DEAR ARDHAN

DEAR ARDHAN
TENTANG PORTAL RUANG WAKTU



NewYork, 2040


Gadis itu masih berdiri di depan cermin. Memasangkan anting kecil berbatu mulia hasil tangan dingin seorang desaner perhiasan ternama dunia. Entah mungkin karena bentuknya yang cantik, atau memang karena si pemilik kuping sudah sangat cantik. Anting itu tampak pas sekali menghiasi kedua telinganya.


"Miss. Liem, rundown nya tinggal 15 menit lagi."


dari arah pintu seorang crew datang menghampiri. Perempuan bermarga Liem itu hanya mengangguk seraya membetulkan posisi blazer hitamnya. Sekalipun tidak suka memakai pakaian formal. Di konferensi seperti ini akan sangat tidak sopan kalau harus berpakaian seperti kebiasaannya.


Dia menarik napas kasar, mencoba menenangkan diri dan mulai memasuki ruang konferensi.


Dan di sinilah dia sekarang, mengangguk hormat pada sekitar 400 undangan dari berbagai institusi ternama dunia, alhi fisika dan kimia modern, serta sejumlah perwakilan dari beberapa negara besar.


Sekalipun ini sudah sering dia lakukan. Tetap saja sensasi bergetar itu selalu menghampirinya. Ester memejamkan mata, merapalkan mantra andalan yang tidak pernah dia lupakan. Seseorang di masalalu pernah mengajarkannya.


"Tuhan, bantu aku, mudahkan jalanku, biarkanlah dunia ini jatuh dalam genggamanku, bukan di hatiku."


Riuh tepuk tangan bergemuruh yang memberikan sensasi bergetar aneh itu meredam. Moderator yang cakap begitu pintar mengendalikan suasana. Setelah di persilahkan, Esterl Liem-Perempuan cantik itu- akhirnya mulai berbicara.


"Suatu kehormatan bisa kembali berdiri di sini bersama anda semua. Terakhir saya berada di sini satu tahun lalu saat salah satu artikel saya tentang Sel dan Kapasitas Otak Manusia berhasil menggiring anda semua berkumpul seperti hari ini. Well, hari ini saya tidak akan membahas itu. Apalagi tadi moderator saya yang sangat cakap dan cerewet ini sudah sangat detil menjelaskan isinya."


Sekejap ruangan riuh oleh tawa.


"Hari ini, seperti tajuk yang ada pada undangan anda semua, saya akan menjelaskan tentang proyek besar yang tengah saya dan rekan laboratorium saya kerjakan selama hampir 10 tahun lamanya. Portal Ruang Waktu."


Punggung-punggung audience mulai tegak, tangan mereka sigap meraih pena dan notebook. Sudah siap mendengarkan dan mencatat, ini waktu yang mereka tunggu selama tiga bulan sejak undangan itu dikirimkan. Tidak boleh ada satupun kata atau kalimat penting yang lalai dicatat dan terselip dalam ingatan.


"Pernahkan anda berpikir bisa melihat masa depan dan menjamah masalalu? Well yeah, mungkin sebagian besar orang, termasuk mungkin ada sekalian berpikiran itu adalah hal yang mustahil, Imposible, not real, not sense, atau apapun istilahnya. Namun apakah benar kita tidak bisa melakukannya? Benarkah kita hanya bisa menjalani kehidupan yang saat ini sedang berlangsung saja? Tidak bisa mengubah masalalu dan pun melihat apa yang terjadi di masa depan? Bagaimana kalau ternyata bisa? Apa yang akan terjadi jika kita melakukannya? Apakah dampak yang akan kita rasakan jika itu kita lakukan? Apakah baik atau justru berubah buruk?"


Para peserta konferensi itu tampak bersemangat, seperti anak kecil yang pertama kali melihat cokelat dan permen kapas warna warni. Terkesan dengan perempuan cerdas yang melempari mereka dengan berbagai macam pertanyaan sekaligus. Gaya bicaranya yang lugas dan jelas membuat seisi ruangan itu menjadikannya titik fokus dari semua indera.


"Albert Enstein seperti yang kita tahu adalah orang yang pertama kali mendobrak Konsep Ruang Waktu yang Mutlak milik Newton, Dengan teorinya itu berarti Einstein secara radikal merombak pengertian ruang dan waktu mutlak. Ruang dan waktu tidak mutlak lagi atau dengan kata lain menjadi relatif. Atas kekonsistennya, Einstein berhasil mengantarkan suatu cara pandang mengenai alam semesta yang samasekali baru dengan teori relativitas khususnya ini. Dan ini pula menjadi bakal adanya teori tentang black hole, lubang cacing, dan penyemaian ruang waktu sesuai sejalan dengan masa."


Sejenak dia berhenti. Membiarkan rasa keingintahuan menggantung di langit-langit ruangan. Slide show di belakangnya menampilkan rangkuman materi serta point of view dari topik yang tengah dibahas.


"Namun kali ini saya tidak akan terlalu membahas masalah teori-teori tersebut. Saya yakin semua hadirin yang sekarang ada di hadapan saya ini sudah paham betul konsep ini. Maka dari itu langsung saja saya perkenalkan pada anda semua, Portal Ruang Waktu."


Saat mengucapkan itu seketika slide show yang ditampilkan pada screen raksasa di Auditorium super luas dengan kapasitas 500 undangan VIP itu padam, namun sebagai gantinya cahaya berpendar serupa galaksi bertabur bintang memenuhi ruangan. efek hologram super canggih yang sudah di atur sedemikian rupa.


