Dawn And His Darling

Dawn And His Darling
1 : Hilang



Keluarga Lee bingung. Anak keduanya, gadis kecil keluarga itu hilang. Tadi malam, seharusnya Lee Chaehyun pulang dengan selamat diantar oleh supir kepercayaan keluarga. Namun, malam itu, yang didapati oleh Supir Kim adalah nona mudanya yang tidak kunjung keluar.


Lima belas menit pertama, Pak tua Kim hanya menunggu. Mengingat masih ada beberapa murid yang baru keluar dari gedung itu. Mulanya, dia tidak menaruh firasat buruk apapun. Tidak ada sama sekali. Sungguh. Hanya saja sepuluh menit selanjutnya, dia mulai panik. Dengan segera, pria tua itu memasuki gedung.


Satu per satu guru serta pihak penyelenggara dari yayasan dia tanya. Namun nihil. Tidak ada yang tahu. Satu-satunya bukti yang dia dapatkan hanyalah rekaman CCTV nona mudanya yang menuju beranda aula. Hanya itu tidak ada yang lain. Pak tua Kim tentu saja panik. Diteleponnya dengan segera Asisten Yoo lalu, pesan itu sampai ke telinga Nyonya Lee.


Keluarga Lee segera menelepon kepolisian. Membawa bukti rekaman CCTV. Tanpa mereka tahu bahwa sosok si siswa yang membawa anak mereka tidak nampak di CCTV. Lee Chaehyun, gadis manis kesayangan Keluarga Lee dinyatakan menghilang.


Dengan segera saja tim kepolisian melakukan penyelidikan. Potret-potret nona muda Keluarga Lee disebar di media. Sejak tiga jam pertama, berita kehilangan itu menjadi topik pencarian teratas. Trending topik sepuluh besar. Sinting.


"Nona Muda dari Geumchanggo Group Menghilang"


●●●


Itu adalah salah satu rumah di wilayah elit. Bangunan tingkat tiga yang dikelilingi pagar-pagar tinggi. Di balik sebuah pintu kecil di sudut perpustakaan di lantai satu. Ada sebuah pintu rahasia langsung menuju tangga kecil. Ruang bawah tanah yang gelap. Sebuah meja dan kursi kecil. Lalu, hanya satu lampu kecil di sebelah pintu yang memancarkan cahaya oranye redup. Temaram.


Seorang gadis remaja yang meringkuk ketakutan. Badannya dibalut gaun merah delima. Selaras dengan cairan yang masih menetes dari lehernya. Darah itu tidak mau berhenti. Sama seperti air matanya yang terus mengalir. Bibir kecilnya itu dia gigit sendiri, sedikit berdarah. Menahan suara kecil ketakutan yang dia sembunyikan dari tadi.


Suara kaki menuruni anak tangga yang menggema. Aroma ceri yang mulai memenuhi ruang bawah tanah kediaman si siswa sekolah pria. Siswa yang masih bersetelan tuksedo lengkap itu membawa sebuah cangkir di tangan kanannya sedangkan, tangan kirinya membawa satu strip tablet asam traneksamat.


Siswa itu mendekati Chaehyun. Tidak. Dia lebih dulu meletakkan cangkir yang dibawanya ke sebuah meja. Sementara strip tablet yang ada di tangan kirinya dia masukkan ke dalam sakunya.


Seketika itu, si gadis, menyadari keberadaan si siswa. Chaehyun langsung menghentikan tangisannya. Lagi-lagi menggigit bibirnya hingga berdarah. Mukanya menjadi pucat pasi. Dia kehilangan banyak darah. Tangannya mengepal kuat dan badannya bergetar hebat. Dia ketakutan.


Tangan hangat itu menyalurkan kehangatan yang membuat Chaehyun merinding. Itu rasa hangat yang menjijikkan. Tangan itu memegang kepalan tangan Chaehyun, sedangkan yang dipegang tangannya makin bergetar.


"Kamu gemetar? Diam sebentar. Aku mau memeriksa lehermu."


Tidak ada respon dari gadis itu. Hanya saja dia terus menutup matanya.


Tangan itu menyibak rambut sebahu milik Chaehyun. Merapikan beberapa helai yang menutupi lehernya, menyentuh dua luka berbentuk lubang kecil yang belum kering. Dua jari yang dia gunakan itu tertempel dengan darah. Dia membauinya. Itu aroma darah yang manis. Siswa itu lalu menjilat jarinya.


Siswa itu sedikit tersentak dengan tingkahnya sendiri. Dia sudah menahan dirinya agar tidak berbuat seperti ini. Dia terdiam sejenak. Kemudian matanya menemukan luka yang dia buat. Perasaannya sedikit kacau. Dia mencoba menahan diri. Selanjutnya dia berkata,


"Tapi yang satu ini belum berhenti. Ini tidak baik", katanya lagi.


Siswa itu mengeluarkan strip tablet dari sakunya.


Ctak


Satu butir tablet dia keluarkan menggunakan tangan kirinya. Setelahnya dia mencoba membangunkan siswi yang meringkuk itu. Namun dia menahan tangannya sebentar. Dia sadar sejak awal bahwa gadis itu takut. Gadis itu gemetar karena takut dengan sosoknya.


Tangan kanannya dia julurkan. Siswa itu memegang bahu si siswi. Badan si siswi semakin bergetar, kali ini lebih hebat.


"Bangun. Ayo bangun...", kata si siswa pada akhirnya.


Suara yang cukup berat itu terdengar samar-samar frustasi.


Siswa itu lalu menyentuh pundak si siswi perlahan-lahan. Dia mendudukkan si siswi dengan menopang setengah bagian atas gadis itu dengan kakinya. Gadis itu persis bersandar pada kakinya.


Di sisi lain, si gadis yang masih menutup matanya tidak tahu akan berbuat apa. Badannya masih sedikit gemetar dan kaku.


"Minum ini," kata suara itu sambil menyerahkan sebutir tablet dan secangkir air.


Lalu, dengan perasaan takut dan curiga si gadis meminum obat itu.


Setelahnya dia pura-pura pingsan.


Dan lama kelamaan tertidur karena kelelahan.


...[Dawn and His Darling]...