Come Back to Me, Darling!

Come Back to Me, Darling!
Chapter 2



Tunggu,,,suara ini.


Shia melirik bunda penuh tanda tanya. Sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum misterius nya.


Ceklek...


Pintu berwarna putih dihiasi dengan gagang kaca yang indah terbuka lebar. Tepat diantara pembatas atas pintu, gambar oranamen gorga sitompi khas masyrakat batak terpampang jelas menambah daya tarik tersendiri dari rumah megah nan mewah miliknya.


Pintu yang terbuka lebar menampilkan beberapa orang yang tersenyum bahagia menanti kedatangannya. Seketika dia lupa dengan suara yang merajut rasa penasarannya tadi.


"Selamat kembali kerumah, Shia"


Suara serempak dari orang-orangĀ  didalam rumah membuatnya sangat terkejut. Percayalah, suara mereka rasanya memekakkan telinga.


Senyum manis tercetak dibibir ranumnya.


Orang-orang yang membuka pintu adalah para pembantu yang dia hormati layaknya keluarga ....,


Matanya tiba-tiba terbelalak ketika sadar akan sosok yang berada ditengah-tengah. Awalnya dia memang tidak terlalu memperhatikan, tapi ketika menoleh kearah bunda. Mata hitam itu terus tersenyum menatap satu titik diantara para pembantu.


"Kak Dillah? Kok..., Hah?" Tidak perlu ditanya tentang raut wajah Shia yang seperti ...


Mm, orang bodoh?


Semua orang yang ada disana tertawa terbahak-bahak. Wajah bodoh itu, terlihat sangat lucu.


Bahkan Dillah yang biasanya selalu tenang pun sampai tertawa keras.


Dillah merangkul Shia dalam pelukannya.


Sementara itu, Shia yang awalnya ingin kesal karna ditertawakan kembali bungkam, Dillah memang tahu caranya melunakkan hati Shia. Tapi, diantara suara tawa mereka, ada satu suara yang membuatnya termenung. Tubuhnya bergetar ketika menebak sang pemilik suara.


Jika kak Dillah disini, mungkinkah ?


Bunda dan Lee tidak luput dari gerak-gerik Shia. Mereka memberi kode mata pada para pembantu untuk membuka jalan.


Dari belakang, pria itu muncul. Berjalan diantara mereka, tepat berhenti dihadapan Shia.


Susana seketika hening saat Shia dan pria itu bersitatap.


Tubuh Shia bergetar hebat.


"Kak Max!" Shia langsung berlari kepelukan kakaknya. Air matanya tumpah. Rindu pada sosok seorang kakak membuat pikirannya kacau.


Lima tahun. Lima tahun mereka tak pernah bertemu dan akhirnya sekarang? Dia bisa melihat kembali sosok seorang kakak, sekaligus sahabat nya yang selalu mendukung dan melindungi shia saat pertama kali memasuki dunia bisnis.


Lee merasa miris. Saat bertemu dengannya tidak sampai menangis begitu. Lalu, saat bertemu kak Max? Layaknya sepasang kekasih yang telah berpisah puluhan tahun. Dia merasa agak cemburu, tapi tidak ingin mengacaukan moment.


"Sayangnya kakak sudah pulang dari pertempuran yah?" Max sedikit menggurau, dia juga sangat merindukan Shia. Bukan hanya Shia, tapi semua keluarga nya disini.


Dua hari yang lalu Max pulang keindonesia bersama istri dan anknya. Kepulangannya membawa keterkejutan terhadap para penghuni rumah.


Begitu pula dengan Shia, dia sangat tidak menyangka kakak nya pulang juga.


"Hiks hiks, kakak kenapa pulang tak memberitahuku? Aku,,, hiks kan bisa pulang lebih cepat...hiks," Shia masih menangis sesegukan. Max terkekeh, adiknya ini benar-benar cengeng jika bersamanya dan bunda.


