Come Back to Me, Darling!

Come Back to Me, Darling!
Chapter 6



Heh, kau yang meminta ini ******. Shia tersenyum manis. Para pria terpesona pada senyum itu. Tapi dibalik senyum indah nya, terdapat badai yang amat dahsyat.


"Nona, aku ingin bertemu dengan Direktur Lee. Bisakah kau tidak menghalangi jalan ku? Jika tidak, kau akan menyesal telah hidup." Shia berkata dengan nada lembut tapi terkesan mengancam.


"Heh, menyesal? Apa kau tahu siapa aku? Ahh, tentu gadis miskin seperti mu tidak akan mengenal ku. Dengar baik-baik! Namaku adalah Dina, aku adalah anak dari Jenderal Besar yang sangat berpengaruh pada negara, Jenderal Besar Adi."


Shia hanya diam. Bukan karna dia takut, tapi mengetahui kekuatan musuh dan mencari kelemahan nya adalah hal yang penting.


Dina tersenyum puas melihat Shia hanya diam, jabatan ayahnya memang selalu bisa diandalkan. Dia kembali mencemoh, "apa kau takut? Yah, aku bisa memahaminya. Gadis miskin seperti mu memang sudah sepatutnya bersujud di hadapan ku. Dan, tadi kau bilang ingin menemui Direktur Lee, bukan?"


"Yah" Shia menjawab singkat.


"Kau pasti adalah ******* yang mencoba naik ke ranjang Direktur Lee. Jangan bermimpi terlalu tinggi yah *******. Direktur Lee tidak akan memandang gadis bau seperti mu. Dia hanya akan memandang ku, karna aku cantik. Bahkan dia selalu mencuri pandang dengan ku. Dia juga..."


Sebelum Dina menyelesaikan kalimat tidak bermutu itu, Shia meletakkan jari telunjuk kiri nya ke bibir Dina.


"Beraninya kau..,"


"Diam lah! Suara mu membuat telinga ku sakit."


"Dasar *******, beraninya kau." Dina berteriak kencang. Teriakan yang menggelegar terdengar ke ruangan bagian HRD di lantai satu. Dina mengangkat tangannya untuk menampar Shia. Tapi apakah dia mampu?


grep


srek


Shia menangkap tangan Dina dan mendorong nya hingga ia terjatuh ke lantai. Akibatnya, rok pendek yang dia kenakan pun sobek.


Bunyi kain yang sobek membuat semua karyawan yang menyaksikan pertengkaran menjadi terdiam.


Kesunyian itu hanya terjadi selama beberapa detik, yang kemudian disambut gelak tawa oleh semua karyawan disana. Wajah Dina semakin memerah. Shia bersimpati atasnya. Saat dia ingin membantu Dina untuk berdiri, suara tegas seorang wanita paruh baya terdengar.


Dia adalah Wakil HRD, yang ditugaskan mengganti pihak Personalia sementara. Sonia, atau yang biasa dipanggil Nyonya Sonia menatap tajam pada Dina dan Shia.


"Ada apa ini? Bukannya bekerja kalian malah menggelar pertunjukan sirkus." Nyonya Sonia memberi aura intimidasi kuat, membuat mereka menunduk takut. Tapi tidak dengan Shia, yang masih tetap berdiri tegak dengan mengangkat wajahnya angkuh.


Hal ini tidak lepas dari pengamatan Nyonya Sonia, "siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu disini."


"Nama ku Shia, aku ingin menemui Direktur Lee." Ucap Shia tegas.


"Apa kau sudah membuat temu janji?" Tanya Nyonya Sonia meminta penjelasan. 


Shia tersenyum manis. Sangat manis hingga membuat para pria diabetes. Dia suka sikap wanita dihadapannya ini. Walau terkesan kejam dan tegas, dia tetap bertanya dengan sopan. Tidak seperti Dina, yang langsung menghina tanpa tahu kebenaran dan meminta penjelasan.


"Ya, dia yang meminta secara pribadi untuk aku datang kesini."


"Apa kau punya bukti? Maaf, tapi bisa saja kau hanya mengarang dan memiliki niat jahat." Nyonya Sonia menyipitkan mata.


Nyonya Sonia tidak mengenal Shia. Dan Shia tidak menyalahkan ketidaktahuan tersebut. Mungkin mereka masih junior disini, begitu lah perkiraannya.


