
"ARDHAN!"
Gadis itu terperanjat bangun, keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia terengah, tidak percaya apa yang barusaja hadir di mimpinya.
Kenapa memori itu begitu jelas? Seperti kaset lama yang memutar adegan lawas.
"Miss. Liem, anda baik-baik saja?"
Diana yang tadi pontang panting dari tempat konferensi ketika mendengar kabar Ester pingsan setelah menerima pesan buru-buru duduk disamping boss nya yang kini sudah bangun. Dia selama tiga jam terakhir begitu panik, untung saja dokter pribadi Ester bilang kalau gadis itu hanya kelelahan.
"Aku kenapa?"
Dia memegangi kening, sakit rasanya. Seperti ditindih batu.
"Tadi Miss. Liem jatuh pingsan, untung saja Grigorie ada bersama anda."
Ester mengernyit, mengingat-ingat apa yang tadi terjadi. Saat itu dia bermaksud pergi ke ruang kerja saat Grigorie memberitahukan ada pesan pada nomor pribadinya.
Pesan!
"Greg, dimana ponselku?"
Dia buru-buru bertanya, sekalipun bingung Grigorie mengasongkan layar tipis transparan itu ke tangan Bossnya. ICE-pad series adalah teknologi ponsel dan gawai mode teranyar yang dibuat oleh perusahaan mereka. Bentuknya sangat tipis dan transparan, mirip sekali dengan cermin. Kapasitas memori internalnya bukan lagi menggunakan hitungan Giga, melainkan Terabyte. Dengan berbagai fitur canggih yang terkoneksi dengan semua flatform digital dan fasilitas publik di tiap negara yang bersangkutan.
Ester membuka folder pesan. Kembali membaca kata demi kata dengan cermat, napasnya sudah mulai teratur dan bisa diajak berpikir jernih.
"Bisa siapkan penerbangan? Openreturn?"
Seisi ruangan spontan kaget. Kemana boss mereka akan pergi saat projek lab dan kesibukan perusahaan begitu menggunung perlu di urus.
"A ... anda mau kemana Miss?"
"Jakarta, aku harus pulang."
***
Newyork masih berdetak sekalipun ini sudah lewat tengah malam. Dari dalam ICE-Car terbangnya Ester memandangi gemerlap kota yang tidak pernah mati itu, seperti juta larik kunang-kunang.
Di sebelah barat Manhattan sebuah tower raksasa berbentuk mirip jarum yang menusuk langit malam terlihat bersinar terang. Biru dan Ungu.
Itu adalah ICE-Towers. Pusat pengembang teknologi yang di bangun oleh ICE company. Perusahaan raksasa milik Ester Liem. Pembangunannya sudah 80 persen, Building Automatical Program yang di terapkan mempercepat waktu pembangunannya. Ada lima ribu pekerja manusia yang bertugas mengoperasikan robot prototype.
"Saya sempat heran, kok kamu bisa membuat program pembangunan seperti itu?" Grigorie yang mengantarnya ke bandara tahu persis apa yang dilihat bossnya di belakang sana.
"Kau tahu cerita Sangkuriang dari Indonesia?" Ester balas bertanya.
"Ah ya, yang satu bulan lalu kamu jadikan materi story telling di tur keliling anak-anak Manhattan kan?"
Ester mengangguk.
"Aku terinspirasi dari cerita itu. Seseorang pernah menceritakannya padaku 22 tahun lalu. Dia berpikir mungkin akan sangat mengagumkan kalau kemampuan Sangkuriang diaplikasikan pada dunia nyata. Bayangkan saja bagaimana gemparnya dunia kalau ada yang bisa membangun 999 gedung selama satu malam hanya oleh seorang diri?"
"Itu gila! Mustahil rasanya."
Grigorie tertawa, ada ada saja imajinasi atasannya itu.
"Kau tahu Greg? Mustahil tidak pernah ada dalam kamus hidupku."
"Kamu benar, buktinya pembangunan menara kita hanya butuh waktu 7 bulan hingga peresmian."
"Tapi belum bisa 1000 permalam."
"Dasar gila!"
Mereka tertawa, mencoba mengalihkan pikiran dari pesan itu. Netra hazel milik Ester kembali memandangi gemerlap kota di bawah sana, benar-benar mirip Kunang-Kunang.
"Kamu yakin tidak perlu di antar Liem?"
Setelah menurunkan kopor dari bagasi Grigorie kembali bertanya. Gadis dihadapannya tampak membetulkan letak syal yang membelit leher, tampak kedinginan.
"Tidak usah, aku harus pulang sendiri kalau ke Indonesia. Lagipula ICE-Guard masih mengawasiku kan?"
Grigorie mengangguk. Sejak pernah mendapat serangan tiba-tiba dari kelompok anarkis waktu perjalanan bisnis ke Syria, mereka memutuskan untuk menyewa Guard bayangan yang akan mengawasi Ester Liem dua puluh empat jam kemanapun itu, memastikan dia selalu baik-baik saja tanpa mencolok perhatian.
"Kalau begitu kau tidak perlu khawatir. Aku hanya pulang beberapa hari untuk menemui seseorang. Jum'at depan sepertinya sudah kembali. Titip ICE ya?" dia tepuk pundak kawan nya sambil tersenyum.
"Gila! Tempat sebanyak dan seluas ICE kamu titipkan padaku? Tidak mau!"
"Selain kamu siapa lagi?"
