Dawn And His Darling

Dawn And His Darling
6 : Ceri dan Vanila



Junghoon membawa Chaehyun menuju sebuah kamar serba putih di lantai satu. Kamar itu lagi-lagi penuh dengan aroma ceri yang khas.


"Kenapa kamu membawaku ke sini?", tanya Chaehyun dengan curiga.


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat kepadamu. Sungguh. Aku hanya perlu mengganti plester luka yang ada di lehermu agar tidak infeksi. Maka tunggu di sini sebentar."


"Mau kemana?"


"Tentu saja mengambil kontak P3K"


"Oh..."


Junghoon keluar dari kamar itu berjalan menuju rak besar di dekat dapur. Dia mengambil kotak P3K lalu, kembali meuju kamar putih itu.


Sementara itu, Chaehyun yang berada di dalam kamar hanya menunggu. Chaehyun tidak tahu mengapa dia bisa percaya begitu saja pada orang yang telah menculiknya.


'Apakah aku terkena sindrom seperti yang sering dibicarakan oleh orang-orang ketika membicarakan korban penculikan?'


Chaehyun bergidik ngeri. Dia tidak yakin alasan apa yang bisa membuatnya berpikir demikian. hanya saja bagi Chaehyun, Junghoon tidaklah seberbahaya yang dia pikirkan.


Junghoon sudah kembali. Di tangannya benar-benar ada kotak P3K. Jadi, Chaehyun tidak jadi khawatir akan terjadi sesuatu yang aneh terhadapnya.


"Kamu mau mengganti plester luka itu sendiri atau haruskah aku yang menggantinya?"


Chaehyun menatap laki-laki yang seumuran dengannya itu. Dia sedikit tidak percaya akan perubahan sikap sosok di depannya itu.


"Serius? Kamu bertanya padaku seperti itu? Wah? Setelah kamu menggigitku tanpa aba-aba, menculikku tanpa bilang-bilang, lalu menyuruhku untuk meminum tablet yang bahkan aku tidak tahu komposisinya?"


Junghoon tidak berkutik setelah mendengar pertanyaan seperti itu.


"Maaf...", itu adalah jawaban yang paling tepat ucap Junghoon sambil menunduk.


Melihat lawan bicaranya menjadi seperti itu, seperti kucing yang kedinginan, Chaehyun merasa kalah. Tadi dia hanya berniat untuk membalas dendam sedikit saja. Chaehyun tidak tahu dampaknya akan sebesar ini.


Dengan cepat Chaehyun merebut kotak P3K yang dipegang Junghoon.


"Sini. Aku bisa sendiri. Nah, sekarang kamu pergi cari makanan. Aku sangat lapar. Bagaimana bisa kamu tidak memberikanku makanan sama sekali padahal sudah menghisap darahku?"


"Hmmm... Aku tidak punya banyak makanan. Tapi mungkin ada. Sebentar, aku akan cari di dapur."


***


Chaehyun selesai mengganti plester luka yang tertempel di lehernya. Masih nampak dua buah luka berbentuk titik di ceruk lehernya. Namun luka itu sudah lebih baik, sudah cukup mengering serta tidak ada lagi darah yang menetes dari luka itu.


Hanya saja terbesit sedikit pikiran dimana luka tersebut akan meninggalkan bekas yang sulit hilang. Dan Chaehyun mungkin tidak akan bisa memikirkan alasan yang logis untuk menjelaskan bagaimana luka tersebut terbentuk.


Sesaat kemudian, Junghoon kembali. Dia membawa dua mangkuk makanan di atas nampan.


"Ini sup instan aku tidak punya hal lain selain ini dan air. Sebentar aku akan membawa teko airnya ke sini", Junghoon meletakkan nampan itu di meja nakas di sebelah tempat tidur.


Remaja laki-laki itu ke luar dari kamar, menuju ke arah dapur lalu, beberapasaat setelahnya telah membawa satu teko air dan dua gelas.


"Mari makan bersama. Lalu, aku akan mengembalikanmu ke sekolah."


"Hah?"


"Kamu tidak mau kupulangkan? Mau berada di sini selamanya?"


"Sinting! Tentu saja tidak!"


***


"Jason!"


Telepon masuk dari Michelle Yang, kakak perempuan Jason atau Junghoon.


"Iya, iya, Kak. Aku juga sudah bangun. Tidak usah terus-terusan berteriak, menjerit, atau bersuara dengan kencang ketika meneleponku."


"Bagus jika begitu. Bagaimana? Kamu sudah membujuknya bukan?"


"Tenang saja...."


"Oke, Supir Gam akan segera menjemputmu. Ini si Jaeyoon juga sudah berada gudang sekolah wanita... Si bocah tengil ini tidak bisa berhenti tertawa dan meledek namamu berulang-ulang kali. Lain kali kalau dia membutuhkan bantuan Keluarga Yang, jangan bantu dia dengan cuma-cuma. Aku tidak suka kamu dimanfaatkan terus menerus olehnya. Oke?"


"Ya, ya, tidak usah terlalu khawatir padaku, Kak."


Lalu panggilan itu diputuskan sepihak.


***


Lima menit selanjutnya, Supir Gam datang. Pria muda itu adalah supir yang biasa mengantar jemput Junghoon ke sekolah atau ke tempat lain yang biasa Junghoon tuju.


Junghoon dan Chaehyun sekarang sedang berada di dalam mobil. Supir Gam sedang mengemudikan mobil itu menuju gedung sekolah wanita.


Waktu tempuh yang diperlukan dari rumah Junghoon menuju ke sekolah tidaklah lama. Hanya memerlukan sekitar dua pulluh menit jika tidak ada kemacetan yang terjadi.


"Jadi, sekarang kita akan menuju ke sekolah wanita?", tanya Chaehyun.


