Cie Cie

Cie Cie
Part 3



Kata orang, jatuh cinta masa SMA disebut cinta monyet, padahal jatuh cintanya sama manusia, bukan monyet. Nggak tahulah siapa pencetus istilah itu pertama kali.


Selama perjalanan pulang, aku terus saja tersenyum sendiri. Ketemu teman di jalan, senyum. Ketemu Mas Tejo penjual mi ayam langganan, senyum juga. Ketemu Mbak Yati penjual jamu enteng jodoh, padahal aku tahu itu cuma jamu daun pepaya yang pahitnya nauzubillah, tetapi kata dia itu yang namanya strategi marketing, udahlah nggak apa senyumin juga.


Yang terakhir, ketemu tiang listrik yang tadi pagi aku ajak curhat, senyumin jangan? Bentar, lihat sikon dulu. Aku celingukan, memastikan tidak ada orang yang sedang melihat. Baiklah, senyumin aja.


Oh, tiang listrik, kenapa kamu cakep sekali hari ini?


"Tiang listriknya lucu, ya, Mbak?"


"Allahu akbar!" Aku terperanjat saat mendengar pertanyaan dari seseorang yang belum kuketahui wujudnya. Nggak ada orang perasaan.


"Saya di bawah, Mbak."


Refleks, aku mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


"Eh, ada orang ternyata. Bapak ngapain di situ?" tanyaku saat melihat seseorang berada di gorong-gorong selokan besar.


"Menurut Mbak, saya lagi ngapain? Masak nasi goreng?" Pria berkaus hitam itu balik bertanya sambil meletakkan tumpukan sampah yang mungkin ia ambil dari dalam selokan.


Aku meringis, lalu menggaruk kepala yang tak gatal. "Saya ngejar Lee Min Ho dulu, ya, Pak. Assalamualaikum!"


Tanpa menunggu jawaban beliau, aku langsung lari sekuat tenaga untuk pulang. Lari-lari di tengah hujan itu rasanya seperti menjadi Kajol. Kurang bawa selendang, terus muter-muter di pohon, terus kesamber petir. Astaghfirullah ....


"Lho, baru aja Bapak mau jemput."


Aku baru saja sampai di rumah, langsung menatap pria berkumis yang sudah berada di atas motor itu. Senyumku kembali mengembang, lantas segera menghambur ke pelukan beliau. "Kapan Bapak sampai?" tanyaku setelah melepaskan pelukan.


"Baru aja, mau langsung ke sekolahan pas Ibu bilang kalau kamu nggak bawa payung," jawab beliau sambil melepas helm. "Dipinjemin temen?" Mata Bapak terarah ke jas hujan yang kukenakan.


"I-iya."


"Beneran temen?" tanya Bapak lagi, kali ini terdengar menggoda.


"Apa, sih, Pak ...." Mendadak aku tersipu malu.


"Ciee ciee ...."


Aku semakin malu-malu meong.


"Gini-gini Bapak juga pernah muda, eh, sekarang juga masih muda ding." Bapak mengucap sembari turun dari kendaraan beroda dua itu, lalu memasukkan ke teras rumah.


"Ayo masuk, ntar keburu dingin kayak orang yang ngasih jas hujan itu," ujar beliau lagi, sebelum masuk ke rumah.


Loh? Eh?


***


Setelah berganti pakaian, aku menatap benda yang baru saja terpajang di kamar ini. Sembari mengeringkan rambut, aku terus saja tersenyum sendiri melihat benda itu, yang tak lain adalah jas hujan, kutaksir paling harganya 5000 rupiah. Tetapi ini bukan masalah materi, melainkan siapa yang memberi. Aiiih ....


Beneran dari Saka nggak, ya? Semoga saja Dion nggak bohong, kalau ketahuan bohong, lihat aja nanti! Kujadikan dia Dion penyet, free nasi dan es teh!


Bilang makasih ke Saka nggak, ya? Aku memandang ponsel yang tergeletak di ranjang. Aku punya nomornya, tetapi nggak pernah nge-chat sama sekali. Dia mulai berubah sejak SMP, dan saat itu kami sama-sama belum punya ponsel. Saat masuk SMA, aku mendapatkan nomornya dari salah satu teman.


Perlahan aku meraih benda pipih berukuran 6 inci itu. Mencari namanya sembari memikirkan mau chat apa.


"Manda, tolong pesankan mie ayam di tempat Kang Tejo, Nak!" teriak Ibu dari luar.


"Siap, Yang Mulia Ratu!" balasku, sambil terus memikirkan kata-kata yang akan aku kirim pada Saka.


Saka, selamat sore. Lagi apa?


Ish, terlalu basa basi.


