
Aku kembali ke warung setelah mengantar Saka, lalu pulang bersama Nola. Masalah pelukan ... gagal, Gaes. Gara-gara ada suara gubrak tadi. Nggak apa, kita coba lain kali.
"Laba bersih kita hari ini 75.000," ucap Nola, setelah selesai menulis pembukuan rutin usai menerima orderan. Ia termasuk orang teliti dan rapi, beda denganku yang gegabah dan mageran.
Sore ini, aku dan Nola baru saja selesai belanja untuk pesanan besok. Kami duduk di teras rumah Nola, dikelilingi tanaman hijau yang dirawat apik oleh Bu Set, ibunya Nola. Nama lengkapnya Bu Setyaningsih, tapi aku lebih suka memanggilnya Bu Set. Biar keren.
"Alhamdulillah. Ditabung, ntar lama-lama bisa buat bangun kafe," balasku sambil mencomot pisang goreng yang disiapkan Bu Set.
"Masih lamaaa."
"Dua tahun lagi," ucapku yakin, sebelum menyeruput es teh. "Tapi kita harus lebih giat jaga lilin dan keliling lagi."
"Kam pret!" Serbet yang tadi di meja melayang ke arahku.
Aku tergelak.
"Sini bukunya." Aku mengambil buku yang dipakai Nola untuk pembukuan tadi, dan menulis sesuatu di lembar kosong.
"Kami, Manda dan Nola yang cantik plus sexy ini, berikrar! Akan mewujudkan mimpi mempunyai kafe dua tahun lagi, tapi kalau bisa tahun depan juga nggak apa-apa. Kafe ini akan rame pembeli dan terkenal di mana-mana, termasuk di dunia lain. Lalu kami jadi orang kaya dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang. Aamiin!"
Aku selesai menulis, dan tak lupa membubuhkan tanda tangan di sisi kanan, lalu menulis nama Nola di sisi kiri.
"Tanda tangan sini," pintaku.
"Dah kayak buku nikah aja pake tanda tangan segala," balas Nola, sambil menorehkan tinta di bawah namanya.
Aku mengambil kembali buku itu, lalu menatapnya dengan senyum lebar. "Paling enggak, kita dah punya niat dan harus optimis dulu. Ngomong dan doa yang baik-baik, karena kita nggak tahu doa mana yang bakal dikabulkan sama Allah."
"Aduh!" Aku meringis kesakitan, Nola tiba-tiba menepuk pundakku keras dan berkali-kali.
"Luar biasa Manda Amin Teguh, kamu mendadak bijak kalau lagi kenyang. Harusnya kamu jadi pelawak aja," ucap Nola sambil terus menepuk pundakku dan semakin keras.
Aku menampik tangannya. "Sakit!" Kuelus pundak pelan. "Ntar kalau pundakku bolong nggak bisa dipeluk Saka."
"Ish, belum halal, jangan main peluk-pelukan! Mending peluk tiang listrik pas hujan, tuh, sama-sama bikin deg-deg-an." Nola mengucap sambil merapikan buku dan peralatan tulisnya.
"Bukan lagi deg-degan, yang ada berhenti berdetak, tuh, jantung!"
Lantas kami terbahak bersama.
Nola sahabatku, sosok gadis sederhana yang suka mengalah, ia juga pekerja keras, rela melakukan apa pun asalkan ibunya bahagia. Bahkan rela menunda kuliah karena Bu Set yang mulai sakit-sakitan. Wanita paruh baya itu kini menjadi harta berharga satu-satunya untuk Nola.
Semenjak kematian suami serta anaknya, Bu Set menjadi rapuh. Walau aku tahu, beliau mencoba tegar dan menjalani hidup dengan normal. Akan tetapi, dari sirat matanya terlihat jelas, kalau rasa kehilangan itu masih membekas dalam karena kepergian dua anggota keluarganya itu begitu mendadak.
Begitulah. Terkadang, manusia terlalu percaya diri, jika esok akan menjalani hidup sesuai rencananya. Sampai terlupa, bahwa semua yang ada di dunia ini sudah diatur sesuai rencana Tuhan. Bisa kapan saja diambil dan dibuat pergi, tanpa harus permisi.
***
Waktu beranjak dengan cepat. Langit kian gelap, seiring dengan suara serangga malam yang mulai bersahutan.
Setelah salat Isya, aku disibukkan dengan beberapa tugas kuliah. Lalu dilanjutkan menyiapkan stiker logo yang akan ditempelkan pada kardus burger nasi besok.
Getar ponsel membuatku beralih sejenak dari layar laptop. Senyumku langsung terukir saat siapa tahu siapa pengirim pesan. Saka.
[Lagi apa?]
Senyumku semakin mengembang, ketika membaca pesan dari Saka. Tanpa menunggu lama, aku segera membalasnya.
[Nyiapin tugas sama pesanan besok, Ka. Kamu lagi apa?]
Dalam hitungan detik, pesanku langsung terbalas.
[Mikirin kamu.]
Ish, bisa wae Ubin Masjid.
[Lebay,] balasku, dengan senyum yang tertahan.
[Udah makan?]
[Belum, belum nambah lima kali.]
[Emang kalau gendut, kamu dah nggak cinta, gitu?] Aku menyertakan emoticon sedih.