Orang-orang berseru kagum. Murni sifat dasar manusia yang selalu rakus dan terjerat dengan kecanggihan teknologi mutakhir.


Dan seruan itu semakin kencang manakala mata mereka kembali tertuju pada si pembicara. Karena tepat di belakangnya sebuah kubah hologram raksasa yang menampilkan rancangan portal ruang waktu menjulang.


"Selama hampir sepuluh tahun saya bersama rekan-rekan laboratorium mengembangkan begitu banyak penelitian, riset, dan percobaan baik itu fisika, kimia, maupun konsep matematika. Kabar baiknya, berkat dukungan dari semua investor dan institusi terkait yang sudah mau mendukung projek ambisius kami ini, maka saya kabarkan pada anda semua bahwa Projek Portal Ruang Waktu sudah 40 persen dalam tahap pembangunan."


Mereka kembali berseru dengan antusias manakala layar di belakang ester menampilkan citra sebuah laboratorium super besar dengan kubah raksasa. Sebelum kembali berbicara dia meneguk air yang disediakan pada mimbar beberapa teguk. Kerongkongannya terasa perih karena sudah berbicara cukup lama.


"Bayangkan, apa yang bisa kita lakukan jika bisa kembali ke masa lalu? Berapa banyak perang yang bisa di cegah? Konflik, terorisme ... kita semua bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu agar hari ini lebih baik bukan?"


Audience itu hampir seperti dikomando menganggukan kepala tanda setuju.


"Dan coba bayangkan apa yang bisa kita lakukan jika dapat melihat masa depan? Berapa banyak bencana bisa dicegah? Natural disater, Pandemi, krisis ekonomi ... setidaknya sekalipun tidak bisa mencegah kita bisa mempersiapkan diri bukan?"


Audience berseru dengan semangat. Ester tidak langsung melanjutkan kalimat, sengaja betul membiarkan orang-orang dihadapannya terbang dalam angan dan pikiran masing-masing.


Ester tersenyum senang. Hilang sudah rasa gugup di dalam hatinya. Dia begitu cakap dan lugas dalam menjawab semua pertanyaan yang di ajukan audience dengan tanpa ragu sedikitpun.


Lihatlah, gadis cuek nan dingin juga menyebalkan itu kini berubah menjadi fisikawan jenius yang hampir semua karyanya mampu menggemparkan dunia.


Wajahnya yang selalu dalam taburan make up sederhana selalu saja bertebaran di tiap majalah kelas dunia semisal Forbes dan Newyork Times.


Gadis itu berubah mandiri, seperti apa yang selalu di inginkan oleh pria itu ...


Ester tersentak, bayangan itu tiba-tiba muncul. Ini pertama kalinya sejak 21 tahun terakhir, dua puluh satu tahun yang berat karena dia dipaksa pergi oleh orang yang amat dia cintai.


***


Selepas Konferensi itu Ester langsung meninggalkan lokasi dengan mobilnya. Sama sekali tidak peduli dengan kerumunan pers dari berbagai negara yang sudah mengerubunginya. Semua urusan itu dia serahkan pada Diana sang asisten. Mau tidak mau gadis itu maju ke depan dan menjawab semua pertanyaan.


"Bagaimana Konferensinya? Lancar?"


Grigorie, salah seorang kawan serta staf lab nya bertanya. Teralihkan dari layar pc yang tak henti dia pelototi sepanjang hari. Ester hanya mengangguk singkat dan merebahkan diri ke atas sofa ruang tamu. Tubuhnya yang kurus tampak ringkih meringkuk seperti janin.


"Mood Swing kamu kumat ya?"


Dia bertanya kembali. Boss nya memang tipikal orang yang mudah sekali berubah suasana hati. Dan itu bukan hal aneh lagi di tempat mereka berkerja.


Yang bisa membuat pikiran boss nya ada ditingkat konsentrasi maksimum hanya mengurung diri di ruang kerja pribadinya sambil mengerjakan projek mereka, saat mengawasi anak buah bekerja, dan saat konferensi seperti tadi.


"Maafkan aku tapi aku lelah sekali hari ini. Kalau kamu ingin tahu, kamu bisa menonton siaran ulangnya di televisi dan media streaming."


Ester menambahkan seraya mulai beranjak dari sofa.


"Ah iya, aku hampir lupa. Selama konferensi itu banyak pesan yang masuk ke ponselmu."


Sebelum gadis itu masuk ke dalam ruang kerja Grigorie teringat sesuatu.


"Dari mana? Kalau urusan pekerjaan ya kamu atur saja. Aku ikut bagaimana baiknya menurut kamu saja."


Gadis berambut pendek yang saat ini tampak berantakan kembali melangkah ke arah ruang kerja.


"Ah ada juga pesan ke nomor pribadi."


Langkah itu terhenti. Dia berbalik ke arah lawan bicaranya.


"Nomor pribadi?"


Grigorie mengangguk seraya mengkoneksikan ponsel Ester dengan LED Portable yang di tanam pada meja tamu. Ester kembali duduk dan membuka folder pesan itu.


Tangannya bergetar melihat nama siapa yang tertera pada kontaknya. Dan napasnya terhenti demi melihat isi pesan itu.


"PULANGLAH, Kondisinya semakin memburuk, Dokter bilang dia tidak akan bertahan sampai esok pagi."


Dan sungguh kalimat itu sempurna menacab di jantung seperti anak panah beracun yang mematikan. Gadis tangguh jatuh teesungkur, semua terasa gelap, sama seperti pikirannya saat ini.