Come Back to Me, Darling!

Come Back to Me, Darling!
Chapter 3



Ditempat lain, Seseorang baru saja mendarat dibandara yang sama dengan bandara tempat Shia mendarat.


Wajah yang tertutup masker tidak menghalangi pesona nya untuk bertebaran. Dia mengenakan topi hitam bergambar tengkorak kecil ditengah, celana jeans hitam beserta jaket polos berwarna abu-abu.


Di salah satu telinganya, tergantung anting magnet berbentuk lingkaran.


Penampilannya sangat gagah dan cool.


Pengunjung bandara bertambah ramai. Suara klekson mobil ataupun motor tidak segan-segan berbunyi. Langit semakin terang dibandingkan tadi. Kicauan burung kadang terdengar samar.


Seketika, suara dibandara semakin riuh. Bisik-bisik dari para pengunjung saling menyahut. Hampir semua pandangan orang-orang mengarah pada suatu objek.


Pria tadi melewati kerumunan, tampak sangat acuh. Bahkan dia tidak memperdulikan tatapan memuja semua orang, hanya memberi tatapan intimidasi para gadis yang ingin mendekatinya sehingga mengurungkan niat.


Para staff bandara tidak heran dengan kerumunan. Mungkin ada orang penting yang lewat, begitulah pemikiran mereka.


Kerumunan orang bubar, setelah pria itu memasuki mobil Ferrari hitam miliknya.


Didalam mobil, pria itu menghela nafas lega. Sungguh serangga yang merepotkan. Dia mendengus kesal.


Asisten pribadinya masih menunggu perintah tuannya.


"Pulang ke vila." Pria itu memberi perintah. Setelah mobil mulai melaju, dia membuka masker dan topinya. Lalu, membuangnya asal.


Pria yang diperkirakan berusia kepala tiga itu menatap keluar jendela. Tatapan mata yang tadinya tajam dan mengintimidasi kini berubah sendu. Hidung mancungnya hampir menyentuh kaca jendela mobil.


Dia sedikit menurunkan kaca, hingga memungkinkan angin segar masuk kedalam. Rambut hitamnya sesekali bergerak mengikuti angin.


Dilihatnya langit yang hampir terang. Sudah banyak mobil yang berlalu-lalang, dan beberapa tempat makan serta warung yang terbuka. Mobil mereka juga melintasi toko buku kecil dipinggir jalan.


Kemudian teringat sesuatu. Dia segera memeriksa tas hitam kecil disampingnya.


Dia menghela nafas lega setelah menemukan benda yang dicari. Dibukanya perlahan benda itu, sesekali mengusap tulisan di setiap lembaran.


Si asisten pribadi yang sedang menyetir mobil itu menyempatkan diri sedikit curi pandang ke belakang, sekedar untuk memeriksa keadaan sang tuan.


Asisten pribadi itu menghela nafas pelan. Dia hanya bisa terdiam dan mencoba membawa mobil dengan tenang karna tak ingin mengganggu tuannya membaca deary itu lagi.


Setiap kali tuannya membuka deary itu, tatapannya berubah menjadi sendu. Kadang dia juga memergokinya sedang membaca buku deary itu dengan derai air mata.


Dia juga tidak tahu, apa isinya dan milik siapa itu. Dia tahu itu bukan milik tuannya, tapi mungkin milik seseorang yang penting.


Pria itu mulai membaca halaman pertama deary bersampul ungu, dengan motif kupu-kupu dan gliter berwarna-warni. 


11 Juni 2009


Hello, sobat deary. Namaku Tiar shiamun pratama.


Ini pertama kalinya aku menulis sebuah deary, dan aku merasa sangat bersemangat kali ini.


Selama ini, aku merasa menulis deary adalah sesuatu yang mengganggu waktu istirahat ku.


Tapi setelah membaca novel tentang seorang gadis yang melupakan kekasih yang amat dicintainya karena sebuah tragedi mengerikan menimpa hubungan mereka, lalu sang gadis akhirnya mengingat masa lalunya karna membaca deary yang sering dia tulis dulu, aku jadi ingin mencoba menulis deary ku.


Hey, jangan menertawakan ku!


