
"Hehe, jika benar mereka ingin menjebak kita maka kita akan mengembalikan nya tanpa sungkan."
"Ihk." Lee merasa suhu udara diruangan ini turun. Dia menggosok kedua tangannya secara berulang-ulang. Setidaknya, tangannya menyimpan sedikit rasa hangat.
"Sampai kapan rapat ditunda?" Shia meredakan amarah nya. Dia mencoba tenang kembali.
"Setelah makan siang."
"Hmm."
"Apa kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Shia lebih lanjut.
"Presdir Sen?"
"Yah."
"Tidak. Aku hanya mendengar, dia adalah seorang pria dingin dan anti wanita." Jawab Lee seraya mengamati kembali kontrak kerja sama itu.
"Cih, Itu hanya rumor." Shia mencibir.
"Maksudmu?" Lee mengalihkan pandangan pada Shia.
Shia menyalakan hp nya dan mengetik sesuatu. Kemudian menjawab, "bisa jadi dia hanya ingin mencari sensasi. Kakek tua itu tidak mungkin anti wanita. Junior nya tidak akan tahan jika harus layu sebelum merasakan surga dunia."
Shia mengatakan itu semua tanpa sensor, membuat Lee sekali lagi tercengang. "Hey kakak, bagaimana bisa kau mengatakan hal vulgar seperti itu padaku?! Aku masih suci, jangan nodai aku dengan pengetahuan sesat mu itu."
"Puft... Suci? Aku dengar kau sering mencuri pandang pada gadis berdada besar di perusahaan kita." Ucap Shia tanpa rasa malu.
"....,"
Lee tersedak air ludah nya sendiri. Itu tidak benar! Siapapun yang menyebar rumor memalukan itu pada kakaknya yang bermulut ember, harus dihukum berat!
Shia tertawa melihatnya. Diruangan, mereka hanya bercanda ria. Sesekali Shia memancing Lee untuk mau bergosip, dan dengan mudahnya Lee memakan umpan.
Tak terasa, mereka telah didalam selama 3 jam lebih. Etta masuk tanpa mengetok pintu untuk mengajak mereka lunch bersama.
Barulah mereka sadar, bahwa jam makan siang telah tiba. Sebentar lagi rapat akan dimulai. Buru-buru, Shia menarik tangan Lee dan Etta ke kantin terdekat. Shia tidak ingin kelewatan jam makan kali ini. Dia sudah sangat lapar. dikarenakan perdebatan kecil pagi tadi, dia tidak ikut sarapan.
Sesampainya di kantin, Shia langsung memesan makanan porsi jumbo. Kantin cukup ramai seperti biasanya, tapi tidak membuat udara menipis didalam sini. Ruangan kantin berukuran luas dengan ventilasi udara yang baik. Ada beberapa kantin di masing-masing lantai.
Karna kantin ini cukup lebar, dan pelayanan nya yang cepat membuat karyawan tak perlu mengantri lama.
Kedatangan Shia bersama Direktur Lee dan Wakil CEO Etta membuat suasana menjadi ricuh. Para karyawan senior memberi jalan pada mereka untuk memesan di barisan pertama.
Para senior yang mengenal Shia menyapa dengan hormat. Shia hanya tersenyum membalas sapaan tersebut. Lalu setelah memesan makanan, Shia menyeret Keduanya ke meja yang kosong.
Setelah selesai makan, mereka tetap berada disana selama beberapa menit. Itu bertujuan agar makanan mereka dapat dicerna dengan baik.
Sesekali, Etta memberi penjelasan lebih untuk rapat hari ini. Etta mengatakan bahwa Presdir Sen dan perwakilan yang lain akan datang dalam 10 menit lagi. Lee menceritakan ocehan Shia diruangan tadi. Etta tertawa keras mendengarnya. Apalagi saat Shia mengatai Presdir Sen sebagai kakek tua yang bau tanah.
Etta tidak tahu rupa Presdir Sen, tapi dia setuju dengan sebutan Kakek tua itu.
Etta sudah menyiapkan semua keperluan dan presentasi yang akan dibahas lebih lanjut nanti diruang rapat. Shia hanya perlu memimpin rapat sambilĀ menggoyangkan kaki.
Ketika mereka bertiga ingin keluar dari kantin, Lee mengatakan sesuatu yang membuat Shia gelagapan.
