
"Pak RT! Aku mencintai salah satu wargamu!"
Aku berteriak dari atap rumah dan membuat para tetangga yang tengah beraktivitas di sekitar memandang dengan tatapan biasa. Mungkin karena saking seringnya melihatku bertingkah absurd seperti ini, jadi bagi mereka biasa saja.
"Obatmu habis?" Nola, tetangga sebelah sekaligus teman dekatku itu bertanya sambil menyisir rambut pendeknya.
Aku menatapnya sekilas, lalu kembali meletakkan tangan di mulut sebagai pengganti toa untuk berteriak.
"Pak RT! Minta surat keterangan tidak mampu, Pak! Karena aku tidak mampu berhenti mencintai salah satu wargamu!" Aku tak menggubris ucapan Nola.
"Ish, pagi-pagi udah bikin geger wae. Buru turun!" Nola yang tadi masih berada di halaman rumahnya, kini sudah berdiri di depan rumahku.
"Bentar, aku masih mau menyuarakan aspirasi hati jomlo!"
"Udah buru turun, ibuku masak nasi goreng tanpa nasi, tuh. Mau nggak?"
Aku yang mendengar itu langsung memandang Nola dengan tatapan tajam. "Kamu mencoba menggoda imanku?"
"Itung sampe tiga, nih. Satu ...."
"Eh, eh, bentar dong." Aku gelagapan dan cari cara untuk turun cepat, masa iya lompat? Auto ketemu malaikat Izrail. Tadi aku naik gimana caranya, ya? Kok jadi lupa gini.
"Dua ...."
"Bentar, ish!"
Duh, tiba-tiba aku lupa cara turun dari sini.
"Dua setengah ....”
Bodo amat! Aku bersiap melompat, tapi langsung urung saat melihat makhluk indah ciptaan Tuhan tiba-tiba muncul di balkon salah satu rumah, yang berjarak lima petak dari rumahku.
"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?" ucapku lirih.
Namanya Saka. Tetangga sekaligus temanku dari kecil dan semoga jadi teman hidupku nanti. Aih ....
Pria berkaus hitam itu terlihat menggerak-gerakkan badannya, seperti tengah berolahraga ringan. Seperkian detik aku hanyut dalam gerakan itu sampai akhirnya aku mengerang kesakitan ketika ada lemparan sandal, tepat mengenai mukaku.
"Sandal siapa–" Teriakanku tertahan, saat melihat wanita berdaster yang tak lain adalah ibuku berdiri di bawah sana.
"Anak perawan, pagi-pagi udah kebanyakan tingkah, cepetan turun! Mau saingan sama tikus semalem yang kejar-kejaran di atas sana!" ucap beliau sambil berkacak pinggang.
Aku menggeleng cepat dan bergegas turun. Tiba-tiba saja cara turun cepat dari genting melintas di otakku. The power of kepepet sungguh benar adanya.
Sesampai di bawah dan menyerahkan sandal yang mengenai muka tadi. Aku tersenyum sambil menatap wajah wanita yang sudah melahirkanku itu dengan selebar dan semanis mungkin.
"Biasa aja senyumnya, bukan lagi iklan odol! Itu bawa masuk. Ibu beliin makanan kesukaanmu, makan satu buat sarapan, satunya bisa buat bekal sekolah nanti," ucap Ibu sembari menunjuk plastik hitam yang tergeletak di lantai.
"Ashiap, Nyonya Besar."
Ini yang aku suka dari Ibu. Walau terkesan galak, tapi ada manis-manisnya gitu. Sebelum beranjak masuk mengikuti Ibu, aku menoleh ke rumah Nola yang mendadak sepi. Teman macam apa dia, aku kesusahan turun sampai dilempar sandal, bukannya nolongin, malah ngilang!
"Ya ampun, Manda!" Teriakan Ibu dari dalam membuatku terperanjat. Duh, bau-baunya nggak enak, nih.
Aku segera masuk dan langsung menuju dapur. Benar saja, sayur di panci yang tadi dititipkan Ibu saat akan berangkat ke pasar sudah berubah menjadi hitam. Aku hanya bisa menelan ludah berat. Bisa-bisanya lupa, ya ampun ... siap-siap dapat ceramah gratis pagi ini.
Benar saja, detik berikutnya ceramah pun dimulai. Mulai dari aku sarapan, mandi, sarapan lagi, bahkan saat akan berangkat sekolah pun ceramah masih terdengar. Dan ceramah ini akan diputar ulang beberapa tahun kemudian. Lihat aja.
"Kenapa lagi?" tanya Nola, saat kami berjalan bersisian berangkat sekolah.
Aku meringis. "Lupa matiin kompor pas lagi manasin sayur."