Shia tidak marah, malah dia salut dengan sikap terung terang Nyonya Sonia. "Tentu, bukti semacam apa yang kau inginkan?"


"Bagaimana bila kau menelpon Direktur Lee dihadapan kami semua, untuk memberitahukan kehadiran mu."


Shia tersenyum miring, lalu mengiyakan. Dia menelpon Lee dengan mengeraskan volume.


"Hallo Shia, kau sudah ada dimana? Aku menunggu mu sejak tadi." Suara cempreng Lee mengawali percakapan di telpon. Dan itu membawa keterkejutan diwajah semua orang. Bahkan Nyonya Sonia pun terheran-heran.


"Lee, aku terlambat karna ada beberapa hama disini. Apa rapat nya telah dimulai?"


Semua karyawan pucat pasi mendengar Shia mengadukan mereka pada Direktur Lee. Selain itu, mereka juga bertanya-tanya apa hubungan Direktur Lee dengan gadis ini?


"Tidak, rapatnya ditunda. Datanglah segera ke ruangan ku, kita akan berbicara lebih lanjut." Ujar Lee memberi perintah.


"Tidak. Kaulah yang harus datang ke ruanganku!" Ucap Shia tegas.


Perintah Shia adalah mutlak disini. Lee hanya bisa menghela nafas, sebelum mematikan sambungan telepon mereka.


Para karyawan dan Nyonya Sonia tercengang. Direktur Lee menerima perintah gadis ini? Siapa sebenarnya dia? Itulah isi pikiran mereka.


Shia yang menyadari tatapan bodoh mereka tertuju padanya, memutar bola mata malas. "Ada apa? Sekarang aku sudah boleh pergi, bukan? " Shia bertanya tapi terkesan seperti mengejek.


Hening. Tidak satupun berani menjawab. Walau tidak tahu status Shia di perusahaan ini, melihat interaksi Shia dan Direktur Lee yang begitu dekat membuat mereka mengubah spekulasi.


Terutama Dina, yang sudah berkeringat dingin. Shia memerintahkan salah satu karyawan membantu Dina berdiri dan karyawan wanita lainnya menutupi bagian belakang rok yang sobek.


Shia melirik Nyonya Sonia, dan itu sukses membuat Nyonya Sonia merasa krisis.


"Lancang." Ucap Shia meninggikan suara. 


Tanpa menghiraukan mereka yang sudah gemetar ketakutan, Shia langsung menaiki lift khusus para pemegang saham.


Tapi sebelum dia menapaki kakinya memasuki lift, suara seorang gadis menghentikan langkahnya. Ahh, ada apa lagi ini? Tidak bisakah kalian menggangap ku hanya angin lalu. Kenapa kalian selalu mencari masalah dengan orang yang salah? Batin Shia kesal.


"Ada apa lagi?" Tanya Shia, dia sungguh merasa kesal.


"Walau kau adalah kekasihnya Direktur Lee, tapi kau tetap tidak boleh menaiki lift itu." Ucap wanita itu dengan jijik pada Shia. Ternyata dia adalah salah satu antek-anteknya Dina.


"Aku boleh." Kata Shia singkat.


Sebelum Gadis itu ingin ngebut bicara, Shia segera melanjutkan perkataanya."Nama ku adalah Tiar Shiamun Pratama. Pimpinan sekaligus CEO perusahaan ini.


Dia buru-buru menaiki lift. Jika tidak, akan ada yang menghentikannya lagi.


Jangan tanyakan ekspresi para karyawan itu. Benar-benar seperti orang bodoh!


Ada yang menganga tak percaya, juga ada yang berkeringat dingin.


...


Kurang dari 5 menit, Shia telah sampai ke lantas paling atas tepatnya di ruangan khusus CEO.


Shia duduk di kursi kebesarannya, mengabaikan kehadiran Lee yang sedang duduk di sofa. Banyak yang harus dia lakukan sekarang, apalagi Lee sudah menyerahkan semua berkas selama seminggu terakhir.


Dan hari ini, dia harus memimpin rapat penting bersama Presdir Sen. Dia kurang tahu tentang rapat ini. Lee hanya mengatakan rapat akan membahas tentang kontrak kerja sama dengan Presdir Sen, untuk memberi investasi dalam pembangunan cabang baru Pratama Store, Inc.