"Shia, tadi pagi aku sempat memberimu flashdisk, bukan? Apa kau sudah membawanya? Itu sangat penting untuk rapat."
Shia memasang wajah terkejutnya. "Apa?"
"Astaga Shia, jangan bilang kau melupakan hal itu!" Etta menatap Shia tajam.
Dia sudah bersusah payah membangun relasi bisnis dengan Presdir Sen. Jangan sampai itu gagal hanya karna sifat pelupa Shia.
"Aku tidak yakin. Tapi sepertinya aku meletakkan itu di mobil. Aku akan mencari sekarang." Shia menyalahkan sifat pelupa nya ini. Kenapa ingatannya selalu jangka pendek?.
"Cepatlah Shia. Kita tidak punya banyak waktu." Lee berusaha untuk tidak menjitak kepala Shia. Rasa geram ini tidak akan hilang sebelum Shia menemukan flashdisk itu.
"Apa aku perlu membatunya?" Etta bertanya pada Lee.
"Tidak Etta. Aku harus mengumpulkan berkas cadangan jika flashdisk itu tidak ditemukan. Sedangkan kau dibutuhkan untuk mengulur waktu selama mungkin." Lee menjelaskan.
"Baiklah." Etta mengangguk dan pergi keruang rapat.
....
Di parkiran.
Tadi, Shia menyuruh salah satu sekuriti untuk memarkir mobilnya di parkiran khusus pejabat di perusahaan. Jarak nya saat ini ke ruang parkir cukup jauh. Dia sangat menyesal telah memarkirkan mobil nya di tempat itu.
Walau terang, suasana jalan menuju parkiran yang sepi dan sunyi sukses membuat jantung berpacu. Untuk saat ini, hanya ada beberapa mobil terparkir disana. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya itu bagi Shia, yang sangat takut pada hantu.
Saat sudah hampir sampai ke parkiran, dia mendengar suara langkah kaki selain dirinya. Seakan lampu yang menyala terang tidak berpengaruh sama sekali. Perasaaan takut masih setia menemani dirinya.
Saat ini Shia sudah hampir berada dia ambang batas keberaniannya. Wajahnya memutih seakan tak dialiri darah. Seluruh tubuhnya kehilangan suhu hangat nya. Bulu kuduknya sudah meremang sejak tadi. Dia hanya bisa beristighfar berkali-kali.
Bukh
"Argghh." Dahinya menabrak sesuatu yang keras. Itu cukup membuat dahi nya memerah. Hidungnya juga terasa semakin pesek. Benturan itu sangat keras, dan rasa sakitnya sungguh bukan main.
"Tuan hantu. Jangan sakiti aku. Aku gadis yang baik." Shia yang sedari tadi sudah ketakutan tidak lagi menghiraukan rasa sakitnya. Dia mengira telah menabrak hantu. Benar-benar pemikiran yang konyol.
Shia merasa keadaan hening. Apa hantunya sudah pergi? Pikirnya.
Dengan sisa keberanian yang dia punya, Shia membuka kelopak matanya perlahan. Iris mata hitam miliknya membesar takkala melihat beberapa orang berjas menatapnya aneh.
Huh, ternyata bukan hantu. Tapi siapa yang menambrak... Shia membulatkan mata saat matanya menatap sosok tubuh jangkung seorang pria tepat dihadapannya.
Siapa dia? Hatiku tak nyaman berada didekatnya. Shia menatap lekat manik mata pria itu. Di detik itu juga, Shia merasa aneh pada pria ini. Tatapan sendu pria itu mengacaukan pikirannya.
Deg...deg...deg
Senyuman tulus terlihat dari wajah pria itu. Shia tidak bisa berekspresi apapun saat ini. Perasaaan nya campur aduk. Senang, malu, gelisah, marah ,dan sedih menjadi satu.
"Istriku." Shia bertambah kaku saat pria itu tiba-tiba memeluk tubuhnya erat. Ditambah lagi ucapan singkat pria itu sungguh membuat otak Shia berantakan.
Aku tidak tahu alasannya, tapi pelukan hangat pria ini membuatku merasa rindu. Batin Shia seraya menikmati pelukan hangat yang diberi pria ini.
