aku, bagaimana kau ada uang untuk menggugat cerai aku?"


Itu benar, sejak Babap meninggalkan mereka 4 tahun lalu ibu dan Ester terluntang lantung tidak tentu arah. Pemilik kontrakan yang sudah 3 bulan dihutangi tidak bisa lagi menerima kehadiran keluarga kecil itu. Jadilah sekarang tidak ada pilihan selain ikut ayah tirinya yang pemarah dan suka memukul itu.


"Saya mau beli buku pak,"


Ester mengantongi semua uang dan bekas pecahan celengan. Dia sudah tidak sabar ingin membeli buku tentang Mikrokosmik yang sudah dia inginkan sejak enam bulan lalu.


"Buku lagi buku lagi! Kamu pikir buku bisa dipakai ganjel perut kalau lapar hah?"


Ester hanya mendunduk. Kalau saja bisa melawan dia sangat ingin bilang bahwa buku itu memang pengganjal perut disaat lapar kala malam datang. Atau saat pulang sekolah dan yang ada hanya tudung saji kosong.


"Permisi pak."


Tidak menunggu kelanjutan perkataan ayah tirinya Ester segera pergi dari sana. Seseorang pasti sudah menunggu di tempat biasa mereka bertemu.


***


"Yah ... lama sekali! Kamu kemana dulu Es?"


Pria itu mengerucutkan bibirnya yang manis dan kecil. Sekalipun sedang cemberut pipinya yang kadung mengembang seperti bakpau juga sangat menggoda untuk dicubit.


Dia Haringga Ardhan, kakak kelas Ester di SMA tempatnya menuntut ilmu. Mereka dipertemukan dua tahun lalu saat Ester menjadi salah satu murid baru yang kena hukuman karena tidak memakai sepatu yang hitam sesuai anjuran.


"Kenapa sepatunya pink?"


Saat itu Ardhan yang menjadi ketua disipliner Mos berdiri dengan wajah jutek di hadapannya. Ester yang justru memang dasarnya punya sikap jutek membalas tatapan pura-pura jutek itu.


"Kalau saya bilang saya hanya punya sepatu Pink bagaimana?" Ester balas bertanya.


"Kenapa tidak beli?"


"Kalau saya bilang tidak punya uang?"


"Kenapa kamu menjawab semua pertanyaan saya?"


"Karena itu adalah sebuah pertanyaan."


"Berhenti menjawab!!"


"Anda berhenti bertanya kalau begitu."


"Kamu!"


"Apa?"


Selama beberapa detik mereka saling bertatapan. Ester dengan wajah flat nya dan Ardhan dengan wajah yang kian lama kian salah tingkah. Dia sebenarnya bukan pria yang cocok dijadikan Komisi disipliner seperti itu. Apalagi dengan wajah imutnya dia justru jadi bahan godaan siswa baru.


Karena sudah tidak kuat menahan rona pipi yang berubah merah, Ardhan memalingkan wajah. Sebisa mungkin tidak tersenyum. Nentra Hazel itu terlalu mengganggu kalau harus dilihat lebih lama.


"Jadi bangaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Sepatu kamu?"


"Saya sudah bilang-"


"Aku tahu, tapi di dalam sana Komisi Disiplinernya lebih kejam, kamu mau dihukum?"


"Tidak ada pilihan lain."


Dan entah apa alasannya tahu-tahu Ardhan melepaskan sepatunya. Wajah flat Ester sedikit tampak kaget. Alisnya yang melengkung indah naik sedikit.


"Nih,"


"Apa?"


"Pakailah."


"Kenapa?"


"Tentu saja karena aturan, anak bodoh! Cepat dipakai."


Ester tidak sampai berpikir, dia akhirnya melepaskan sepatu Pink nya yang sudah usang lalu mamakai basket shoese hitam miliknya yang masih sangat baru.


"Baiklah, terima- hey? kemana dia?"


Sebelum bisa mengucapkan terimakasih pria itu sudah jalan dulua sambil menjinjing sepatu butut pink milik Ester.


