Cie Cie

Cie Cie
Part 2



Senyum Saka masih terukir saat aku dan Nola hampir tiba di seberang. Detik berikutnya, tangan lelaki itu terangkat seakan memanggil untuk mendekat. Duh, segitunya, ya ampun ... hatiku auto jedag-jedug, kayak ada kendang yang lagi ditabuh.


Tanganku yang bersiap terangkat untuk membalas lambaiannya, seketika kuurungkan. Tersadar, sepertinya lambaian itu bukan untukku. Karena semakin dekat, terlihat jelas kalau tatapan matanya yang tak tertuju ke arahku.


"Hari ini ulangan MTK, kan? Jan lupa contekin, ntar aku traktir main PS sejam." Suara dari belakang membuat senyum Saka kian mengembang, lalu disusul sosok lelaki berseragam serupa yang berjalan melewatiku dan merangkul leher Saka. Kemudian, mereka berjalan dengan saling canda.


Aku langsung menyimpan tangan di balik badan dengan wajah memanas. Malu pentium 100! Lubang semut, mana lubang semut? Mau nitip muka bentar.


"Ngapain, ih?" Nola menyenggol pundakku, mungkin ia baru menyadari tingkah aneh yang kulakukan.


"Itu, anu ... pegel tanganku. Semalem abis mimpi cabutin bulu singa, pegelnya ke bawa sampai sekarang."


Nola menatapku dengan alis saling mengait. "Beneran geser kayaknya kamu, Nda!"


Aku hanya terbahak, lalu merangkul lengan Nola dan melanjutkan perjalanan sembari menatap punggung Saka yang kian menjauh di depan sana.


Saka, Saka ... dulu kita bagaikan panu dan kulit, tak terpisahkan. Sekarang, kita bagaikan mik si Nganu dan suara rakyat, jauh banget jaraknya.


***


Sesampai di sekolah, aku dan Nola menuju kelas untuk meletakkan tas, lalu menuju halaman di tengah karena jam pelajaran pertama adalah olahraga. Kami sekelas sejak kelas satu sampai sekarang. Sementara Saka, kami sempat sekelas saat kelas satu, sedangkan kelas dua dan tiga kami beda kelas.


Ini adalah tahun terakhir kami belajar di SMA, kalau kata orang, usia segini itu masa pencarian jati diri. Tetapi buatku, masa sekarang adalah masa menikmati hidup sebelum akhirnya nanti masuk ke fase yang lebih pelik. Menjadi dewasa dengan segudang masalah serta tanggung jawabnya.


Aku bersekolah dan mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya. Juga memiliki teman-teman dan bergaul dengan mereka yang membuat nyaman. Lalu, dari kenyamanan itu, biasanya terbentuklah geng-geng yang otomatis membuat kesenjangan di antara para siswa.


"Manda!" Suara Agnes menjeda aktivitasku, ia salah satu primadona di kelas.


Aku membalas dengan dehaman dan mengangkat sedikit dagu. "Ada apa?" Sementara tanganku kembali sibuk mengambil bola yang baru saja selesai dipakai ujian praktik.


"Dipanggil Pak Agus, tuh."


Dahiku mengernyit saat mendengar nama guru BK itu. "Sekarang?"


"Nggak! Tunggu sapi beranak bebek dulu."


Aku terbahak, lalu berpamitan pada teman-teman yang tengah mengambil bola bersamaku.


Sembari berjalan ke arah ruang BK, aku berpikir keras. Perasaan aku anak yang baik, nggak macam-macam, gemar menabung, selalu buang sampah ada tempatnya, cantik lagi. Yang terakhir kata bapakku.


Aku membetulkan ikatan rambut setiba di depan ruang BK, lalu mengetuk pintu dan membukanya saat mendapat balasan dari dalam.


Aku terkejut saat melihat Saka juga ada di sana. Lelaki berseragam putih abu-abu itu hanya melihatku sekilas, lalu kembali menatap Pak Agus.


Ada apa ini? Jangan-jangan aku mau dinikahin? Atau tunangan dulu? Atau ....


