Come Back to Me, Darling!

Come Back to Me, Darling!
Chapter 4



Shia


Bangun Shia!


Kelopak mata gadis yang awalnya tertidur terbuka secara mendadak. Seperti sedang dikejar sesuatu yang menakutkan.


Mata terasa silau saat pertama kali terbuka. Karena tirai jendela dibuka lebar, memungkinkan sinar matahari menembus kaca pemisah. Kelopak matanya berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan proporsi cahaya yang masuk.


"Shia, kenapa kamu berkeringat? Apa kamu bermimpi buruk, sayang?" Wanita paruh baya itu bertanya, tangannya menghapus jejak air yang tanpa izin mengalir di pipi gadis itu.


Gadis itu tampak masih syok dengan mimpinya. Tangannya sesekali menunjukkan pergerakan kecil berulang-ulang, menunjukan betapa gemetar nya dia.


Bunda mengelap keringat di dahi Shia perlahan. Gadis itu bangkit dari tidurnya, berusaha menutupi rasa takut di dirinya. Dia tersenyum, "bunda disini? Apa sudah pagi?" Diliriknya sekilas balkon, tampak terang.


Bunda masih cemas dengan keadaan Shia, "iya sayang, bunda ingin membangunkan mu tapi tampaknya kau sedang bermimpi buruk." Wanita paruh baya itu berkata lembut.


"Apa yang kau mimpikan, sehingga membuatmu begitu ketakutan?"


Apa begitu jelas?


"Ehh, hanya mimpi buruk biasa. Ohh, apa sarapan sudah siap? Shia sangat lapar bunda?"


Shia mengalihkan perhatian ke topik lain. Bunda berpikir bahwa Shia belum makan sejak kemarin, jadi bergegas mengajaknya sarapan.


Shia menyuruh bunda pergi terlebih dahulu, dia ingin menyegarkan diri.


Setelah bunda keluar dari kamarnya, Shia tidak langsung menuju kamar mandi. Melainkan balkon dikamarnya.


Shia membuka pintu balkon, hembusan angin sejuk langsung menyapa. Ditatapnya pemandangan jalan raya, gedung-gedung tinggi dan perumahan mewah yang tersusun rapi. Sayangnya, kicauan burung tidak menyambut pagi. Digantikan suara mesin kendaraan beroda, membuat pagi ini tak seindah ekspektasi.


Setelah puas memandang, dia berjalan ke kamar mandi. Menyegarkan diri dengan rintihkan air shower. Shia tidak berlama-lama, tidak ingin membuat keluarga nya menunggu nya untuk sarapan.


10 menit kemudian, pintu kamarnya terbuka. Suasana hatinya yang kembali tenang berubah dalam sekejap. Tepat setelah dia membuka pintu, suara terikan nyaring menyambut. Telinga nya berdengung, dan wajahnya menghitam.


"Shiaaa," pekik suara seorang gadis. Shia tak terkejut, hanya merasa panas sampai ke ubun-ubun.


"Yakk, tidak bisakah kau menyambut ku dengan cara lain. Apa kau ingin membuat ku tuli?" teriak Shia membalas gadis itu.


"Jangan marah, aku hanya terlalu bersemangat karna kepulangan mu. Siapa suruh kau pulang?" Sahut gadis yang tadi berteriak.


"...," Bisakah gadis ini berbicara lembut? Apa kepulangannya begitu tak berarti?


"Etta, Shia cepatlah kemari. Sarapan sudah siap." Sahut suara dari lantai bawah memanggil.


Shia dan Etta berlalu dari sana melewati tangga berwarna kuning keemasan dan ukiran yang berlenggak-lenggok disetiap sisi tangga.


Melewati tangga beranak 20 itu cukup mudah. Sesaat dia berpikir, jika bundanya pasti kelelahan setiap kali berjalan di tangga ini. Itu tangga yang cukup tinggi, usianya sekarang akan membuatnya mudah lelah. Shia berpikir untuk membuat lift dirumah ini, tapi tetap harus butuh persetujuan semua orang.


Sesampai nya diruang makan, hidangan yang sudah menanti di meja membuat siapapun ngiler. Semua orang sudah duduk masing-masing dikursi mereka. Para pembantu juga punya meja khusus disamping meja makan utama. Membuktikan bahwa pembantu juga punya kedudukan dirumah ini.


