
Dilla langsung menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya Siska yang datang ke arahnya dengan nampan yang berisi es teh. Siska pun langsung menyajikannya di atas meja, satu untuknya dan satu lagi untuk tamunya. "Diminum, Dil." ujarnya mempersilahkan.
"Iya, Sis. Makasih," balas Siska dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.
Sementara Siska sendiri langsung mendudukkan bokongnya di sofa yang berada di sebelah kiri Dilla.
Dilla sendiri masih memperhatikan minuman yang ada di depannya, masih belum ada niatan baginya untuk menyentuh minuman tersebut. Berbeda dengan Siska yang langsung mengulurkan tangannya meraih es teh yang terlihat begitu menggoda untuk di nimkati dalam cuaca sepanas ini.
Glek ... glek ... glek
Siska tampak begitu menikmatinya, Dilla memperhatikan benda cair tersebut masuk ke dalam mulut Siska dan akhirnya meluncur membasahi tenggorokannya. Bahkan Siska menenggaknya berkali-kali, hingga hanya tersisa sekitar setengah gelas saja saat Siska kembali meletakkannya ke atas meja.
"Nggak minum, Dil?" tanyanya tiba-tiba yang membuat Dilla langsung tersentak kaget.
"Oh, iya." Dengan ragu-ragu Dilla mengulurkan tangannya dan meraih segelas teh tersebut, ia memperhatikannya dengan perlahan hingga akhirnya gelas tersebut benar-benar dekat dengan wajahnya.
Bukannya apa-apa, ia melakukan hal ini karena memang trauma. Dulu saat ia membeli minuman seperti ini, tanpa sengaja ia melihat kotoran yang berada di dalam minumannya, sejak saat itulah ia selalu was-was dengan minuman atau makanan yang berasal dari tempat yang dianggapnya tidak steril.
Dilla memejamkan matanya saat gelas tersebut menyentih bibirnya.
Glekk ...
"Ahhh ...." Dilla memang sengaja mengeluarkan suara tersebut, saat seteguk minuman itu berhasil masuk ke dalam kerongkongannya. Ia pun langsung meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
Pandangan Dilla pun langsung beralih ke pintu yang menghubungkan bagian depan dengan bagian lanjutan rumah ini. "Kok sepi banget?" tanyanya basa-basi.
"Iya, nih. Lagi pada keluar, biasanya sih mancing," balas Siska yang kemudian langsung merubah posisi duduknya, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman dari sebelumnya. "biasanya pulangnya sorean."
"Ohhh ...." Dilla menganggukkan kepalanya mengerti, sebelum kemudian keningnya kembali berkerut. "memangnya kemana kalau mancing? Di sini ada kolam ikan, ya?"
"Bukan kolam ikan, tapi empang. Noh, di sana ... sama para tetangga." balas Siska sembari menunjuk ke arah luar dengan menggunakan dagunya.
Dilla langsung meringis mendengar penjelasan singkat temannya tersebut, tak habis pikir dengan yang mereka lakukan.
Dengan sekuat tenaga Dilla menahan dirinya untuk tidak lagi mengipas wajahnya dengan menggunakan tangannya, walaupun sebenarnya ia merasa begitu gerah selama berada di sini. Namun, saat ia menoleh ke arah Siska, untuk kesekian kalinya ia kembali di buat terkejut dengan reaksi Siska yang sama sekali tak kepanasan. Justru yang ada dia hanya bersikap santuy seperti di tengah berada di hamparan salju saja.
"Oh, ya. Mau makan sekalian, nggak? Tadi aku udah masak sayur asem," tawar Siska yang teringat dengan masakannya pagi ini. "lo nggak pernah masak, kan?" tanyanya dengan nada mengejek.
Sontak saja Dillla langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, lagian kan tadi juga udah maka." Tolak Dilla yang akhirnya menemukan alasan yang bagus. Sejujurnya, sekalipun tadi ia belum makan, ia juga tak akan mau untuk numpang makan di rumah Siska ini.
Tanpa sengaja pandangan mata Dilla tertuju pada jam yang tergantung seadanya di dinding. "Eh ... pulang dulu, ya. Udah mau sore,"
"Loh, mau pulang?" tanya Siska yang terkejut dan hampir tak percaya.
