
"Malam minggu besok ada acara?"
Ucapan Saka terus saja terngiang di kepala, dan membuatku tersenyum tak jelas. Namun, detik berikutnya aku mendengkus. Karena kemarin setelah pertanyaan itu terlontar, aku tak lagi ingat apa-apa. Tiba-tiba saja sudah ada di rumah, katanya aku pingsan.
Memalukan sekali kamu, Manda!
Kutenggelamkan wajah ke lipatan tangan di meja, sambil meraung kesal setengah mati.
"Kesurupan kamu?" Terdengar suara Nola yang membuatku mendongak. Wajahnya tepat berada di depanku, jarak kami sangat dekat sekarang.
"Astagfirullah, Nol. Nanti kita dikira belok! Jauh-jauh, hush hush hush." Aku refleks menarik wajah ke belakang dan mengibas-ngibaskan tangan ke arahnya.
Gadis itu terbahak, lalu meletakkan dua botol air mineral di meja. Aku sudah menceritakan semua pada Nola tentang kejadian kemarin, termasuk tentang ucapan Saka tentang malam Minggu besok.
"Kalau beneran dia ngajak kencan, emangnya boleh pergi sama ibumu?"
Aku seketika menghela napas berat. Di sini masalahnya, peraturan Ibu terkadang memang membuatku kesal, salah satunya dilarang keluar malam kecuali sama keluarga atau Nola. Itu pun dibatasi jamnya.
"Itu dia masalahnya. Makanya kemarin aku nggak langsung jawab pertanyaannya Saka," balasku sembari mengeluarkan bekal makan dari dalam laci.
"Malah pingsan." Nola kembali terbahak. "Suruh aja Saka ke rumah," saran Nola sambil mencomot telur dadar di atas nasi kuning, bekal dari Ibu.
"Mana asik. Kencan, kok, di rumah," gerutuku.
"Lagian, belum tentu juga kali Saka ngajak kencan. Siapa tahu, dia cuma iseng tanya aja atau mau ngajakin jaga parkir di dangdutan? Kamunya aja yang terlalu ngarep kalau itu ajakan kencan." Nola lagi-lagi terbahak dan tampak puas mengejek .
Aku mencebik kesal, lalu mulai menikmati bekal dari rumah sebelum istirahat berakhir. Ibu memang selalu memberi uang saku dan juga bekal makanan. Aku pernah menolak dengan alasan malu, tetapi tetap saja beliau selalu menyiapkan setiap hari.
"Mumpung Ibu masih sehat dan bisa ngurusin kamu."
Jawaban itu terlontar saat aku bertanya kenapa mau repot-repot menyiapkan bekal sejak kecil sampai sekarang. Sebagai anak semata wayang, terkadang aku merasa kesepian saat di rumah, ditambah pekerjaan Bapak yang sering ke luar kota mendadak dan jarang di rumah.
"Kapan adikku lahir?" Pernah suatu waktu, tepatnya saat masih SD menanyakan hal itu pada mereka. "Aku pengin punya adik kayak temen-temen yang lain."
Ibu hanya terdiam, sedangkan Bapak tersenyum hangat seperti biasanya dan langsung membawaku dalam pangkuan.
"Manda tahu, kan, siapa yang menciptakan manusia?" tanya Bapak kala itu.
"Allah."
"Kalau begitu, Manda harus berdoa yang rajin supaya Allah kirimkan adik buat Manda."
"Tiap hari udah doa, tapi adik nggak dateng-dateng."
"Mungkin adik belum tahu rumah kita, makanya nggak dateng-dateng," balas beliau sambil mengelus pucuk kepalaku. "Terus berdoa, supaya adik cepet sampai. Oke?" Aku mengangguk, lalu memeluk Bapak erat.
Setelahnya, aku makin giat berdoa, tetapi hasilnya masih saja sama. Aku tak kunjung punya adik. Sampai suatu hari aku tak sengaja menemukan coretan Ibu di buku yang tersimpan di salah satu rak.
'Semua tak lagi sama, sejak dokter mengatakan kalau rahimku harus diangkat. Rasanya seperti kehilangan separuh nyawa. Beruntung, aku sudah memiliki bidadari kecil yang bernama Amanda. Kamu satu-satunya sumber kebahagiaan Ibu dan Bapak, Nak. Semoga kamu mengerti kenapa kami banyak melarang dan membatasi semua gerakmu selama ini, karena kami sangat takut kehilangan lagi.'
