
Pagi ini, aku berdiri lama di depan cermin setelah mengenakan seragam. Aku masih meratapi nasib, kenapa bisa ceroboh banget semalam?
Berkali-kali aku menghela napas panjang, mencoba melupakan barang sejenak kejadian itu, tetapi sangat sulit. Bahkan rasanya aku tak lagi punya nyali untuk bertemu dengan Saka setelah ini. Apa aku harus ke Korea buat operasi plastik?
"Manda! Jam berapa ini? Kamu nggak sekolah?" Panggilan dari Ibu kembali membuatku menghela napas panjang. Aku berjalan gontai meninggalkan kamar setelah meraih tas ransel di ranjang dan mencangklongnya.
Di meja makan sudah ada Bapak yang tengah membaca koran, sedangkan Ibu terlihat sibuk di dapur.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Bapak saat aku duduk di sampingnya. "Lesu gitu wajahnya."
Aku menggeleng pelan.
"Ada masalah di sekolahan?" Bapak memang sering menanyakan hal-hal kecil padaku sejak dulu, jadi nggak heran kalau hubungan kami sangat dekat.
"Hmm ... Bapak pernah malu ketemu orang?" tanyaku ragu.
Dahi pria yang suka mengenakan kaus putih oblong itu tampak mengerut. "Malu kenapa?" Bapak meletakkan koran, lalu menyesap kopi hitam di depannya.
"Malu karena ... pas lagi ngomongin orang, eh malah ketahuan sama orang yang kita omongin itu, " jawabku pelan.
Bapak terkekeh, membuat kerutan di sekitar matanya semakin tampak jelas. "Bapak jadi inget, dulu juga pernah salah sambung kirim pesan ke dosen, padahal saat itu lagi ceritain betapa nyebelinnya si dosen itu."
"Terus?"
"Kalau malu sudah jelas, cuma ya ... mau gimana lagi? Sudah telanjur terjadi, ibarat pepatah, nasi sudah jadi bubur, tinggal gimana caranya kita buat bubur itu jadi enak buat dinikmati. Beruntung, setelah kejadian itu sikap dosen bapak berubah lebih baik. Terkadang, Allah memang sengaja membelokkan kita, agar tidak terus menduga-duga dan berhenti membicarakannya di belakang."
Aku berpikir sejenak, sambil menyendok nasi goreng yang sudah disiapkan Ibu.
"Sudah minta maaf?" tanya beliau.
"Belum, Pak. Nggak kebayang gimana malunya kalau ketemu nanti," balasku dengan mulut penuh nasi goreng.
"Tulis aja di kertas kalau malu ngomong langsung." Bapak kembali menyesap kopi hitamnya. "Memangnya, siapa yang sudah buat anak gadis Bapak sampai malu kayak gini?"
Aku hampir saja tersedak saat mendengar pertanyaan itu. "Te-men, kok, Pak. Biasalah."
Bapak tampak mengangguk-angguk. "Oh, ya, tadi Subuh bapak ketemu Saka di masjid, dia titip salam buat kamu."
Detik itu juga aku terbatuk-batuk tak karuan, seraya memukul-mukul pelan dada yang tiba-tiba terasa sesak.
"Kenapa, to, kamu ini? Minum, minum, minum." Bapak langsung menuangkan air putih di gelas dan menyodorkan padaku. Dan aku langsung meneguknya habis, tanpa sisa.
"Ada apa?" Ibu yang baru saja dari dapur menatapku dan Bapak bergantian. Aku hanya menggeleng pelan sembari meringis, lalu kembali melanjutkan sarapan.
"Nda, ini bisa dimakan bareng temen-temenmu pas kunjungan ke Keraton nanti. Ibu bawain banyak," pesan Ibu sambil menutup wadah makan berwarna ungu itu, lalu memasukkan ke tas jinjing bekal yang setiap hari aku bawa ke sekolah.
Keraton? Lah, iya, ya. Aku menepuk dahi keras. Lupa, kalau hari ini ada kunjungan ke Keraton, itu artinya aku akan bertemu Saka, bahkan seharian sama dia? Ya ampun ... kayaknya aku harus beli topeng Spiderman nanti.
"Jangan sampe ketinggalan wadahnya. Inget, kan, kalau sampe ketinggalan Ibu bakal ngapain?" tanya Ibu yang seketika membuatku memutar bola mata malas.
"Iya, inget. Dicoret namanya dari KK," jawabku sebelum kembali menikmati sarapan.
"Anak pinter," balas wanita yang mengenakan daster itu dengan senyum mengembang, sedangkan Bapak terkekeh.
Apalah daya ini jika dibandingkan sama tempat makan Topperware, kalah pokoknya!