Sore, Saka. Aku mau bilang makasih buat jas hujannya tadi. Semoga bahagia.


Lah, emang mau hidup bersama? Duh, gini amat mau chat gebetan pertama kali.


"Udah dipesenin belum, Nda?" Ibu kembali berteriak, kali ini untuk mengingatkan.


"Iya, Buk. Otw pesen."


[Ka, makasih jas hujannya.]


Send.


[Mas Tejo, pesen mi ayam tiga. Dianter ke rumah yes.] Pesan lain kukirim sesuai perintah Ibu.


Aku segera melempar ponsel ke ranjang. Deg-degan nunggu balasan dari Saka.


Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Seratus detik ....


Terdengar suara getar dari ponselku.


Yes! Dibales.


Jiaah, Mas Tejo ternyata.


[Maaf, Mbak Manda salah kirim? Ini saya Tejo, yang jualan mi ayam.]


Waduh! Aku menepuk jidat saat membaca nama isi pesan dan penerimanya. Bisa, bisanya salah kirim.


[Maaf, iya Mas. Kalau gitu tolong anterin mie ayam tiga, nggak pakai mie, ya.]


Apes.


[Terus yang dimakan apa itu, Mbak?] balas Mas Tejo dalam hitungan detik.


Maksudnya? Aku jadi bingung sendiri, dan langsung sadar setelah membaca ulang pesan yang kukirim sebelumnya.


[Maksudnya nggak pakai micin, Mas. Hehe.]


[Owalah. Siap, Mbak.]


Tunggu! Kalau ini ke kirim ke Mas Tejo. Berarti pesan satunya tadi ....


Aku segera mengecek dan benar saja, terkirim ke Saka! Dengan cepat aku langsung menghapus pesan untuk bersama. Untung belum dibaca!


Huft! Saka, Saka ... nggak dibolehin sama Tuhan kayaknya aku chat kamu.


"Manda! Sini, Nak."


Teriakan Ibu dari luar membuatku berpaling dari si jas hujan. "Nama yang Anda panggil, sedang sibuk. Silakan coba beberapa saat lagi," balasku dari kamar.


"Pak! Kata Manda nggak mau oleh-olehnya. Kasihkan siapa aja sana yang mau!"


Ha? Oleh-oleh? Waduh, gawat.


"Giliran oleh-oleh nomor satu, suruh bantu kerjaan rumah nomor satu juga, tapi dari belakang. Anak muda jaman sekarang–"


"Sudah, Bu. Jangan marah-marah, nanti cepet tua, katanya mau awet muda kayak Sandra Dewi." Ucapan Bapak berhasil memotong omelan Ibu seketika. Debest-lah pokoknya si Bapak! Malaikat penyelamat dari ceramah gratis Ibu.


Ibu menghela napas sambil mengelus pipinya. "Oh, iya, ya."


"Sini, Nda." Wanita yang mengenakan daster bunga setaman itu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Ini ada titipan oleh-oleh dari bosnya Bapak. Ntar bagiin ke tetangga, semua udah ibu kasih nama," ucap Ibu sembari memasukkan oleh-oleh itu ke paper bag.


Aku menatap tumpukan kain batik dan kardus bolu khas Bandung yang ada di depanku. "Terus yang buat aku mana, Bu?"


"Ini kayaknya. Coba lihat." Ibu mengambil kerdus berlogo merk sepatu dan menyerahkan padaku.


"Wuaaah, sepatu. Uhuuy! Makasih, Pak." Aku mengeluarkan sepatu kets berwarna putih bergaris soft pink itu dari kardus dan langsung mencobanya. "Pas banget, Mantap!"


***


Malam menjelang. Bapak dan Ibu pergi berkencan katanya, sedangkan aku disuruh jaga rumah. Nasib, nasib ....


[Nol, lagi ngapain?]


Kukirim pesan pada sahabatku itu, lalu segera berganti pakaian dan bersiap mengantar oleh-oleh tadi.


[Bisa nggak, sih, panggil nama lengkap aja, kebiasaan! Nal, Nol, Nal, Nol, nggak enak bacanya!]


Aku terbahak membaca balasannya.


[Iya, iya, mangap Nola Widyastusi Hapsari Wangi Sepanjang Hari Seperti Bunga Melati.]


Mengetik ....


[Jatuhnya kek judul sinteron azab, ya. Ada apa? Baru aja selesai maskeran.]


[Temenin anter oleh-oleh buat tetangga kuy, ini ada juga buat kamu,] balasku sambil berjalan keluar rumah.


[Sekarang?]


[Iya. Ini aku udah di depan rumahmu.]


Aku mengetik sambil terkekeh di depan rumahnya.


"Ini bukan ngajak namanya, tapi maksa!" Nola mengomel saat membuka pintu.


