
Presdir Sen merajut alisnya. Pratama Stores? Direktur Lee?
Dia memutar kursi nya hingga menghadap si asisten. Ditatapnya dokumen diatas meja, lalu membaca kontrak kerja sama.
Terdapat pernyataan persetujuan dari Wakit CEO Pratama Stores, Inc.
Disetujui oleh:
Pihak Pertama
Wakil C.E.O. PRATAMA STORES, Inc.
(ETTA DESLIN SIRAIT)
Saat membaca bagian itu, hatinya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Dia menatap si asisten intens. "Cari tahu nama CEO mereka? Berikan juga padaku foto Direktur Utama dan Wakil CEO perusahaan departemen store ini, SEKARANG!"
Melihat air mata yang hampir terjatuh dari mata sang Presdir, ia tidak bisa tak terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba Presdir yang sangat dingin, galak, dan tidak tersentuh ini menangis tanpa aba-aba.
Tapi ketika mendapat pertanyaan dan perintah tegas dari sang Presdir, dia menjadi bingung. Apa hal pertama yang harus dilakukan?
"A...Anu Presdir, pertanyaan,,,"
Sebelum sempat melanjutkan perkataan, dia langsung dicelah dengan intimidasi yang kuat. "Laksanakan saja perintah ku tampa banyak bertanya!"
"B...Baik Presdir, segera dilakukan." Asisten itu menjawab tergagap. Setelah keluar dari ruangan menyeramkan itu, dia mendengus. Ohh Presdir terhormat, yang bertanya siapa yang dimarahi siapa?! Dia membatin, lalu segera pergi melaksanakan perintah Presdir.
Tapi kenapa Presdir terlihat sedih? Apa nona Etta adalah pemilik buku deary? Dia berpikir keras. Tak biasanya Presdir Sen seperti ini. Dia sudah bekerja selama 7 tahun pada nya, sejak itu dia tahu bahwa Boss nya adalah pria dingin yang berwibawa dan sangat perfeksionis.
Kembali ke ruangan Presdir Ken, dia terus menatap buku deary dalam pangkuannya.
Tampak tatapan sendu tercetak jelas disana. Air matanya perlahan meluncur turun. Dia menangis tampa suara, membuat ruangan kedap suara miliknya tetap sunyi.
Air matanya jatuh mengenai foto kecil dalam buku deary. Dia segera mengusap lembut foto itu, takut air matanya membuat foto menjadi rusak.
Seketika dia tersenyum lebar. Orang yang melihat perubahan ekspresi dalam sekejap, pasti akan mengira Presdir telah menjadi gila. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Etta? Lee? Apakah ini takdir yang disengaja? Apa mereka adalah orang yang ku kenal? Jika itu benar, maka..."
Kalimatnya terhenti. Dia memandangi foto gadis dalam foto, mengukir senyum manis yang dapat memabukkan setiap orang yang melihat. Dia juga ikut tersenyum.
"Shia, kita akan segera bertemu. Aku tidak pernah menyangka kau sendiri yang datang padaku. Kau adalah satu-satunya gadis yang dapat menbuatku menggila. Sayang, aku hanya berharap pertemuan kita kali ini akan membalas segala penantian. Aku merindukanmu, merak betina ku." Presdir Sen menatap foto, sangat intens. Seolah-olah, foto tersebut dapat mendengarnya.
Dia berjalan ke arah kamar khusus dalam ruangan itu. Membuka brangkas besar dengan sidik jarinya, dan menatap titik kecil dengan cahaya pemindai iris mata. Saat brangkas terbuka, dia mengambil bludru biru kecil dalam brangkas.
"Shia." Dia menggumam sangat pelan. Tanpa sadar, air matanya kembali menetes. Dia mencium cincin yang telah dikeluarkan dari dalam bludru.
"Perpisahan sesaat ini akan menjadi pertemuan kembali. Jarak jauh dan waktu sepi ini akan segera berlalu. Shia, aku kembali padamu."
...
