
Itu adalah sebuah ruangan gelap dengan sebuah meja dan dua buah kursi yang diletakkan saling berhadapan. Di sampingnya terdapat sebuah kaca perspektif searah yang biasa ditemukan di ruang gasi kepolisian.
Inspektur Park Junsang ditemani dua asistennya yang berpangkat brigadir, memasuki ruang interogasi.
Di tangan Inspektur Park terdapat berkas-berkas penyelidikan dan sebuah tas tenteng warna hitam. Tas itu merupakan tas yang berisi laptop.
Seperti biasanya, Inspektur Park melakukan penyelidikan dengan setelan kasualnya. Atasan dengan model yang sangat mirip setiap harinya. Ciri khas Inspektur Park.
Di dalam ruangan itu sudah ada Pak Supir Kim, supir keluarga yang bertugas mengantar jemput Chaehyun dari pesta yang diadakan di sekolah.
Supir Kim berdiri rapi mengenakan setelan jas yang biasa dia gunakan saat bekerja. Rambutnya yang beruban disisr rapi. Kacamatanya menghiasi matanya. Penampilannya lebih mirip seorang butler keluarga bangsawan Eropa daripada seorang supir keluarga.
'Keluarga konglomerat memang berbeda', batin Inspektur Park.
"Kalian tinggalkan ruang interogasi", perintah Inspektur Park pada bawahannya.
Mendengar perintah dari Inspektur Park, dua orang brigadir itu paham hal yang dimaksudkan. Mereka harus segera pergi ke ruangan di balik ruang interogasi. Ruangan itu merupakan ruangan pengamat yang dapat melihat saksi atau terduga dari balik kaca perspektif searah.
***
Inspektur Park menekan tombol yang terdapat di bawah meja. Tombol itu merupakan tombol yang menandakan bahwa suara di dalam ruang interogasi sedang direkam.
"Selamat pagi, Anda adalah Tuan Kim Sungchul, benar?"
"Iya."
"Silahkan duduk", kata Inspektur
Inspektur Park mencocokkan data diri dari Supir kIm dengan penampilan asli dari Supir Kim.
"Baiklah saya mohon kerja sama dari Anda demi kelangsungan penyelidikan kami", kata Inspektur Park.
"Baik."
Kemudian Inspektur Park mengetikkan data laporan investigasi.
[Kamis, 16 Februari 202x.
Kantor Kepolisian Kota X.
Jam 10 pagi.
Agenda : Wawancara saksi dari pihak keluarga.
Saksi 1 : Tuan Kim Sungchul
Hubungan dengan korban : Pegawai di rumah korban.
Spesialisasi : Supir keluarga.]
"Bisa tolong ceritakan bagaimana kronologi hilangnya saudari Lee Chaehyun?"
"Sebentar, jam berapa Anda mengantarkan saudari Lee Chaehyun?" tanya Inspektur Park sambil membolai-balik kertas ditangannya.
Inspektur Park sedang mencocokkan kronologi kejadian hilangnya Lee Chaehyun.
"Seingat saya waktu itu jam 18.30. Butuh waktu sekitar setengah jam dari kediaman Nona Chaehyun untuk ke sekolah. Dan seingat saya, pesta dimulai pukul 18.30."
"Jadi, memang saudari Chaehyun sendiri yang meminta untuk diantarkan terlambat?"
"Benar."
"Baiklah. Tolong dilanjutkan."
"Sebentar, apakah Saya boleh minta minum?", tanya Supir KIm yang nampaknya haus setelah banyak berbicara.
Inspektur Park berhenti mengetik. Pria itu sedikit takjub dengan ketenangan yang dimiliki oleh Supir Kim.
'Apakah semua orang yang bekerja pada keluarga konglomerat memiliki kemampuan untuk tetap tenang seperti ini? Keluarga konglomerat memang berbeda', pikir Inspektur Park.
"Bisa. Akan saya ambilkan air mineral. Tunggu sebentar ," kata Inspektur Park yang kemudian beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang interogasi untuk mengambil air mineral dari ruangan di balik kaca.
Bagaimana pun juga status dari Supir Kim adalah saksi, sehingga Inspektur Park tetap harus berhati-hati akan tindakannya. Salah-salah malah dia yang kena.
"Inspektur", itu suara Brigadir Baek.
"Anda tidak apa-apa bukan?", lanjutnya.
"Ya?" Inspektur Park sedikit bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak buahnya itu.
"Dari kemarin, semua orang yang kita wawancarai bersikap sangat tenang. Apakah begitu rupa orang-orang yang bekerja kepada para konglomerat secara langsung?"
"Ah, iya aku juga sedikit terkejut, Brigadir Baek. Boleh aku meminta tisu? Aku sedikit merasa panas walau ruangan ii berAC."
Brigadir Baek yang tidak membawa tasnya sama sekali malah bertanya pada Brigadir Eun yang sedari tadi tidak berkata apa-apa.
Brigadir Eun memang berasal dari keluarga yang cukup kaya. Jadi, mungkin saja pengalaman seperti itu tidak terlalu berpengaruh padanya. Jika peforma Brigadir Eun lebih baik lagi, mungkin saja dia akan lebih cepat naik pangkat. Mengingat keluarganya yang juga merupakan keluarga polisi promosi akan lebih cepat didapatkan.
Namun begitulah Brigadir Eun. Dia masih saja menjadi bawahan Inspektur Park karena peformanya yang stuk di situ-situ saja.
Dengan muka datarnya, yang seperti biasanya, Brigadir Eun langsung mengeluarkan seplastik tisu kecil dari tas pinggangnya.
"Ini, Inspektur Park. Anda bisa menggunakan semuanya."
"Ah, ya terima kasih."
Inspektur Park mengeluarkan selembar tisu dan mengelap keringatnya. Sisa tisu yang dia punya langsung dia masukkan di dalam kantong celananya.
Inspektur Park pun keluar dari ruangan itu sambil membawa sebotol air mineral. Untung saja ruangan interogasi cukup dingin sehingga Inspektur Park tidak perlu repot-repot membawakan handuk juga.
[Dawn and His Darling ]