"Hey! Tunggu!"


"Kamu kembalikan itu nanti saja ya? Sepulang sekolah aku tunggu di situ."


Dia membalas teriakan Ester tanpa berbalik, masih berjalan santai walau tanpa alas kaki. Sepatu Pink nya mungkin kekecilan karena sepatu yang saat itu Ester gunakan juga kebesaran di kaki mungilnya.


***


Sepulang MOS Ester buru-buru berlari ke arah gerbang. Menunggu pria tadi yang bahkan tidak sempat dia tanyakan namanya. Sewaktu acara di dalam tadi berkali-kali dia melihat pria itu kesana kemari dengan Komisi Disipliner yang lain. Memasang wajah jutek yang untuk Ester justru tampak lucu. Apalagi kalau ingat bagaimana cara laki-laki itu menutupi rona merah di kedua pipinya. Menggemaskan!


"Kamu menungguku?"


Ketika sedang berteduh dibawah pohon Angsana dekat gerbang, suara pria tadi terdengar lagi. Ester membalikan badan, pria itu menaikan alis tanpa tersenyum.


"Eng ... yah, ini milikmu." Ester memeberikan sepatu itu. Sedangkan kakinya tidak berhenti menjinjit karena panas.


Ardhan memperhatikan kaki kaki mungil yang tidak berhenti bergrak itu, persis sekali seperti cacing kepanasan. Mau tidak mau dia tertawa juga.


"Apa yang lucu?"


"Kamu."


"Apa?"


Ester memberenggut, pria ini kenapa pula harus memperhatikan kakinya. Memangnya tidak aneh ya kalau kaki kepanasan di terik matahari seperti itu?


"Sudahlah pakai lagi saja."


"Apa?"


Ardhan mengambil sepatu dari tangan gadis berwajah pucat itu dan menjatuhkannya tepat di depan kaki Ester.


"Lantas kamu bagaimana?"


"Kau tidak lihat aku sudah pakai sandal?"


"Sandal?"


Selama beberapa saat gadis itu terdiam, seolah berpikir apa yang terlewatkan.


"Hey! Dimana sepatuku?"


Mendengar gadis itu bertanya, Ardhan cuek menyeruput teh manis di dalam cup plastik. Cuaca panas seperti ini enaknya memang minum yang dingin-dingin. Setelah diminum olehnya dia membalik sedotan dan menempelkan cup itu pada pipi Ester.


Gadis itu terperanjat. Kaget dengan sentuhan dingin pada pipinya yang panas.


"Kamu ini apa-apa an sih? Bukannya jawab pertanyaan saya?"


"Udah kamu pakai dulu sepatunya, terus minum ini. Cuaca panas, nanti dehidrasi loh." tuturnya santai.


Ester mengepalkan lengan kesal. Siapa sih laki-laki ini? Baru bertemu tadi pagi sudah memperlakukan dia seenaknya begini? Perempuan normal mana yang mau diajak minum satu sedotan berdua dengan laki-laki yang bahkan tidak diketahui namanya?


"Ayok dipakai! Kamu mau kaki melepuh?"


Walau dongkol setengah mati dia akhirnya menurut, memakai sepatu yang sejak tadi dilepasnya itu. Memang benar, kondisi kakinya membaik setelah tidak lagi menyentuh coran parkiran yang panasnya minta ampun.


"Lihat, saya sudah pakai sepatunya, sekarang tolong jawab, dimana sepatu saya?"


Lagi-lagi Ardhan malah menempelkan cup plastik itu ke pipi Ester, "ayo minum, bibir kamu pucat sekali itu."


Walau kesal setengah mati akhirnya Ester mengalah, dia berjinjit dan menarik sedotan itu ke mulutnya. Posisi Ardhan yang jauh lebih tinggi membuatnya agak kesulitan.


Melihat gadis itu terjinjit-jinjit Ardhan menurunkan badan sehingga posisi sedotan itu lebih mudah di hisap oleh Ester. Netra mereka sejajar, pupil milik Ester bahkan membesar karena kaget.


