Childfree

Childfree
Bab 3



Sudah hampir setengah jam mobil yang disupiri langsung oleh Dilla melaju membelah jalanan ibu kota bersama dengan jutaan kendaraan yang lainnya. Dan selama itu pula di dalam mobil hanya ada keheningan, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya.


"Ehemmm,"


Tiba-tiba saja Siska berdehem, entah karena tenggorokannya gatal atau karena ada sebab lain, Dilla sendiri tak tau dan tak memperdulikannya sama sekali.


"Sialan si Dilla, malah diem aja," batin Siska mengumpat wanita di sampingnya kini.


"Dil." Siska pun langsung menoleh ke arah Dilla yang masih tampak fokus dengan jalanan yang ada di depannya saat ini.


Dilla yang mendengar namanya di sebut pun langsung menoleh ke arah sumber suara. "Ada apa, Sis?"


"Gue boleh minta bantuan lo nggak?" tanyanya dengan nada ragu-ragu.


Tentu saja membuat Dilla langsung mengerutkan keningnya tak mengerti dengan maksud ucapan Siska barusan. Kenapa sih orang-orang nggak langsung to the point aja mau apa, nggak usah pake basa basi.


Tiinnn ....


"Astaga!"


Siska terkejut bukan main saat tiba-tiba saja Dilla mengklakson mobilnya, entah karena ada sesuatu di depannya atau sebagai respon dari permintaannya barusan.


"Eh, maaf, maaf. Tiba-tiba aja tadi ada orang mau nyebrang gitu aja," sesal Dilla yang langsung menoleh sekilas ke arah Siska sebelum kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan di depannya kini. "tadi mau maksudnya minta bantuan apa, ya?"


Siska yang dari tadi mengelus dadanya pun langsung menyingkirkan tangannya tersebut, ia menoleh ke arah Dilla. "Ada kerjaan nggak buat suami gue? Kek yang kerja apa gitu?"


"Emm ...." Dilla berfikir sejenak, menerka-nerka apakah ia masih membutuhkan seorang karyawan di butiknya atau tidak. Beberapa saat kemudian ia pun menggelengkan kepalanya, "sorry, tapi kayaknya emang nggak ada deh, semuanya masih komplit dan belum ada rencana buat nambah karyawan lagi," Dilla menggelengkan kepalanya pelan.


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dilla barusan tentu saja membuat Siska langsung kecewa, hal itu tak bisa ia sembunyikan dari perubahan raut wajahnya yang begitu jelas terlihat. "Emm ... Gitu, ya? Ya udah kalau gitu,"


Dilla terdiam sejenak, memikirkan hal lain yang bisa ia lakukan untuk membantu temannya itu, "Tapi nanti aku coba tanyain sama Mas Bagas, ya. Siapa tau aja dia ada lowongan.


Raut wajah Siska pun kembali berubah, meskipun belum ada jawaban pasti, setidaknya ucapan Dilla barusan menjadi angin segar baginya, masih ada kemungkinan suaminya dapat kerjaan.


Siska menganggukkan kepalanya pelan, ditambah dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya. Sebelum kemudian ia kembali melempar pandangan ke arah luar jendela, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Tangannya pun langsung terulur untuk menyentuh perutnya yang masih rata, di elus-elusnya perut tersebut di iringi dengan helaan nafas kasarnya.


Dilla sendiri hanya diam tanpa ada niatan untuk memberikan komentar pada kehidupan temannya ini, justu ia semakin menambah kecepatan mobilnya agar bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan.


Setelah beberapa pulih menit mengemudi, akhirnya mobil yang dikendarai keduanya pun sampai di rumah Siska. Siska sendiri langsung melepaskan sabuk pengaman yang mengikat di tubuhnya, sementara Dilla hanya diam di tempat duduknya.


"Mampir dulu lah, Dil," ajak Siska yang akhirnya telah selesai melepaskan sabuk pengamannya.


