Childfree

Childfree
Bab 9



Hening ...


Kosong ....


Tak ada siapapun di dalam ruangan ini, membuat Dilla langsung mengerutkan keningnya. "Mas Bagas ke mana? Kok kosong?" gumamnya sembari melangkahkan kakinya lebih dalam memasuki ruangan.


Dilla baru teringat, kurang lebih ia menginjakkan kaki di ruangan suaminya ini sekitar 3 bulan yang lalu. Iyah ... sebab selama 3 bulan ini ia selalu di sibukkan dengan pekerjaannya yang hampir tak pernah habis.


Ceklek ...


Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Dilla langsung menoleh ke arah sumber suara. "Ma--"


Kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya terhenti begitu saja di tenggorokannya saat ia melihat yang datang bukanlah suaminya, melainkan Ob.


"Maaf, Buk. Saya ke sini mau membersihkan ruangan," ucap pegawai tersebut sembari mendundukkan kepalanya.


"Oh, iya. Silakan," balas Dilla sedikit menyingkirkan tubuhnya, membiarkan pegawai tersebut melewatinya begitu saja. "eoh, maaf. Apa bapak sudah datang?"


Pegawai itupun langsung membalikkan badannya dengan tangan yang masih memegang kain lap yang akan digunakannya untuk mengelap meja. "Maaf, Buk. Biasanya bapak memang datang rada siangan,"


Sontak saja Dilla langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari pegawai berseragam biru itu barusan. Membuatnya tanpa sadar melangkahkan kakinya mendekat seakan ingin bicara lebih jelas dengan ob tersebut. "Maksudnya biasanya bapak nggak dateng sepagi ini?"


"Iya, Buk." balas pegawai tersebut seraya menganggukkan kepalanya.


Dilla langsung membuang pandangannya ke sembarang arah, jari-jarinya meremas ujung berkas yang ada di tangannya ini. Ia melangkahkan kakinya dan meletakkan berkas tersebut di meja dengan kasar.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Dilla langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sang suami dengan amarah yang memenuhi hatinya.


Sementara ob tersebut hanya memandang bingung kepergian istri bosnya tersebut. "Seperti di film saja,"


Sapaan dari karyawan kantor tak membuat Dilla merelakan senyumannya, sungguh sulit baginya untuk sekedar menarik senyum di bibirnya saat ini. Paling baik ia hanya membalasnya dengan anggukan kepala samar.


Brakk


Dilla masuk ke dalam mobil dengan nafas yang masih memburu, entah mengapa ia merasa sakit, bahkan ia sendiri tak tau ke mana perginya suaminya sepagi ini.


Dilla memejamkan matanya sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, berulang kali ia menarik nafasnya panjang sebelum kemudian menghembuskannya secara perlahan. Inilah cara yang paling ampuh untuk meredam emosi menurut Dilla. Benar saja ... setelah melakukannya selama beberapa kali, Dilla merasa dirinya jauh lebih baik dan tenang.


"Jangan negative thinking. Oke!" ucapnya pada dirinya sendiri dengan senyuman kakunya.


Dilla pun langsung mengarahkan kaca padanya, melihat pantulan dirinya di kaca membuatnya langsung berupaya untuk kembali menampilkan senyuman indah alaminya.


Tetaplah tersenyum dalam keadaan apapun ....


Setidaknya itulah kata-kata yang akan selalu Dilla ingat setiap hari, menurutnya dengan tersenyum akan membuat tubuhnya mengeluarkan energi positive.


Diraihnya sabuk pengamannya dan lekas dipasangkan pada tubuhnya sebelum kemudiam ia menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota.


Sesampainya di rumah Dilla langsung bersiap-siap untuk pergi ke butik. Banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikannya, saat hendak mengambil tasnya, ia baru teringat pada ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas nakas.


Dengan langkah pelan, Dilla meraih ponselnya. Dilihatnya sebuah pesan yang dikirimkan oleh suaminya beberapa waktu yang lalu, tanpa pikir panjang, Dilla pun langsung membukanya.


