DEAR ARDHAN

DEAR ARDHAN
TURBULENSI DAN INGKAR JANJI



"Miss. Liem? Apa anda bisa mendengar saya? Miss. Liem?"


Pintu Suite Cabin terdengar diketuk berkali-kali. Ester yang saat itu tengah mencoba tidur, tersentak, lebih lagi karena guncangan pesawat yang membuat tubuh ringkihnya hampir melompat ke udara.


"Miss. Liem? pesawat sedang mengalami turbulensi, apakah anda baik-baik sa- aw!!"


Dari balik pintu suara pramugari tadi juga terdengar khawatir. Sepertinya dia juga kesulitan. Ester bersusah payah meraih Gravity-protection dari dalam laci dekat kepala ranjang. Dua kali gagal menempelkannya di pelipis karena guncangan pesawat yang tidak terkendali. Untung saja pada percobaan ketiga dia berhasil mengkoneksikan proteksi darurat itu.


Tubuh yang semula terlempar-lempar di atas ranjang akhirnya bisa menginjak lantai cabin dengan sempurna. Proteksi darurat yang hanya dimiliki Ester ini memastikan tubuhnya tidak terpengaruh dengan kondisi lingkungan disekitarnya termasuk turbulensi.


Ester membuka pintu dan kaget melihat pramugari bernama Hellena yang sejak tadi memanggilnya tengah terlempar-lempar di udara.


Ester menarik kakinya ke arah kursi penumpang dan sedikit lebih kasar dari yang seharusnya mendudukan dia juga memasang seat beltnya.


"Bisakah kamu hanya tekan interkom dan beritahu saya?"


Ester menatap si pramugari sebal. Dia paling benci kalau diganggu waktu sedang tidur. Apalagi kesempatan itu jarang sekali dia dapatkan.


Hellena terkaget-kaget melihat pemilik Jet itu tetap berdiri dengan baik-baik saja diantara banyak bantalan sofa yang berhamburan ke langit-langit.


Ester mendekati interkom di dekat meja televisi dan mulai berbicara;


"Hei bodoh! Apa kau lupa tombol biru di dekat tuas?"


Suaranya itu langsung menuju kokpit, tempat pilot menjalankan pesawat. Para pilot itu saling pandang. Tangan mereka masih sibuk mengendalikan pesawat yang mendadak terhadang awan nimbus yang begitu pekat.


Tombol biru dalam Jet itu adalah Auto-pilot fitur terbaru yang di upgrade oleh Ester. Fungsinya juga mencakup fitur anti turbulensi.


Sadar apa yang diucapkan Ester mereka otomatis menekan tombol, seketika pesawat langsung dalam kendali.


"Kenapa kalian bisa sangat ceroboh seperti itu? Kalian tahu? Gara-gara ini aku sidah tidak bisa tidur lagi!"


Gadis itu mengomel kesal seraya menghampiri bar. Menghampiri seorang bartender yang masih dalam mode jongkok dan kaget.


"Apa yang kau lakukan di situ? Berikan aku Martini!"


Mendengar Ester berbicara dengan nada kesal dan marah seperti itu dia buru-buru membuka penutup botol dan menuangkanya ke dalam gelas. Memasukan es batu ke dalamnya dan memberikan itu pada Ester.


Tanpa mengucapkan apapun lagi Ester kembali ke Suite nya. Tempat berantakan itu sudah kembali rapih seperti semula. Sepertinya para crew cabin langsung membereskan semuanya begitu Ester melenggang ke bar.


"Miss. Liem, anda bisa mendengar kami?"


"Ya silahkan bicara."


"Akibat turbulensi tadi sepertinya kita harus mendarat di Bandara terdekat."


"Dimana itu?"


"Miami, Florida."


Seketika rona wajah Ester berubah.


***


"Apakah anda akan tetap berada di pesawat saja Miss. Liem?"


Hellena menghampiri Ester yang sejak tadi diam, memandangi lintasan pesawat dengan pandangan kosong. Benar apa yang dibilang Mr. Kim -Atasan mereka- bahwa Ester Liem adalah pengidap Mood Swing yang akut, sebentar ramah lalu galak, dan sekarang malah pendiam seperti itu.


'Ternyata jadi orang pintar dan kaya itu susah ya?' bantin Hellena.


"Aku akan jalan-jalan sebentar, bisa ambilkan ICE-Board?" Perempuan itu akhirnya bersuara, melepas seatbelt dan berdiri seraya meregangkan badan.


Hellena buru-buru mengambil menda pipih tanpa roda yang dimaksud. Bentuknya seperti papan selancar, hanya saja memiliki silinder berkatup di bagian sampingnya.