Ada yang menghantam dada saat membacanya. Sejak saat itu, aku tak lagi meminta, walau ada sedikit rasa kecewa. Namun, semua berangsur memudar saat Nola kehilangan adik serta ayahnya karena kecelakaan empat tahun silam.
"Saat kamu merasa dunia ini tak adil untukmu, lihatlah, banyak dari mereka yang mungkin menginginkan berada di posisi kita. Semua masalah akan terasa mudah, tergantung bagaimana kacamata syukur kita memandang," ucap Bapak yang selalu aku simpan dalam hati sampai sekarang.
***
Siang ini, sepulang sekolah aku diminta untuk menemani Nola bertemu guru di kantor. Aku memilih menunggu di luar, duduk di bangku depan yang langsung menghadap ke halaman tengah.
Kuembuskan napas pelan, lalu menyandarkan kepala di dinding dengan mata terpejam. Dan aku kembali membuka mata saat mendengar suara ramai dari tengah halaman sekolah. Ternyata ada pertandingan basket.
Aku menangkap sosok Saka di sana, tidak sebagai pemain, melainkan penonton di pinggir. Aku tahu, dia gemar olahraga sejak kecil kecuali basket. Bukan tanpa alasan, kepalanya pernah bocor gara-gara bermain basket saat SD dulu, semenjak saat itu dia trauma bermain basket dan memilih sepak bola untuk hobinya sekarang.
Saka, lelaki bertubuh tinggi itu sangat humble kepada siapa pun, rambutnya bergaya khas anak muda zaman sekarang, tetapi tidak dengan gaya berpakaiannya. Biasa saja, tapi tetap terlihat tampan. Bibit unggul memang!
Siwon lewat!
Lee Min Ho lewat!
Kok pada lewat? Iya soalnya nggak sesuai aplikasi. Dan kalau lihat Saka itu, rasanya kayak lihat masa depan. Aiiih ....
"Malam minggunya kapan, sih?" tanyaku pada Nola, saat kami jalan pulang dari sekolah.
"Yaelah, kalau nggak sabar kamu edit aja itu kalender di rumah, ganti hari Sabtu semua, biar cepet!"
Aku menarik rambutnya sebal. Saat Nola akan membalas, aku langsung berlari. Jadilah kita kejar-kejaran, kayak Kang paket COD yang ngejar ibu-ibu karena nggak mau bayar.
***
Hari demi hari berlalu, sampai akhirnya hari Sabtu tiba. Yang jadi masalah, Saka belum juga membahas tentang agenda hari ini. Dia beneran mau ngajak kencan apa cuma tanya-tanya kayak petugas sensus?
Sepulang sekolah, Nola ada rapat panitia untuk perpisahan nanti. Ya, dia salah satu anak OSIS, sementara aku tidak tertarik untuk bergabung. Sering kali Nola membujuk untuk ikut, tetapi aku tetap saja tak tertarik. Aku termasuk pribadi introver dan tim rebahan sejati. Aku pun berjalan pulang sendirian dengan gontai. Nggak ada lagi yang bisa diajak kejar-kejaran.
"Tumben sendirian?"
Aku memutar tubuh saat mendengar suara yang sangat familiar. Siapa lagi kalau bukan jodoh masa depanku, Saka. Bahkan bau parfumnya langsung tercium, tanpa harus memutar tubuh untuk melihat wajahnya. Jadi penasaran dia pakai parfum berapa liter? Awet banget, siang gini masih harum.
"I-ya, nih. Nola ada rapat panitia perpisahan," jawabku sok lembut. Padahal dalam hati jejingkrakan. Ada untungnya juga Nola nggak pulang bareng.
"Oh, ya. Makasih buat kemarin, kata Ibu kamu yang bawain wadah makanku," ucapku sedikit malu.
Asal kalian tahu, Ibu mengucapkan terima kasih karena Topperware-nya ketemu. Bukan karena anaknya pulang ke rumah dengan selamat. Nyesek nggak, tuh? Dahlah, besok berubah wujud jadi Topperware aja!
"Sama-sama."
