Cie Cie

Cie Cie
Part 7



"Manda, Manda!" Panggilan dari Bapak membuat mataku mengerjap beberapa kali.


Aku menoleh ke arah beliau. "I-iya, Pak."


"Mau nggak? Ditanyain Saka itu lho." Kali ini suara Ibu.


Lho, bukannya tadi Ibu pingsan?


"Cepet itu dijawab!" timpal Bapak.


"Ha? Anu, kita masih sekolah, Pak, Bu. Belum lulus, masa udah mau nikah," jawabku malu-malu dengan wajah memanas, sambil sesekali melirik Saka.


"Kan, acaranya hari Minggu," balas Bapak dengan alis saling bertautan.


"Emang Bapak sama Ibu ngebolehin kita nikah muda?"


"Kamu ki ngomong apa to, Nak? Laper pasti ini, jadi ngawur ngomongnya." Ibu menepuk pundakku pelan. "Maaf, Nak Saka. Manda kalau laper emang gini, agak konslet."


"Eh, emang tadi ngomong apa? Bukannya Saka ngajakin aku nikah?" tanyaku bingung.


Suasana hening beberapa saat, lalu tiba-tiba tawa Ibu meledak. Sementara Bapak dan Saka hanya tertawa pelan.


Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang cantik ini. Jangan-jangan hamba tenggelam dalam lautan halusinasi jomlo yang abadi.


"Ini, nih, gara-gara dulu ibumu ngidam nonton drama India sehari sampe dua puluh kali, halunya jadi nular ke anak." Ucapan Bapak membuat Ibu dan Saka tertawa, sementara aku berusaha ikut tertawa dengan sedikit menahan malu.


Di sela tawa, mataku beradu dengan Saka. Ia tampak tertawa begitu lepas, tawanya kali ini terasa berbeda. Entah kenapa lelaki yang duduk di depanku itu berhasil membuat cinta monyetku berubah menjadi cinta gorila. Semakin hari, semakin besar. Aiih ....


Akhirnya, Bapak menjelaskan kedatangan Saka kemari untuk menyampaikan pesan, kalau kakaknya mau lamaran. Jadi, kita sekeluarga dimintai tolong untuk membantu acara nanti.


Owalah ... kirain aku yang mau diajak nikah. Dahlah ini semua gara-gara author yang suka bikin aku hobi ngehalu!


***


Hari-hari berikutnya, sikap Saka semakin hangat. Sehangat sayur sup yang tiap pagi dipanaskan Ibu. Terlebih saat tak sengaja berpapasan atau bertemu denganku sendirian. Namun, jika ada temannya, ia akan menjadi pendiam seperti dulu.


Pernah suatu hari kami tak sengaja bertemu di warung mi ayam Mas Tejo. Kebetulan saat itu aku baru saja pulang dari les, untuk persiapan ujian.


"Sendirian aja?" tanya Saka di sela-sela makannya.


Aku mengangguk, menahan hidung agar tak kembang kempis. Aku berusaha bersikap sesantai mungkin. Padahal dalam hati pengen teriak 'Ganteng banget, Sis!' sambil koprol.


Setelah memesan tiga porsi untuk dibungkus, aku duduk di depan Saka dengan berjarak meja.


"Sering ke sini, ya, Ka?" tanyaku basa basi.


"Lumayan. Kalau pas lagi gabut aja."


"Sering ding, Mbak. Terutama pas jadwal Mbak Manda les." Tiba-tiba Mas Tejo ikut nimbrung. Aku mengerutkan dahi, lalu menatap Mas Tejo dan Saka bergantian.


"Jangan didengerin, Mas Tejo suka ngaco," ucap Saka sebelum menyeruput es teh.


"Walau ngaco, paling enggak aku lebih berani nembak cewek dibanding kamu, Mas." Ucapan Mas Tejo lagi-lagi membuatku bingung. Sementara Saka hanya terkekeh.


"Mumpung ada di depan mata tuh, langsung gas wae, Mas," lanjut Mas Tejo, diikuti tawa kecil.


Aku yang tak lagi bisa menahan hidung kembang kempis, hanya bisa tersenyum canggung. Berbeda dengan Saka yang masih terlihat santai sambil terus menikmati mi ayamnya. Tak berapa lama kemudian pesananku selesai.


"Biar aku yang bayar, Nda." Tangan Saka memberi kode untuk tidak menyerahkan uang pada Mas Tejo.


"Serius, nih?"


Saka mengangguk. "Mumpung habis gajian."


"Emangnya kamu kerja?" tanyaku dengan alis terangkat, sedikit kaget dengan pernyataannya barusan.


Lelaki berkaus hitam itu tersenyum, lalu mengangguk. "Bantu-bantu Ayah."


Kemudian ia berdiri dan mengeluarkan dompet dari saku celana, mengambil selembar uang berwarna biru lalu menyerahkan pada Mas Tejo. "Sisanya nitip, Mas. Kapan-kapan kalau ke sini tinggal nambahin." Ucapan Saka dibalas jempol oleh Mas Tejo.


"Mau langsung pulang?" tanya Saka padaku.


"Cie ... kayaknya ada yang mau pulang bareng, nih." Lagi-lagi Mas Tejo menggoda. Pipiku refleks menghangat saat mendengar godaan dari Mas Tejo. Sedangkan Saka menepuk pundak penjual mi ayam yang ngakunya mirip Lee Min Hoo itu dengan tawa tergelak.


"Jalan kaki biar sehat."


"Bareng aja kalau gitu. Nih, kamu depan." Aku memberanikan diri menawarinya, dan langsung mengerahkan kunci motor padanya.


