Come Back to Me, Darling!

Come Back to Me, Darling!
Chapter 8



Blam


"Ukhh...."


Erangan kesakitan memenuhi ruang parkir.


Tanpa rasa bersalah, Shia pergi menjauhi pria itu setelah menendang kuat benda berharganya. Tendangan maut Shia hampir saja akan menghancurkan pertahanan sejati pria itu.


Wajahnya memucat. Bibirnya bergetar menahan untuk tidak berteriak lebih, dan kedua tangannya menutupi bagian bawah nya. Cairan bening tumpah dari sudut matanya. Seraya menahan sakit, pria itu kembali berdiri tegak dan menghapus air mata yang tanpa izin mengalir di pipinya.


Shia...


Pria itu memandangi punggung Shia yang semakin menjauh.


...


Sementara itu, Shia terus berlari tanpa menghiraukan sekitar. Banyak karyawan yang bertanya-tanya, kenapa dia berlari seperti itu?.


Sedangkan para karyawan junior yang sempat menyinggung Shia menundukkan badan ketika Shia melewati mereka.


Sesampainya Shia, ia memasuki ruangan pribadinya. Lee berada di dalam untuk menyalin kembali cadangan file yang akan digunakan untuk bahan rapat.


Melihat Shia memasuki ruangan sambil terengah membuat Lee keheranan. "Rapat sudah dimulai. Tapi kau tidak perlu berlari begitu tergesa. Tidak akan ada yang akan memarahi keterlambatan mu."


"Lee, uhh... Hhh...aku...tidak menemukan flashdisk nya...hhah." Kata Shia dengan nafas berat.


"Haish... Lalu dimana flashdisk itu Shia? Bagaimana kalau flashdisk itu jatuh ke tangan yang salah? Perusahaan kita bisa rugi besar." Lee mengomeli Shia. Bagaimana bisa Shia menghilangkan benda sepenting itu?


Jika saja flashdisk itu terjatuh disuatu tempat, dan ditemukan oleh orang lain. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu tidak terjadi hal yang buruk atau akan terjadi hal yang buruk.


Jika flashdisk itu ditemukan oleh orang-orang yang tahu betapa penting file didalamnya, maka dapat dipastikan kerugian besar akan bertamu. Lee memikirkan segala kemungkinan saat ini.


Hanya saja, perkiraannya tidak akan terjadi. Karna nyatanya, flashdisk itu masih berada didalam mobil Shia. Shia tidak mengambilnya karna kejadian di parkiran. Tapi dia tidak bisa mengatakan itu pada Lee.


Lee... Pasti akan membunuh pria itu. Dan Shia tak ingin hal itu terjadi.


Shia menatap Lee memelas. Meskipun mata anak anjing Shia begitu imut, Lee tetap membalas dengan tajam. Hal tersebut membuat nyalinya menciut.


Shia mencoba membujuk Lee untuk tidak terlalu memikirkannya. Saat ini, mereka harus menghadiri rapat.


Setelah memasang beberapa kali puppy eyes dan melontarkan kalimat manis, akhirnya Shia berhasil membawa Lee ke ruang rapat.


...


Diruang rapat, Shia dan Lee memasuki ruangan tersebut.


Pintu besar berwarna hitam putih terbuka lebar ketika Shia dan Lee memasukinya.


Plak


Suara tamparan menggema diseluruh ruangan. Dari frekuensi suara yang dihasilkan, membuktikan bahwa tamparan itu sangat kuat. Shia dan Lee menyipitkan mata.


Ada apa lagi ini?


"Kau..." Ucap mereka berdua serentak.


Etta mengalihkan mata bulatnya pada Lee dan Shia yang sedang berada di bibir pintu.


Lee maju dan langkah besar ke arah pria itu dan Etta. Ia terdiam tepat didepan mereka berdua. Mata nya menatap tajam ke arah pria itu. Shia merasa atmosfer mengerikan memenuhi ruangan. Ia tidak mengerti situasi apa ini


Blam...brukh


Mata Shia membesar takkala Lee secara mendadak memberi bogem mentah ke perut dan wajah pria itu.