Wajah orang-orang di parkiran tidak bisa tidak terkejut. Kenapa Presdir memeluk gadis itu? Dan siapa yang Presdir sebut sebagai Istri?
Asisten Ben seperti nya mengerti situasi ini, jadi memberi kode pada mereka untuk pergi diam-diam. Dia berspekulasi bahwa gadis tadi adalah seseorang yang sangat dirindukan tuannya. Mengingat bahwa tuannya tidak pernah memeluk gadis manapun, meyakinkan dirinya untuk bertindak tanpa perintah.
Asisten Ben memperkirakan semua kejadian pagi ini.
Pertama, Presdir Sen hampir menangis hanya karna nama Direktur Utama dan Wakil CEO Pratama Stores, Inc. Lalu Presdir Sen menyuruh ku untuk mencari tahu foto dari CEO perusahaan ini, selama itu juga dia memberi perintah pada ku untuk mengajukan penundaan rapat. Setelah mendapat beberapa foto yang diminta, Presdir Sen langsung menyuruh ku dan beberapa perwakilan untuk segera pergi ke Pratama Store, Inc. Batin Ben
Tapi, siapa yang menyangka Presdir Sen akan bertemu dengan gadis dalam foto di tempat parkir. Ben hanya menghela nafas. Kehidupan Presdir nya begitu rumit.
Shia tersadar jika saat ini hanya tersisa dirinya dan pria asing yang sedang memeluk erat tubuh nya. Meski enggan, Shia mendorong tubuh pria itu untuk menjauh.
Pria itu melepaskan pelukan pada Shia, lalu menatap mata Shia dengan penuh kasih sayang.
Shia bingung tentang apa yang terjadi pada pria ini. Dia berdehem kecil, untuk menghilangkan kegugupannya.
"Ekhem... Anda siapa? Kenapa anda memeluk saya tanpa izin? Saya bisa melaporkan tindakan tidak sopan anda." Shia berkata serius, sembari menatap tajam pria itu.
Pria itu tersenyum lembut tetapi sesuatu yang bening menumpuk di pelupul matanya. Shia menatap aneh pria ini.
"Istriku." Awalnya Shia hanya berpikir jika dia salah dengar. Tapi saat pria itu kembali mengatakan Istriku seraya menatap ke arahnya. Dia merasa yakin, panggilan itu ditujukan untuknya.
"Beraninya kau memanggil ku istri!" Shia berteriak marah. Dia tidak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun. Tapi tiba-tiba saja, pria ini memanggilnya istri?
Tak dapat dipercaya.
"Istriku, aku menemukan mu. Aku sangat merindukan mu. Kau adalah istriku, istriku tersayang." Pria itu memeluk Shia kembali. Tapi Shia dengan cepat mendorong tubuh itu kuat hingga tercipta jarak diantara mereka.
Berhenti beromong kosong! Minggir, jangan menghalangi jalanku!" Shia berjalan menghindari pria itu.
Sialnya, tangan Shia ditahan oleh pria itu. "Jangan pergi lagi, aku mohon. Tetap lah disini."
Pria ini! Kenapa dia membuatku dilema. Tidak, dia pasti hanya bajing*n yang mencoba menipuku.
"Lepaskan!" Shia berusaha memberontak. Tapi sayangnya, pria ini memegang tangan Shia begitu erat.
"Kau ingin kemana? Aku akan menemani mu." Pria itu berkata lembut. Suaranya hampir meruntuhkan pertahanan Shia.
"Berapa banyak yang kau mau? Aku bisa memberimu banyak uang jika kau mau melepaskan ku."
"Aku hanya ingin kamu tidak meninggalkan ku lagi." Ucap pria itu. Tatapan penuh damba itu membuat hati Shia terbuai. Tapi dia tetap bertahan dari pesona mata pria ini.
"Aku harus segera pergi. Mereka pasti telah menunggu ku. Aku mohon lepaskan tanganku." Shia membujuk pria ini dengan tatapan memelas. Tapi sepertinya pria ini tidak mengerti bahasa manusia. Dia malah lebih mengeratkan pegangan di tangan Shia.
Shia merasa jengah dengan perbuatan tak sopan pria ini.
Shia menyiapkan kuda-kuda, dia mencari kelemahan pria ini.
Dapat!
Blam
"Ukhh..."
Saatnya kabur Shia!!!
....
Like...!
..