
Rabu, 15 Februari 202x. Hampir dua hari sejak hilangnya Lee Chaehyun.
Pagi itu adalah pagi yang histeris di rumah pimpinan utama Geumchanggo Group Tuan Besar Lee Hwi. Sekretaris Ji yang biasanya bersikap lempeng selempeng kanebo kering pun pagi itu terlihat sedikit cemas.
"LEE BADA!", Tuan Besar Lee memarahi anak kelimanya itu.
Nyonya Lee yang memiliki nama Lee Bada itu terkejut. Sudah lama sejak ayahnya memarahinya begitu. Sementara, persis di sebelahnya adalah suaminya sendiri Tuan Jo yang sudah bertekuk lutut di depan bapak mertuanya. Mengikuti posisi suaminya yang berlutut, Nyonya Lee pun ikut berlutut.
(FYI : di korsel marga tidak berubah sehabis nikah)
"Bagaimana hasil penyelidikan kepolisian?! Jika tidak ada kemajuan dengan segera, maka sewa detektif swasta yang handal! Seluruh media menyorot kita saat ini. Martabat Geumchanggo Group dipertaruhkan!", teriak Tuan Lee sambil menggebrak mejanya.
Nyonya Lee terkejut setengah mati mendengar gebrakan meja dari ayahnya. Rasanya dia hampir pingsan seketika. Keringat mengucur dengan deras dari pelipisnya. Dia yang tidak berani menjawab pun menyenggol suaminya dengan siku.
Pria yang disenggol istrinya itu pun akhirnya berbicara, "A-Ay-Ayah mertua...", katanya terbata-bata.
"Saya-Sa-Saya akan bertanggung jawab....", lanjutnya. Tuan Jo langsung menunduk lagi.
Mendengar ucapan ngawur dan spontan suaminya itu, Nyonya Lee langsung menambahkan, "Kami akan langsung segera menyewa detektif swasta yang handal, ayah...", begitu ucapnya.
"Bagus... Sekarang kalian berdua keluar!"
Pasangan suami istri itu pun segera kabur dari ruang pimpinan Geumchanggo Group.
***
"Suamiku, segera telepon Sekretaris Ji... Kita benar-benar perlu menemukan anak kita dengan segera."
"Sebentar, aku masih tremor sehabis dimarahi oleh ayahmu...", kata Tuan Jo sambil mengibas-kibaskan tangannya yang bergetar pelan.
"Hei, Kamu tidak boleh begitu suamiku. Kita harus cepat. Walaupun dia bukanlah anak kandung kita, tapi tetap saja dia anak kita", kata Nyonya Lee mengingatkan.
"Tunggulah tremorku reda dulu istriku. Kamu tahu kan kalau Sekretaris Ji itu orangnya macam apa... Bisa-bisa dia lapor lagi ke ayahmu... Nanti kita kena marah lagi. Dan aku makin tremor...", balas Tuan Jo.
Nyonya Lee langsung memukul pundak suaminya karena marah.
"Ah, terserah lah biar aku saja... Pak Kim ayo cepat jalan. Saya harus kembali ke rumah", kata Nyonya Lee pada supir mereka.
"Baik, Nyonya."
"Sebentar istriku, bukankah Sekretaris Geum lebih tenang dibandingkan Sekretaris Ji? Lebih baik dia saja...", saran Tuan Jo.
"Baik-baik... Aku akan telepon Geum Chanhee..."
Nyonya Lee menelepon dalam perjalanan. Mereka bertiga, Tuan Jo, Nyonya Lee, dan Pak Supir Kim, berkendara hingga sampai ke rumah Nyonya Lee dan Tuan Jo.
***
Inspektur Park sedang berjalan dengan cepat menuju ruang penyimpanan bukti. Dia masih tidak percaya dengan rekaman CCTV yang menjadi bukti menghilangnya siswi itu. Apalagi dia hilang dikala pesta kelulusan yang diselenggarakan di sekolahannya. Oleh karena itu, Inspektur Park mengkopi rekaman video itu dan memasukkannya kepada Tim Analisis Video.
Inspektur Park Junsang mencurigai Pak Tua Kim si sopir Keluarga Lee. Di tangannya terdapat berkas-berkas untuk mewawancarai saksi. Dan Tuan Kim termasuk salah satu saksi yang belum dia periksa.