"Duduk, Manda. Mau jadi patung selamat datang kamu?" Ucapan pria berkacamata tebal, dengan rambut klimis itu membuyarkan lamunanku.


"Di-ma-na, Pa-k?"


Jiaah, mendadak jadi Manda gagap.


"Terserah kamu, asal jangan di pangkuan Saka."


Kan, kan, kan, kan, sukanya mancing-mancing, deh.


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, lantas duduk di samping Saka. Semoga Saka nggak dengar kalau ada kendang yang lagi ditabuh di jantungku.


"Langsung saja. Jadi begini, lusa ada undangan untuk perwakilan sekolah di acara Keraton. Semacam ... hmmm, mengenalkan budaya Keraton pada generasi milenial. Masing-masing sekolah mengirim dua perwakilan. Bapak rasa kalian cocok untuk–"


"Sah, Pak!" teriakku tiba-tiba, yang membuat Saka dan Pak Agus menatapku tampak kebingungan.


Seketika aku langsung tersadar dan mencoba bersikap santai. "Maksud saya, ba–gus, Pak, bagus sekali program ini, Pak. Saya sampai terbawa suasana akad nikah, eh, maksudnya suasana bahagia dan excited. Maaf ...." Suaraku memelan, saking malunya.


Aku memukul kepala pelan. Bisa-bisanya mikir kalau lagi dinikahin sama Saka. Beneran geser kayaknya aku!


"Info selengkapnya, nanti bapak kasih surat edaran buat orang tua kalian dan susunan acaranya."


"Baik, Pak." Kami menjawab hampir berbarengan.


Setelah dirasa selesai, kami keluar ruangan. Saka berjalan mendahului, tanpa menyapa atau berbincang. Ia pergi begitu saja. Aku menghela napas panjang dan menatap punggung itu kian menjauh, sampai kapan kita kayak gini terus, Calon Suami?


***


"Seriusan? Ciee ciee yang seneng." Nola terus menggoda saat aku sudah kembali dan menceritakan padanya. "Eh, tapi kok nggak si Agnes yang dipilih? Bukannya dia kemarin habis menang kontes pemilihan putri Keraton? Kalau Saka, kan, jelas dia ketua OSIS."


Aku mengedikkan bahu. "Tadi mau tanya-tanya, tapi nggak fokus aku tuh, deg-degan ada Saka."


"Mungkin kamu juga sama-sama pinter dan cantik kayak Agnes, jadi dipilih."


"Cantikan Agnes ke mana-mana kali."


"Iya, sih. Udah pinter, cantik, putih, kurus, duh ... kapan aku bisa punya body kayak gitu." Kami kembali ke pembicaraan tadi.


"Ish, cantik itu C-A-N-T-I-K bukan K-U-R-U-S atau P-U-T-I-H. Ubah cara pandanganmu buat nilai cewek itu cantik apa enggak. Kalau cuma yang kurus putih yang dibilang cantik, tuh, kipas angin banyak! Kata bapakku, cantik itu pusatnya di sini." Aku menunjuk dada Nola.


"Eh, nggak sopan!" Nola menampik tanganku.


"Eh, maaf, salah tunjuk. Maksudnya di sini." Aku terbahak sembari menunjuk tempat di mana hati tersimpan.


"Kalau pusatnya baik, kecantikan bakal terpancar sendirinya, kayak lampu neon di depan gang kita. Bersinar terang, itu yang beli bapakku, harganya–" Aku menghentikan omongan saat melihat Nola menaikkan satu alisnya.


"Maaf, jiwa promosiku keluar." Aku kembali terbahak.


"Nggak munafik kali, zaman sekarang orang mah lihatnya dari fisik luar dulu," ucap Nola.


"Iya, sih. Tapi aku temenan sama kamu nggak lihat fisik kok." Aku tertawa kecil sebelum melanjutkan omongan, "Syukuri dan cintai diri sendiri aja. Lagian, ya, kalau bukan kita yang mencintai diri sendiri, siapa lagi coba? Mbak Kunti?"


"Iya, ya. Memang temanku yang satu ini the best, lah. Makasih, ya, dah mau temenan sama aku. Walau diriku nggak secantik Luna Maya."


