
Hujan menguyur kota Paris. Kota dengan suasana romantis walau sedang dilanda hujan deras.
Orang-orang terpaksa harus mengenakan payung, dan jaket tebal jika ingin keluar, sekedar untuk menghangatkan diri.
Hawa dingin tidak mempengaruhi aktivitas para muda mudi disana. Walau larut malam, jalanan tetap ramai. Suara kendaraan beroda masih tetap terdengar.
Didalam kamar sebuah apartemen yang tak jauh dari segala hiruk pikuk kota Paris, seorang gadis masih terlelap dalam tidurnya.
Seakan suara rintikan hujan tidak membuatnya terpengaruh.
Kamar dengan cahaya remang-remang memberi kehangatan tersendiri bagi sang empu. Sementara itu, gadis yang sedang tertidur diatas ranjang besar sesekali mengernyitkan dahinya.
Beberapa gumaman terdengar samar keluar dari bibirnya. Keringat seukuran biji jagung juga bertabur didahinya. Ekspresi nya yang tampak gelisah memberitahu bahwa dia sedang bermimpi buruk.
Dahinya semakin mengkerut, dengan napas yang terengah-engah.
"Di...dimana aku?" Gumamnya pelan. Sedikit rasa takut menggelayut di pikirannya.
"Tempat ini? Apa aku sedang bermimpi lagi?" Gadis itu terlihat putus. Tempat ini sering dia kunjungi dalam mimpinya.
Dia berada dalam sebuah ruangan hampa, minim cahaya tapi tidak membuatnya kesulitan melihat. Ruangan ini...
Terlihat tak bersisi ataupun bersudut. Hanya seperti ruangan putih, tapi tak terbatas.
"Aku ingin meninggalkan tempat ini, bagaimana caranya aku terbangun?Apa yang harus kulakukan?"
Setiap kali bermimpi ini, berbagai macam perasaan memenuhi dirinya. Jenis perasaan apapun itu, dia selalu tidak nyaman berada disini.
Tiba-tiba, seberkas cahaya yang sangat terang muncul dari arah depan. Itu tepat mengenai wajahnya, membuatnya harus memejamkan mata sejenak.
Cahaya itu perlahan memudar, diikuti siluet seseorang.
Seorang pria?
Pria tinggi dengan bahu lebarnya, perlahan semakin mendekat. Gadis itu kaku, tubuhnya tak bisa bergerak.
"Kau lagi?... Katakan! Kenapa aku bisa berada disini lagi?" Dengan sedikit usaha, dia mengatakan dengan lantang.
Wajah pria itu terlihat buram baginya. Hampir setiap hari, dia memimpikan pria itu, bersama seorang gadis yang dia juga tidak tau siapa. Semua wajah yang ada dimimpinya terlihat buram.
Awalnya, dia merasa takut, bagaimana bisa ada sosok tanpa wajah?
Sangat menyeramkan!
Tapi saat ini, dia mungkin telah terbiasa.
Hanya saja, dia selalu merasa tak nyaman jika memimpikan ini. Merasa gelisah seakan ada yang hilang.
Sesosok bayangan semakin mendekatinya. Perlahan, sosok tubuh pria jangkung dapat terlihat, badannya kekar dan tinggi, lebih tinggi dari gadis itu. Tubuh yang sangat sempurna bagi seorang pria, hanya saja wajahnya tidak tahu bagaimana.
Sosok pria bertubuh jangkung itu menunjuk kearah belakang gadis itu. "Lihatlah!"
Suara pria itu sangat merdu dan penuh kelembutan. Seakan terlena oleh kekuatan magic, untuk sesaat dia merasa jantung nya berhenti berdetak.
Saat dia tersadar, dia merasa agak malu. Untung saja, dia tidak dapat melihat ekspresi pria itu, jika tidak maka wajahnya akan seperti kepiting rebus.
Segera, dia melihat kearah yang ditunjuk pria itu.
"Apa itu?" Kata gadis itu. Wajahnya dipenuhi raut penasaran.
Terlihat sebuah mobil melaju sangat cepat disebuah jalan raya yang sepi. Bisa dilihat bahwa pengemudi nya adalah seorang gadis berambut panjang.
Lagi-lagi, dia tidak dapat melihat wajah gadis didalam mobil.
Deg...deg...deg...deg
Detakan jantungnya semakin cepat takkala melihat mobil itu jatuh kejurang yang cukup dalam.
Mobil itu terus berguling kebawah, hingga akhirnya menabrak pohon besar sehingga menimbulkan dentuman yang sangat besar. Mobilnya juga terlihat hancur, bagian depan yang menabrak pohon menjadi penyot. Mungkin si pengemudi terjepit didalam.
Dia terkulai lemas, jantung nya serasa dipacu untuk berdetak lebih cepat. Kepala nya sakit, dan dia merasa sulit untuk bernapas.
