
Hari ini tepat tiga bulan aku dan Saka jadian, kalau kata orang hubungan kami masih anget-anget tai ayam. Jadi penasaran apa iya tai ayam itu anget? Ntarlah dicoba, biar kusuruh Nola buat pegang.
"Ayo berangkat!" Nola keluar dari dalam rumah dan langsung duduk di boncengan motor. Hari ini kami ada janji dengan seseorang.
"Kuy."
Dua kantung plastik besar berada di tangannya dan siap diantar ke rumah konsumen. Oh, ya, kami membuka bisnis kecil-kecilan. Nola sengaja menunda kuliah, karena mau membantu ibunya untuk mengembangkan bisnis katering. Sedangkan aku mengambil jurusan manajemen ekonomi di salah satu universitas negeri di Yogya.
Kami biasanya membuka stand di alun-alun kota atau CFD (Car Free Day) di akhir pekan. Awalnya kami mencoba peruntungan dengan menjual nasi boks kekinian, namanya juga baru awalan, paling banyak terjual tiga-lima porsi.
Kalau kata Bapak, "Yang paling berharga dari sebuah pencapaian itu adalah prosesnya. Nikmati, jalani, dan syukuri. Kelak kita akan menghargai apa pun hasil akhirnya."
Setelah dirasa usaha ini kurang cocok di nasi boks, lantas kami mencoba mencari inovasi lain. Kemudian, tercetuslah burger nasi dengan berbagai macam isian; ada burger nasi rendang, burger nasi mercon, burger nasi steak, burger nasi ayam lada hitam, dan masih banyak lagi.
Di waktu senggang, Saka biasanya datang membantu kami berjualan, dan dapat dipastikan stand bakal rame pembeli yang didominasi oleh kaum hawa. Nggak apalah, yang penting laris dan Saka masih tetap milikku. Eaaa!
Kami beneran pacaran, Gaes. Nggak halu lagi kayak jeritan hati pembaca dari dunia lain kemarin. Siapa yang kemarin bilang kalau nge-prank? Sini maju, aku mundur!
Aku dan Saka berbeda kampus, tetapi sama-sama mengambil jurusan ekonomi, dia kuliah di salah satu kampus terbaik di Yogya. Itu pun lewat jalur beasiswa. Kesibukan Saka setelah kuliah biasanya membantu sang ayah mengurus pabrik batik atau bermain futsal bersama teman-temannya.
Aku pikir, pacaran itu bakal kayak di cerita-cerita platform oranye, yang cowok romantis dan cewek bucin. Ternyata sama saja, dia tetap Saka yang cuek masalah komunikasi. Katanya, sih sibuk, jadi jarang pegang HP. Ditambah kami juga jarang jalan berdua, karena peraturan Ibu masih berlaku, tidak boleh pergi jauh-jauh apalagi sampai malam, kecuali bersama Nola atau Bapak-Ibu.
[Di mana?]
Ternyata ada pesan masuk dari Saka, dan baru kubuka ketika tiba di rumah konsumen. Nola sudah masuk, sedangkan aku memilih menunggu di luar.
[Anter pesenan, Ka. Ada apa?]
[Kangen.]
Aiiih ... bisa aja, Kentongan Pos Kamling.
[Udah makan?] Pesannya kembali masuk.
[Belum sempat, tadi sibuk buat pesenan.]
[Nanti ke warung biasa, ya. Ajak Nola sekalian. Aku tunggu.]
Warung biasa yang Saka maksud itu, sejenis rumah makan khas anak muda milik salah satu temannya. Kami sering ketemuan di sana, untuk sekadar makan atau ngobrol biasa.
[Siap!]
Dan seperti itulah komunikasi kami, sekadarnya, seperlunya. Aku kembali menyimpan ponsel ke tas selempang dan masih duduk di motor sambil menunggu Nola keluar. Detik berikutnya aku refleks memutar tubuh saat mendengar orang berteriak dan bersahutan dengan gonggongan anjing. Mereka lagi lomba adu suara apa gimana itu?
