DEAR ARDHAN

DEAR ARDHAN
Prolog



"PULANGLAH. Kondisinya semakin memburuk, Dokter bilang dia tidak akan bertahan sampai esok pagi."


Bergetar, tangan nan keriput ragu menekan tombol kirim pada layar tipis di genggamannya. Pesan 13 kata itu menggantung, menunggu persetujuan dari sang empu untuk bisa melesat terbang menembus langit malam.


"Kalau bunda ragu ... bunda tidak perlu mengirimkannya. Biarkan saja."


Terbatuk, dari sampingnya suara yang amat lemah berucap lirih. Bunda menatap sosok itu dengan raut yang sukar di jelaskan. Jerit hati ingin menangis melihat seonggok tubuh yang pucat layaknya kapas, terbaring tak berdaya dengan berbagai macam alat bantu hidup melintang di tubuhnya.


Demi melihat kondisi begitu tekad di hatinya mengukuh. Dia tidak ingin menyesal karena ragu mengambil keputusan.


Sambil berucap begitu dia menekan tombol kirim. Dan bagai lesatan anak panah(mungkin ratusan kali lipat lebih cepat dari pada itu) andai kau bisa melihatnya. Pesan itu melesat menembus langit malam menuju BTS terdekat dan kemudian dilempar kembali ke atas langit, menuju satelit komunikasi sebelum kembali menuju bumi. Melesat mencari nomor yang dituju.


"Padahal bunda tidak perlu mengirimkannya ...,"


"Kenapa?"


"Karena mungkin dia sudah lama melupakan aku ...."