Aku melihat kecanggungan pada Saka, tetapi tangan itu tetap terulur menerima kunci motor. Bungkusan mi ayam aku gantungkan di depan. Helm yang tadi kupakai, kuserahkan pada Saka. Namun, bukannya dipakai, ia justru memasangkan kembali ke kepalaku.


"Kamu aja yang pake, biar aman, nggak lecet sampai rumah," ucapnya sambil memakaikan helm di kepalaku.


Klik! Pengait helm terpasang sempurna, dibarengi dengan detak jantung yang kian bergemuruh hebat di dalam dada. Please jangan pingsan, please jangan pingsan, please jangan pingsan!


"Ayo!"


Aku mendadak grogi.


"Naik sendiri apa dinaikin?" tanyanya, bernada godaan.


"Ish." Aku memukul bahunya pelan. Fix, aku nggak akan cuci tangan.


Aku segera naik. Tak dipungkiri, aku sangat bahagia. Saat motor melaju, aku bergegas mengambil ponsel dan mengabadikan momen ini diam-diam. Aku terus tersenyum tak jelas sepanjang jalan. Jangan harap aku meluk dari belakang, ya. Takut nggak bisa lepas.


Saka, boleh kupinjam hatimu sebentar? Agar aku tahu, apakah hati kita sejalan, atau memiliki banyak cabang.


Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di belokan gang. Saka tiba-tiba menghentikan motor. "Aku turun di sini aja, nggak enak kalau di lihat tetangga, nanti dikira kita habis jalan berduaan."


"Oh, oke." Aku berpindah posisi ke depan. Entah karena terbiasa ketika mau jalan aku selalu mencium tangan Ibu atau Bapak. Kali ini tanganku spontan terulur dan meraih tangan Saka, lalu menciumnya.


Detik berikutnya, aku tersadar dan langsung melepas genggaman tangan itu. Duh, kenapa pake acara cium tangan segala? Secepat kilat aku langsung menutup kaca helm dan menjalankan motor tanpa menoleh lagi.


Ya ampun, baru juga bahagia dikit, udah dibuat malu lagi!


***


Waktu bergulir dengan cepat. Sampai akhirnya kami memasuki masa ujian sekolah. Selama kurang lebih dua bulan, predikat lulus tersemat untuk semua siswa tingkat akhir SMA Negeri ini. Kami lulus 100%, euforia kelulusan mewarnai hari ini. Walau sekolah sudah melarang untuk corat-coret, tetapi tetap saja ada siswa yang nekat melakukan itu.


Esoknya wisuda resmi digelar, semua siswa mengenakan pakaian adat Jawa Tengah. Aku dan Nola sedari pagi sudah sibuk berhias di salon dekat rumah. Di saat anak lain menjahitkan kebaya mereka, kami memilih menyewa. Sedangkan untuk alas kaki, aku dan Nola beli sendiri, mumpung ada promo beli dua gratis sepuluh. Iya, sepuluh. Sepuluh jitakan dari penjualnya.


Tepat pukul 08.00 acara dimulai, sambutan demi sambutan terlewati dan mulailah acara penyerahan piagam kelulusan dan foto bersama. Pembawa acara memanggil sesuai kelas secara bergiliran.


Giliran kelasku. Semua naik ke panggung secara lancar, sebelum akhirnya aku mengalami kesulitan untuk berjalan dan secara tak sengaja menubruk temanku yang ada di depan. Tak bisa menghindar, temanku yang di depan menubruk teman depannya lagi, begitu terus sampai akhirnya semua jatuh di atas panggung. Mungkin kalau dikasih lagu cocoknya ini ... dung tak dung dung, kowe tak sayang, sayang!


Gelak tawa langsung memenuhi aula. Sementara kami yang berada di panggung mengaduh kesakitan. Sakitnya, sih, nggak seberapa. Malunya yang nggak tanggung-tanggung. Seumur hidup!


Setelah acara selesai dan para guru serta wali keluar ruangan, teman-temanku terlihat masih berkumpul dan sibuk ber-selfie. Aku melihat sosok Saka yang terlihat tengah berfoto dengan beberapa siswa, dan kebanyakan cewek. Pengen tak hiih! rasanya. Tak ingin terlalu memedulikannya, aku pun sibuk ber-selfie lagi dengan beberapa teman.


Saat akan pulang ....


"Manda."


Suara khas Saka terdengar dari belakang dan membuatku refleks menoleh. Entah kenapa saat itu suasana tiba-tiba hening, aku merasa kami menjadi pusat perhatian sekarang.


"Cie cie ...." Sorakan dari teman-teman membuatku salah tingkah. Padahal belum ngomong apa-apa, tetapi udah disorakin.


"Iya, Ka. Ada apa?" balasku malu-malu.


"Aku ... mau ngomong sesuatu."


"Cie cie ...." Disorakin lagi. Setdah!


"Ulat bulu makan duku." Ucapan Saka bernada pantun.


"Cakeeep!" Tiba-tiba banyak penonton di sekitarku.


"Kamu mau jadi pacarku?" lanjut Saka, yang spontan membuatku membelakkan mata.


Sejurus kemudian aku mengulum senyum malu-malu, terlebih saat sorak sorai teman-teman membuatku semakin salah tingkah. Namun, dahiku mengerut saat mendengar suara aneh dari dunia lain, aku pun menyelidik ke semua ruangan, lalu terhenti saat tahu itu adalah suara hati pembaca.


"Manda Amin, jangan pingsan lagi! Buruan dijawab!" teriak mereka sambil membawa mi rebus, plus dua telur, ditambah nasi.


Aku yang takut segera berpaling ke arah Saka. "Iya, Ka. Mau!" jawabku cepat, daripada dilempari mangkok sama mereka.