"Kenapa menangis terus, hmm? Inikan kejutan, mana boleh dikasih tau donk." Kata kak Max sambil mengusap air mata adiknya.


Dilanjutkan dengan mengecup dahi Shia, Max berkata, "Shia sudah makin dewasa kan, jadi jangan cengeng terus."


Shia yg tadinya terharu, menjadi kesal dengan kakaknya. "Apaan sih, sejak kapan aku cengeng!" Lagi-lagi Shia menggembungkan pipinya.


"Haishh, jangan merasa rumah ini hanya ada kalian yah, sudah,ayo masuk. Nggak baik ngobrol di depan pintu." Dillah, kakak iparnya Shia buru-buru menyadarkan mereka bahwa mereka masih didepan pintu.


"Ahk, iya nih. Ayo kita masuk." Bunda ikut membenarkan.


Shia mengedarkan pandangan pada setiap sisi rumah. Rumah ini, dia hanya menempati nya selama setahun. Setelahnya, dia pergi ke Perancia. Walau tidak lama tinggak disini, tapi setiap sudut dan sisi rumah masing-masing memiliki kenangan indah.


Ada beberapa benda telah berubah dirumah ini. Seperti letak akuariun besar sudah tidak ditempatkan di samping bibir pintu menuju dapur. Dia pun tidak tahu dimana sekarang ketak akuariun itu. Ketika fajar sudah terbit nanti, dia akan berkeliling untuk melihat-lihat.


Setibanya diruang tamu, Shia melihat seorang remaja laki-laki sedang duduk menyilangkan kaki disofa. Seakan tak memperhatikan keberadaannya, si laki-laki masih tetap santai memainkan hp miliknya.


"Sejak kapan, rumah ini menampung tuna wisma?" Shia berkata dengan tenang tapi terkesan tegas. Percaya lah saat ini dia menahan amarahnya sebisa mungkin.


Sementara Putra tetap diam tak menanggapi atau berekspresi apapun. Shia mengangkat sedikit alisnya. "Apa dia bisu? Atau tuli? Kalian sungguh baik karna telah menampung tunanetra tak tau malu seperti dia."


"Shia, sudahlah. Jangan membuat kekacauan. " Ucap Bunda melerai. Tapi hal itu tak cukup membuat Shia mengalah.


Dia merasa sakit hati, keberadaannya tak dianggap sama sekali oleh sang adik. Apakah Putra sebegitu membencinya? Harusnya dia yang membenci Putra!


Ego nya terlalu tinggi saat berhadapan dengan adiknya yang satu ini.


"Shia.." Bunda memegang bahu Shia dengan tatapan memohon supaya Shia berhenti mencari masalah. Shia merasa tak suka!


Kenapa bunda begitu membela adiknya, sampai memberikan tatapan memohon seperti itu. Seolah-olah dialah pencari masalah disini. Sebelum dia membalas, Putra membuka suara.


"Apa kau,,,sedang bicara padaku?" Lelaki itu bertanya sambil mengarahkan jari telunjuknya kearahnya.


"Hanya kau satu-satunya manusia tidak berguna disini."


"Ahh... Begitu? Aku pikir kau sedang menggongong tadi." Ucap nya sinis.


"Apa begitu cara berbicara pada kakakmu Putra?" Sudah cukup! Shia sudah tak dapat menahan amarahnya.


Bunda dan yang lain menatap mereka penus was-was. Mereka tau sebentar lagi akan ada perang dirumah ini. Seketika bunda dan Dillah menatap Max penuh harap, bahkan para pembantu yang ada disana agak menjauh, hanya Max yang mampu mencegah peperangan ini.


Max rasanya ingin menangis tampa air mata. Apa mereka menganggap nya sebagai pawang.


"Ohh, jadi kau mengakuiku sebagai adikmu. Lalu siapa yang kau maksud tuna wisma kakak? Selain kita, tidak ada orang asing lagi disini." Pria yang dipanggil Putra, menjawab dengan enteng.