***
Aku sengaja berangkat melewati SD yang di depannya banyak pedagang jajanan dan mainan. Nola sudah berangkat terlebih dulu, katanya mau melanjutkan mengerjakan tugas kelompok, untuk presentasi nanti.
"Mas, beli topeng Spiderman."
"Berapa, Mbak?"
"Satu aja, yang penting setia," jawabku bercanda.
Si Mas bertopi hitam itu tertawa keras, lalu mengambilkan benda yang aku hendak beli.
"Kalau ini berapa, Mas?" Aku menunjuk bolpoin hitam yang atasnya terdapat hiasan kecil berbentuk bola.
"Itu ... 3000, kalau yang biasa 2000, kalau ini gratis." Yang terakhir ia menunjuk dirinya sendiri dengan tersenyum lebar. Sementara aku hanya membalas dengan senyum canggung, walau sedikit merinding.
"Tambah ini aja, Mas. Bayar 3000 nggak apa." Aku mengambil salah satu bolpoin bola tadi dan segera menyerahkan uang, lalu mengambil topeng Spiderman kemudian beranjak pergi.
Jam menunjukkan pukul 06.45 saat aku sampai di sekolahan. Aku langsung menuju ruang BK, mengintip dari celah jendela yang ternyata belum ada siapa-siapa di ruangan itu. Akhirnya aku memutuskan duduk di kursi depan, lalu mengeluarkan buku yang menyobek selembar, mengambil bolpen dan mulai menulis ucapan permintaan maaf untuk Saka.
'Dear, Saka. Maafin yang semalem, aku khilaf.'
Ish, terlalu formal.
Aku meremas kertas itu dan kembali menyobek kertas lain.
'Maaf soal semalem. Semoga kamu nggak marah atau makin menjauh dari aku. Eh, marah boleh ding, tapi jangan lebih dari tiga hari, nanti setannya seneng.'
Nah gini aja. Tambahin dikit deh. Dari Manda Amin.
Selesai.
Aku menutup bolpen bebarengan dengan bel tanda masuk yang berdering. Apa aku ke kelas dulu, ya? Aku merapikan barang bawaan lalu bersiap melangkah ke arah kelas. Baru selangkah maju, spontan aku memutar tubuh dan mengambil jalur lain. Mendadak hilang nyali saat melihat Saka berjalan di lorong depan.
Aku mengigit bibir bawah, sambil terus berjalan menjauh. Aduh ... rasa malu yang tadi sedikit memudar, tiba-tiba datang lagi.
"Manda! Mau ke mana kamu?" Tiba-tiba suara Pak Agus melengking dari arah belakang. Aku langsung menghentikan langkah, lalu perlahan memutar tubuh. Pria berkemeja batik itu tengah berdiri di depan ruangan BK bersama Saka yang ada di belakangnya. Aku pun refleks menunduk dan berjalan cepat ke arah Pak Agus.
"Ini, antar dulu ke kelas masing-masing, habis itu segera ke depan. Nanti kalian diantar Pak Cip pakai mobil sekolahan." Surat izin untuk guru kelas tersodor di hadapanku, dan dengan cepat aku menerimanya dan bergegas menuju kelas.
"Sudah siap? Ayo, masuk," ucap Pak Cip.
Aku yang masih belum berani memandang wajah Saka, berjalan membuntuti Pak Cip. "Pak, saya duduk depan saja boleh? Mabuk darat soalnya." Aku mengucap dengan senyum semanis mungkin.
"Ya, ya, boleh, masuk dan pakai sabuknya."
Yes!
Aku segera duduk di kursi depan, dan mobil pun mulai berjalan, meninggalkan sekolah. Sesekali aku melirik Saka dari spion, ia lebih banyak menatap ke arah luar jendela di sisi kanannya. Namun, saat aku kembali memperhatikannya tiba-tiba ia menoleh dan mau tak mau tatapan kami beradu lewat spion itu.
Aku yang mendadak salah tingkah, mencoba mengajak Pak Cip mengobrol sekenanya. "Pak Cip, tahu nggak kenapa pohon kelapa harus ditebang?"
Pria yang sudah beruban itu terlihat berpikir. "Karena mau roboh?"
Aku menggeleng. "Salah!"
"Lha terus?"
"Karena kalau mau dicabut berat." Aku tertawa terbahak-bahak ... sendirian.
Krik, krik, krik, krik ....
Dahlah, ntar aku ajak pohon kelapa pindah ke Planet Mars aja.
***
"Nanti bapak ke sini jam dua belas, kalau menurut jadwal acara selesai jam segitu," ucap Pak Cip saat kami tiba di depan Keraton.
Aku mengangguk. "Iya, Pak."
Lantas, mobil berlogo SMA-ku itu beranjak pergi.