Karena penasaran, akhirnya aku turun dari motor dan mencari sumber suara. Tak jauh dari posisiku berdiri, terlihat seorang pria berkemeja biru muda yang tengah berada di atas pohon menghardik anjing di bawahnya yang terus menggonggong.
"Dasar anjing! Beraninya sama orang ganteng! Sana cari orang jelek aja buat diganggu!"
Aku mengaitkan alis saat mendengar ocehannya. Sementara si anjing yang di bawah terus menggonggong sambil berusaha memanjat.
"Mas, ngapain di sana?!" tanyaku dengan sedikit berteriak.
Pria itu tampak mengedarkan pandangan, seolah mencari suaraku, sampai akhirnya tatapan kami beradu. Ia sedikit membetulkan posisinya di atas pohon itu.
"Lagi mandi!" balasnya tak kalah teriak.
Aku terbahak, tampak jelas wajah pria berpenampilan rapi dan mengenakan pantofel itu ketakutan. Entah sejak kapan dia sudah berada di atas sana.
"Heh, tunggu, tunggu! Mau ke mana kamu!" teriaknya lagi, yang malah dibalas dengan gonggongan anjing.
Guk! Guk! Guk!
"Diem dulu, Njing! Betah banget kamu di sini!" Dia terdengar mengumpat lagi pada anjing di bawahnya.
Tubuhku yang sudah memutar, akhirnya kembali ke posisi semula. "Pulang dong, nggak baik ngintipin orang mandi," jawabku, menahan tawa. "Duluan, ya, Mas. Yang bersih mandinya."
"Heh, heh, heh, tunggu! To-longin saya dulu!"
"Minta tolong dimandiin?" tanyaku iseng.
"Sudah bercandanya! To-long buat anjing ini pergi! Sudah hampir satu jam saya di sini, mana dari tadi nggak ada orang lewat!"
Aku mengedarkan pandangan, gang kecil ini memang terlihat sepi. Kemudian aku melipat tangan di dada sambil tersenyum. "Tapi tahu, kan, di dunia ini nggak ada yang gratis?"
"Matre banget. Iya-iya nanti saya bayar! Cepet suruh anjing ini pergi!" Ia kembali berteriak, dan lagi-lagi dibalas oleh gonggongan anjing berukuran sedang itu.
"Berisik kamu, Njing!"
"Oke deh. Tunggu!" balasku yang akhirnya merasakan kasihan.
Aku melemaskan badan sebentar, memutar ke kanan dan ke kiri, lalu mengambil posisi jongkok bersiap-siap membela kaum yang lemah. Aku menatap anjing berwarna cokelat itu, sebelum akhirnya aku langsung berlari dengan kencang ke arah anjing yang terus saja menggonggong.
"Hei, kau anjiing ... enyah dari sini. Kyaaa ...."
Mungkin mendengar derap langkahku yang cepat, membuat si anjing kaget dan langsung berlari menjauh dengan cepat, persis kayak Ibu kalau ketemu Kang Kredit Panci.
Berhasil!
Dengan napas tersengal, aku berkacak pinggang dan menatap pria yang turun perlahan dari pohon itu. Kalau kutaksir, pria ini berumur sekitar 25 tahun.
"Ayo ikut," ucapnya sambil berjalan menjauh.
"Tadi katanya minta bayaran, dompet saya ketinggalan di mobil."
Aku terkekeh. "Bercanda kali, Mas. Dahlah, saya mau pulang dulu, lain kali jangan mandi di atas pohon. Kayak Mbak Kunti aja."
"Beneran nggak mau uang?"
"Masih punya banyak!" Aku melambaikan tangan sambil berjalan ke arah motorku.
"Siapa namamu?!" teriaknya.
"Sayang!" balasku sembari menghidupkan mesin motor, lalu menjalankan dengan perlahan.
Laju motor berhenti saat lampu merah lalu lintas menyala. Aku tengah bersenandung kecil, tetapi merasa ada yang janggal. Apa, ya?