Shia membaca kontrak kerja sama yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Tertulis nama A. Sen Malik Lohia sebagai pihak kedua. Terdapat beberapa kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.


Shia tidak terlalu mengenal Pengusaha dalam negeri. Presdir Sen ini rasanya cukup familiar. Dia yakin tidak pernah bertemu atau hanya mendengar namanya kemarin dari Lee. Tapi kenapa namanya mampu membuat Shia gugup dan gelisah?.


Lee yang diabaikan oleh Shia mendengus kesal. Dia duduk di kursi depan meja kerja shia. Ketika melihat Shia hanya termenung menatap lembar kontrak, Lee membuyarkan lamunan Shia.


"Ada apa dengan mu? Kenapa kau termenung? Adakah kesalahan atau kesepakatan yang membuatmu tidak puas?"


"Ahh ya... maksudku tidak. Ini kerja sama yang sangat menguntungkan." Shia tergagap menjawab hingga dia menetralkan suaranya.


"Kenapa rapat ini ditunda?" Tanya Shia dengan ekspresi serius.


"Asisten Presdir Sen mengabari bahwa ada beberapa masalah internal jadi hal itu menghambat kedatangan mereka." Lee menjelaskan singkat.


"Masalah internal?" Tanya Shia kembali.


"Yah, Presdir Sen harus mengurus beberapa hal di perusahaan nya. Ada sedikit bentrokan pada para pemegang saham me..." Perkataan Lee terhenti oleh suara gebrakan meja.


"Apa?" Shia menggerpak meja dan berdiri diliputi amarah yang memuncak. Entah sudah berapa kali Shia marah dalam pagi ini.


Lee merasa dingin di punggungnya. "A... Ada apa S... Shia?" Tanya Lee tergagap.


"Apa mereka menganggap kontrak kita sebagai permainan. Bagaimana bisa mereka mencampuri urusan internal perusahaan mereka dengan rapat ini? Mereka sama sekali tak memberi kita muka. Aku yakin Presdir nya tak lebih adalah kakek tua yang sudah bau tanah sehingga otaknya tidak lagi bisa bekerja dengan baik. Aku yakin dia menyewa orang untuk mengembangkan perusahaan kecil itu, lalu dia yang akan mendapat pujian. Si manusia kera itu juga pasti hanya ingin mencari sensasi karna telah berhasil menjalin kerja sana dengan perusaahaan besar seperti kita. Dia juga pasti sengaja membuat kita menunggu kepastian dalam kontrak, sehingga kita akan bertindak gegabah. Lalu kita membatalkan kontrak secara sepihak dan mereka lah yang akan mendapat keuntungan. Dasar kuman dalam kotoran sapi, kakek tua itu hanya tau cara mempermainkan klien. Lihat saja, kita akan balas perbuatan mereka dengan rasa malu yang harus mereka tanggung." Ucap Shia dengan menggebu-gebu. Disertai senyum miringnya, Shia terlihat seperti malaikat kematian yang akan mengambil nyawa seseorang kapam saja.


Shia mengoceh sambil mengumpat tanpa henti. Lee hanya terbengong menyaksikan ocehan Shia yang seperti mercon. Hanya dalam 3 tarikan nafas, Shia mampu mengatakan semua itu?


Untung saja Shia mengetahui hal itu lebih awal dan mengumpat Presdir Sen disaat mereka sedang berdua. Bila Shia mengucap sumpah serapah itu didepan orang lain, terutama jika di depan Presdir sen. Maka bisa dipastikan akan ada perang saham.


Suasana menjadi hening. Lee yang masih dalam keterkejutan nya sedangkan Shia yang masih dalam mode marah nya menciptakan suasana akward dalam ruangan.


Sedetik kemudian, masing-masing dari mereka tersadar. "Ehemk..." Shia terbatuk ringan.


"Emm, jadi Shia apakah kita akan meneruskan kerja sama?" Lee bertanya hati-hati.


"Ya, kita tidak boleh termakan oleh jebakan mereka. Kita teruskan saja. Tapi..." Shia menggantungkan kalimatnya seraya tersenyum evil.


Lee agak merinding, "tapi?" tanya nya memberanikan diri.


Shia memberikan senyum evilnya lagi.


...