Childfree

Childfree
Bab 7



Dilla dan Bagas tengah menikmati acara makan malamnya, tentu saja dengan diiringi cerita random yang tak jarang mengundang gelak tawa keduanya.


Terlihat Bagas yang begitu menikmati makanan yang di masak Mbak Lasti, membuat Dilla tersenyum getir karena ia merasa belum mampu untuk membahagiakan sang suami sepenuhnya.


"Enak, Mas?"


Bagas pun langsung menatap sang istri dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan, tentu saja ia juga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri karena tak bisa mengatakannya dalam kondisi mulut penuh.


Dilla tersenyum tipis mendengarnya, "Kalau begitu makan lagi, Mas. Yang banyak, ya." Dilla langsung mengabil nasi untuk di tambahkan ke piring sang suami yang isinya sudah hampir habis, tak lupa juga ia menambahkan lauk kesukaan suaminya.


Tentu saja Bagas tak menolaknya sama sekali, bahkan jika istrinya tak mengambilkan nasi untuknya lagi, ia akan tetap mengambilnya sendiri.


Sekitar 15 menit kemudian, barulah keduanya benar-benar selesai menghabiskan makan malamnya. Seperti biasa, keduanya akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi tempat favorit keduanya yang tak lain adalah gazebo.


Disinilah keduanya bisa menatap langit malam tanpa menghalang apapun, entah mengapa malam ini langit begitu indah dipandangan Dilla. Bulan sang pemilik malam tersebut tampak memancarkan cahaya indahnya, ditemani oleh jutaan bintang yang seperti tak tega membiarkan bulan bersinar sendiri di malam yang gelap ini.


Dilla menyandarkan kepalanya di dada lengan sang suami, membuat Bagas mengulur tangannya untuk merangkul sang istri dan mendekapnya pelan.


"Oh, iya, Mas." Dilla langsung menarik dirinya membuat pelukan sang suami langsung terlepas begitu saja.


"Ada apa?" tanya Bagas dengan kening berkerut karena penasaran dengan apa yang akan disampaikan sang istri.


Dilla menghembuskan nafasnya kasar, cukup sulit baginya untuk mengatakan hal ini. "Minggu depan aku harus ke Jepang, ada acara di sana selama seminggu juga," ucapnya dengan berat hati.


Mendengar hal itu membuat Bagas juga ikut menghembuskan nafasnya kasar, ia kembali meraih lengan sang istri dan memeluknya dari samping. "Ya, sudah. Mau gimana lagi emangnya?"


"Tapi kan aku baru aja pulang seminggu yang lalu, masak aku balik lagi. Kita beneran yang jarang banget ketemu dong sekarang," keluhnya, bahkan rasanya Dilla ingin menangis saja.


"Ya kan udah pilihannya kamu buat tetep nerusin karir kamu, ya diambil aja resikonya,"


Hening ....


Tak ada lagi percakapan yang terjadi diantara keduanya selepas itu, keduanya sama-sama memilih untuk menatap langit malam yang begitu menenangkan.


Hembusan angin malam juga semakin kencang menusuk pori-pori kulit keduanya, namun sama sekali tak membuat keduanya untuk beranjak dari posisinya saat ini. Justru, inilah yang menjadi poin plus dari indahnya malam. Angin malam yang seakan-akan menyejukkan hati yang resah, berbeda dengan angin siang hari yang justru terasa membakar tubuh karena saking panasnya.


"Oh, iya."


Tiba-tiba saja Dilla langsung teringat sesuatu, ia pun mendongak menatap sang suami yang masih fokus menatap lurus ke depan. "Kamu ada lowongan kerja nggak? Suami Siska temen aku butuh kerjaan tuh. Soalnya sekarang lagi nganggur, tapi istrinya bunting lagi."


Bagas mengerutkan keningnya tanpa membalas pertanyaan Dilla barusan, ia benar-benar berfikir apakah ia masih membutuhkan seorang pekerja untuknya. Beberapa saat kemudian senyuman tipis pun tersungging di bibirnya, ia sedikit menunduk menatap sang istri. "Ada, nanti kamu kasih tau aja suami temen kamu itu, suruh dia datang ke kantor besok."


