
Chaehyun keluar dari kamar yang dia tempati. Sepi, tidak ada orang sama sekali. Tempat dimana dia diculik sepertinya lebih dari satu lantai. Chaehyun berjalan menuju koridor, badannya berjalan menuju ke pagar pembatas lantai. Dia sadar bahwa sekarang dia berada di lantai dua.
Chaehyun bisa melihat lantai bawah yang penuh dengan interior mewah. Sangat berbeda dengan kamar yang dia tempati. Kamar itu berkesan minimalis dengan perabot dan interior serba abu-abu dan putih.
Lampu gantung besar yang tergantung di atas langit-langit. Rumah besar yang mewah. Setelahnyaa, Chaehyun baru sadar akan sesuatu yang dia tidak sadari dari awal.
'Tunggu dulu kalau begitu berarti yang menculik aku memang benar siswa dari sekolah pria? Dan dia vampir? Dan... Dan... Kenapa aku baru sadar sih? Bodoh sekali. Kalau begini sih, aku bakal sulit ditemukan... Aku harus cepat mencari telepon. Aku harus cepat...', batin Chaehyun.
Chaehyun dengan cepat berlari ke arah tangga. Badannya yang basih berbalut dress dari beberapa hari yang lalu. Lehernya juga masih tertempel dengan plester luka. Chaehyun tidak peduli. Dia merasa ini adalah pilihan terbaik yang pernah dia pilih.
Mata Chaehyun menangkap keberadaan sebuah telepon hitam di samping sebuah meja kayu.
'Semoga telepon ini berfungsi dengan baik', pikir Chaehyun.
Chehyun mendekati telepon itu. Jarinya dengan lincah menekan tombol-tombol nomor yang tertera di telepon hitam itu. Namun sayangnya ketika nada sambung sudah masuk ke telepon, seseorang dengan kasar merebut telepon yang digenggam oleh Chaehyun.
Aroma ceri.
Chaehyun tahu siapa pemilik aroma itu.
"Aaaa!", jerit Chaehyun.
Gadis itu takut. Jantungnya berdetak dengan kencang. Bulu kuduknya berdiri. Tangannya langsung melepaskan genggaman pada gagang telepon.
Chaehyun berjongkok sambil sedikit meringkuk. Tangannya langsung menutupi bagian lehernya. Chaehyun takut. Dia takut siswa itu. Siswa yang tidak dia keal itu akan menghisap darahnya lagi.
Krep.
Siswa itu meletakkan gagang telepon yang sebelumnya telah dia rebut dari tangan Chaehyun.
"Siapa yang akan kamu telepon?", tanya suara itu.
Chaehyun tetap diam. Dia tidak mau menjawab.
"Tolong jangan telepon siapa pun terlebih dahulu...", lanjut suara itu kemudian.
"Ya?", tanya Chaehyun.
Gadis itu sebenarnya hendak memastikan apakah yang berbicara padanya benar-benar mengungkapkan ketulusan dan bukan kebohongan. Hanya saja Chaehyun belum berani untuk sekadar membalikkan badannya.
"Tidak kah seseorang mengajarimu jika harus menatap lawan bicaramu?", nada suara yang cukup berat itu seakan bersarkasme.
"Kamu duluan yang membuatku menjadi takut seperti ini..."
Chaehyun masih memegangi lehernya. Sekarang dia malah semakin mengeratkan tangannya. Berusaha dengan penuh menutupi lehernya yang masih memliki luka. Kakinya bergerak satu persatu. Perlahan-lahan kaki itu menjauhi orang yang mengajaknya berbicara.
"Aku minta maaf sebelumnya. Kelakuanku memang jahat. Tapi tolong mendekatlah. Aku berjanji tidak akan melukaimu lagi, oke."
Jason menunggu respon dari Chaehyun, tetapi gadis itu sama sekali tidak memberikan respon apa pun.
Jason menunggu respon dari Chaehyun untuk beberapa saat.
Hal ini menyebabkan rasa bersalah yang tadinya sudah mulai Jason lupakan, berakhir dengan muncul lagi.
Akhirnya Jason mensejajarkan posisi badannya dengan presensi Chaehyun.
"Hei, aku minta maaf. Lee Chaehyun, benar? Aku sungguh-sungguh dari hatiku yang terdalam. Aku minta maaf..."
Jason langsung mengubah posisi badannya menjadi bersujud. Dia benar-benar harus meminta maaf dengan posisi begitu. Jika tidak usai sudah acara minta maaf dan memaafkan yang sengaja dia buat.
Chaehyun masih tidak merespon.
Jidat Jason sampai sakit saking lamanya dia menunggu Chaehyun untuk sekadar meliriknya. Akan lebih baik jika Chaehyun langsung memaafkannya.
Chaehyun akhirnya menurunkan egonya. Dia berdiri dan berbalik menatap ke presensi Jason yang sedang bersujud ke hadapannya.
Chaehyun yakin dengan persis. Dia ingat siapa siswa yang sedang bersujud di hadapannya saat ini.
Malam itu, gigitan yang rasa sakitnya setengah mati itu dan bahkan adegan di basement dimana dia dipaksa untuk meminum tablet yang Chaehyun bahkan tidak tahu apa komposisinya.
Chaehyun takut, marah, benci, dan tidak tahu apalagi perasaan yang dia rasakan saat ini.
"Berdiri! Aku tidak tahu siapa namamu, tapi berdirilah. Jangan meminta maaf dengan cara begitu."
"Benarkah?"
"Ya, berdirilah. Jangan seperti ini lagi. Bukan begini caranya meminta maaf padaku."
Jason berdiri dengan segera. Kemeja putih yang dia kenakan di bawah tuksedonya masih menempel. Dia masih menggunakan pakaian yang sama. Rambutnya berantakan. Jidatnya pun bewarna merah karena terlalu lama bersujud di lantai yang keras dan dingin.
Melihat penampilan Jason yang sedikit konyol membuat rasa takut Chaehyun sirna. Benar-benar hilang seketika. Chaehyun pun tertawa kecil.
"Kamu tidak begitu berbahaya rupanya", kata Chaehyun.
"Apakah itu pujian?"
"Bukan... Jadi, bagaimana caramu menyelesaikan masalah? Oh, tunggu aku belum tahu namamu. Beritahu dulu namamu. Tidak akan terasa adil bagiku karena kamu sudah tahu namaku, tapi aku belum tahu namamu."
"Jason Yang. Panggil saja Jason, Lee Chaehyun."
"Tidak ada nama yang lebih gampang? Maksudku kamu tidak punya nama yang terdengar lebih lokal?"
"Junghoon. Kamu bisa memanggilku begitu."
"Baiklah. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Junghoon. Jason terasa terlalu asing untukku."
***
(wkwkwk mulai sekarang panggilannya ada dua ya... secara kan dia vampir nih... jadi harus ada banyak identitas)
[Dawn and His Darling]