"Hem, baunya enak. Siapa yang memasak pagi ini? " Shia bertanya seraya menaruh makanan di piringnya.


"Tentu saja bunda. Siapa dirumah yang bisa memasak makanan seenak ini?" Ujar wanita paruh baya itu menyombongkan diri.


Shia tersenyum kikuk dan menanggapi, "sudah pasti tak ada yang bisa memasak sebaik bunda. Bunda memang the best." Shia mengacungkan jempol tangan nya.


Semua orang tersenyum. Bunda mereka memang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka mulai meletakkan makanan ke piring masing-masing. Setelah berdoa, sarapan dimulai oleh bunda sebagai yang tertua.


Pandangan Shia jatuh pada Kak Dillah yang sedang menyuapi seorang anak perempuan. Dia mengernyit."Kak Dillah, siapa gadis kecil ini?"


Dillah dan Max menyunggingkan senyum. "Dia putri kami." Sahut mereka serempak.


"Jadi dia keponakan ku? Siapa nama mu gadis kecil?" Shia mengarahkan pandangan ke gadis itu. "Hai kakak cantik, namaku Moonlight Ekles Vincent. Aku putri kesayangan keluarga ini." Gadis kecil itu menjawab dengan senyum manis nya.


Dia gadis kecil yang imut. Senyumnya sangat manis, dan pipinya. Kenapa begitu chubby? Ahkk, rasanya aku ingin mencubitnya sampai puas, Batin Shia.


Baby Face gadis kecil itu membuatnya iri. "Hey gadis kecil, akulah putri kesayangan keluarga ini." Setelah mengingat kembali perkataan gadis kecil itu, Shia tersadar dan tidak terima.


"Kakak cantik, kau sudah tua. Sudah saatnya aku menggantikan posisimu menjadi kesayangan semua orang. Kau harus mengalah pada generasi muda." Seketika mulut gadis kecil itu berubah tajam dan pedas.


"...," Tua? Dari sudut mana aku kelihatan tua? Shia beragumen sendiri dalam hatinya.


Semua orang tertawa melihat interaksi kedua gadis itu. Bahkan Putra pun menyunggingkan senyum. Dia sangat menyayangi kakaknya dan keponakan nya, tapi gengsi mengaku. Karena sebuah kesalahpahaman dimasa lalu, membuatnya cuek kepada Shia.


Kembali ke perdebatan kedua gadis itu, Shia tersadar dari lamunannya. "Gadis kecil, dari mana kau belajar kata-kata yang tidak sopan itu?" Shia menahan geram untuk memukul gadis kecil ini. Sedangkan gadis kecil yang ditanyai hanya menghendikkan bahu santai, "aku hanya mengatakan kenyataan kakak cantik. Tidak perlu diajari untuk mengungkapkan kebenaran."


Shia sudah berwajah gelap. Jika dia melupakan fakta sedang berdebat dengan seorang anak kecil, maka dapat dipastikan sejak tadi gadis kecil itu akan babak belur.


Suhu udara yang sudah memanas membuat semua orang menahan tawa. Jangan sampai tertawa, Tuhan tahu seberapa mengerikan nya Shia saat marah.


Max mencoba menetralisir kemungkin rumah ini akan meledak. "Shia sayang, jangan dengarkan dia. Putriku terlalu banyak menonton Drama Korea, jadi memiliki lidah tajam seperti ini. Anggap saja angin lalu." Max menjelaskan, berharap Shia mengerti.


"Moon, minta maaf pada bibi Shia."


Shia tahu Kak Max menahan diri untuk tidak tertawa, begitu pula dengan semua orang di meja makan. Dia merasa dipermainkan oleh seorang gadis kecil. Dan itu adalah keponakannya. Jika bukan keponakan, Shia pasti akan memukul mulut kecil itu.


"Gadis kecil, tahukah kau apa yang terjadi saat gadis tua ini marah?" Shia enggan mengaku, tapi rasa geram mengalahkan harga dirinya. Bukannya takut, gadis kecil itu malah tertawa keras. Begitu pula bunda, pembantu, dan para saudaranya yang sudah tak kuasa menahan tawa.


Gadis tua? Apa Shia mengakui dirinya sebagai gadis tua. Dan ekspresi wajah Shia saat ini...