Maka diteleponnya Pak Supir Kim tersebut.
"Selamat siang. Saya Inspektur Park Junsang dari Kepolisian Kota X. Apakah benar ini dengan Pak Kim Sungchul?", begitu telepon Inspektur Kim.
Suara serak Supir Kim terdengar menjawab telepon itu, "Ya, Benar. Ini dengan Saya sendiri. Ada apa, Pak Inspektur?"
"Anda dipanggil untuk menjadi saksi atas hilangnya Nona Lee Chaehyun. Dimohon kerja samanya dan datang ke Kantor Kepolisian pada besok Kamis, 16 Februari, 202x pukul 10 pagi. Apakah Anda bersedia dengan jadwal yang disediakan?", tanya Inspektur Park memastikan.
"Baiklah jika begitu. Terima kasih atas kerja samanya. Selamat siang."
"Selamat siang", balas Pak Supir Kim lalu menutup panggilan tersebut.
***
Sekretaris Geum Chanhee mengangkat telepon dari Nyonya Lee Bada. Dia sudah mengetahui perihal hilangnya Lee Chaehyun di prom night kelulusan. Jadi, pria berusia dua puluh enam tahun itu sudah sempat membaca beberapa berita dan melakukan riset ringan mengenai hilangnya nona muda dari Cabang Keluarga Lee yang kelima itu.
Maka, Geum Chanhee tidak panik saat mendapatkan telepon dari sang nyonya. Dia pun sudah menduga kelakuan pasangan suami-istri yang satu itu. Anak kelima dari Keluarga Lee dan suaminya itu memang sedikit eksentrik serta banyak mendapatkan masalah. Sehingga Geum Chanhee sudah tidak kaget lagi.
"Hmmm... Detektif swasta yang terpercaya?"
"Iya, Kamu tahu kan Sekretaris Geum... Anak kami satu-satunya Chehyunnie..."
"Baik, Nyonya... Tenang saja. Saya bisa mengatasinya...."
"Bagus... Bagus... Aku mengandalkanmu Sekretaris Geum...."
Lalu telepon pun di tutup.
***
Drrt...
Drrrt...
Drrrtttt....
Tidak ada cahaya lampu di ruangan itu sebelum ponsel itu bergetar. Cahaya yang diseting dalam mode full. Ditambah pemilik yang tampaknya tidak ingin mengangkat panggilan di ponselnya meski dia tahu kalau ada panggilan masuk. Wajar saja belakangan ini, ritme tidurnya yang biasanya terjadwal sangat rapi dan detail baru saja hancur akibat sepupunya.
Satu kali. Tidak diangkat.
Dua kali. Tidak diangkat.
Tiga kali. Tidak diangkat.
Hingga mencapai telepon yang ke tiga puluh kali dan akhirnya sang pemilik ponsel menyerah.
"APA?!", teriak pria itu waktu mengangkat telepon. Umurnya baru dua puluh dua tahun, tapi kalau sedang mode stres berat sifatnya mirip pria dengan enam orang anak.
Pria lain yang sedang berada di depan teleponnya langsung menjauhkan ponselnya. Geum Chanhee sudah menduganya. Temannya satu ini pasti akan mengamuk jika ditelepon. Muka datar Sekretaris Geum bisa digunakan untuk menggambarkan berbagai macam kejadian.
"Kamu sudah baca email yang aku kirimkan? Oh, pasti belum. Yang jelas bacalah...", kata Sekretaris Geum.
Yang berada di seberang telepon pun menjawab dengan suaranya yang serak khas orang baru bangun.
"Kasus Lee Chaehyun? Nona tempatmu bekerja itu?", tebak pria itu.
"Tepat sekali, Sunghoonie, Sayang...", kata Sekretaris Geum dengan nada yang dibuat-buat.
Pria yang berada di seberang telepon seketika merinding, "Bajingan! Aku sukanya perempuan! Dah Sudah! Akan aku terima dengan bayaran yang sesuai. Selamat pagi..."
"Aku juga suka perempuan, bodoh. Aku hanya niat bercanda denganmu. Sudahlah. Pokoknya aku minta tolong dengan sangat tentang masalah ini. Dan ini malam. Jadi, selamat malam", tutup Sekretaris Geum.
[Dawn and His Darling]