Pria itu terdorong menabrak dinding dengan kuat saat pukulan maut Lee mengenainya. Ia terjatuh ke lantai dengan posisi tengkurap. Punggung kekar pria itu tampak bergetar selama beberapa detik.


Atmosfer mencekam diruangan ini menambah dayanya. Seketika wajah semua orang memutih, dan beberapa dari para karyawan terduduk dilantai karna tak kuasa menahan tekanan maut.


"Hey, apa yang kau lakukan Lee? Kenapa kau memukul nya?" Ia mencoba menahan aura membunuh yang Lee pancarkan. Ia mendorong Lee menjauhi pria yang tergeletak dilantai. Shia menghampiri pria itu, berniat membantunya.


Shia membalikan posisi pria itu sehingga menghadapnya. Tampak wajah tampannya kini terdapat beberapa memar. Darah mengalir lambat dari sudut bibirnya.


Ketika Shia ingin menghapus jejak darah, tangan nya dicengkram dengan kuat. Etta menarik tangan Shia dan memaksanya berdiri.


"Shia, jauhi pria itu." Etta membentak Shia. Tangannya yang dicengkam kuat oleh Etta membawa rasa perih dikulitnya. Kuku Etta menancap dikulit Shia. Shia meringis kesakitan.


"Jangan sakiti Shia." Pria itu berdiri dan dengan cepat ingin mencekal tangan Etta. Tapi punggung nya sakit takkala Lee menendangnya.


Shia membelalak...


Tak mengerti apa yang sedang terjadi. Bukankah seharusnya saat ini rapat penting akan dibahas? Kenapa ruang rapat menjadi ajang tinju?


Shia memberontak, ia ingin membantu pria itu tapi entah kenapa tenaga Etta menjadi lebih kuat dibading dirinya. Ada perasaan cemas yang berlebihan dilubuk hatinya saat melihat ekspresi kesakitan pria itu.


"Presdir Sen!" Asisten Ben menghampiri boss nya yang sudah terjatuh karena tendangan itu.


"Apa yang kalian lakukan?" Ben berteriak marah ketika melihat junjungannya yang diundang kesini malah mendapat perlakuan kasar mereka.


Asisten Ben berdiri ingin memukul Lee. Suara bariton yang tegas menghentikan aksinya.


"Hentikan Ben! Jangan menyakiti nya!"


"Tapi Presdir...."


"Diamlah! Ini masalahku. Jangan ikut campur." Asisten Ben menatap sedih junjungan nya. Sebuah batu besar mengganjal hatinya. Tapi ia tetap mematuhi atasannya itu. Sebuah perintah mutlak untuk mereka agar keluar dari ruangan.


"Kalian bisa keluar sekarang! Tidak boleh ada yang membuka mulut atas kejadian ini." Presdir Sen memberi perintah pada bawahannya. Seakan tan menerima penolakan, Presdir Sen menatap tajam Asisten Ben yang ingin berucap.


Kekhawatiran pada Presdir Sen membuat Ben enggan beranjak. Tapi ia cukup sadar diri akan posisi. Dengan berat hati, ia membawa para utusan yang telah pucat pasi untuk meninggalkan ruangan ini.


Begitupun dengan Lee memberi perintah pada bawahannya untuk ikut keluar. Para karyawan yang keluar dengan keadaan pucat pasi layaknya kekurangan darah membawa rasa penasaran pada beberapa karyawan diluar. Bahkan, petugas kebersihan yang awalnya sekedar lewat berhenti sejenak karna rasa ingin tahunya.


Walau direktur mereka kejam, tapi tidak pernah menyedot darah karyawannya. Begitulah pemikiran mereka saat ini.


Jika Lee mengetahui isi pemikiran mereka, ia pasti akan meledakkan bom atom di perusahaan. Apa Lee seorang vampir yang menghisap darah manusia?