Dilla langsung menarik tubuhnya hingga membuat pelukan sang suami terlepas, ia mengerutkan keningnya cukup terkejut mendengar jawaban sang suami barusan. "Kamu ada lowongan? Emang bagian apa?" tanyanya penasaran.


"Ya, udah. Terserah kamu aja, aku mau masuk duluan, dingin."


Dilla langsung beranjak dari posisi duduknya usai mengatakan hal itu, meninggalkan Bagas yang masih belum ada niatan untuk beranjak dari posisinya saat ini. Ia hanya diam sembari memandang kepergian sang istri hingga akhirnya benar-benar tak terlihat lagi. Barulah kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya pada langit bertabur bintang tersebut.


Tangannya terulur untuk beraba-raba saku celananya, mimik wajahnya pun langsung berubah seketika. "Sial! Gak bawa hp ternyata."


Tanpa pikir panjang lagi, ia pun langsung bangkit dari posisi duduknya dan bergegas menyusul sang istri.


Sementara itu Dilla lebih memilih untuk melakukan ritual malamnya sebelum tidur, yaitu skincare rutinnya. Tak pernah sekalipun ia melewatkan perawatan ini, tentu saja hal ini sangat penting untuk menjaga kulitnya agar tetap sehat dan cantik terawat.


Tut ... tutt ... tuutt


Pandangannya teralih pada ponsel suaminya yang bergetar di atas nakas, tentu saja ia bisa melihat dengan jelas melalui pantulan kaca riasnya. "Siapa yang telepon malem-malem begini?" gumamnya yang dilanda rasa penasaran.


Dengan malas ia pun bangkit dari posisi duduknya, meninggalkan kaca rias dan sahabat cantiknya menuju arah nasas. Tangannya terulur untuk meraih ponsel yang masih terus berdering tersebut, keningnya berkerut saat membaca nama yang tertera di layar kontak suaminya.


Sebenarnya ia ragu-ragu untuk mengangkatnya, jujur ia dan suami masih menjunjung tinggi privacy masing-masing. Bahkan, keduanya hampir tak pernah memainkan ponsel satu sama lain karena tau betul itu melanggar privacy pasangan.


Namun, kali ini Dilla terlalu malas jika harus menyusul sang suami kembali ke gazebo, kalaupun hanya membiarkannya, justru ia takut jika itu adalah panggilan penting.


Perlahan tapi pasti, ia mulai mengangkat jari jempolnya dan menggeser icon berwarna hijau tersebut. "Halo?"


"Sayang,"


Tiba-tiba saja Bagas datang dengan menabrak pintu hingga menimbulkan suara nyaring, membuat Dilla langsung menoleh ke arah sang suami dan menjauhkan ponsel suaminya dari telinganya.


"Mas, kamu apa-apaan sih, aku kaget!"


Bagas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang istri. "Maaf," hingga akhirnya langkah kakinya baru terhenti saat ia sudah berdiri tepat di depan sang istri yang masih tampak terkejut tersebut. "Hp aku?" tanyanya sembari menunjuk ponselnya yang masih ada dalam genggaman sang istri.


"Oh." Dilla langsung menyodorkan ponsel tersebut pada sang suami. "tadi ada yang nelfon, jadi aku angkat karena kamu nggak di sini."


Bagas pun langsung meraihnya dan mencoba menyunggingkan senyum kakunya pada Dilla. "Makasih,"


"Hmm." Dilla langsung melangkahkan kakinya menuju kaca riasnya, biar bagaimanapun juga ia harus menyelesaikan ritualnya yang belum selesai.


Melihat Dilla yang sudah duduk di kursi riasnya kembali, dengan jarak yang lumayan jauh dari posisinya saat ini. Bagas pun mengecek siapa yang meneleponnya malam-malam begini.


Deggg ....