Cie Cie

Cie Cie
Part 4



Yogyakarta pagi ini disambut gerimis, saat suasana seperti ini cobaan terbesar anak sekolah adalah kasur empuk. Kalau cobaan bagi jomlo saat hujan, banyaknya kenangan, eaaa! Lebih parah lagi, godaan buat para manusia yang janji diet, eh, malah masak mi rebus ditambah dua telur, irisan cabai, dan nasi.


Namun, kali ini cobaanku bertambah lagi, yaitu Nola. Sejak berangkat, bahkan saat sampai di sekolah, ia terus saja meledak. Geser kayaknya ini anak. Gadis berkulit sawo matang itu tertawa terpingkal-pingkal jika membahas kejadian semalam. Dasar, nggak punya pri-pertemanan!


"Teman durhaka kamu!"


Seperti saat ini, ketika di jam istirahat, ia kembali tertawa nyaring dan kami jadi pusat perhatian teman sekelas.


"Ya maaf, aku cuma pengin kamu biar lebih deket sama calon mertua aja. Eh, tahunya malah hancurin harga diri," balasnya, yang diiringi oleh tawa melengking, persis kayak Mbak Kunti yang lagi nongkrong di atas pohon cabai.


Di tengah menikmati tawa Mbak Kunti, tiba-tiba terdengar bunyi benda ditendang dari arah depan membuat kami menoleh ke sumber suara.


"Agnes! Sini kamu!" Tenyata ulah siswa dari kelas sebelah masuk. Ia masuk tampak begitu marah dan memanggil lantang Agnes yang terlihat tengah mengobrol dengan teman satu gengnya. Kelas pun mendadak sepi.


Wajah cantik Agnes langsung tampak pucat, ia berdiri perlahan dan berjalan ke arah gadis yang bernama Dita, salah satu siswa yang terkenal sangar di angkatanku.


"Ini kamu?" Dita menyodorkan HP ke arah Agnes, mata cantik itu melirik sekilas, lalu mengangguk pelan.


Dan kejadian berikutnya, membuat beberapa dari siswa di kelas kami menjerit kaget. Tamparan keras mendarat di pipi putih Agnes. Uh ... aku refleks meringis, seakan bisa merasakan betapa sakitnya itu.


"Tau, kan, kalau Devan itu siapaku?!" teriak Dita terlihat penuh emosi.


Hilih. Masalah cowok ternyata, kayak sinetron.


"Tapi kata Devan, dia jomlo, kok," balas Agnes, sambil mengelus pipinya yang mungkin terasa sakit.


"Terus, kamu percaya gitu sama buaya?" tanya Dita lagi, sengit.


Mendengar kata buaya, refleks tawaku meledak. Spontan, Dita menatapku. Bahkan aku rasa, kini semua orang tengah menatapku juga.


"Kenapa? Ada yang lucu?" Gadis yang terlihat putih hanya saat di foto itu berjalan ke arahku. Nola yang tampak panik menyenggol lenganku pelan, seperti meminta berhenti tertawa.


"Iya, lucu banget!" jawabku sambil berdiri, kini kami saling berhadapan. "Udah tahu buaya, harusnya nggak usah kaget kalau di belakang sifat aslinya muncul."


"Nantangin?" Dita melotot ke arahku.


Ish, colok jangan?


"Heh, kamu pikir aku berani? Nggak, lah!" balasku tak kalah keras. Lalu terdengar suara tawa yang tampak ditahan dari sekitar.


"Diem! Nggak lucu! Jangan mentang-mentang kamu murid berprestasi, terus aku bakal takut gitu!" Ia mendorong kepalaku keras.


"Terus kenapa? Mau ngajak duel? Ayok! Tapi di kantin belakang!" Aku bergantian membalas mendorong kepalanya, ditambah bahunya, lalu dadanya, terakhir pusarnya.


Dita menatapku dengan wajah memerah. Entah karena marah atau kesakitan karena dorongan mautku.


"Zaman sekarang nggak model adu jotos buat buktiin siapa yang lebih hebat! Pakai cara elegan, kita duel makan bakso lima porsi, yang kalah harus lari muterin halaman sekolah dua puluh kali!" Aku melipat tangan di depan dada, menatap Dita yang tampak berpikir.


"Tapi ... kalau kamu takut, bilang aja. Aku maklum, kok, model cewek kayak kamu ini cuma bisa ngedit wajah aja di HP," lanjutku sambil memainkan alis naik turun.


"Siapa takut! Nanti pulang sekolah ketemu di sana!" ucap Dita, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas.


Sejurus kemudian epuk tangan terdengar dari Nola. Ia menepuk-nepuk pundakku, lalu mengambil bekal dari ibuku dan memakannya.


