DEAR ARDHAN

DEAR ARDHAN
TITIAN MIMPI DAN MENGEJAR MATAHARI



Ada pepatah masalalu bilang, jika ingin melakukan sesuatu, lakukanlah di awal hari. Maka kebaikan akan datang.


Ester mempercayai itu.


Selepas turun dari kereta dia dan ibunya berjalan menelusuri jalan berpelur tipis di sebelah lintasan kereta api. Suasana Bandung pagi begitu dingin, masih ada kabut yang menggantung di antara gedung-gedung.


Untuk sampai di tempat kost yang sudah dia pesan sebelumnya butuh waktu satu jam kalau berjalan kaki. Jauhnya sekitar empat kilo lebih. Berbeda dengan menggunakan kendaraan umum, cukup sepuluh menit kalau jalanan tidak macet.


"Kita naik angkot aja ya bu, lokasi kostan dekat kampus baru Ester soalnya."


"Memangnya kalau jalan kejauhan ya Es?"


"Iya, kasihan kaki ibu nanti sakit."


Perempuan barambut panjang itu mengisyaratkan dengan lengan, menyetop salah satu angkutan kota yang melintas. Memastikan ibunya naik lebih dulu sebelum dirinya.


"Pak ini lewat kampus kan?"


"Kampus hijau?"


"iya."


"Oh, lewat neng. Mau kost di sana ya?"


"Iya."


"Widih, pinter si neng bisa masuk sana."


Sopir angkot itu menengok sejenak, Ester membalasnya dengan senyuman. Orang Bandung memang terkenal ramah pada pendatang. Mungkin Ester harus mulai merubah sikap agar tidak sedingin Es batu seperti julukan Ardhan.


Ah Ardhan!


Dia belum sempat dikabari. Ponsel Ester masih mati, saat ini pria itu pasti benar-benar kelabakan mencari Ester. Apalagi kalau sampai berita diusirnya dia dari rumah terdengar. Ester takut bagaimana nasib ayah tirinya.


"Mikirin Ardhan?"


Ester mengangguk.


"Nanti sesampainya di Kostan kamu langsung saja hubungi dia."


"Aku takut dia bikin masalah sama Bapak."


"Jangan khawatir, Ardhan itu kuat loh ...."


"Yang aku khawatirin bukan Ardhan."


"Lantas?"


"Bapak."


Ibu tertawa, walau setelah itu kembali terbatuk-batuk. Ester buru-buru memberikan air minum.


Kian hari penyakit batuk ibu kian parah. Ester khawatir ibu tekena TBC, apalagi berkali-kali dia mendapati bercak darah pada batuknya.


"Habis ini kita ke dokter ya?"


"Eh, enggak usah ... ibu enggak apa kok."


"Batuk ibu semakin parah soalnya,"


"Enggak, ibu akan baik-baik saja kok."


Mau tidak mau Ester menurut, sekalipun kekhawatiran masih menggelayuti pikirannya. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada ibu, takut ditinggalkan seperti ayah dulu.


***


Mereka tiba di depan Kostan menjelang pukul sembilan, sempat terhadang macet yang cukup parah.


Tahun ajaran baru adalah hari sibuk bagi sebagian besar orang. Apalagi mereka yang mau masuk sekolah dan universitas, kedatangan masyarakat dari luar kota dan daerah menyebabkan lonjakan kendaraan.


Petak rumah yang akan dihuni oleh Ester dan ibunya berada di gang sempit, tembok bangunan yang menjulang tinggi menghalangi sinar matahari yang berusaha masuk. Gang itu lebih temaram daripada yang seharusnya.


"Kamu kudu sering nyetrika nih Es,"


Ibu melihat sekeliling. Ester hanya tersenyum sembari memasukan bawaan mereka ke dalam kostan. Hanya ada lemari dan kasur spring bed ukuran Queen tanpa alas di ruangan itu. Untungnya kamar mandi dan tempat untuk memasak ada di dalam. Ester tinggal berpikir membeli perabotan dasar.


"Nanti kalau aku udah besar, aku akan buat mesin pencuci dan pengering yang hemat energi dan lebih efisien juga murah. Biar enggak ada yang susah lagi nyuci baju dan jemur seperti keadaan kita sekarang." tuturnya.


Ibu tertawa, sungguh bukan tawa karena berpikir itu hanya sebuah gurauan. Ibu justru tertawa karena yakin putrinya akan mewujudkan itu. Ester adalah tipikal orang yang terinspirasi dari celotehan kecil tidak berarti.


Seperti saat ibu mengeluh sakit pinggang karena susah menjemur baju;


"Kalau ya ada alat yang bisa bikin ibu jemur baju tanpa perlu jingkat-jingkat di bawah jemuran."


