
Seoul, Korea Selatan
Matahari tampak bersinar malu-malu, menyembunyikan diri di balik awan kelabu yang menyelimuti Seoul pagi itu. Walau demikian sejak pagi buta, atau lebih tepatnya selama 24 jam itu kehidupan Seoul tidak pernah mati. 22 tahun berlalu sejak terakhir kali Ester menginjakan kaki di sini.
Banyak hal telah berubah sehingga dia bahkan tidak bisa mengenalinya lagi. Pohon-pohon berdaun kuning yang jika musim gugur seperti sekarang biasanya beterbangan tertiup angin kini berganti gedung pencakar langit yang sudah macam skywall.
Korea Selatan telah lama jadi salah satu pusat trendsetter dunia. Pembangunan dan kecanggihan teknologinya berkembang pesat. Kancah perfilman dan musik pun semakin merajai industri hiburan dunia.
Salah satu pusat penelitian terbesar di negara ini pernah bekerjasama dengan Lab genetika milik ICE dalam proses pengembangan Imultan Serum untuk pengembangan sel otak manusia.
Dalam balutan mantel darkblue keluaran brand kenamaan dunia itu Ester menelusuri jalanan kota yang asing sekali itu dengan ICE-Boarder miliknya. Nama jalanan sudah banyak berganti, akhirnya dia memutuskan pergi ke pusat informasi turis yang gedungnya kini lebih dekat dengan Bandara.
Begitu memasuki gedung itu udara sedikit lebih hangat, mungkin pengatur suhu otomatis di ruangan itu berfungsi dengan baik. Sebuah robot prototyp model perempuan dengan pakaian resepsionis menyambutnya dan menanyakan apa yang bisa di bantu.
"Bisa beri saya visual peta desa Guryong di Gangnam distrik?"
Robot itu diam sejenak, seolah memproses apa yang baru saja dia tanyakan.
"Maaf, tempat yang anda cari tidak bisa ditemukan. Sebagai saran lain, anda bisa-"
Tanpa mendengarkan ocehan tidak berguna robot itu Ester melenggang keluar. Sudah jelas Desa itu tidak akan ada di pencarian. Jangankan sekarang, 22 tahun lalu saja pemerintah sudah melupakannya. Menganggap Guryong hanya sebuah Desa Ilegal ditengah segala kemegahan Gangnam.
Didirikan setelah adanya penggusuran massal yang terjadi menjelang Olimpiade Seoul pada tahun 1988. Populasi di pemukiman waktu itu tidak bisa dipastikan, antara 700 hingga 2.000 orang bermukim di atas tanah seluas 70 hektar.
"Permisi, apakah anda tadi menanyakan Desa Guryong?"
Ketika baru saja akan berlalu pergi, Airboard lain mengsejajarinya. Ester menoleh, dia seorang perempuan usia sekitar 40 tahunan. Dari balik kacamatanya Ester mengscan tubuh orang itu dari kaki hingga kepala, tidak ada yang mencurigakan.
"Iya betul."
"Maaf, boleh saya bertanya ada kepentingan apa?"
"Kenapa saya harus berbicara dengan anda?"
"Karena mungkin saya bisa membantu anda. Saya berasal dari Guryong."
"Really?"
"Tentu saja, lihat ini."
Perempuan itu mengasongkan sebuah tanda pengenal yang usang, ada nama ditulis dengan huruf hangul beserta alamat yang berdekatan dengan Desa Guryong. Alamat yang biasa dicantumkan warga Guryong pada identitas mereka.
"Ini tanda pengenal saya 25 tahun lalu, dan ini yang sekarang."
Perempuan itu menekan tombol pada smartwatchnya. Ester membaca deretan huruf hangul yang tampak dari layar hologram di lengan itu. Alamatnya masih sama.
"Baiklah, jika anda bisa membantu saya. Akan saya beritahu apa tujuan saya."
Pada akhirnya gadis itu menyetujui. Ini satu-satunya cara menemukan Han Li Eun.
***
"Anda punya hutang satu jawaban pada saya,"
Setelah beberapa saat menelusuri jalanan Gangnam dengan saling membisu, perempuan yang membawa Airbordernya lebih dulu itu bersuara. Menoleh pada gadis yang sejak tadi diperhatikannya terdiam, seolah sedang memikirkan banyak hal.
"Apa?"
"Tujuan, apa sebenarnya tujuan anda mencari Guryong?"
Mendengar pertanyaan itu Ester menaikan alis, sedikit curiga.
"Kenapa anda sangat ingin tahu?"
"Karena ... tidak ada orang asing kaya raya macam anda yang jauh-jauh mencari tempat kumuh macam Guryong, apalagi setelah 15 tahun tempat itu dimusnahkan."
