
Seketika saja tubuh Bagas menegang, namun secepat kilat ia mengubah mimik dan gestur tubuhnya sebelum kemudian membalikkan badannya.
Dilihatnya Dilla yang masih menatap ke arahnya dengan kening yang berkerut, membuat Bagas menelan ludahnya kasar, jujur ia takut jika Dilla berpikiran macam-macam tentangnya.
"Lagi teleponan sama siapa?" tanyanya sembari melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.
"Oh, ini. Klien aku, dia ribet banget. Padahal aku udah bilang jangan dibahas kalau di luar kerjaan, ya gimana ... aku belum selesai review berkas dari dia," balas Bagas cepat yang kemudian langsung menempelkan kembali telepon tersebut ke telinganya. "kita bahas lagi nanti."
Tuut!
Bagas pun langsung memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak usai mengatakannya, dan langsung tersenyum ke arah sang istri. "Udah siap airnya?"
Dilla pun menganggukkan kepalanya samar untuk membalas pertanyaan yang dilontarkan suaminya barusan.
"Ya, sudah. Aku mau mandi dulu." Bagas pun langsung melangkahkan kakinya usai mengatakannya, sementara Dilla sendiri masih terdiam pada posisinya dengan pandangan yang tertuju pada punggung suaminya yang semakin menjauh darinya tersebut.
Bagas langsung masuk ke dalam kamar mandi, di mana ia melihat bath up yang sudah terisi dengan air hangat, ditambah lagi dengan aromatheraphy yang menusuk-nusuk indra penciumannya. Tanpa menunggu lama lagi, ia pun langsung melepaskan kancing bajunya satu per satu, sebelum kemudian di lemparnya baju kotor tersebut ke dalam keranjang.
Setelah semua pakaian yang tadi melekat di tubuhnya terlepas hingga kini memperlihatkan tubuhnya yang benar-benar telanjang tanpa ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya, Bagas pun langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam bath up.
Byuuurrrr
Tentu saja air itu banyak yang tumpah saat Bagas memasukkan tubuhnya, namun sama sekali tak dihiraukannya. Ia menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya, mencoba menikmati dengan maksimal rasa nikmat yang kini di rasakannya.
Dilla benar-benar tau bagaimana caranya mengatasi tubuhnya yang lelah karena bekerja seharian itu, ditambah dengan tetesan aromatheraphy yang begitu menenangkan tersebut.
Sementara itu, Dilla memilih untuk bergabung dengan asisten rumah tangganya yang masih sibuk berkutat di dapur.
"Mau masak apa, Mbak?" tanyanya sembari menghampiri asistennya tersebut.
Mendengar suara majikannya, membuat Mbak Lastri langsung menoleh ke arah sumber suara. "Oh, ini, Non. Lagi mau masak sup ayam sama cumi asam manis."
Dilla pun menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Mbak Lastri.
"Mau Mbak masakin sesuatu, Non?" tawar Mbak Lastri yang mengira majikannya menginginkan masakan lagi.
"Oh." Dilla pun langsung menoleh ke arah Mbak Lastri dan menggelengkan kepalanya. "nggak kok, Mbak. Aku ke sini cuma mau bantu-bantu aja."
"Aduh ... tapi ini udah mau selesai, Non. Nggak ada yang biaa di bantu, mendingan Non tunggu aja. Tinggal nunggu matengnya doang ini mah."
Raut wajah Dilla pun langsung berubah begitu mendengar penjelasan Mbak Lastri, jujur ia sedikit kecewa karena tak berkesempatan untuk ikut berbaur di dapur. Namun, tak ada lagi yang bisa dilakukannya saat ini. "Ya, sudah. Aku ke kamar dulu, Mbak." balas Dilla yang kemudian langsung membalikkan badannya sebelum kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju kamar.
Mbak Lastri hanya menghembuskan nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya pelan, sebelum kemudian mengaduk sup yang sudah mendidih tersebut.
Ceklek ....
Tanpa memperdulikan suaminya, Dilla memilih untuk mendudukkan bokongnya di ujung ranjang. Dengan malas ia mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di sampingnya.