Aku merogoh tas saat merasakan getar ponsel. Seketika mataku membulat ketika melihat nama siapa yang tertera di sana.
Nola?
Mam pus. Aku menepuk dahi, segera menyimpan kembali ponsel dan cepat-cepat berbelok ke sisi kiri, lantas memutar arah.
Nola ketinggalan!
***
"Tega kamu!" Nola terus mengomel.
Aku terkekeh jika mengingat kejadian tadi, Nola mengira aku diculik terus dijual di luar negeri.
"Kenapa?" Saka yang baru saja selesai membuatkan minuman meletakkan tiga gelas jus di meja.
"Pacarmu, tuh, tega ninggalin aku gitu aja!" omel Nola seraya mengambil jus mangga dan langsung menyeruput sampai tersisa setengah gelas.
"Tadi, tuh, aku bantu mas-mas yang digangguin anjing habis itu refleks hidupin motor. Eh, lupa kalau lagi pergi sama kamu," paparku. Saka mengacak pucuk kepalaku pelan sebelum duduk di depan.
"Mas-mas siapa?" Dahi Saka mengerut sambil menatapku.
Aku mengedikkan bahu. "Nggak kenal siapa, kalau dilihat dari penampilannya, sih, kayaknya dia bukan orang sini."
"Terus apa hubungannya sama ninggalin aku, Munah?" tanya Nola sengit.
Tawaku kembali meledak. "Lupa, Nol. Sumpah! Bener-bener nggak inget. Kalau nggak kamu telepon tadi, mungkin aku sudah ke sini sendirian."
"Ish!" Nola menepuk lenganku, dengan wajah tampak kesal.
"Mau makan apa, La? Biar aku yang traktir, itung-itung permintaan maaf dari Manda" ucap Saka.
Wajah Nola yang tadi terlihat kesal, seketika berbinar cerah. Hilih, dasar, pecinta gratisan!
"Nah, kalau gini cocok. Beruntung kamu punya cowok pengertian kayak Saka. Kalau enggak, mau aku tenggelemin di empang nanti!"
Lantas kami terbahak bersama.
"Tapi nanti pinjem Manda bentar, ya. Mau minta tolong anterin ke Stasiun," ucap Saka.
"Ternyata modus. Ada udang di balik bakwan!" Nola kembali mendengkus. "Ya, udahlah, nggak papa, yang penting kenyang!"
Setelah selesai makan, aku dan Saka bergegas ke Stasiun. Sementara Nola, masih menunggu di warung sampai aku datang. Saka bilang harus ke Solo untuk mengecek pabrik batik yang beroperasi di sana.
"Berapa lama di Solo?" tanyaku saat kami sampai di Stasiun.
"Dua hari," jawabnya sambil merapikan anak rambut di wajahku yang terlepas dari ikatan. "Kenapa?"
Kangen, ucapku dalam hati.
"Nggak apa-apa. Kabarin, ya, kalau udah sampai sana," balasku akhirnya.
Saka mengangkat jempol tangan kanan, dengan seulas senyum. "Aku masuk dulu, hati-hati nanti pulangnya." Lalu ia melangkah menjauh. Baru beberapa jengkal, tiba-tiba Saka berhenti dan kembali berjalan ke arahku.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Boleh peluk?" Ia merentangkan kedua tangannya.
Aku seketika salah tingkah. "Ih, malu, Ka. Ntar kalau ada yang lihat gimana?" Aku mengedarkan pandangan, dengan wajah yang terasa hangat. Namun, seperti ada magnet yang membuat langkahku perlahan mendekat ke arahnya.
Selangkah ....
Dua langkah ....
Tiga langkah ....
Gubrak!
Suara apa itu?
Terdengar seperti benda jatuh, membuatku menghentikan langkah dan mencari sumber suara. Seketika mataku membulat, saat tahu siapa itu.
Woalah, ternyata itu pembaca yang pingsan gara-gara pengin dipeluk juga, tetapi cuma ada guling di sebelahnya.