Aduh! Topeng Spiderman tadi ketinggalan di mobil. Aku berdiri canggung di sebelah Saka.
"Sepertinya kita harus ke sana?" Saka membuka percakapan. Suaranya terdengar santai dan tenang.
"Oh, iya, a-yo." Mataku terarah pada rombongan siswa yang mengenakan seragam batik sekolah masing-masing. Kami pun berjalan beriringan.
Ayo, Manda. Kamu pasti bisa melawan rasa malu ini. Kamu gadis pemberani. Kecoa sama tikus aja bisa kamu bunuh pake sandal, masa ginian doang nggak berani? Aku mencoba menyemangati diri sendiri. Sampai akhirnya aku mengambil napas panjang, lalu mengembuskan perlahan, mencoba mengumpulkan tenaga untuk meminta maaf.
"Saka." Akhirnya aku berani memanggilnya, diikuti oleh langkah yang terhenti. Aku menelan ludah berat sambil menatapnya takut-takut.
Lelaki yang mengenakan tas ransel hitam itu ikut berhenti dan menoleh padaku. Tangannya yang tadi bebas berayun, kini ia selipkan ke saku celana.
Dengan cepat aku menyodorkan bolpoin dan kertas yang sudah kusiapkan tadi. Wajah Saka tampak bingung. "Buatku?" tanyanya dengan alis sedikit terangkat.
Aku mengangguk pelan. Tangannya terlihat ragu mengambil, dan saat benda itu sudah berpindah tangan, aku langsung berlari meninggalkannya.
***
Selama acara berkeliling di Keraton, aku berusaha menghindar dari Saka dan mencoba berbaur dengan siswa dari sekolahan lain. Walau ujung-ujungnya aku selalu mencuri pandang mencari keberadaannya.
"Keraton dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I secara bertahap, kemudian selesai pada tahun 1790. Dibangun menghadap langsung ke arah utara–Gunung Merapi. Sementara di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia," ucap seorang pemandu, yang mengenakan pakaian batik itu. "Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berlokasi di Jalan Rotowijayan Blok No 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Pada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta sebagai Raja di Keraton Yogyakarta, beliau juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta."
"Paviliun kompleks Keraton Yogyakarta dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang luhur," lanjutnya. "Seperti di gerbang masuk utama di depan tadi. Di sebelah atas gerbang, di bagian luar tedapat hiasan-hiasan relief berupa lima lebah yang melingkar di atas seekor buaya/biawak. Itu menunjukkan tahun pagelaran yang disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Lebih lengkapnya, ada di kertas yang sudah dibagikan tadi. Kalian bisa baca di sana."
Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari pemandu itu. Setelah berkeliling selama hampir dua jam, kami akhirnya beristirahat di pendopo. Dengan duduk lesehan, semua siswa berkumpul. Di sudut ruangan disediakan air mineral botolan serta beberapa makanan ringan. Aku celingukan mencari sosok Saka. Belum sampai menemukannya, tiba-tiba ada menyenggol pundakku lalu duduk di sebelahku.
Saka.
Ia membuka tutup botol air mineral yang di bawanya, sebelum diberikan padaku. "Belum ambil minum, kan?"
Aku menggeleng. "Ma-kasih."
Ia mengangguk kecil, lantas membuka botol yang lain dan meneguknya beberapa kali. "Sudah ambil makanannya?" tanyanya kemudian.
"Be-belum."
Tanpa kata Saka langsung berdiri dan mendekati meja tempat di mana kardus makanan di letakkan. Ia mengambil dua, mungkinkah sekalian untukku? Dan benar saja kardus berisi makanan ringan itu ia berikan padaku satu.
Gusti ... kenapa dia jadi manis gini?
Aku tersenyum sendiri tak jelas, hidungku auto kembang kempis. Setelah mengucap terima kasih, kami mulai menyantap makanan tersebut.
"Sudah enakan perutnya?" tanyanya di sela kami menikmati makanan. Aku mengangguk dan seketika ingat kejadian semalam.
"Hmm ... ma-maaf soal semalem," ucapku pelan dan masih tak berani menatapnya.
Hening. Tak ada balasan darinya.
Seketika, aku merutuki diri sendiri dan mencoba mengalihkan pikiran dengan mengambil onde-onde dan memakannya utuh.
"Manda."
Dengan mulut penuh, aku langsung menatap Saka. "Ya?"
"Malam minggu besok ada acara?"
Pertanyaannya itu mampu membuat napasku berhenti sejenak. Irama detak jantung yang tadinya sedikit tenang, mendadak berubah bak lagi nyanyi India lari-lari di antara pohon dan gulung-gulung di rumput. Bahkan, onde-onde di mulut yang belum aku kunyah langsung kutelan bulat-bulat.
Bersambung