
Kamis, 16 Februari 202x. Suhu hari itu telah naik lebih tinggi daripada biasanya. Melelehkan beberapa embun beku di atas daun-daun tanaman liar. Rumah yang besar di kawasan elit tersebut hanya dihuni oleh dua nyawa. Mungkin ada beberapa yang lain, tapi kehadiran mereka tidak membuat rumah itu menjadi ramai.
Sepi.
Senyap.
Dua penghuni di tempat berbeda.
Masih terlelap dalam tidur. Satu orang tertidur karena frustasi akibat kelakuannya sendiri, sedangkan yang lain terlelap karena kelelahan yang berlebihan.
●●●
Drrrttt....
Drttt....
Drrrrttttt....
Jam di dinding perpustakaan telah menunjukkan pukul lima pagi. Dan sudah ada tiga belas panggilan tanpa balasan di ponsel Jason. Pemilik ponsel itu memang masih tertidur dan memang sedang tidak ingin diganggu. Jadi, walaupun dia mendengar bunyi dari ponselnya, dia sama sekali tidak ingin menjawabnya.
Laki-laki itu hanya menarik selimutnya, lalu melanjutkan tidurnya di atas kursi sofa perpustakaannya. Berharap malam tidak akan berubah menjadi pagi.
●●●
Chaehyun terbangun dari tidurnya. Dia bangun karena lapar. Seingat dia, sudah lebih dari dua puluh empat jam tubuhnya tidak dimasuki makanan apa pun. Wajar saja jika dia merasa demikian.
Badannya mulai terasa lebih baik sehingga dia sudah bisa berjalan dengan biasa menuju meja nakas di sisi tempat tidurnya. Dua gelas air putih yang tampaknya tidak diganti isinya semenjak dia minum akhirnya habis. Namun, dia tidak berani mengambil inisiatif untuk keluar dari kamarnya. Dia takut seseorang akan menghisap lagi darahnya. Dan dia malah kembali ke atas tempat tidurnya.
Gorden-gorden besar bewarna abu-abu menutupi kamar yang dia tempati. Chaehyun tidak bisa menebak apakah sekarang itu pagi, siang, atau malam. Tidak ada jam di kamar itu. Sehingga dia memutuskan untuk membuka gorden itu.
Terang.
Langitnya sudah terang. Dan Chaehyun tidak tahu itu dimana. Hanya terlihat gerbang yang menjulang tinggi dari balik jendela kamar yang dia tempati.
'Oh, sudah pagi... Kira-kira kapan ya aku dijemput? Apa ayah dan ibu tidak menelepon polisi? Atau polisi belum menemukan keberadaanku?', begitu pikir Chaehyun.
Gadis itu bingung. Dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memikirkan keluarga tempatnya dibesarkan. Walaupun dia tahu dia hanya anak angkat, tapi dia diperlakukan seperti anak sendiri. Dan lagi, keluarganya termasuk keluarga yang memiliki kuasa. Tidak mungkin sampai saat ini polisi belum menemukan keberadaannya.
'Apa sebaiknya aku mencari telepon di rumah ini?', pikir Chaehyun lagi.
Akhirnya Chaehyun memiliki inisiatif untuk mencari telepon. Itu benar-benar satu-satunya opsi pilihan. Walaupun masih ada sedikit rasa takut atas pengalaman aneh yang dia alami, tapi Chaehyun tidak punya pilihan lain. Dia ingin pulang. Dia benar-benar ingin pulang lalu, belajar untuk ujian penerimaan universitas. Dia tidak mau terus menerus terjebak di tempat antah berantah seperti ini tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya padanya.
●●●
Ini panggilan ke seratus di ponsel Jason Yang. Panggilan masuk yang terus diabaikan sampai-sampai ponselnya menjadi panas karena tidak kuat menahan panggilan masuk bertubi-tubi. Dari siapakah panggilan tersebut?
Michelle Yang.
Siapa dia?
Kakak perempuan, satu-satunya dan hanya ada satu di dunia ini.
Michelle lah yang telah membantu Jason untuk menyembunyikan perbuatannya. Secara diam-diam tentu saja. Dia sengaja menyewa seorang detektif swasta untuk membuat bukti-bukti palsu yang dapat mengecohkan penyelidikan polisi.
Uang dan kekuasaan bisa menyelesaikan semuanya jika ada urusan semacam ini.
Michelle juga telah menelepon salah satu kenalannya di kepolisian untuk terus membocorkan hasil penyelidikan. Untuk saat ini masih aman. Belum ada pihak polisi yang mengetahui bahwa sang pelaku yaitu, adiknya sendiri telah menyembunyikan keberadaannya.
Vampir dapat melakukan hal semacam itu. Itu merupakan kemampuan bawaan mereka yang dulunya sangat berguna untuk menghisap darah. Sebelum perjanjian antara pemimpin bangsa manusia dengan vanpir, bangsa vampir dapat dengan mudahnya menghisap darah manusia. Namun sekarang hal tersebut tidak bisa dilakukan sesuka hati, harus ada perjanjian antara vampir dengan manusia yang dihisap darahnya.
Beberapa vampir yang malas untuk melakukan hal tersebut pun lebih memilih untuk mengonsumsi darah hewan. Darah-darah tersebut diolah dalam bentuk gula-darah yang disebut sebagai roter zucker. Daerah penghasil utamanya memang Jerman sehingga dinamai begitu. Padahal jika itu ditranslate-kan artinya sama dengan gula-merah.
Panggilan yang ke seratus dua masuk. Jason menyerah akan tidurnya. Dia mengangkat panggilan itu.
"Jason Yang! Bangun!", begitu suara pertama yang Jason dengar pada pagi hari.
"Iya, Kak. Bagaimana aku tidak bangun? Ini kan sudah kujawab panggilan mu... Huah...", jawab Jason sambil menguap.
Wanita yang berada di seberang telepon hanya berdecak kesal. Pasti adiknya tidak tahu betapa keras usahanya untuk membereskan kekacauan yang diperbuat adiknya. Kalau saja remaja itu bukan adiknya, pasti sudah dia ungkap ke publik kelakuannya.
"Bocah sialan, ya... Kamu tidak tahu berapa banyak usaha dan uang yang kakak keluarkan untuk menutupi perilaku mu?"
"Kalau begitu, aku yang berterimakasih kakak...", balas Jason.
"Oh, astaga... Baiklah. Aku tidak akan basa-basi lagi. Dengarkan apa kataku, oke?"
"Ya, kak..."
"Kamu harus membawa siswi yang kamu culik itu ke gudang gedung sekolah wanita. Nanti jam sepuluh, di sana sudah ada Jaeyoon yang akan membantumu. Entah bagaimana caranya kamu melakukannya aku tidak peduli. Dan lagi itu juga pilihanmu untuk mengikuti rencanaku atau tidak..."
Bip.
Panggilan itu dimatikan.
Jason kembali merebahkan punggungnya ke kursi sofa itu. Akhirnya ada solusi atas perbuatannya. Rasa cemasnya mulai berkurang. Setelah semuanya selesai, dia benar-benar harus berterimakasih kepada kakaknya.
......[Dawn and His Darling]......