Terlihat lucu dan menggemaskan bagi mereka. Shia tidak pintar dalam berekspresi tapi secara alami wajahnya akan berubah sesuai suasana hatinya. Tapi saat ini, entahlah bagaimana mendeskripsikan wajah marah Shia tapi lebih seperti badut yang baru belajar akting marah.


Etta dan kak Dillah hanya diam. Kak Dillah merasa bersalah pada Shia. Putrinya masih berumur 5 tahun, dan dia tidak tahu apa yang dia katakan. Tapi melihat Shia yang sudah menahan malu dan amarahnya, dia enggan tertawa.


Dia adalah Psikiater, jadi sudah tahu bahwa adik iparnya ini tidak dapat mengendalikan emosi nya. Dan dia tahu alasannya.


Wajah Shia sudah memerah. Entah karna malu atau marah. Dia menggerpak meja dengan keras. Semua orang yang tertawa mendadak diam. Suasana pagi yang seharusnya hangat ini menjadi kacau. Atmosfer diruang makan itu mendingin.


Shia memelototi gadis kecil itu. Dia sudah lapar, tapi karna gadis itu nafsu makannya hilang. Dia pergi dari sana tanpa sarapan.


Semua orang memiliki rasa bersalah di hati mereka. Tanpa disadari Shia kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Mesin mobil berwarna ungu tanpa atap menyala.


Kesadaran semua orang kembali saat mendengar suara mesin mobil yang kemudian dilaju kencang.


...


Di sebuah gedung tinggi nan luas, tampak para karyawan sedang disibukkan dengan dokumen yang menumpuk.


Mereka mengerjakan tugas masing-masing tampa menghiraukan karyawan lain. Suara ketikan keyboard, mesin printer, dan bel dalam lift yang terbuka tutup memenuhi gedung tinggi itu.


Perusahaan Lohia Venture, berfokus pada pendanaan untuk startup yang bergerak di bidang media, e-commerce, konten, internet, dan pembangunan infrastruktur.


Juga mempunyai beberapa aktivitas lain seperti pengembangan properti dan investasi, manajemen proyek, konstruksi, operasi hotel, operasi department store, keuangan, perusahaan investasi dan infrastruktur. Dan menjadikan pengembang real estate terbesar di Asia.


Karyawannya juga merupakan murid berprestasi di Indonesia. Mereka yang berada dalam perusahaan itu adalah seseorang yang berdisiplin tinggi, loyal dan optimis.


Di salah satu ruangan lantai paling atas di gedung tersebut, seorang pria ber-jas biru tua sedang berdiskusi dengan pimpinan dari Lohia Venture. Ruangan berukuran lebih luas dari lapangan sepak bola itu menjadi tempat diskusi terjadi.


Ruangan itu berisi barang-barang pribadi, beberapa dokumen dan map tersusun rapi diatas lemari tampa pintu.


"Presdir Sen, Direktur Lee mengajukan kontrak kerja sama dengan kita." Kata pria ber-jas biru dengan menunjukan beberapa dokumen.


Seseorang yang dipanggil Presdir itu tertegun sesaat. Presdir itu tampak membelakangi pria yang merupakan asisten nya. Mata hitam pekat miliknya menatap pemandangan diluar dari balik jendela kaca tepat di depannya, sehingga keterkejutan nya tidak dilihat oleh si asisten.


"Direktur Lee? Siapa dia?" Presdir Sen menyembunyikan keterkejutan nya. Dia ingin memastikan indentitas Direktur Lee. Apa itu Lee yang dia kenal atau tidak.


Asisten itu merasa heran. Apa Presdir tidak mengenal direktur dari perusahaan besar itu. Pikir si asisten.


"Presdir, Direktur Lee merupakan Direktur utama dari Pratama Stores, Inc. Perusahaan tersebut merupakan Perusahaan Ritel terbesar kedua di Asia. Dikatakan bahwa CEO Pratama Stores, Inc. tidak pernah menunjukkan dirinya di depan Publik. Hal itu membuat Direktur Utama dan Wakil CEO nya yang menghandle Perusahaan." Asisten itu atau yang biasa dipanggil Asisten Ben menjelaskan panjang lebar.


Presdir Sen merajut alisnya. Pratama Stores? Direktur Lee?


********


Like!


Like!


Like!