Sebelum memasangkan benda itu di kedua kakinya Ester membuka plaf ponsel dan kembali membuka pesan masuk. Ragu dia menekan tombol Call.


Berdering sebentar, suara terbatuk yang dia rindukan terdengar di ujung sana.


"Bunda ...."


"Ester? Kamu Ester kan?"


Mendengar nada itu hampir saja Ester kewalahan menahan air yang menggenang di pelupuk mata. Dia menggeleng cepat, "Bagaimana kondisinya?"


"Dia masih dalam status quo, tapi dokter bilang kondisinya tidak memburuk."


"Bisakah dia menungguku? Aku masih dalam perjalanan."


"Kapan kamu tiba nak?"


"Aku tidak tahu, secepat mungkin."


"Pulanglah, Bunda yakin dia akan menunggu kamu."


Ester hendak menutup telpon ketika Bunda kembali bersuara.


"Ester?"


"Ya?"


"Bisakah kau membawa Han Li Eun bersamamu?"


Kali ini satu titik air menetes di sudut matanya. Han Li Eun, kenapa namanya disebut? Apakah kepergian dia selama dua puluh tahun lebih tidak berarti sama sekali? Kenapa Han Li Eun?


Gadis itu yang membuatnya pergi sejauh ini, meninggalkan semua yang dia cintai dan mengingkari semua janji.


Gadis itulah yang membuat dia pertama kali merasakan sakitnya dijadikan pilah dari pilihan.


Janji untuk bersama selamanya dia lupakan. Dia pergi dan tidak pernah kembali.


"Ester?"


"Ya?"


"Bagaimana?"


Setelah menarik napas panjang gadis itu akhirnya kembali bersuara;


"Baiklah ... aku akan mengajaknya pulang."


***


"Kenapa bunda menyuruh Ester mengajak Han Li Eun kemari?"


Dari arah ranjang suara kecil bertanya dengan lemah. Bunda tidak menoleh, hanya menunduk memandangi plaf ponsel yang sudah mati sejak tadi.


"Karena itu hak dia,"


"Tapi itu akan membuat Ester semakin benci dan terluka."


"Aku tahu,"


"Apa bunda ingin dia membenciku sampai akhir hidup?"


"Tidak, tentu saja tidak."


"Lantas?"


"Bunda ingin semua nya selesai."


Ketika mengatakan itu ada sedikit nada ragu dalam getar suaranya. Dia sendiri sangsi dengan diri sendiri, benarkah akan selesai?


***


Ketika memasuki Bandara Dengan ICE-Boarder miliknya Ester langsung bergabung dengan ratusan orang yang juga melakukan hal serupa. Di tahun 2040 jumlah orang yang berjalan dengan kaki sendiri lebih sedikit daripada yang menggunakan Air board sejenis ini.


Ester bingung mau kemana, sejak lama dia tidak pernah berjalan-jalan ke Miami. Kalaupun harus ke sana pastilah urusan bisnis. Bukan tanpa tujuan seperti hari ini.


Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan berbelok memasuki Duty Free American. Ada banyak barang yang dijual di sana. Dari mulai Merchandise hingga aksesoris dan alat kecantikan.


Gadis itu tersenyum sendiri, meraih sebuah ikat rambut berwarna biru dengan pita. Mungkin itu cocok di rambut Hellena.


Dia lupa kapan terakhir kali berbelanja seperti ini. Mungkin saat masih Kuliah bersama Ardhan.


Ester menggelengkan kepala, menepis bayangan itu dari benaknya dan berjalan ke arah kasir. Robot yang bertugas di dalamnya membungkus ikat rambut itu dan meminta pembayaran lewat barcode yang sudah disediakan. Ester menekan Jam di pergelangan kanannya lalu mendekatkan layarnya ke arah barcode.


"Miss Liem, pesawat sudah siap."


Suara Hellena di Earphone nya terdengar. Akhirnya Ester memutuskan segera kembali ke pesawat, melewati jalur khusus dia masuk tanpa pemeriksaan.


"Ambilah."


Dia mengasongkan paperbag yang tadi dibawanya. Hellena kaget menerima itu, lebih kaget karena yang memberikannya adalah Ester Liem, perempuan yang pagi tadi memarahi mereka habis-habisan.


"T-tapi ...."


"Aku iseng membelinya, kupikir kau cocok memakai itu."


Sebelum Hellena sempat mengucapkan terimakasih, dia sudah berlalu begitu saja. Duduk di kursi penumpang dan memakai seat belt tanpa diminta.


Pesawatpun mengangkasa tanpa hambatan.


Han Li Eun, masihkah kamu mengenaliku?