Childfree

Childfree
Bab 1



Waktu terus berjalan, harusnya pemikiran makhluk di dunia ini juga ikut berkembang. Jangan sampai hidup di tahun ini, tapi pemikiran masih tertinggal di jaman majapahit.


Anak, anak, dan anak.


Kenapa sih semua orang pemikirannya kolot banget, memukul rata kebahagiaan orang dengan standart kebahagiaannya? Kayak yang, lo gak bisa apa bahagia sendiri dan gak ngusik hidup orang lain? Hidup orang lo urusin aja, padahal gak ada gunanya, mending mikirin hidup sendiri yang masih awut-awutan.


Seperti yang dialami wanita cantik bernama Dilla yang bekerja sebagai seorang designer. Bisa dibilang hidupnya ini sempurna, memiliki wajah cantik, karir yang bagus dan suami yang begitu menyayanginya.


Usia pernikahannya dengan Bagas Wijaya menginjak 3 tahun, tak ada yang berubah dari pernikahan keduanya. Hidupnya masih sama bahagianya seperti sejak pertama kali menikah, keduanya sering kali berlibur ke manapun yang keduanya inginkan. Mulai dari Bali, keliling Indonesia, Asia, Eropa, dan yang terakhir keduanya baru saja berlibur ke cappacodia.


Ya ... tak ada anak yang menjadi penengah di antara keduanya, semuanya berjalan sesuai keinginannya yang memang tak ingin punya anak. Semuanya sudah keduanya diskusikan bahkan jauh-jauh hari sebelum menikah.


"Owek ... owekkk ... Owekk,"


Suara tangisan balita membuat semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. "Rin, anak kamu bangun tuh."


"Uuu cup ... cup ... cup, jangan nangis, Nak." Rini langsung bangkit dari posisi duduknya, ia berdiri sembari menggoyangkan pelan tubuhnya, tak lupa dengan tepukan pelan pada bokong gadis kecil yang masih menangis tersebut.


Lambat laun suara tangisan itu semakin meredup, hingga akhirnya tak terdengar lagi suaranya. Dapat dipastikan jika gadis kecil itu sudah terbang kembali ke dunia mimpi.


Dilla menggelengkan kepalanya pelan, melihat ribetnya temannya ini semakin membuatnya bersyukur jika pilihan yang ditempuhnya ini memang tak salah.


"Dulu gue juga sering kayak gitu. Baru aja mau mandi, eh ... dianya bangun aja, ya udah deh gak jadi mandi," celutuk Winda yang teringat akan kenangan yang terjadi kurang lebih tiga tahun yang lalu tersebut.


"Aku juga, malah parahnya pas lagi makan. Tuh makanan baru aja masuk ke mulut, eh ... anaknya pup. Ya udah, deh. Cebokin anak sambil ngunyah makanan di mulut," sahut Siska ikut menambahkan bumbu dalam cerita.


"Iiuuhhh,"


Tanpa sadar Dilla mengeluarkan suara tersebut, tentu saja membuat semua teman-temannya langsung menoleh, tak terkecuali Rini yang masih betah berdiri sembari menggoyangkan tubuhnya pelan agar sang anak tetap tidur lelap.


Dilla sontak saja langsung salah tingkah saat mendapatkan tatapan tajam dari teman-temannya, namun ia langsung bisa mengendalikan dirinya untuk bersikap sebiasa mungkin. Tangannya terulur untuk meraih segelas minuman yang masih tersisa setengah tersebut dan meminumnya dengan santai tanpa menghiraukan tatapan yang diberikan teman-temannya.


"Gak tau aja dia gimana nikmatnya ngurus anak,"


"Ini yang kamu bilang nikmat? Makan sambil cebokin anak maksudnya?" tanya Dilla dengan santainya.


Siska menggelengkan kepalanya pelan, menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya kasar. "Ini tuh namanya kita menjalankan tugas sebagai seorang ibu, Dil. Meskipun kadang cape, tapi ya harus dinikmatin aja, toh nanti juga mereka bakalan balas jasa buat ngerawat kita kalau udah tua."