Sekalipun memberenggut dia mengangguk juga. Memeluk kawannya sebentar sebelum menaiki Jet yang sudah disiapkan, seorang pramugari mempersilahkan Ester masuk dengan ramah.
"See you Greg!"
"See you!"
***
Begitu sabuk pengaman terlepas Ester meregangkan badan. Pegal rasanya setelah seharian memenuhi jadwal kerja dan konferensi dia harus langsung terbang seperti ini.
Setelah meminta dibuatkan secangkir Vanilla Late low sugar pada pramugari dia beranjak ke suite-nya.
Jet ini memang didesain 3 kali lebih besar dari kebanyakan ultra-long-ranger Jet lainnya. Memiliki enam zona kabin yang
diatur menjadi multi-cabin lounge, meja makan, dan bahkan master suite lengkap dengan queen-size bed dan walk-in shower. Terdapat 19 kursi di dalam pesawat ini. Dengan panjang pesawat i 37 m.
Ester sengaja meminta desainer kabin pesawat terkenal asal Perancis Jhohan Boutiere untuk menyulapnya menjadi senyaman apartemen. Dengan sentuhan warna cokelat kayu, cream dan dark silver serta gold. Lantainya dihiasi ornamen bunga krisan dan Aster. Ciri khas pemilik Jet.
"Permisi Miss. Liem, ini kopinya."
Pramugari itu keluar dari bar seraya menenteng napan. Ada cangkir yang masih mengepul di atasnya.
"Taruh saja di situ, nanti saya minum."
"Baik Miss."
Lengan pramugari berambut pirang itu sedikit bergetar saat menyimpan cangkir di tempat yang telah tersedia. Sekilas dia lirik perempuan di sebelahnya, sama sekali tidak teralihkan dari layar pad transparan tipis yang tengah di pengangganya. Sesekali tampak menggeser sesuatu.
Kalau di lihat dengan mata telanjang memang tidak tampak apapun di sana. Namun untuknya yang sudah melayani berbagai macam orang tentu saja itu bukanlah hal aneh. Kebanyakan keluarga kaya atau kaum Jetset selalu gemar mengkoleksi barang-barang aneh.
Apalagi yang sekarang satu kabin dengannya adalah Ester Liem, salah satu pebisnis dan pengembang teknologi terbesar di Amerika Serikat. Benda yang dipegangnya adalah ICE-Tab yang terkenal itu. Untuk bisa menggunakannya pemilik harus memakai kacamata khusus sehingga isi Tab hanya bisa dilihat oleh si pemilik yang sudah mengonfirmasi data diri menggunakan sistem pemindai retina.
Dulu benda canggih seperti itu hanya digunakan mata-mata dalam film. Dewasa ini para pejabat dan kaum bisnis marak menggunakannya dengan alasan keamanan dan privasi.
Dia pernah berniat membelinya satu, namun sayang rasanya mengeluarkan uang ribuan dolar hanya untuk benda yang kurang dibutuhkan pekerja biasa seperti dirinya. Ya, kecuali kalau dia berniat punya selingkuhan atau semacamnya. Dia tersenyum sendiri memikirkan kemungkinan konyol itu.
"Ada apa?"
Tahu-tahu perempuan itu mengalihkan pandangannya pada si pramugari.
"Ah ... maaf, tidak." Dia menggeleng, buru-buru menunduk hormat.
"Saya tersenyum melihat benda yang Miss pegang. Itu Tab terbaru yang tengah jadi bahan pembicaraan kan?"
Ester melepas kacamatanya. Tersenyum tipis, "kamu menyukainya juga kah?"
"Eh euh, tentu saja. Tapi ... saya tidak berniat membeli Tab nya."
"Kenapa?"
"Saya merasa pekerjaan saya tidak terlalu membutuhkan privasi ekstra seperti layanan yang ada pada Tab. Ponsel biasa saja sudah cukup."
Ester tersenyum.
"Sepertinya kamu gadis yang lebih mementingkan fungsi dibanding gaya. Saya suka itu."
Si pramugari nampak kaget mendengar ucapan perempuan di depannya.
"Eum ... Miss, boleh saya tanya sesuatu?"
"Apakah?"
"Kenapa anda membuat piranti komunikasi yang transparan tapi tidak bisa dibaca dengan mata telanjang?"
Mendengar pertanyaan itu Ester menaikan alis.
"Kalau saya bilang karena iseng apa kamu akan percaya?"
"Eh?"
Ester tertawa melihat wajah kaget melongo perempuan itu. Sepertinya dia kebingungan dengan jawaban tak terduganya.
"Saya bercanda!"
Perempuan itu tampak salah tingkah ketahuan sekali bagaimana ekspresinya hingga Ester bisa tertawa seperti itu.
"Bukankah manusia juga seperti itu? Tampak transparan namun ada banyak rahasia terpendam di dalam dirinya. Seseorang dimasalalu yang memberi saya inspirasi tentang itu."
Si pramugari mengangguk tanda mengerti. Dia senang bisa berbincang singkat dengan perempuan yang kata salah satu majalah bisnis adalah manusia yang paling sulit ditemui.
Setelah mengangguk pamit dia kembali ke kabin depan, berkumpul dengan kru kabin lain yang menunggunya bercerita tentang apa yang dibicarakan dengan Ester Liem itu.
Dia tidak tahu sepeninggalannya Ester terdiam, bersandar pada sofa dengan pandangan menerawang.
'Kenapa kau seperti itu Ardhan? Kau tahu? Sampai sekarangpun aku tidak pernah mengerti apapun tentang dirimu. Tidak sedikitpun.'
***