Aku tau alasan ini memang overdrama,tapi aku tetap akan mencoba nya. Mungkin saja suatu hari, aku juga begitu.


Siapa yang tahu ?!


Jadi...


Pria itu merasa mobilnya berhenti. Ia menoleh ke si asisten, "kenapa berhenti?"


"Tu...tuan, kita sudah sampai." Si asisten merasa gugup. Terakhir kali dia menggangu sang tuan membaca deary, gajinya langsung dipotong selama 3 bulan. Dia juga dihukum membersihkan seluruh toilet di perusahaan.


Tapi apa boleh buat, dia harus berhenti karna sudah sampai ketujuan. Tolong siapapun katakan pada tuannya kalau ini bukan salahnya.


Sang pria menyimpan kembali buku deary itu dengan berhati-hati. Dia langsung keluar dari mobil tampa mengucapkan apapun.


"Huh...Selamat." Si asisten menghela nafas, sangat lega hingga mungkin terdengar keluar.


Si pria berhenti, "Beni."


"Ya...Ya tuan?" Baru saja dia merasa lega, sedetik kemudian dia merasa firasat buruk akan dirinya.


"Potong gaji 1 bulan. Juga beri makan ikan kecilku."


Mamp*s sudah nyawaku,,,.


_____________.


Shia memasuki kamar nya.


Sudah lama dia tidak memasuki ruangan ini. Kamarnya sangat luas. Ungu dan kuning adalah warna favorit nya. Itu sebabnya kedua warna itu begitu mendominasi kamar ini.


Banyak foto Shia dan semua keluarga dengan bingkai elegan berwarna emas menghiasi dinding. Disertai beberapa poster Idol K-pop favorit nya disalah satu sisi dinding.


Juga terdapat  ornamen-ornamen bertema kuno terpampang dibalik lemari kaca dengan ukiran modern disetiap sisi. Jangan lupakan kasur berukuran king size berada tepat ditengah ruangan.


Kasur berwarna biru tua dengan perpaduan kuning itu tidak memiliki kaki. Itu karna, salah satu tempat paling menyeramkan baginya adalah di bawah kolong.


Shia tidak menginginkan kehadiran lampu gantung yang besar dikamarnya. Dia lebih suka lampu TL untuk menerangi kamarnya.


Didekat jendela, terdapat tempat tidur kecil yang langsung menempel dengan jendela kaca tampa pintu, membentuk sekat kecil. Terdapat lampu kecil berwarna-warni disekitar sekat itu.


Disebelah nya terdapat meja rias berwarna hitam elegan. Disisi dinding lainnya, terdapat ruangan besar sebagai tempat menyimpan pakaian.


Dan terakhir, sebuah TV LED ditengah lemari hias berwarna putih dan lekukan-lekukan merah maroon.


Shia tampak sangat antusias. Dia melepas sepatunya dan melemparnya sembarang. Shia berlari, sedikit melompat menuju kasur kesayangannya.


Disengaja atau tidak, dia tertidur tampa mengganti bajunya.


Setelah beberapa saat tertidur, matanya kembali membuka


_________________


Shia POV


"Dimana aku?"


Bingung. Itu hal yang pertama kali kurasakan saat ini.


Aku memandangi sekitar dan mendapati diriku sedang terduduk di sebuah kursi. Tapi tempat ini, terlihat asing bagiku. Terlihat seperti sebuah kamar yang tidak besar ataupun kecil. Hanya berisi Ranjang kecil yang hanya muat ditempati dua orang.


Dan terdapat lemari plastik bergambar helokitty berwarna merah. Lantai ubin di ruangan ini membuatku teringat masa kecilku dulu.


Dulu aku dan keluargaku tinggal di rumah kecil. Lantai nya juga terbuat dari ubin. Kasur kecil yang lusuh. Dan lemari helokitty berwarna mer...


Tunggu!... Kamar ini, terlihat Familiar. Rasanya aku pernah melihatnya.


"Ini kamarku dulu. Tapi kok...? Tadi, bukannya aku...," Kata-kataku terhenti. Aku mengedarkan pandangan.