"Santuy, lah. Soalnya, ibumu kalau masak enak-enak, jadi kalau temenan sama kamu, pasti bisa makan enak dan gratis terus. Haha!"


"Kurang asem! Dasar, Manda Amin! Ternyata ada udang di balik bakwan!"


Aku tergelak, lalu beranjak meninggalkan Nola dan berlari untuk memanggil guru yang mengisi di jam pelajaran selanjutnya.


***


Usai sekolah, aku bergegas pulang. Hari ini Bapak pulang dari luar kota, pekerjaan menjadi supir pribadi Juragan Batik membuat beliau sering bepergian dan tak tentu pulangnya. Hari ini, Bapak pulang setelah lima hari berada di Bandung untuk mengantar sang Bos pembukaan pabrik baru.


"Duluan, ya!" Aku berpamitan pada Nola.


Dia masih berada di kelas untuk mengerjakan tugas bersama teman kelompoknya. Karena dia akan lama di sini, jadi aku memutuskan untuk pulang terlebih dulu.


"Ati-ati! Awas, jangan ngajak ngobrol tiang listrik lagi! Lama-lama yang geser tiang listriknya, bukan kamu."


Aku terkekeh mendengar ucapan Nola. Nggak ada akhlak emang! Untung ibunya kalau masak enak.


Selama berjalan menuju gerbang, sesekali aku bertegur sapa dengan teman sekelas saat kelas satu atau dua dulu. Sedikit berbasa-basi atau sekadar haha hihi membahas hal-hal receh yang kadang membuat kita happy. Ah, kelak aku akan merindukan masa-masa ini.


"Woi, Saka!" Dion, lelaki yang sedang mengobrol denganku ini tiba-tiba berteriak sambil melambaikan tangan.


Namanya orang jatuh cinta, dengar namanya disebut rasanya kayak lihat tilangan polisi di jalan raya, deg-degan.


Posisiku berhadapan dengan Dion, otomatis membelakangi Saka yang sepertinya akan berjalan mendekat.


"Pulang bareng?" Suara Saka bak uang saku yang kurindukan.


Dia ngajak pulang bareng? Serius? Semalam perasaan aku mimpi cabutin bulu singa, kenapa malah hoki banget siang ini. Nanti malam aku mau cabutin lagi bulu si singa sampai habis!


"Iya, aku–" Aku bersiap memutar tubuh. Namun, suara Dion seketika membuatku terdiam.


"Yo'i, Bro! Ayo kita kemon! Mampir PS-an bentar, ya. Kemarin kamu janji traktir. Kalau bohong, ntar jomlo terus sampai kakek-kakek!" Dion merangkul pundak Saka, lalu berjalan beriringan menuju gerbang.


Bapak ... anakmu kena prank! Hiks. Singa, jangan sampai nanti malam kita ketemu!


Beberapa saat setelah mereka menjauh, aku pun berjalan dengan gontai. Namun, langkahku semakin melambat saat melihat Dion berlari dengan tergopoh-gopoh. Sampai akhirnya dia berdiri di hadapanku dengan napas terengah-engah.


"Ha-h, sial, a-ku di-kerjain!"


"Kenapa emang?" tanyaku bingung.


"Nih, buat kamu!" Lipatan plastik tipis berwarna biru muda tersodor di hadapanku.


"Jas hujan? Emang ujan?" tanyaku bingung.


"Di luar gerimis. Nah, tuh, malah udah deres sekarang." Dion menunjuk ke arah langit. Padahal cuaca barusan panas, tiba-tiba saja mendung dan turun hujan.


"Aih ... perhatian amat. Makasih, Dion."


"Bukan dari aku," balas Dion, lalu kembali berlari.


"Lah, dari siapa?"


"Saka!"


Mendengar nama itu disebut, aku refleks tersenyum malu-malu dan hidung auto kembang kempis. Bapak ... anakmu nggak jadi kena prank!


Singa, sampai ketemu nanti malam, ya. Aku bakal cabutin bulumu sampai habis!


Bersambung