Shia yang mendengar hal itu benar-benar sudah memanas layaknya lava gunung vulkanik yang akan meletus.


"Kau menganggap dirimu adikku, ))jadi merasa bisa seenak hati tinggal dirumahku, dan menjalani hari sambil berfoya-foya bersama teman-teman brandal itu menggunakan uangku yang kudapat dengan bekerja keras. Tapi ketika aku pulang kerumah, kau sama sekali tak menyambut ku bahkan tidak menganggap ku ada, apa kau masih punya harga diri, Putra?"


Perkataan Shia penuh penekanan terhadap Putra. Shia menatap tajam tepat ke matanya, membuat Putra merasa merinding.


"Hanya kau yang mengganggap ku adikmu, kakak." Walau agak gentar, dia tetap membalas perkataan shia. Ada sedikit penekanan diakhir katanya.


Plak


Bunyi tamparan menggema diruangan itu.


Shia benar-benar merasa terluka karna perkataan adik kandung nya ini. Apalah daya hati seorang kakak mendapat perlakuan seperti itu dari adiknya.


"K...kau menampar ku?" 'lagi'


putra bertanya dengan suara lirih


Kata terakhir hanya diucapkan dalam hatinya.


Bunda yang melihat itu menangis


"Cukup! Sudah cukup!" Bunda berteriak. Perkataan yang akan diucapkan Shia mendadak menghilang, karna teriakan kecewa dari bundanya sungguh meremas hati.


Hawa disana serasa mencekam. Para pembantu yang melihat adegan itu dari jauh tidak bisa berbuat apapun, hanya bisa berdoa supaya hubungan kedua saudara kandung itu membaik.


Dillah membopong bunda ke sofa. Max merasa situasi sudah diluar batas, kemudian bertindak layaknya seorang kakak.


"Aduh, ahh. Sakit...," Shia dan Putra meringis bersama. Jeweran ditelinganya tidak main-main.


Rasa sakitnya nyata. Kedua orang ini memberi tatapan memelas pada kak Max. Sudut mulutnya berkedut, 'apa-apaan dengan tatapan itu.' Dia tidak terpengaruh, tatapan mereka saja lebih seperti orang bodoh.


"Kalian benar-benar! Putra, tidakkah kau bisa mengontrol dirimu untuk tak membuat masalah saat kakakmu baru saja pulang? Dan Shia, sebagai seorang kakak mengalah adalah kewajiban mu. Kalian bukan anak kecil lagi, sadarlah! "


Shia dan Putra tidak ingin beragumen lagi. Mereka lebih memilih diam dan menunduk.


Atmosfer disana tidak semengerikan tadi lagi. Semua orang bisa bernapas lega.


Tangisan bunda juga sudah berhenti Setelah ditenangkan oleh Dillah.


Max menyuruh mereka untuk saling meminta maaf, juga meminta maaf pada bunda.


Bagaimana pun, mereka tetap bersalah pada bunda karna telah membuatnya menangis.


Setelah saling meminta maaf, juga berlutut dihadapan bunda untuk meminta maaf, semua orang merasa bahagia.


Jam sudah menunjuk pukul lima pagi WIB. Masih ada 2 jam lagi untuk waktu sarapan. Lee menyarankan Shia untuk beristirahat sejenak. Setidaknya, itu dapat meringankan rasa lelahnya.


Suasana yang harusnya penuh haru, menjadi pertengkaran kecil adik dan kakak.


Beberapa dari mereka ada nya kembali kekamar untuk beristirahat. Sedangkan para pembantu memulai pekerjaan mereka.


Sementara Shia, masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Ditempat lain, Seseorang baru saja mendarat dibandara yang sama dengan bandara tempat Shia mendarat.


_________________


Dukung cerita ku dengan cara like,Comment and rate