"Iya..."


"Kamu tidak akan membawaku ke tempat yang aneh-aneh kan?" tanya Chaehyun curiga.


"Tidak. Aku akan memulangkanmu ke sekolah."


"Ke sekolah wanita?"


"Kenapa tidak ke rumahku? Atau jika kamu tidak tahu tentang rumahku, kenapa tidak ke kantor pusat Geumchanggo Group?"


"Hah... Aku tidak mau dipenjara karena menculikmu."


"Kamu tidak akan dipenjara. Keluarga kita kan sama-sama memiliki kekuatan uang."


"Tapi keluargaku akan menghukumku atau bahkan aku akan diasingkan ke sebuah desa kecil di Benua Eropa. Aku tidak mau itu terjadi."


"Baik. Aku percaya kalau begitu. Tapi kamu harus terus meminta maaf padaku berulang-ulang kali jika kita bertemu kembali."


"Akan aku penuhi permintaanmu yang satu itu."


***


Mobil hitam itu memasuki pintu gerbang sekolah. Namun hanya ada Supir Gam di dalamnya. Dua orang penummpang yang lain sudah turun terlebih dahulu supaya tidak dicurigai oleh pihak keamanan.


"Kita harus memakai jubah ini berdua."


Chaehyun bingung mendengar perkataan Junghoon sehingga dia bertanya, "Kenapa?"


"Kita akan menghilang sebentar."


"Apakah jubah ini memiliki kemampuan magis atau semacamnya?", Chaehyun penasaran.


"Tidak. Kamu hanya perlu berdekatan denganku sejujurnya. Ini adalah kemampuan bangsa kami turun menurun. Hanya saja, kamu tidak boleh terlihat orang terlebih dahulu."


"Owh..."


Chaehyun tidak tahu mau memberikan tanggapan seperti apa. Sehingga dia memilih untuk diam.


***


Chaehyun dan Junghoon sampai di dalam gudang sekolah wanita tanpa ada orang yang tahu atau pun curiga. Gudang itu besar serta berisi beberapa barang yang sudah diperlukan lagi.


Tidak banyak ventilasi di gudang tersebut sehingga keadaan di dalamnya sedikit lembap dan berdebu. Dan dapat dipastikan tidak ada CCTV di tempat yang jarang terjamah itu.


Di dalam gudang itu terdapat dua orang, yang satu perempuan yang terlihat dewasa, yang satunya lagi sekiranya seumuran dengan Chaehyun atau lebih muda. Keduanya adalah vampir.


Junghoon membuka jubah itu.


"Jason!", teriak Michelle langsung memeluk adik laki-lakinya itu.


Di sebelah Michelle ada Choi Jaeyoon yang tidak berhenti tertawa.


"Choi Jaeyoon! Kalau kamu tidak berhenti tertawa, akan kupukul kamu berkali-kali", itu suara Michelle.


"Baik-baik. Choi Jaeyoon akan berhenti tertawa."


Chaehyun hanya terdiam sambil mengamati dua sosok di depannya itu dari atas hingga bawah.


Tanpa sadar dia memegang tangan Junghoon karena cemas. Chaehyun sudah cukup percaya dengan Junghoon sekarang.


"Ah, maaf. Saya adalah kakak dari Jason atau Junghoon yang menculik Anda beberapa hari yang lalu. Nama saya Michelle Yang. Dan di sebelah saya ini adalah teman Junghoon. Namanya Choi Jaeyoon. Mungkin kamu tahu karena dia cukup terkenal di sekolah, kata dia sendiri maksud Saya."


"Halo, nama Saya Choi Jaeyoon. "


"Ah iya, Saya Lee Chaehyun."


"Saya di sini menjadi perwakilan dari Keluarga Yang dari 3Y Group memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami akan mengirimkan kompensasi terhadap kerugian yang ditimbulkan oleh anggota keluarga kami. Tapi saya mohon agar nona muda keluarga Lee tidak mempublikasikan ke publik atas kejadian satu ini. Saya langsung yang akan bertemu dengan pimpinan Lee dari Geumchanggo Group."


Menerima permintaan maaf yang formal seperti ini membuat Chaehyun sedikit bingung.


"A-ah. Baiklah. Saya terima permintaan maaf Anda."


"Saya akan menjelaskan rencana yang telah Saya susun. Jika bersedia apakah Anda mau mendengarkan?"


"Baik. Saya bersedia."


"Anda di sini akan ditemani oleh saudara Choi Jaeyoon di samping saya ini. Jaeyoon akan berpura-pura melihat anda pingsan di dalam gudang dan selanjutnya akan membawa anda ke rumah sakit keluarga kami. Polisi tidak akan curiga dengan hal ini."


"Nanti jika ada pihak kepolisian yang menanyai Anda perihal kejadian penculikan Anda. Saya mohon dengan sangat bahwa Anda tidak akan berbicara terlalu banyak. Semua komunikasi Anda dengan kepolisian akan dibantu pengacara sekaligus detektif swasta yang kami berikan. Ini", jelas Michelle sambil menyerahkan kartu nama.


Di kartu nama tersebut tertulis nama si pengacara.


"Cha dari Lembaga Bantuan Hukum SKY."


"Ya. Baik saya setuju, tapi sebentar. Jadi, kalian semua adalah vampir? Benar seperti itu?"


"Ya", kali ini Junghoon bersuara.


"Dan Pengacara Cha, apakah dia juga vampir?"


"Ya", itu suara Michelle.


"Oke, baiklah. Rupanya kalian ada dimana-mana. Dan bahkan saya tdak mengetahuinya."


"Ah, iya. Dan saya harap tidak semua orang bisa mengetahuinya", tanggap Michelle Yang.


[Dawn and His Darling]