"Kenapa dimakan wei?" Aku merebut makanan itu kembali.


"Justru aku ini lagi bantuin, biar ada space kosong di perut buat nanti makan bakso lima porsi. Banyak lho itu, mau saingan sama Tanboy Kin kamu?" Nola kembali merebut makanan itu dan melahapnya.


"Halah, modus!" Aku menjitak kepalanya pelan. Lalu pandanganku tertuju Agnes yang berjalan ke tempat duduknya.


"Suka sama cowok itu sah-sah aja, Nes, tapi jangan bo doh. Dah tahu, Devan cowok kayak gimana, suka ngejalin hubungan sama banyak cewek dalam satu waktu, masih aja kamu ladenin. Tipe-tipe cowok kayak dia itu cuma penasaran di awal aja, pas udah icip, habis itu dibuang," ucapku pada Agnes yang masih mengelus pipinya.


"Yang ada, ribut sama cewek dia yang lain. Jadi cewek, jangan mau dikadalin sama buaya," lanjutku lagi.


"Luar biasa, Manda Amin Teguh!" Tiba-tiba Nola bertepuk tangan keras. "Eh, eh, aku tahu kenapa cewek gampang termakan rayuan buaya?


"Kenapa emang?"


"Karena mereka percaya lidah buaya banyak manfaatnya! Hoahahaha." Nola terbahak dengan sendirinya.


Kenapa, sih, dia?


***


"Siap?" Nola memberi aba-aba sebelum aku dan Dita mulai melahap bakso lima mangkuk di hadapan masing-masing.


Kami mengangguk hampir bersamaan.


"Satu ... dua ... tiga! Go!"


Mangku pertama yang berisi lima bakso sedang dan bihun, serta sawi itu mulai kulahap. Bakso kantin sekolahan memang tak sebanyak yang dijual dipinggir jalan, tetapi kalau makan lima mangkok kayak gini, bisa bikin puasa makan dua hari dua malam.


Selama makan aku juga berpikir keras, ini siapa nanti yang bayar?


Mangkuk pertama habis, lanjut mangkuk berikutnya. Dari ujung mata, kulihat Dita masih berusaha menghabiskan mangkuk pertama. Teman-teman yang menonton bersorak-sorai menyemangati kami. Jadi berasa kayak lomba 17-an ini.


Aku meletakkan mangkuk kosong kedua, perutku mulai terasa penuh. Aku mengambil napas sejenak dan meneguk es teh sebelum melanjutkan makan. Beberapa kali Dita kulihat terbatuk, mungkin karena makan terlalu cepat. Kasihan juga sebenarnya.


Mangkuk ke tiga mulai kusantap, mulai dari memasukkan dua bakso utuh ke mulut dan berusaha mengunyah dengan pelan, melihat Dita yang masih bertahan di mangkuk pertama. Jangan sampai aku tersedak bakso dan viral di sosmed.


'Gadis SMA meninggal, diduga karena tersedak bakso.'


Ya Allah, aku masih mau nikah sama Saka. Jangan ambil nyawaku dulu.


Baru saja menyebut namanya dalam hati, tiba-tiba sosok itu muncul dari arah depan bersama teman-temannya. Sontak, aku terkejut dan langsung tersedak bakso yang belum sempurna aku kunyah.


"Eh, eh, Manda, minum dulu, minum." Nola menyodorkan segelas es teh padaku.


Aku segera meminumnya sembari menepuk-nepuk pelan dada yang terasa sesak.


"Udah oke?" tanya Nola. Aku mengangkat jempol tangan kanan sebagai balasan.


Kantin yang terletak di belakang sekolah ini memang sering dipakai nongkrong anak-anak sepulang sekolah dan ini pertama kali aku ke sini ketika pulang sekolah. Karena, sebagai tim rebahan sejati, setelah sekolah itu pengennya cepat pulang terus rebahan sambil nonton drakor.


Konsentrasiku seketika pecah saat ada Saka. Apalagi setelah tragedi roti sobek semalam. Ish, ish, ish. Tetapi demi menjaga harga diri yang sempat tercoreng, aku harus menang. Aku harus semangat!


"Semangat! Semangat! Semangat!" teriakku spontan.


"Kenapa ih, aneh. Kesurupan? Buruan itu dimakan." Nola menyenggol pundakku.


Saka ... kowe semangatku! teriakku dalam hati.


Penuh semangat aku kembali menyantap bakso itu. Dengan kekuatan penuh aku menelan semuanya, termasuk sendok, garpu, mangkuk, gelas. Mendadak jadi Limbad!


Sampai akhirnya ....


"Manda Amin menang!" teriak Nola heboh. Diikuti oleh tepuk tangan bahagia seluruh warga se-Indonesia, kecuali anggota DPR.