"Udah, ayo. Habis ini cuss ke rumah, aku punya film drakor baru," rayuku.


"Bentar, pamit dulu."


Nola kembali masuk, lalu kembali keluar setelah berpamitan.


"Kita bagi dua biar cepet selesai. Kamu bagian kanan, aku kiri."


"Lho, kamu nggak mau nganter ke rumah Saka?" protes Nola, karena rumah Saka masuk bagian kanan.


"Nggak berani, malu!"


"Hilih, lomba debat aja juara satu, masa ke rumah calon mertua nggak berani?"


"Beda itu, aku takut salah tingkah, Nol. Ke rumah Saka terakhir pas kita SD, pas SMP dia berubah pendiem dan mendadak aja jadi sungkan juga sama keluarganya," ucapku membela diri.


"Aneh juga sih, ya, tiba-tiba aja jadi renggang gini hubungan kita. Gini aja, ntar kita berdua barengan ke sana, itung-itung silaturahmi. Gimana?" tawar Nola.


Aku terdiam beberapa saat, lalu mengangguk setuju. Kami pun mulai mengantarkan oleh-oleh ke tetangga satu gang ini, yang terdiri dari 16 keluarga.


Yang terakhir, kami berdiri di depan rumah Saka yang berlantai dua dan bercat hijau itu. Pagar besi setinggi dada orang dewasa mulai kubuka dengan perlahan. Sumpah, deg-degan banget, kayak mau masuk ke rumah setan di wahana pemainan.


Kami masuk perlahan dan berdiri di depan pintu yang masih tertutup. Aku meremas plastik yang berisi oleh-oleh dengan perasaan tak karuan.


"Siap?" tanya Nola dengan tangan terangkat, bersiap mengetuk pintu. Aku membalas dengan anggukan.


Nola mulai mengetuk pintu, dan detik berikutnya dia tiba-tiba berlari keluar. Aku yang sangat terkejut bersiap mengikutinya, tetapi tertahan saat mendengar suara balasan dari dalam.


"Ya, sebentar."


Nolaaa ... nggak ada akhlak banget kamu! Aku celingukan, bingung.


Jantungku berdetak semakin kencang. Tangan mendadak dingin, keringat dingin pun tiba-tiba keluar di dahi. Mataku terpejam beberapa saat, lalu mencoba mengatur napas agar lebih tenang. Hingga akhirnya terdengar anak kunci diputar, disusul gagang pintu bergerak, lalu pintu terbuka lebar.


"Eh, Nak Manda. Kok tumben? Lama ndak ketemu, ya, perasaan? Apa kabar?" sapa Bu Lis, ibunya Saka.


Aku mencoba tersenyum manis dan fokus hanya pada Bu Lis, pintu yang dibuka lebar membuat mata ini mau tak mau melihat isi rumah yang berada di belakang Bu Lis. Terlihat jelas ruang tamu dan ruang TV dengan pembatas tipis.


"Al-hamdulillah, baik Bu Lis. Bu Lis se-hat?"


"Sehat, sehat, alhamdulillah. Mau cari Saka, ya?"


Eh!


"Bu-kan, Bu Lis. Ini cuma mau nganter oleh-oleh dari Bapak," balasku sambil menyerahkan plastik berwarna hitam kepada beliau.


"Wah, kok repot-repot. Apa ini?"


"Itu isinya ...." Aku yang bersiap menjawab mendadak terpaku saat melihat sosok yang tiba-tiba muncul di dalam sana, tengah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana hitam selutut.


Saka.


Ia seolah tak sadar kalau sedang ada tamu di sini, karena dengan santainya mengeringkan rambut dengan handuk dan berdiri menatap televisi.


"Roti sobek ...." Pikiranku langsung travelling saat melihat perutnya.


"Roti sobek?" Pertanyaan bernada bingung yang terlontar dari Bu Lis membuatku tersadar dan seketika mengalihkan pandangan. "Perasaan isinya kain batik sama bolu, Sayang," lanjut beliau.


Astagfirullah otakku!


"I-ya, maksud saya batiknya motif roti sobek, Bu. Eh, anu, bukan, bo-lu itu tadinya roti sobeknya Saka," jawabku tak jelas.


Aku ngomong apa ini?


"Roti sobeknya siapa?" Bu Lis terlihat semakin bingung.


Duh, aku harus ngapain sekarang? Tanganku semakin dingin. Mending aku pamit saja.


"Maaf, Bu. Sa-ya permisi dulu. Sekali lagi maaf, Bu. Waalaikumsalam. Eh, maksud saya, assalamualaikum." Aku pun langsung berlari sekuat tenaga.


RIP harga diri!


Bersambung