"Apa maksud anda dimusnahkan?"
Ester kaget bukan main, walau sejak lama sudah menduga tempat itu pasti akan dihancurkan, namun mendengar berita itu dari mulut orang langsung membuatnya kaget.
"Anda lihat taman luas di sana itu?"
"Iya, itulah Guryong sekarang."
Kali ini dia menghentikan Boardernya, menatap tempat itu dengan ekspresi aneh. Dia seakan bisa melihat dua orang tersesat yang berlari menembus hujan melewatinya, berteduh di bawah pohon rindang yang ada tepat di depan gang kecil.
Dia juga seakan bisa melihat seorang perempuan yang berjalan takut-takut menawarkan sepasang payung, walau tubuhnya kuyup, dia berusaha keras tanpak cakap menawarkan jasa. Satu-satunya Ojek Payung di Guryong.
"Hei! Kenapa melamun-ah, anda seperti hendak menangis."
Ester menggelengkan kepala cepat, mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Dia usap ujung matanya dengan tissue, mencoba tersenyum ke arah wanita yang memperhatikannya dengan tidak mengerti.
"Kemana orang-orang Guryong pergi?"
"Sebagian dari mereka ada yang merantau ke kota lain, atau tetap bertahan dengan menyewa apartemen murah. Saya juga termasuk yang bertahan." jelasnya.
"Apakah kamu mengenal seorang perempuan bernama Han Li Eun?"
Mendengar nama itu disebut matanya membesar.
"Si, siapa anda sebenarnya? Kenapa mecari Han Li Eun? Apa mau anda?"
Dari yang awalnya bersahabat perempuan itu justru berubah gugup dan waspada. Dia mulai memperhatikan Ester dari ujung kepala sampai kaki, benar-benar mencoba mengenali wajah perempuan di hadapannya.
"Saya tanya, apa anda mengenalnya?"
Bukannya menjawab, perempuan itu malah langsung berlari, dia bahkan jatuh dari Airboardernya. Tampak sangat ketakutan.
Ester menekan tombol di Earphonenya, "Kalau kalian mengikuti aku, pastikan ikuti perempuan tadi, caritahu alamatnya tanpa mencolok. Berikan informasinya segera."
Selepas mengucapkan itu Ester kembali memperhatikan taman Guryong itu dengan ekspresi yang tetap saja sama. Dia turun dari ICE-Boardernya dan sambil tetap menenteng benda itu, berjalan pelan memasuki gerbang taman, jelmaan gang kecil berpelur tipis duapuluh dua tahun silam.
***
"Apa? seorang perempuan?"
"Iya, orangnya cantik sekali, dia memakai mantel super mahal."
Perempuan berambut panjang dengan poni jarang itu mengerutkan dahi. Sejenak terlupakan dari kanvas dan kuas, dia sedang berpikir siapa gerangan orang kaya yang mencarinya? Apakah orang-orang suruhan Jae Won? Atau para penagih hutang dari Yeongyego?
"Apakah kau sempat menanyakan namanya?"
"Tidak, gadis itu sepertinya dingin sekali. Dia bahkan tidak mau menyebutkan namamu sampai melihat taman Guryong, sepertinya dia sangat tertarik dengan taman itu."
Han Li Eun mengerutkan dahi.
"Kau bilang dia baru saja tiba di Seoul?"
"Iya, dia bahkan mencari Guryong di pusat informasi. Tadinya aku bermaksud mencuri Airboardernya yang tampak sangat mahal itu."
"Kenapa tidak jadi? Kau tahu bukan kita tidak bisa makan Kimchi Jiggae basi terus menerus?"
"Selain karena dia menyebutkan namamu, aku juga merasa kalau perempuan itu bukan orang yang mudah dicuri atau ditipu."
Han Li Eun kembali menautkan alis, apakah mungkin dia?
"Ah tentu saja bukan,"
"Apanya yang bukan?"
"Tidak."
Perempuan itu cepat-cepat menggeleng, menepis pikiran konyol yang sempat terlintas. Mustahil perempuan yang membencinya seumur hidup mau mencari, 'mungkin dia malah sudah lama melupakan aku.' batinnya.
"Kalau kau penasaran datang saja ke taman itu. Aku yakin dia masih ada di sana." Perempuan tadi kembali bersuara, kali ini Han Li Eun tampak tertarik.
"Kau yakin?"
"Melihat gelagatnya sih begitu. Sana saja kau pastikan sendiri. Aku lapar, mau cari mangsa lain saja." ucapnya seraya pergi begitu saja.
Sepeninggalannya Han Li Eun ragu meraih mantel. Didorong rasa penasaranlah akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari apartemen kecilnya, siapapun orang itu, dia harus memastikannya dengan mata kepala sendiri.