Dilla langsung menghembuskan nafas lega setelah membaca pesan singkat yang dikirim suaminya tersebut, setidaknya ia tau alasan suaminya tak ada di kantor tadi.


Tanpa sadar Dilla langsung tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya, ia melangkahkan kakinya dengan riang keluar dari kamarnya.


Tak ... tak ... tak


"Mbak, aku berangkat dulu, 'ya," pamitnya pada Mbak Lastri yang tengah menyapu lantai.


Mendengar suara majikannya, langsung saja membuat Mbak Lastri menoleh ke arah sumber suara dengan senyuman lebar di bibirnya. "Iya, hati-hati di jalan," balasnya yang langsung di balas dengan acungan jempol oleh Dilla.


Dilla melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia mencoba menikmati pemandangan membosankan khas ibu kota yang dilihatnya setiap hari.


Tiba-tiba saja ia menginginkan bubur ayam yang di jual di dekat taman. Membuat Dilla tanpa pikir panjang langsung memutar mobilnya. Ia sedikit kesal karena baru menginginkan makanan itu sekarang, harusnya tadi saat ia pulang dari kantor suaminya hingga ia tak perlu bolak balik seperti ini.


Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit, Dilla dibuat kecewa karena ternyata tak ada gerobak bubur ayam di sana.


"Aishhh, menyebalkan." geramnya sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Deggg


Saat hendak memutar arah, tanpa sengaja Dilla seperti melihat sosok suaminya di dalam sebuah mobil dengan kaca terbuka bersama seorang wanita.


Sontak saja Dilla langsung membelalakkan kedua matanya saat melihatnya. "Itu? Mas Bagas?"


Dilla langsung menajamkan penglihatannya, dilihat dari mobilnya itu bukanlah mobil suaminya, bahkan berbeda merk, warna, dan segalanya, bahkan ia sendiri tak tau itu mobil siapa.


"Apa aku salah lihat, ya?" gumamnya masih dengan memandang mobil yang kian menjauh darinya tersebut. "tapi kok mirip banget sama Mas Bagas?"


Dilla masih bergelut dengan pikirannya sendiri, bahkan tanpa sadar ia menggigit pelan kuku jarinya sendiri. "Halah, paling salah orang aja. Itukan bukan mobil Mas Bagas. Benar! Katanya kita punya tujuh kembaran di dunia ini, mungkin aja itu tadi kembarannya Mas Bagas."


Tak mau larut dalam pikiran negatifnya, Dilla langsung menggelengkan kepalanya kuat, berharap pikiran itu akan segera menghilang dari otaknya. Tangan dan kakinya sudah tergerak kembali untuk memutar arah mobilnya, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota.


Setelah cukup lama mengemudi, akhirnya Dilla pun sampai di butik miliknya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia langsung masuk begitu saja ke dalam butik dengan sambutan hangat dari para pegawainya. Membuatnya terus memasang senyuman lebar untuk membalasnya.


"Ahhh,"


Dilla mendudukkan bokongnya di kursi kejayaannya sembari membuang nafasnya kasar, ia benar-benar merasa lelah, bahkan sebelum ia memulai pekerjaannya.


Beberapa saat kemudian Dilla memperbaiki posisi duduknya senormal mungkin, helaan nafas panjangnya kembali terdengar saat ia melihat banyaknya tumpukan berkas di mejanya.


Inilah pekerjaan yang menantinya, beberapa hari kedepan ia akan sangat sibuk meninjau design-design yang akan dipamerkannya dalam acara nanti.


Meskipun malas, Dilla berusaha mengulurkan tangannya untuk meraih berkas yang berada di tumpukan paling atas.


Srekk


Baru membuka halaman pertama saja sudah membuat Dilla tak berselera, dalam keadaan yang seperti ini tak seharusnya ia terus memaksakan diri untuk bekerja.


"Mbak, minta kopi."