"Ayo dong Dil, orang nggak tiap hari juga. Jarang-jarang lo ke rumah gue, apa bahkan lo nggak pernah masuk juga?" terbak Siska, karena seingatnya Dilla tidak pernah menginjakkan kaki di rumahnya, setiap kali Dilla mengantarnya pulang, Dilla langsung tancap gass usai dirinya turun setelah menolak ajakan darinya.


Dilla sendiri cukup terkejut, mungkin saja yang diktakan Siska memang benar adanya. Karena ia sendiri sama sekali tak mengingat dirinya pernah mampir di rumah Siska.


Benar! Tak pernah sama sekali!


"Ayo!" ajak Siska lagi dengan lebih memaksa, bahkan dirinya memberikan tatapan tajam pada temannya itu.


Sementara Dilla sendiri teridam sejenak, memikirkan apakah ia benar-benar perlu mampir ke rumah Siska atau tidak usai. "Nggak papa kali ya, cuma sekali-sekali doang juga," batin Dilla.


Dilla pun langsung menganggukkan kepalanya. "Ya udah, aku mampir." Tanpa menunggu lama lagi, Dilla pun langsung melepaskan sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya.


Mendengar Dilla yang setuju, tentu saja membuat Siska langsung tersenyum senang. "Nah ... Gitu, dong."


Dilla melangkahkan kakinya di belakang tubuh Siska, hingga tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti. Ia menatap bangunan yang ada di depannya ini, bangunan yang sebenarnya tak terlalu besar, entah mengapa baginya itu terlalu tak masuk akal untuk di jadikan rumah.


Bahkan, dari luar saja ia sudah bisa menerawang isi dalam rumah Siska, tentu saja pasti rumahnya sempit, yang pasti bisa menhambat aktivitas. Jauh berbeda dengan rumahnya yang terbilang begitu luas, membuat siapa saja akan merasa nyaman tinggal di dalamnya.


Siska yang menyadari Dilla tak lagi mengikuti langkah kakinya pun langsung menoleh ke belaiang. Benar saja, dugaannya sama sekali tak salah, ia melihat Dilla yang diam berdiri dengan jarak kurang lebih tiga meter darinya. Entah apa yang dipikirkan wanita itu saat menatap rumahnya seperti itu. "Dil, ayo!"


Sadar dengan suara Siska barusan, membuat Dilla langsung tersadar dari lamunannya. "Oh, iya." Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Siska.


Ceklek ...


Siska membuka pintu, mempersilahkan Dilla untuk masuk mengikuti langkah kakinya. Benar saja, semuanya tak jauh berbeda dengan apa yang tadi Dilla pikirkan, baru masuk saja ia dihdapakan dengan ruang tamu yang berada tepat di depan pintu. Ruang tamu yang begitu mini menurutnya.


"Duduk dulu, Dil. Aku buatin minuman dulu,"


Beginilah gaya bicara teman-temannya yang kadang berbicara dengan bahasa gaul, namun beberapa saat kemudian langsung berganti.


"Oh, iya." Dilla pun langsung mendudukkan bokongnya di sofa yang sama sekali tak empuk di bokongnya.


Sebenarnya Dilla sendiri cukup was-was karena takut jika tiba-tiba saja sofanya akan patah. Diedarkannya pandangan matanya ke seluruh ruangan, tak ada sesuatu yang menarik, semuanya terlihat sama saja.


Wahh ... Baru beberapa menit saja Dilla sudah merasakan panas pada tubuhnya, seketika saja otaknya langsung berfikir bagaimana Siska bisa tahan tinggal di tempat ini bertahun-tahun lamanya.


Dilla mengipas-ngipas wajahnya dengan menggunakan tangannya. "Gila! Mereka selama ini kok betah hidup bagai di neraka kayak gini." herannya yanh sama sekali tak habis pikir. Mungkin Siska dan keluarganya layak untuk mendapatkan predikat manusia dengan tingkat kesabaran yang tinggi.


"Dill "