Haduh, perutku ... penuh dan sesak rasanya. Aku meneguk sisa es teh dengan sisa-sisa tenaga.


"Yang kalah bayar," ucapku sambil mengelus perut. "Ayo, Nol, pulang. Haduh perutku ...." Aku mengambil tas dan segera beranjak meninggalkan kantin.


Maaf, Saka. Rasa kenyang mengalahkan rasa grogi saat lewat di dekatmu kali ini. Aku berjalan melewatinya dan bergegas pulang.


Sesampai di rumah, aku langsung merebahkan diri di sofa. Mengelus perut yang sepertinya mau meledak.


"Ya ampun, perutku ...."


"Kenapa itu, laper?" Ibu bertanya sembari bersiap-siap seperti mau pergi. "Sana makan, ibu mau arisan RT dulu. Ibu masak bakso tadi."


Bakso lagi?


"Tidaaak!" Aku langsung berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Jangan sampai bakso menemukanku!


***


Seusai salat Magrib, aku ketiduran di atas sajadah dan terjaga saat mendengar ketukan pintu dari arah luar. Setelah sedikit merenggangkan badan, aku mukena dan berjalan keluar kamar. Sepi? Pada ke mana? Pasti kencan lagi.


Ketukan kembali terdengar.


"Ya ... sebentar!"


Kubenahi ikat rambut sebelum membuka pintu.


"Ya?" sapaku pada lelaki berkaus putih yang membelakangi pintu. Detik berikutnya, aku menelan ludah berat saat tahu siapa tamunya. Saka.


Lelaki berkulit putih itu kini berdiri di depanku. Tiba-tiba ia menyerahkan plastik berwarna hitam ke arahku. "Dari ibuku."


"O-oh, ma-kasih."


"Sama-sama."


"Ma-u masuk dulu?" tawarku. Duh, mana sepi lagi. Pasti ini bisikan setan.


"Kapan-kapan aja."


"O-oke."


Jawab kapan-kapan aja, tapi kenapa nggak pergi-pergi? Mana suasana mendadak jadi panas gini.


"Ka-lau gitu, aku masuk dulu," ucapku akhirnya. Bisa khilaf lama-lama kalau terus kayak gini, aku pun bersiap menutup pintu.


"Manda."


Gerakan tangan sontak terhenti saat namaku dipanggil. Setelah sekian lama, akhirnya dia memanggil namaku lagi. Aku berusaha menahan senyum yang hampir meledak.


"Kenapa, Ka?"


Ia tampak merogoh sesuatu dari saku celananya. "Kata ibuku, obat ini bisa mengurangi sakit perut dan aman dikonsumsi umum, karena dosisnya rendah." Terlihat tablet obat yang berada di plastik bening tersodor di hadapanku.


Tanganku terulur menerima obat itu, mengingat ibunya Saka adalah dokter umum. Tetapi, dari mana dia tahu kalau aku lagi sakit perut?


"Ma-kasih, Ka. Dan makasih juga buat jas hujannya kemarin."


"Sama-sama."


Ia tersenyum tipis. Senyum, Gaes. Senyum sama aku! OMG! Aku merasa jadi Mbak Kunti yang lagi di Planet Mars sekarang, melayang-layang.


"Aku pulang dulu," pamitnya.


"I-ya. Hati-hati, Sayang. Maksudku, hati-hati di jalan. Jangan lupa pake helm."


Duh, ngomong apa aku ini. Padahal cuma sejengkal jalannya, ngesot pun sampai.


Saka lagi-lagi tersenyum, lalu beranjak keluar teras. Segera kututup pintu dan melompat-lompat kegirangan. Mendadak perutku langsung sembuh.


Nola harus tahu! Aku Segera ke kamar, meraih ponsel di ranjang dan langsung mencari nama Nola. Sejurus kemudian, terdengar sambungan diangkat.


"Nol, aku mau cerita penting banget! Barusan Saka ke sini bla bla bla ...."


Aku menceritakan semuanya tanpa membiarkan Nola berkata apa pun.


"Perasaan semalem aku nggak jadi ketemu Singa, tapi bisa hoki gini, ya? Ya ampun ... eh, kamu di rumah? Aku ke sana, ya? Sendirian, nih, di rumah."


Sepi.


"Nol? Halo, Nol? Masih dengerin aku, kan?"


"Iya."


Eh, suara cowok? Loh, kok? Aku yang kaget langsung melihat layar ponsel. Lebih kaget lagi karena bukan nama Nola yang tertera di sana, melainkan ... Saka!


Dahlah, habis ini mau buat surat pindah ke Planet Mars.


Bersambung