Dia buru-buru melepaskan sedotan itu dan menjauh satu langkah. Pipinya terasa panas membakar, mengalahkan dinginnya teh manis yang masuk ke kerongkongan. Ardhan tersenyum melihat wajah salah tingkah di depannya. Dia jadi terlihat manis sekali.


"Se ... sekarang bisakah saya mendapat sepatu itu kembali? Itu satu-satunya."


"Apa barang bersejarah?"


"Bukan."


"Tidak masalah kalau hilang?"


"Apa?!"


"Kamu ini! Bisa tidak kalau bicara itu matanya jangan sambil mau loncat?"


Gadis itu memilin bibir dengan sebal, sampai kapan laki-laki ini mau menggodanya?


"Serius dong, dimana sepatunya?"


"Hilang!"


"Terus gimana dong?"


"Ya enggak gimana, kamu kan udah pakai sepatu?"


"Tapi kan ...."


"Udah enggak usah dipikirin. Lagian aku nggak suka sepatu itu, modelnya kayak buat perempuan. Mending kamu pakai saja ya, biar enggak kena hukum besok."


Dia melempar senyuman manis yang tampak tulus, Hati Ester bergetar, ini pertama kalinya ada orang yang mau berlaku sebaik itu padanya.


"Saya bahkan belum tahu nama kamu?"


Laki-laki itu menaikan alis, kaget dengan kalimat yang keluar dari si gadis. Padahal sejak tadi dia berpikir cara paling tepat menanyakan namanya.


"Ardhan, kamu boleh panggil saya begitu. Nama kamu siapa?"


"Ester, Ester Liem."


"Well Es, senang bertemu dengan kamu." Pria itu melambaikan tangan kemudian berlalu. Meninggalkan Ester yang mematung, memperhatikan punggung tegap yang semakin menjauh. Ester tidak tahu segaris senyum yang tersungging di bibir itu, 'Ester? nama yang indah ....'


***


"Yah kamu kemana dulu Es? Lama sekali!"


Ester duduk di sebelahnya. Bangku taman tempat mereka biasa bertemu terasa dingin, mungkin sisa hujan gerimis siang tadi.


"Aku habis pecahin celengan."


"Uangnya cukup enggak?"


"Cukup kok, yuk ah!"


Gadis itu bangkit berdiri dan mengasongkan lengan ke arah pria yang saat itu asik membenamkan kedua tangannya ke dalam saku sweater putih yang dia kenakan.


Ardhan menerima uluran tangan itu dan berdiri. Mereka berjalan santai menelusuri peron toko, mencari toko buku yang biasa didatangi.


"Bapak tiri kamu masih suka nyebelin?"


Mendengar pertanyaan itu Ester hanya menghela napas tanpa menjawab, pandangan nya menerawang.


"Aku cuma pingin cepat lulus, kuliah sambil kerja, biar bisa bantu ibu."


Ardhan tersenyum mendengar ucapan gadis di sebelahnya. Sejak bertemu dia dua tahun lalu, Ardhan tahu kalau kehidupan gadis itu sangat berat. Ester bisa masuk SMA karena beasiswa prestasi yang dia miliki. Ayahnya kabur waktu Ester masih Sekolah Dasar, dan sekarang dia terpaksa hidup dalam kekang ayah tiri yang sangat memuakan.


"Yaudah ayok cari bukunya, kita belajar supaya kamu lulus seleksi beasiswa."


Setelah lulus SMA dan kuliah, Ardhan berubah peran jadi mentor pembimbingnya. Dua kali seminggu dia selalu menyempatkan diri membimbing Ester persiapan seleksi.


"Makasih ya Ar, Aku nggak kebayang kalau hidup nggak ada kamunya." Ester melempar senyum kebar. Pria di depannya hanya membalas dengan sungging senyum setengah hati.


'Ya aku juga tidak pernah bisa membayangkannya.'