
Itu adalah sebuah prom night di sebuah gedung sekolah swasta dari sebuah grup yayasan seorang manusia bersendok emas pada abad ke-21.
Baru pertama kali ini sekolah mereka mengadakan pesta semacam ini.
Alasannya karena Pak Hwang, sang kepala yayasan, baru saja pulang liburan dari negara lain beberapa bulan yang lalu.
Tampaknya pria tua itu tergila-gila pada sebuah film romansa klise masa muda. Maka dia adakan pesta semacam ini di sekolahnya.
Bulan Februari telah mencapai pertengahan, tapi suhu masih senang bertengger pada sepuluh derajat celcius sebagai rata-rata.
Dan prom night?
Lee Chaehyun memaki, menghujat, menghina.
Apalagi pesta dansa dengan siswa sekolah pria yang bahkan dia tidak tahu namanya. Oh, Ya Tuhan. Dia benci sekolah yayasan. Selama enam tahun dia bersekolah khusus wanita dan tiba-tiba saja mengadakan pesta prom nightnya dengan siswa dari sekolah pria.
Seriously?
Chaehyun sebenarnya tidak ingin datang. Dia malas. Lima hari sebelum acara pesta, pembawa prakiraan cuaca masih sibuk berbicara bahwa suhu mencapai minus delapan derajat celcius. Apakah suhu benar-benar akan menghangat ketika pesta?
Perempuan remaja itu benar-benar tidak mau berangkat, tapi mamanya lah yang sibuk memikirkan keseluruhan penampilannya.
'Ah, terserah', pikir Chaehyun.
Sampai pada hari acara, Chaehyun menyerah. Dia berangkat diantar menggunakan mobil hitam, seperti biasanya. Seorang supir tua keluarga mereka, Pak Kim, mengantarnya dengan hati-hati.
Kaki jenjang Chaehyun telah menapaki bagian depan aula yang dihias dengan cukup mewah. Badan perempuan remaja itu telah terbalut gaun velvet warna merah delima dengan desain A line. Dia sengaja datang sedikit terlambat.
Temperatur saat itu telah naik hingga mencapai posisi 16 derajat celcius. Tidak cukup dingin sebenarnya untuk sebatas gaun di atas lutut. Hanya saja Chaehyun tidak terbiasa. Dia masuk ke dalam. Sudah ada banyak siswa-siswi di dalamnya.
Musik mengalun dengan indah. Beberapa dari siswa dan siswi yang sudah mengenal satu sama lain mulai berdansa.
Oh, Ya Tuhan. Ini sangat aneh. Chaehyun merinding.
Pemandangan ini membuat Chaehyun ingin muntah. Di sisi lain, beberapa manusia yang belum saling mengenal saling mendekati satu sama lain. Lalu, mereka mulai berdansa.
Chaehyun makin merinding. Dia memutuskan untuk menyingkirkan dirinya di pintu samping, pintu menuju beranda yang langsung berhadapan dengan gedung utama yayasan.
Sebuah kursi panjang bewarna putih terbuat dari logam yang cukup dingin ketika diduduki. Chaehyun mendudukinya. Untuk sesaat tidak ada angin yang berhembus, sampai ada angin dari pintu yang dibuka secara tiba-tiba.
"Oh, ada orang di sini rupanya?", suara itu, suara yang cukup berat. Aroma buah ceri menguar cukup jelas dari pemilik suara itu.
Chaehyun menengok, dilihatnya orang itu dari atas sampai bawah.
'Siswa sekolah pria rupanya', batin Chaehyun.
"Boleh saya duduk di sebelah?", tanya siswa itu.
Chaehyun hanya mengangguk. Lalu, siswa itu duduk di sebelah Chaehyun.
Suara musik dansa mengalun dengan lebih kecang. Lampu-lampu yang semula menyala terang berubah menjadi lebih redup mengikuti alur musik yang diputar. 'Konyol,' batin Chaehyun. Perempuan remaja itu hanya diam. Siswa di sebelahnya juga diam. Berkebalikan dengan Waltz yang semakin kencang.
Musik hampir mencapai klimaksnya. Siswa di sebelah Chaehyun itu berdiri. Siswa itu menjulurkan satu tangannya, gesture yang menandakan hendak berdansa. Chaehyun bingung.
"Hah?"
"Ayo", kata siswa itu sambil tersenyum.
"Ya?"
Siswa itu menarik paksa tangan Chaehyun. Satu hentakan dan Chaehyun sudah berdiri di sebelah siswa itu. Aroma buah ceri semakin tercium. Mata dengan iris hitam yang menawan. Setelan tuksedo hitam-putih dengan dasi kupu-kupu merah tua. Tangan yang satunya lagi dengan cepat melingkar di pinggang Chaehyun. Dia merasa seperti dihipnotis. Aroma ceri itu seakan-akan membuatnya mabuk.
Mereka berdansa tanpa jeda hingga musik berakhir. Siswa itu berhenti, tetapi tangan mereka masih saling menggenggam.
"Bagaimana? Satu putaran dansa lagi? Lalu, peluk aku dengan erat."
"Hah?"
Mereka menari tanpa musik. Dengan angin yang berhembus. Rambut yang sama-sama tertiup angin. Aroma ceri yang bertemu harumnya vanila. Tangan bertemu tangan. Rasa hangat yang menjalar.
Majestyk.
Sampai gerakan terakhir. Mata siswa itu menatap Chaehyun lekat. Seakan menusuk hingga ke ulu hati. Tatapan yang tajam membuat bulu kuduk berdiri. Perasaan takut yang tiba-tiba muncul, tapi sulit digambarkan. Tatapan yang terlihat haus akan sesuatu.
Deg.
Taring itu seketika berada di leher.
Urg.
Taring itu menembus kulit, menancap dengan mantap. Pandangan Chaehyun yang mengabur. Kepalanya yang pusing. Aroma ceri yang semakin menusuk hidung. Rasanya sakit, tapi dia tidak bisa berkutik.
Tangannya yang berusaha melakukan perlawanan dengan menancapkan kukunya ke punggung lebar itu. Air mata yang mengalir tetes demi tetes. Kakinya melemas. Tidak bisa menopang badannya lagi.
Siswa itu melepas high heels si gadis, lalu memperdalam hisapannya. Siswa remaja itu menghisap cairan merah perlahan-lahan. Manis, aroma darah manis yang bercampur aroma vanila. Semakin banyak.
Taring itu menancap semakin dalam. Cairan merah yang mengalir ke kerongkongan. Seteguk demi teguk. Masuk perlahan-lahan.
Gadis itu pingsan.
Aroma darah yang bercampur dengan wangi vanila menguar. Beranda itu penuh dengan aroma darah, ceri, dan vanila.
Malam yang tenang menuju pagi. Seorang remaja pria yang menggendong gadis dalam gaun merah delima.
...[Dawn and His Darling]...