Sementara Bagas sendiri langsung melangkahkan kakinya ke arah lemari, dibukanya lemari tersebut dan pandangannya menyapu isi lemari dari atas hingga bawah. Ia terdiam sejenak sembari memilih pakaian yang akan di gunakan hari ini, hingga akhirnya pandangannya pun tertuju pada kaos berwarna hitam, tanpa menunggu lama lagi, ia pun langsung mengulurkan tangannya untuk meraih kaos tersebut. Tak lupa dengan celana pendek dan juga pakaian dalamnya juga.
Bagas langsung menutup lemarinya dan memakai setelan pakaian yang telah di pilihnya tersebut saat itu juga, hingga akhirnya beberapa saat kemudian ia pun telah selesai memakai pakaian tersebut.
"Mau makan sekarang?" tanya Dilla tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di genggaman tangannya tersebut.
Bagas mendudukkan bokongnya di samping sang istri. "Nanti dulu, bentar lagi," balasnya, "kamu seharian ini ke mana aja?"
Sontak Dilla pun langsung menoleh ke arah suaminya, ia memperbaiki posisi duduknya agar bisa menghadap suaminya sepenuhnya. Ia benar-benar sudah siap untuk menceritakan harinya pada sang suami.
Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki Bagas, tak banyak suami yang mau mendengarkan cerita sang istri. Pasangan ini benar-benar memprioritaskan waktu untuk berbagi cerita yang masing-masing dilaluinya hari ini.
"Jadi tuh, hari ini aku pergi arisan sama temen-temen,"
"Pasti ditanya lagi kapan punya anak," tebak Bagas yang tentu saja tepat sasaran. Bukan sekali dua kali sang istri menceritakan kejadian seputar arisan, yang seperti sudah hal wajib bagi teman-temannya untuk menanyakan soal 'anak'.
Dilla langsung menghembuskan nafasnya kasar. "Kalau itu udah pasti, wajib kayaknya buat mereka."
"Hahahahah,"
Keduanya pun langsung tertawa bersama-sama, menertawakan teman-temannya yang tak pernah berhenti kepo seputar urusan rumah tangganya.
"Kapan sih mereka berhenti nanyain gituan, kenapa gak bisa sih fokus sama hidup masing-masing aja, kayak yang hidupnya udah paling bener aja." heran Dilla yang langsung menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Tring ....
Tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk di ponsel Dilla, membuatnya langsung memeriksa isi pesan tersebut dari ponselnya. Seketika saja keningnya berkerut saat membaca nama dari si pengirim pesan tersebut. "Winda?" gumamnya heran, tak biasanya temannya yang satu ini berkirim pesan padanya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, ia pun langsung meng-klik isi pesan tersebut. Seketika saja senyuman tersungging di bibirnya saat membaca isi pesannya.
Tentu saja Bagas juga penasaran dengan apa yang membuat sang istri tersenyum tersebut. "Ada apa?"
"Ini loh, Mas. Orang yang paling depan nyuruh aku biat punya anak dan ngata-ngatain aku malah mau ngutang ke aku." Dilla langsung menunjukkan isi pesan tersebut kepada sang suami. "bener-bener nggak punya malu, ya, Mas."
Inilah yang membuat Dilla memandang remeh ucapan teman-temannya, teman yang paling berdiri di garda depan untuk menceramahinya agar punya anak dan menceramahinya tentang rejeki yang pasti datang saat punya anak dan tak perlu menghawatirkan tentang masa depan sang anak, baik itu soal biaya kehidupannya nanti malah datang untuk meminjam uang padanya.
Bisa dibilang teman-temannya ini penganut sekte 'Banyak anak, banyak rejeki' dan 'tenang, rejeki udah ada yang ngatur'
Ingin sekali rasanya Dilla berteriak tepat di telinga temannya ini untuk mengatakan. "HELLOW ... REJEKI ITU EMANG UDAH DI ATUR, TAPI DICARI JANGAN DI TUGGUIN DODOL!"