Kulihat sebuah foto besar disamping lemari. Menampilkan gambar ku, Bunda, Lee, Putra, Etta, beberapa orang yang tidak ku kenal dan seorang lelaki tinggi berdiri disamping nya dalam foto itu.


Aku dapat melihat semua wajah dalam foto itu kecuali pria tersebut. Itu terasa aneh bagiku.


"Siapa dia?"


Wajahnya buram. Jadi ini mimpi? Bagaimana bisa aku masih bermimpi.


Kupikir, mimpi aneh ini hanya terjadi saat aku di Perancis.


Aku kembali menatap foto itu dengan seksama. Hatiku berdenyut sakit takkala jemariku yang ramping menyentuh foto itu.


Mereka tampak bahagia dalam foto, dan terdapat sebuah rumah besar dibelakang kami.


Rumah itu? Kenapa aku tak ingat pernah kesana? Mungkin background nya hanya diedit. Tapi siapa orang-orang ini?


Bagiku, semua tampak membingungkan. Aku tahu bahwa ini hanya mimpi, tapi kenapa terasa nyata?


Lebih tepatnya, aku merasa deja vu.


Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu yang terbuka. Tubuhku menegang. Uhk, kenapa suhu ruangan mendadak panas begini?


Secara perlahan, aku membalikkan tubuh kearah pintu.


Tap...tap...tap


Rasanya berat saat mengangkat kepala, membuatku harus menunduk. Aku tak tahu siapa yang datang. Netra hitam ku hanya menangkap bayangan seseorang mendekat.


"Shia." Suara berat seorang pria memanggilnya dengan nada yang lembut.


Wah...Suaranya macho banget. Pasti cogan nih. Bisa dijadiin koleksi,hehe. Ehh, tapi inikan mimpi.


Ahk, lupakan pikiran gilaku.


Tapi ini aneh. Mendengar suara itu, perasaanku semakin tidak menentu. Rindu, marah, gugup, dan benci. Aku mendapati emosi itu dalam satu waktu.


Aku tak dapat mengungkapkan emosi apa yang sedang melanda. Aku hanya tahu, rasa bimbang mulai merasukiku.


Ehh,,, kenapa aku bisa bimbang? Ini aneh. Aku bahkan tak tahu siapa yang datang.


Demi apa, aku sangat penasaran dengan suara itu. Mencoba meyakinkan diri sendiri, aku mengangkat pandangan.


"Cih, ternyata kau lagi. Wajah mu yang buram itu sungguh membuatku frustasi. Apa karna kau terlalu suci hingga mataku yang hina ini tak dapat melihatmu."


Pria itu. Pria yang selalu datang kemimpi ku. Kenapa ia tak absen saja untuk hari ini? Aku mencebik kesal.


Siapa yang tak kesal mimpinya selalu didatangi sosok yang sama berulang kali?!. Kalau didalam mimpi itu ia menjadi seorang ratu cantik yang punya banyak simpanan cogan, dan pria berwajah buram ini salah satu simpanannya. Mungkin itu masih bisa dipertimbangkan....


"Katakan saja, siksaan apa yang akan kau berikan padaku kali ini?"


Wajar jika aku mengatakan itu. Karna nyatanya, setiap pria ini datang ia akan menunjukkan sesuatu padaku. Dan sialnya lagi, hal itu membuat ku ingin marah, nangis, dan rindu sekaligus.


Hatinya dan pikiranku selalu berkecambuk saat melihat pria ini.


Dan saat ini, ia merasa kesal. Sangat kesal!


Ayolah, dia telah mengoceh banyak sejak tadi, dan pria ini hanya dia tanpa bergerak, ataupun merespon ocehannya.


Ingin sekali aku memaki pria ini, lalu melihat ekspresi apa yang akan ia tampilkan saat aku mengeluarkan kalimat mutiara milikku.


Tapi sebelum itu terjadi, pria itu membuka suara. "Apa kau bahagia dengan pertunangan ini, Shia?"


"Huh...Apa?"


_________


Ok Readers😊


Now....,Please Give your Suport!


Just Click Like, Enter Your Comment, And VOTE!!!!


So Easy, Right???


Jangan jadi pembaca ghaib....