Shia melajukan mobil dengan cepat. Dia merasa malu dikatai tua oleh keponakannya. Shia adalah gadis yang emosional dan sangat sensitif. Sangat wajar baginya untuk merasa minder sekaligus marah atas pembicaraan tadi. Walau Moon berkata begitu karna ingin bercanda dengan Shia, tapi Shia beranggapan lain.
Sejak kejadian dulu, dia menjadi gadis cuek yang sangat emosional.
Saat ini, Shia sedang berada di salon kecantikan terpopuler di daerah itu. Dia ingin melakukan perawatan untuk meremajakan kulit. Salah satu Beautician menghampiri Shia untuk dilayani.
Shia mengatakan keluhan dan masalahnya. Dia ingin menggunakan Skincare anti aging atau perawatan apapun yang membuat kerutan di wajahnya menghilang. Beautician yang melayani Shia merasa bingung.
"Kerutan? Saya rasa itu tidak perlu nona. Wajah anda sangat mulus tanpa celah, saat ini tidak terlalu membutuhkan perawatan peremajaan. Bagaimana jika lulur nona? Itu cukup dibutuhkan bagi nona." Ujar si Beautician memberi saran.
Kulit Shia mulus dan putih bagai porselen tanpa celah. Di Paris, dia selalu rutin perawatan seminggu sekali. Walau pekerjaan menumpuk, tapi perawatan diri adalah wajib baginya.
Mengingat dulu, saat mereka masih tidak punya banyak uang. Kulit Shia sangat kusam dan terdapat beberapa flek hitamnya. Tapi dia tidak pernah sekalipun melakukan operasi plastik atau perawatan yang aneh-aneh.
Perawatan alami, sudah cukup baginya.
Shia menyetujui saran Beautician. Mungkin lulur memang hal yang paling dia butuhkan saat ini. Juga mungkin dia ingin mencoba pijit wajah.
Si Beautician mengantar Shia ke tempat lulur. Saat ini, Shia melupakan kekesalan nya dirumah. Dia memilih menikmati hari, padahal Lee sudah mengatakan untuk memimpin rapat pagi ini.
Dia melupakan rapat tersebut.
Para Beautician yang melayani Shia menyiapkan bahan-bahan lulur dan mengoleskan perlahan di kulit nya.
Shia,
Deg deg deg...
Wajahnya memucat. Saat sedang menikmati sensasi bedak lulur menyentuh kulitnya, mendadak dia mendengar seseorang memanggil namanya. Suara itu, membuat nya sakit hati.
Shia terdiam di tempatnya. Hatinya gelisah. Ada seseorang yang memanggil namanya. Tapi siapa?
Dalam ruangan itu hanya ada dia dan ketiga Beautician. Sedangkan suara itu, adalah suara bariton seorang pria.
"Nona, ada apa? Apa anda merasa kurang puas dengan pelayanan kami?" Salah satu Beautician bertanya.
"Apa...Kau mendengar seseorang memanggilku?" Shia balik bertanya dengan perasaan tak pasti.
"Tidak nona. Ruangan ini kedap suara, jadi kami tidak mendengar suara yang nona maksud." Beautician yang lain menjelaskan.
"Apa nona sakit? Wajah nona sangat pucat saat ini." Beautician itu bertanya kembali. Dia mencemaskan kondisi pelanggannya.
"A...Aku akan pulang. Maaf sudah merepotkan, dan aku akan membayar." Shia bergegas membersihkan bedak lulur di tubuhnya dan mengenakan pakainan.
Setelah membayar, dia masuk ke mobilnya. Hatinya sangat gelisah. Suara yang terdengar penuh kesedihan tadi terus terngiang di kepalanya.
Mobilnya tetap berdiam diri di parkiran tanpa niat beranjak dari sana. Tanpa sadar, air mata Shia jatuh. Dia benar-benar merasa tidak tenang. Jadi lebih memutuskan untuk tetap berdiam diri di mobil, sekedar menenangkan diri.
Salon ini jauh dari jalan raya. Keadaan cukup sepi di mobil. Hingga deringan ponsel berbunyi.
