Childfree

Childfree
Bab 8



Buru-buru Bagas langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya, Dilla yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya keheranan dengan tingkah aneh sang suami.


Malam sebelum tidur, keduanya masih saling berbica dengan posisi sama-sama berbaring di atas ranjang. Bagas yang tengah menatap langit-langit kamarnya, sementara Dilla masih berkutat dengan ponselnya untuk memberikan pesan pada Siska agar besok suaminya datang ke kantor suaminya. Tentu saja ia juga mengirimkan alamat kantor suaminya.


"Udah aku bilangin temen aku." ucapnya yang kemudian langsung meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Sayang," Bagas menoleh ke arah Dilla, begitu pula dengan Dilla yang langsung menoleh ke arah sang suami dengan kening berkerut.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, tangan Bagas langsung terulur untuk mengelus pelan wajah sang istri, semakin lama tangannya turun menyusuri leher jenjang sang istri dan berakhir pada dua gundukan kesukaannya.


Melihat gelagat sang suami, tentu saja sudah membuat Dilla paham dengan betul apa yang diinginkannya. Tanpa basa-basi lagi, ia pun ikut membalas sang suami dengan meraba rahang kokohnya yang tampak menggoda.


Perlahan tapi pasti, Dilla mulai menarik wajah sang suami dan memajukan wajahnya sendiri, hingga membuat bibir keduanya saling bertabrakan.


Tangan Bagas langsung berpindah dengan cepat ke tengkuk leher sang istri, ia menahannya dan mulai menggerakkan bibirnya. Dilla bukanlah orang baru dalam hal ini, pada awalnya memang dirinya benar-benar polos tanpa pengetahuan apapun tentang hal ini, namun setelah menikah dengan Bagas, suaminya tersebut mengajarinya banyak hal tentang step by step untuk bercinta.


Dilla ikut membalas ciuman sang suami, membuat ciuman tersebut semakin lama semakin panas. Suhu tubuh keduanya tiba-tiba naik drastis padahal AC masih menyala dengan baik.


Ciuman Bagas pun perlahan turun dari bibir sang istri menyusuri leher jenjangnya dan berakhir pada tulang yang mendapat julukan tulang kecantikan tersebut. Ia pun langsung membalik posisinya hingga ia kini berada di atas.


Perlahan tapi pasti, Bagas sangat pandai dalam melancarkan aksinya dan membuat sang istri terus mengeluarkan suara indah di telinganya tersebut.


Entah kemana perginya pakaian yang menutupi tubuh keduanya, Bagas hanya menanggalkannya lalu melemparkannya dengan asal tanpa perduli apapun, hingga keduanya kini benar-benar dalam keadaan polos tanpa benang di tubuh keduanya.


Disinilah awal dari permainan Bagas, ia mulai menunjukkan kepiawaiannya untuk memuaskan dirinya, tentu saja juga untuk kepuasan sang istri. Ia bukanlah type suami yang egois dan hanya mementingkan kepentingan dan kepuasan diri sendiri.


"Arggghhh," erang keduanya secara bersamaan saat sama-sama mencapai puncaknya.


Akhirnya permainan yang sudah berlangsung selama 3 jam itupun berakhir dengan skors yang membanggakan. Membuat keduanya full senyum dengan berbalut keringat yang masih membasahi tubuh keduanya.


Keduanya benar-benar merasa puas!


Hah ... hah ... hah


"Minggir, kamu berat," lirih Dilla sembari berusaha menyingkirkan Bagas yang masih berada di atasnya.


"Oh, sorry." Bagas pun langsung mengecup kening sang istri cukup lama sebelum kemudian menggelindingkan tubuhnya ke samping Dilla. "makasih,"


Dilla yang mendengar itupun langsung menoleh ke arah sang suami, bibirnya melengkung membentuk senyuman. "Sama-sama," balasnya dengan suara terengah-engah karena deru nafas yang masih memburu.


Bagas pun langsung meraih tubuh Dilla dan menariknya pelan agar masuk ke dalam pelukannya, ia mengelus-elus rambut yang begitu acak-acakan tersebut membuat sang pemilik rambut merasa nyaman dan akhirnya tertidur hanya dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Berbeda halnya dengan Bagas yang masih belum bisa memejamkan matanya, ia hanya diam pada posisinya saat ini dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang begitu candu untuknya.


Dengkuran halus mulai terdengar di telinga Bagas, menandakan jika sang istri benar-benar sudah terbang jauh menuju alam mimpi. Dengan penuh kehati-hatian, Bagas menarik pelukannya agar tak membuat sang istri terbangun.


Ia langsung turun dari ranjang setelah memastikan sang istri sama sekali tak terganggu dengan gerakannya, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya.


Dilihatnya sang istri yang masih tertidur pulas bahkan masih dengan posisi terakhir ia tinggalkan tadi, senyuman tipis terbit di bibirnya.


Tanpa menunggu lama lagi ia pun langsung membuka lemari dan memilih dengan asal pakaian untuk di kenakannya, barulah ia kembali menyusul sang istri di ranjang. Bagas kembali mengecup sekilas kening sang istri sebelum kemudian membawanya ke dalam pelukan dan sama-sama terbang ke dunia mimpi.


***


"Kamu hari ini mau ke mana?" tanya Bagas di sela-sela sarapan keduanya.


Dilla pun menoleh ke arah sang suami dan menelan makanan yang ada di mulutnya. "Ke butik, ada kerjaan yang harus aku selesaiin."


"Jangan cape-cape," ujar Bagas mengingatkan.


Dilla menganggukkan kepalanya. "Kamu juga, jangan kerja terlalu keras."


"Aku kerja juga demi kamu, Sayang."


"Aku juga masih bisa menuhi kebutuhan aku, Suamiku Sayang," balas Dilla dengan senyuman tipis di bibirnya.


Sontak saja raut wajah Bagas pun langsung berubah, ia meraih gelas yang berisi air putih tersebut dan langsung menenggaknya hingga hanya tersisa setengahnya saja.


Bagas langsung bangkit dari posisi duduknya, tak lupa meraih tasnya dan langsung menghampiri sang istri.


Cupp ...


Seperti yang selalu dilakukannya setiap hari, ia akan selalu menyempatkan diri mencium puncak kepala sang istri sebelum beragkat kerja.


"Aku berangkat dulu,"


"Sekarang banget?" tanya Dilla sedikit terkejut, pasalnya ini masih cukup pagi untuk berangkat.


"Iya, takutnya macet parah."


Akhirnya Dilla pun mengantarkan sang suami sampai di depan teras, melambaikan tangannya mengiringi kepergian sang suami hingga akhirnya mobil tersebut tak terlihat lagi olehnya.


Dilla pun langsung memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tak sengaja pandangan matanya tertuju pada sebuah berkas yang tergeletak di atas meja riasnya, dengan kening berkerut ia pun meraih benda tersebut.


"Astaga. Pasti ketinggalan."


Buru-buru Dilla menelfon sang suami. Entah sudah panggilan keberapa yang diupayakannya, namun suaminya sama sekali tak menjawab panggilan darinya. Membuat darah tingginya seketika naik lagi.


Dengan cepat ia berjalan menuju garasi, masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota.


Hampir 40 menit kemudian ia pun sampai di kantor suaminya, dengan langkah kaki lebarnya ia melewati orang-orang yang menyambutnya dengan sapaan ramah.


Ceklek ....