"Makanya punya anak, biar tau bahagianya jadi ibu. Lagian gimana sama kamu nanti pas udah tua kalau nggak ada anak? bakalan kesepian? Gak kebayang gimanan nantinya?" sahut Rini menimpali.


Aneh ....


Harusnya orang-orang yang kayak gini tuh ditinggalin di hutan rimba. Lagian pikirannya gimana, sih? Ngurus anak biar pas tua diurusin balik.


Type seperti ini sama hal nya dengan orang tua yang membiayai anaknya untuk kebutuhan hidup, sekolah dan semacamnya. Lalu, saat anak tersebut telah tumbuh dewasa, orang tua akan meminta uang hasil kerja keras anaknya dengan dalih 'ini balasan karena telah membesarkan, menyekolahkan, dan memberikan penghidupan yang layak'.


Bodoh!


Dikira anak tak butuh uang untuk kelangsungan hidupnya. Lihat, banyak generasi sandwich yang setiap hari harus menahan diri dengan pahitnya hidup. Kelantungan mengatur keuangan untuk dirinya sendiri dan orang tua, bahkan tak jarang mereka hanya memutar-mutar uang tanpa bisa menabung untuk masa depan. Bahkan mirisnya, mereka menahan dirinya agar tak menikah karena takut tak bisa menghidupi anak orang. Jangankan anak orang, untuk dirinya sendiri saja sudah pas-pasan.


"Udah waktunya Adel punya adek lagi, Sis," kata Rini dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya, membuat Siska ikut tersenyum malu.


"Do'ain aja,"


Kening Dilla berkerut, menatap aneh orang-orang di depannya ini. "Bukannya suamimu baru di-PHK, ya? Apa nggak kelabakan nanti kalau punya anak lagi?" tanya Dilla membuat senyuman yang menghiasi bibir teman-temanya langsung menghilang seketika.


"Kalau udah rejekinya mau gimana lagi, Dil. Rejeki udah ada yang ngatur. Mungkin belum rejekinya Mas Riko buat dapet kerjaan lagi, tapi diganti punya anak gimana?" balas Siska sembari mengelus pelan perutnya.


Tentu saja itu tak luput dari pandangan mata Rini, Winda, dan juga tentunya Dilla.


"Beneran udah isi lagi?" tanya Rini dengan raut wajah tak percayanya.


Siska pun menganggukkan kepalanya pelan dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.


"Emang kebobolan apa gimana?" tanya Winda yang terlihat penasaran.


Siska menggelengkan kepalanya pelan. "Emang sengaja, Mas Riko pengen banget punya anak laki-laki."


"Wah ... semoga aja anaknya laki-laki, ya," harap Rini ikut mengamini do'a Siska.


"Pasti nanti ada rejekinya buat Dedek," sahut Winda sedikit mengeraskan suaranya, seperti sengaja ingin menyindir Dilla.


Jujur, Dilla menatap miris teman-temannya ini, entah harus dengan apalagi ia menyadarkannya. Setiap kali ia mengutarakan pendapatnya, pasti mereka akan membalasnya juga dengan menyinggung ia yang masih belum memuliki anak.


Mengapa mereka dengan berani-beraninya memiliki anak tanpa mempersiapkan bekal untuk masa depan anak-anak mereka?


Inilah yang membuat negara kita over populasi, hingga berdampak besar bagi generasi sekarang yang hampir tiap hari mengeluh karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Persaingan terlalu ketat, sementara saingannya sangat banyak.


Mengapa orang-orang tidak mencontoh penduduk negara-negara maju yang rata-rata memikirkan berulang kali, bahkan ribuan kali untuk memiliki anak karena merasa tak mampu untuk bertanggung jawab pada kehidupan anaknya kelak.


Mereka berpikiran bijak karena tak ingin menyeret anaknya untuk ikut dengannya menderita karena kemiskinan. Bukankah seharusnya merasa sangat berdosa karena tak mampu memberikan kehidupan yang layak pada sang buah hati?


Jadi, dari pada menderita rasa bersalah yang akan ditanggung seumur hidup, bukankah lebih baik tak menghadirkannya di dunia yang kejam ini?