Nola terbahak dan menepuk pundakku pelan. "Yang sabar, kejadian itu bakal diinget terus dan akan selalu dibahas oleh para ibu di dunia."
"Kayak kita," balas Nola. Lantas, kami tertawa bersama.
Detik berikutnya tawaku seketika lenyap karena melihat Saka keluar dari rumah. Ya, saat akan berangkat dan pulang sekolah, aku memang selalu lewat rumahnya, karena memang ini jalan terdekat menuju jalan raya.
Pria yang mengenakan hoodie hitam itu menoleh sebentar pada kami, lalu berjalan mendahului. Kami satu sekolahan, jarak sekolah yang lumayan dekat membuat anak-anak di sini memilih berjalan kaki.
Nola menyenggol lenganku pelan, dia tahu aku suka Saka."Pangeranmu, tuh."
"Makin hari, makin ganteng nggak, sih? Gemes!"
Nola mencebik. "Bucin terooos!"
Aku merangkul lengan Nola, lalu mulai melangkah di belakang Saka, dengan sedikit jarak. Sembari terus berjalan, aku sesekali mendengarkan celotehan Nola, tapi lebih banyak fokus pada gerakan yang dilakukan Saka. Cara dia menyapa tetangga atau teman saat berpapasan. Cara dia berjalan, dengan kedua tangan yang diselipkan ke saku hoodie. Cara dia menyugar rambut, sebelum akhirnya menutupnya dengan kupluk hoodie.
Sejak kecil, aku, Nola, dan Saka sering main bersama. Selain karena rumah kami yang dekat, orang tua kami juga teman satu sekolahan dulu. Awalnya semua berjalan biasa saja, sampai akhirnya candaan di antara teman menimbulkan jarak di antara aku dan Saka.
"Ciee Saka sama Manda, ciee ...."
"Ciee boncengan terus ciee ...."
"Ciee ciee pacaran, ya?"
Ya, berawal dari canda, hingga akhirnya berubah menjadi rasa.
Hal paling memalukan yang selalu terngiang adalah ketika Saka bertugas menjadi pembaca doa di upacara sekolah. Dia melafalkan doa di depan dan tiba-tiba aku berteriak 'amin' dengan sangat lantang. Membuat beberapa teman di sekitarku menoleh, termasuk guru, penjaga sekolah, burung yang berkicau, cecak di dinding, pohon beringin, pohon jambu, rumput yang bergoyang, semua menatapku dengan aneh.
Sial. Aku larut dalam halusinasi saat itu, aku kira Saka tengah berdoa supaya kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rohmah.
Malu sampai tujuh turunan. Sumpah!
Kebetulan di sekolahku ada tiga anak yang bernama Amanda, dan aku dijuluki Manda Amin, gara-gara teriak amin saat itu.
Semenjak saat itu kami semakin parah dijadikan bahan candaan. Aku, sih, santai, nggak tahu kalau Mas Anang, maksudku ... nggak tahu kalau Saka.
Awalnya kukira itu hanya candaan biasa di usia remaja, tapi lama-lama rasaku semakin nyata. Sementara Saka, dia berubah menjadi pendiam ketika kami bertemu dan terlihat menjauh secara perlahan. Walau tidak sepenuhnya jauh, tapi dia terlihat berbeda.
Tak masalah. Ini hanya masalah waktu. Tunggu saja tanggal mainnya di KUA terdekat. Lihat aja, aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku!
"Manda! Manda Amin! Woiii! Ngapain?"
Langkahku terhenti saat mendengar seseorang memanggil dengan keras. Seketika aku tersadar, kalau tengah berdiri di dekat tiang listrik dan menatapnya tajam.
Aku mengerjap cepat, lalu menoleh ke arah Nola yang sedang menatapku dengan ekspresi seperti menahan tawa. Sementara orang-orang di sekitar menatapku tampak aneh.
"Kasihan, ya. Masih muda, tapi jiwanya sudah geser, sampai tiang listrik aja diajak curhat."
Mataku membulat mendengar celoteh dari ibu-ibu yang berdiri tak jauh dariku.
"Yang sabar ya, Dik. Hidup ini memang berat, apalagi usia segini, penginnya pacaran tapi nggak ada yang mau."
Ha? Nggak gitu ceritanya ....
Jangan sampai Saka melihat ini, harga diriku dipertaruhkan. Aku celingukan mencari sosoknya. Belum sampai ketemu, tiba-tiba Nola menarik tanganku.
"Ayo cepetan, mumpung sepi!"
Kami gegas menyeberang. Namun, langkahku melambat ketika melihat Saka sudah berdiri di seberang sana dan seolah tengah tersenyum ke arahku. Refleks aku membalas senyuman itu.
Duh, Gusti ... ada yang berbunga, tapi bukan riba.
Bersambung