Lalu hening, hanya terdengar suara langkah kaki kami dan lalu lalang motor yang melintas di jalan. Tak berapa lama, kami berbelok ke gang rumah.
"Nanti malam ada acara?"
Akhirnya, pertanyaan itu keluar juga. Kali ini aku nggak akan pingsan!
"Enggak ada, Ka."
Pasti mau diajak kencan, nih.
"Nanti aku ke rumahmu, boleh?"
Ha? Kencan di rumah nih ceritanya? Nggak asik, ah.
"Bo-leh, sih. Tapi ... kok, tumben? Ada apakah?" tanyaku dengan tangan memainkan tali ransel.
Saka tersenyum. "Lagi pengin aja, sampai ketemu nanti malam."
Ternyata kami sudah tiba di depan rumah Saka.
"Oke," balasku lalu melanjutkan perjalanan ke rumah, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Saka yang masih berdiri di sana.
Bukannya masuk, ia masih saja menatapku, bahkan sampai aku membuka pagar rumah. Barulah, setelah aku masuk ia baru membuka pagar pintu rumahnya, lalu masuk.
Aiiih ... kayak drakor dengan kearifan lokal.
Aku tersenyum sendiri malu-malu. Gini, ya, rasanya cinta sama monyet. Eh, maksudnya cinta monyet.
"Kenapa, Nda?" Suara Ibu mengagetkanku yang tengah berkhayal jadi monyet. Bukan, bukan, yang tengah berkhayal nanti malam mau kencan sama monyet. Ish! Kenapa monyet mulu yang ada pikiranku.
"Nggak kenapa-kenapa, Bu. Oh, ya, ntar malem Saka mau ke sini," ucapku sambil melepas sepatu.
"Mau belajar kelompok?"
Polos sekali ibuku ini.
"Nggak, Bu. Kayaknya mau maen aja."
"Kok, tumben? Ya udah nanti Ibu siapin air putih."
Jiaaah. Jangan lupa kasih pelet dan jampi-jampi, Bu!
***
Setelah salat Isya, aku sudah bersiap. Memakai pakaian terbaik dan sedikit berhias. Bapak yang melihatku hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala pelan. Tak berapa lama, suara ketukan pintu dari luar membuat senyumku semakin mengembang. Secepat kilat, aku berlari ke arah pintu, lalu mencoba tenang dan sedikit merapikan penampilan sebelum membukanya.
"Hai," sapaku.
Saka, dia berdiri di depan sana dengan sempurna. Kaus hitam yang dikenakannya sangat kontras dengan kulit putihnya. Ditambah memakai celana jins semakin membuatnya kece badai aduhai, subhanallah, masya Allah, Allahu Akbar. Ia juga membawa paper bag putih.
"Disuruh masuk, Nak. Jangan cuma dilihatin aja." Suara Bapak tiba-tiba terdengar di belakangku. Aku langsung salah tingkah.
"Eh, iya. Maaf, Ka. Ayo, masuk."
Dengan tersenyum, Saka masuk setelah melepas alas kaki. Lalu, ia mencium tangan Bapak.
"Ngapain itu tangannya?" Bapak menampik tanganku yang terulur ke hadapan Saka.
Aku meringis sambil menarik tangan kembali. "Siapa tau mau dicium juga tadi."
Saka tersenyum tipis, lantas duduk setelah dipersilakan. Kami terlibat obrolan ringan dan seru, Ibu pun ikut bergabung bersama. Bukan kencan ini namanya, tetapi rapat RT!
"Saya ke sini untuk menyampaikan sesuatu, Pak, Bu."
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Aku sedikit mengerutkan dahi saat mendengar ucapan Saka kali ini. Jangan-jangan mau nembak di depan orang tuaku?
"Saya berniat untuk melamar Manda."
Ha?
Aku langsung membelalak kaget, jantung hampir terlepas dari tempatnya saat mendengar itu. Dunia seakan terhenti beberapa saat, bahkan cecak yang mengoceh ikut terdiam. Nyamuk yang bersiap menghisap darah, seketika terpaku. Mbak Kunti yang sedang bernyanyi di atas pohon tauge juga seketika membisu.
Pandanganku beralih pada Bapak yang tampak kaget. Sementara Ibu ... sudah tergeletak di lantai. Pingsan, Gaes!
Apa aku harus nyusul Ibu pingsan juga?
Bersambung