Tetangga rumah bahkan sampai memberi upah dan minta dibuatkan. Anaknya memang kreatif dan pandai.


"Ibu kenapa?"


"Ah tidak, ibu cuma ingat katrol jemuran yang kamu buat."


Kali ini Ester tertawa. Teringat dirinya yang mendadak terkenal se komplek gara-gara jadi produsen alat jemuran. Mbah Urip yang punya kontrakan bahkan menyebutnya Habibie kecil. Itu sangat berlebihan bagi Ester, dia hanya mengerjakan apa yang dia suka, itu saja.


"Ibu mau aku buatkan lagi?"


"Boleh, tapi ini yang jemurnya bisa naik ke atas ya? Kita kejar matahari."


Gadis itu terdiam, kedua alisnya bertaut seolah sedang berpikir, "Mengejar Matahari?"


"Kamu kepikiran apa lagi?"


"Eng ... kalau misalkan jemuran bisa mengejar matahari, berarti kita juga bisa mengejar matahari dong bu?"


"Ini istilah apa betulan?"


"Betulan dong!"


"Walah, ibu enggak akan paham tuh Es kalau urusannya itu. Matahari kan panas? Keburu memeleh nanti yang ngejarnya."


"Berarti itu tugas Ester buat bikin alat dan pesawat ruang angkasa yang tahan sama panas matahari. Bikin sedingin mungkin saja ya bu? Sampai dinginnya berbanding 20:10 dari panas matahari."


"Kamu ini, ada-ada saja."


"Ih, bener bu, kalau kita bisa menciptakan pesawat ruang angkasa secanggih itu kita pasti bisa sampai di dataran matahari."


Kali ini ibu menggeleng, tertawa dengan imajinasi putrinya yang terlanjur jauh itu. Walau begitu ibu tidak pernah protes, beliau lebih senang mendukung semua imajinasi anaknya. Karena dengan semua kreatifitas dan kepintaran anaknya itulah yang membawa mereka sampai di sini.


"Hidup juga kadang seperti mengejar matahari."


Tahu-tahu ibu kembali bersuara, Ester memandangnya dengan tidak mengerti.


"Kamu tahu? Mengejar matahari itu begitu melelahkan, begitu jauh dan sulit di jangkau. Tapi nyatanya kita tetap berlari, walau sebenarnya tidak tahu akan sampai atau tidak pada matahari itu."


Ester melempar cengiran,


"Kupastikan kita akan sampai di matahari, mau itu kiasan ataupun betulan."


***


"Bu, Ester berangkat ya? Sarapan ada di atas meja."


Sambil memakai sepatu kets miliknya Ester pamitan pada ibu. Hari ini adalah masa orientasi pertama, dia tidak boleh datang terlambat. Untung saja tidak perlu memakai atribut konyol seperti angkatan yang lalu-lalu. Dia hanya menggunakan celana panjang hitam dan kemeja putih, persis seperti orang mau melamar kerja. Di tasnya sudah penuh sesak dengan barang-barang yang diminta oleh mahasiswa senior.


Namtage bertuliskan "Es puTer" Nangkring di dada sebelah kiri. Ester tersenyum melihat pantulan banyangannya di cermin.


"Hati-hati di jalan ya Es? Ibu lagi nanggung nih, enggak bisa nganter ke depan."


Dari balik kamar mandi ibu berteriak. Ester mengiyakan itu dan menutup pintu, menembus dinginnya pagi. Bergabung dengan anak-anak lain yang juga berpakaian serupa dirinya.


"Es puTer? pelesetan dari apa?"


Seorang pria yang kebetulan berjalan satu arah dengannya bertanya, Ester tersenyum, pria berkacamata di depannya tampak lucu dengan name tag warna pink bertuliskan "Fai Jo"


"Ester,"


"Nama kamu bagus malah dipelesetin jadi begitu."


"Memang di name tag itu pelesetan apa?"


"Ini bukan pelesetan, ini beneran nama saya."


Pria itu memberenggut. Ester meisyaratkan dengan tangan untuk meminta maaf.


"Kata mereka nama saya sudah jelek, jadi enggak usah di pelesetin lagi."


"Is, biarin, senior kan emang biasa kayak gitu."


Percakapan mereka terhenti saat seorang laki-laki dengan jas almamater hijau dan band pada tangan kirinya mendekat. Dia pasti sejenis Komisi Disipliner.


"Enggak usah banyak ngobrol dek! Sana masuk! Ini bukan tempat gosip."


Tanpa menjawab Ester melenggang pergi. Meninggalkan raut kaget campur jengkel pria di hadapannya itu.


Ini dia kampus hijau itu, kampus yang akan menjadi titian mimpi yang akan dia raih. Mimpi dengan sejuta janji, mimpi mengejar matahari.