Shia menekan tombol berwarna hijau. Dia mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar seperti baru menangis.
"Hallo Lee, ada apa?"
"Shia. Di mana kau sekarang kak? Aku sudah memintamu menghadiri rapat. 20 menit lagi rapat akan dimulai, aku tidak bisa menggantikan mu karna persyaratan dalam kontrak. Etta dan aku sudah bersusah payah membuat kesepakatan kerja sama dengan Presdir Sen. Kita tidak boleh melepaskan kesempatan emas. Kau harus...tut" Ujar Lee tanpa jeda layaknya bebek yang berkotek. Sebelum Lee menyelesaikan ocehannya, Shia langsung memutuskan panggilan.
Shia mengorek jari telunjuknya ke telinga. Suara Lee yang seperti petasan di hari raya membuat telinga nya sakit.
"Siapapun kau, makhluk gaib yang memanggil namaku tadi. Aku harap kau tidak lagi menggangu ku karna aku harus bekerja. Jangan memanggil namaku lagi, atau aku akan memanggil ustadz untuk mengembalikan mu ke alam baka." Shia berteriak.
Orang-orang diluar mobil yang mendengar teriakan Shia menjauh. Berpikir kalau Shia adalah orang gila yang sedang mengamuk.
Segera Shia melajukan kendarannya ke kantor.
...
Pratama Stores, Inc.
Terpampang tulisan itu di papan digital besar tepat di tengah gedung pencakar langit.
Sudah lama Shia tidak datang ke perusahaan miliknya ini. Dia sejenak menatap gedung tinggi di hadapannya, lalu berjalan penuh wibawa ke dalam. Atasan tunik top dipadu dengan jegging sobek lutut menghalangi pesona nya. Rambut nya hanya disanggul acak dengan wajah tanpa bedak yang terlihat natural.
Securiti disana yang sudah mengenal Shia menyambut Shia ramah dan mempersilakan masuk.
Saat sudah memasuki gedung, tetlihat beberapa perombakan di dalamnya. Tanpa menuju meja resepsionis, Shia berlalu pergi menuju lift khusus para pemegang saham.
Para karyawan baru yang melihatnya langsung mencemooh Shia. Beberapa karyawan wanita datang menghampiri nya dan menghadang jalan.
"Berhenti!" Salah satu karyawan wanita mendekati nya dengan tatapan sombong.
Shia menghentikan langkahnya. Para karyawan yang lainnya berkumpul menyaksikan.
wanita yang menghentikan Shia adalah karyawan magang dalam perusahaan. Dia adalah Dina, gadis kaya yang sombong dan manja. Karna jabatan ayahnya yang adalah Jenderal Besar di kepolisian, membuatnya bisa menjadi anak magang di sini.
Shia memandangi perempuan didepannya dengan jijik. Pakaian apa ini yang dia pakai ke kantor? Apa perusahaan sekarang menampung para *******? Shia membatin.
Kancing atas yang terbuka menampilkan belahan dadanya yang besar. Ditambah rok pendek hitam yang ketat membuat penampilan Dina seperti wanita malam.
"Ada apa nona?" Shia berusaha bersikap sopan. Jika dia sopan, maka orang lain juga harus sopan padanya. Tapi bila sebaliknya, maka dapat dipastikan Shia tidak akan melepaskan orang itu dengan mudah.
"Hey gadis kampung, apa yang kau lakukan disini? Kami tidak menerima gelandangan. Jadi pergilah!"
Karyawan lain yang menyaksikan penghinaan Dina pada Shia hanya diam saja. Mereka tidak berani menyinggung Dina.
Shia tidak bisa mentoleri lagi sikap perempuan didepannya. Sejak dulu, Shia tidak suka direndahkan.
Heh, kau yang meminta ini ******. Shia tersenyum manis. Para pria terpesona pada senyum itu. Tapi dibalik senyum indah nya, terdapat badai yang amat dahsyat.
....
Aku butuh dukungan kalian!
Like!
Coment!
Rate!