"Iya, sebentar lagi juga suami gue pulang." Dilla langsung meraih tas miliknya dan lekas bangkit dari posisi duduknya.
Melihat Dilla yang sudah berdiri, sontak saja membuat Siska juga ikutan berdiri.
"Kalau gitu gue balik dulu, ya."
"Iya." Dilla pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah Siska, tentu saja diikuti dengan sang pemilik rumah.
"Astaga!"
Langkah kaki Dilla langsung terhenti saat berpapasan dengan suami Siska secara tiba-tiba. Dilihatnya penampilan suami dari sahabatnya ini. Tak ada yang aneh memang, tapi rada sedikit aneh menurut gaya berpakaian santai menurut versi dirinya. Pandangan matanya juga beralih pada sosok kecil yang berada di sebelah laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya.
Hatinya meringis melihat penampilan anak kecil tersebut, bagaimana tidak? Tubuhnya terlihat begitu kumal dengan baju yang lebih mirip kain lap, bahkan di depan bagian bawah bajunya juga ada lubang-lubang kecil, yang entah karena dimakan tikus atau kecantol paku, ia sendiri juga tak tau dan terlalu malas untuk berfikir. Lihat juga wajahnya, di area pipinya juga terlihat dengan jelas ingus yang sudah mengering, membuat Dilla benar-benar tak habis pikir dan tak mengerti bagaimana cara temannya ini mengurus keluarganya.
"Udah mau pulang?" tanya suami Siska tiba-tiba, membuat pandangan Dilla pun langsung beealih padanya.
Dilla memberikan senyuman tipis sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, nih. Udah mau sore juga."
"Katanya mancing? Kok nggak dapet ikan?" tanya Siska tiba-tiba.
"Adek udah pengen pulang, katanya laper. Jadi, ya udah, deh. Kita pulang aja sekalian," balas sang suami.
"Iya, aku laper," sahut si kecil yang kemudian mengelus perutnya.
"Ah ... iya." Dilla pun langsung merogoh isi dari tasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalamnya. Dilla pun seikit mencondongkan tubuhnya ke arah anak Siska tersebut dan menyodorkan uangnya. "Ini, buat beli es krim."
Namun, anak kecil itu hanya terdiam menatap uang yang di sodorkan Dilla. Hingga kemudian pandangannya pun beralih pada bapak dan ibunya secara beegantian, seolah-olah meminta persetujuan melalui sorot matanya.
"Aduh, nggak usah repot-repot, Sis." tolak Siska yang kemudian melangkahkan kakinya mendekat pada anaknya, terlihat Siska yang meremas pelan pundak anaknya.
Melihat hal itu, Siska pun tersenyum tipis. "Nggak papa kok, nanti kan bisa buat beli es krim, kamu suka es krim, kan?" tanya Dilla dengan menahan bau tak sedap yang menguar dari badan anak kecil tersebut.
Anak kecil itupun langsung menganggukkan kepalanya dengan raut wajah polosnya, "Iya, suka."
"Nah ... kalau gitu ini buat beli es krim nanti." Dilla pun langsung meraih tangan mungil tersebut dan lekas meletakkan uangnya di tangan mungil itu.
"Eh, aduh, Dil. Nggak perlu ngasi uang segala." Siska pun langsung merebut uang tersebut dari tangan anaknya dan hendak menyodorkannya kembali ke arah Dilla.
"Udah nggak papa, lagian aku kan ngasinya ke anak lo."
Lagu lama kaset busuk ...
Pura-pura nggak mau justru semakin memperjelas jika dirinya munafik, tentu saja orang yang pintar akan langsung bisa menangkap ekspresi yang menunjukkan apakah orang tersebut benar-benar tak mau menerimanya atau hanya sekedsr pura-pura tak mau.
"Bilang apa sama tante?"
"Makasih, Tan."
"Sama-sama," balas Dilla dengan senyuman tipisnya. "ya udah, gue balik dulu."
Dilla pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya.
"Mobilnya bagus ya, buk."