'Ada apa ini?'
'Kenapa, kenapa aku merasa sesak dan sakit melihat itu?' batinnya
Sosok jangkung itu memeluknya dari belakang. Rasanya nyaman, membuat gadis itu kembali tenang walau kepalanya masih berdenyut. Tapi itu lebih baik.
"Aku mencintai mu," tidak tau kenapa? Dia menangis dalam dekapan pria itu.
"Aku mencintai mu gadisku." Lagi-lagi suara itu terdengar, namun sosok pria jangkung tadi tak lagi terlihat.
"Dimana kau?" gadis itu berteriak penuh kecemasan.
"Kembali! Jangan pergi, aku tak ingin ditinggal lagi. Kumohon kembali." Tanpa sadar, kalimat itu terlantar dari bibirnya. Gadis itu menangis. Rasanya sangat frustasi, dia ingin sosok pria itu kembali dan memeluknya.
Tiba-tiba, banyak suara berdatangan.
'*Kau harus men*jadi orang besar'
'Apapun yang kau inginkan, Tuan Putri'
'Tidak! Aku ingin menjadi seorang Ratu'
'Hahaha, tidak akan sebesar aku mencintaimu'
'Pergi dari hidupku, pengecut'
'Apa kau pikir aku akan kembali?'
'Kau hanya gadis manja'
'Aku menyesal telah mencintai mu'
'Apa kau tak pernah berkaca?'
'Aku benci kau!'
'Gadis itu lebih baik darimu'
'Kenapa kau mengkhianatiku'
Semua suara itu datang dengan cepat tanpa jeda, terdengar seakan dikatakan tepat ditelinga shia.
Saat ini, telinga nya berdengung kuat. Rasa nyeri, menyerang gendang telinganya.
'Aku mohon'
'Maafkan aku'
'Jangan, *j*angan pergi'!
'Shia'
'Aku akan menunggu'
"Cukup!!! Aku mohon hentikan semua suara ini." Dia kesakitan, suara itu terus bermunculan dan seperti diputar berulang-ulang ditelinganya.
"Ini menyakiti ku,,, aaahhkk," pekik shia. Dia merasa, sesuatu mengalir keluar dari telinganya. Ketika memegang telinganya, sesuatu yang cair dan basah menempel diujung jari dan semakin mengalir ke telapak tangannya. Dia cukup tertegun sejenak.
Kembali dia mengulur tanganya dan mendapati banyak darah di tangannya.
"Pergi kalian semua." Kali ini shia berteriak sangat keras.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
'Aku tidak akan kembali'
Suara terakhir membuat dadanya bergemuruh kencang. Rasanya sakit, seperti belati kecil menusuk jantungnya.
Hingga ia merasa, sesuatu menarik jiwanya.
"Aaahkkk." Gadis itu terbangun dari mimpi buruknya. Keringat membasahi hampir seluruh pakaian. Dia memegang telinganya.
"Tidak berdarah." Gadis itu mengusap wajahnya kasar.
Penampilannya cukup berantakan. Masih dengan nafas tersengal-sengal, dia mencoba duduk ditepi kasur. Tenggorokannya cukup kering, dia mengambil air dari nakas disebelah kasurnya.
"Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim...," Setelah tenggorokan cukup basah, dia beristigfar berkali-kali.
Itu ampuh untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau. Setelah merasa agak tenang, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Ternyata hujan tak lagi turun. Walau begitu, suhu udara masih tetap sama seperti sebelumnya. Tidak tahu kenapa, tapi suasana diluar cukup sepi.
Matanya kembali mengedarkan pandangan hinga tertuju pada satu objek. Jam dinding.
"Ya ampun." Pekiknya
"Aku akan ketinggalan penerbanganku." Dia berlari kekamar mandi, didalam kamar apartemen miliknya. Bukan untuk mandi, hanya mencuci muka. Katakanlah dia jorok, nyata nya memang seperti itu.
Saat ini, pukul 04.28 waktu setempat. Jika lambat, dia akan ketinggalan pesawat.
Jadwal penerbangannya ke indonesia jam 05.10. Beruntungnya jarak tempuh dari apartemen nya saat ini kebandara CDG hanya butuh waktu 30 menit lebih,,,jika dengan kecepatan penuh.
Koper sudah siap.
Indonesia, I'll Come Back
Halo readers,terima kasih karna mau membaca cerita ini.
Walau masih dibagian prolog,aku harap kalian menyukainya.
Rasanya sulit membuat cerita ini, karna ini cerita pertama ku.
Sehingga aku berharap besar pada kalian,supaya dapat membuatku merasa bangga dengan karya ku.
Jadi,aku butuh dukungan kalian sehingga aku bersemangat dalam melanjutkan novel yang tak sempurna ini
Please give your support.
Comment,rate,and like!