[Aku mencintai semua yang ada di dirimu, termasuk lemakmu.]
[Uluh uluh, buaya mulai berdendang dengan gombalannya.] Aku senyum-senyum sendiri membalas pesannya.
[Bahkan sampai rambutmu beruban nanti, cintaku akan tetap sama, bahkan lebih besar.]
[Ampun Bang Jago, gombalannya nggak nguatin!] Aku terkekeh saat mengetik balasan ini.
[Keren nggak? Nyontek di google tadi.]
Lagi-lagi aku terkekeh saat membaca chat itu. Saat akan membalas, gerakanku terhenti karena suara ketukan pintu dari luar.
"Yaaa, sebentar." Terdengar suara Ibu diiringi langkah kaki, pertanda kalau beliau yang akan membuka pintu. Aku pun kembali menyiapkan untuk keperluan besok, ditemani berbalas pesan dengan Saka.
Dari kamar, aku mendengar suara Bapak yang tampak bahagia oleh kedatangan si tamu. Ah, palingan itu teman lama beliau yang berkunjung.
"Manda, tolong belikan sate lontong di tempat Cak Anwar. Sama itu, cemilan atau roti-roti yang cocok buat orang tua," ucap Ibu sambil menyerahkan selembar uang.
"Temen Bapak, ya, Buk?" tanyaku sambil bersiap. Kuraih jaket yang tergantung di belakang pintu dan langsung memakainya.
"Bosnya Bapak. Mau nginep katanya, duh, mana nasi sama lauk Ibuk habisin semua tadi. Habis makan langsung nyesel. Gagal diet lagi hari ini."
Apa hubungannya coba?
Aku segera keluar kamar, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah karena tamu tadi tak tampak batang hidungnya.
"Tamunya ke mana, Pak?" tanyaku pada pria yang mengenakan kaus putih oblong itu.
"Baru mandi. Mau beli makanan, Nda? Jangan yang pedes, ya."
Aku mengangguk.
"Hati-hati. Jangan pake acara mampir-mampir. Sudah malam ini."
Aku menggaruk kepala yang tak gatal sambil tersenyum lebar. Kebiasaan memang, pamitnya ke warung sebentar pulangnya dua jam kemudian.
Aku bergegas mengeluarkan motor dan langsung menjalankan dengan kecepatan sedang. Sekarang sudah pukul 8 malam dan Kota Gudeg ini masih terlihat ramai, bahkan semakin ramai, terlebih di angkringan pinggir jalan.
Sesampai di warung tenda pinggir jalan yang menjual sate, aku langsung memesan dan kutinggal sebentar untuk membeli camilan di seberang jalan.
Setelah membeli beberapa camilan, aku kembali ke warung sate tadi. Namun, tiba-tiba aku menangkap sosok yang tak asing, mengenakan hoodie hitam sedang duduk di motor dan terlihat tengah menelepon. Kayak Saka, tapi bukannya dia ada di Solo? Aku yang bersiap menghampiri tiba-tiba mengurungkan niat karena panggilan dari Cak Anwar, memberitahu kalau pesanan sudah selesai.
Aku bergegas membayar, kemudian kembali menoleh ke sosok tadi, tapi ia sudah tidak ada. Aku celingukan mencari orang yang aku yakin kalau itu Saka. Aku merogoh jaket untuk mencari ponsel, tapi ternyata ketinggalan di rumah.
Dengan pasrah aku akhirnya memilih pulang dan berusaha berpikir positif, siapa tahu tadi hanya halusinasi karena kangen. Aku pun bergegas pulang. Sesampainya di rumah, terdengar gelak tawa Bapak dan orang lain dari dalam.
Setelah memarkirkan motor di teras, aku segera masuk. "Assalamualaikum," ucapku seraya melepas sandal.
Terdengar balasan yang hampir berbarengan. Detik selanjutnya, aku membelalakkan mata saat melihat siapa tamu Bapak.
"Loh, Sayang!" ucap sang tamu, dengan mimik wajah yang juga tampak kaget.
"Sayang?" Pertanyaan terlontar dari Ibu yang tiba-tiba muncul dari dalam.
"Kok kamu bisa ada di sini, Sayang? Kebetulan apa ngikutin, nih?" tanya tamu tersebut, ia adalah pria yang aku tolong tadi siang.
"Woalah, kalian sudah kenal, to? Atau jangan-jangan malah punya hubungan khusus? Kok manggil sayang-sayangan?" Pertanyaan Bapak kangsung kubalas dengan gelengan kuat-kuat, pun dengan si tamu yang aku belum tahu namanya.
"Terus kenapa manggil sayang kayak gitu? Wes, wes, angel tenan ini ... angel tenan ...." Ibu menatapku dengan mata terpicing dan melipat tangan di dada.
"Demi Allah, Buk. Aku–"
"Saya dan Sayang baru bertemu tadi siang, Bu," ujar si pria berkaus merah itu memotong ucapanku. "Iya, kan, Sayang?"
Aku menepuk dahi karena dia terus memanggilku dengan sayang. Dan kenapa dia terus memanggil seperti itu? Sejurus kemudian ingatanku melayang pada kejadian tadi siang, saat ia bertanya nama, aku menjawabnya 'sayang'.
Mati kamu, Manda!