Childfree

Childfree
Bab 2



"Emangnya kamu nggak takut apa kalau tiba-tiba suamimu nyeleweng? Kan kalian nggak ada anak buat jadi penengah kalian?"


Pertanyaan yang keluar dari bibir Rini itupun membuat Dilla langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, dilihatnya Rini yang mencoba duduk kembali dengan penuh kehati-hatian. Nampak sangat ribet karrna hal seperti ini saja tak bisa dilakukannya dengan leluasa.


"Emangnya orang yang udah punya anak gak ada yang selingkuh?" tanya Dilla balik dengan nada santainya.


Menanggapi pikiran kolot seperti ini memang seharuanya langsung di tampar dengan fakta, biar mereka bisa lebih berhati-hati dalam berbicara. Apapun boleh di sampaikan, tapi jangan lupa pakai logika dan jangan hanya mengambil satu sudut pandang saja.


Anak memang menjadi penengah untuk orang tuanya, tapi bukan berarti anak akan selalu menjadi pagar dalam kehidupan rumah tangga orang tuanya. Kalau memang anak bisa menjadi pagar pembatas agar kedua orang tuanya tak kehilangan kendali dari larangan-larangan hidup berumah tangga, tak akan ada namanya orang tua yang selingkuh.


Lagi pula, kenapa tak kita ambil contoh lain? Misalnya kenapa para ibu rumah tangga tidak bisa merawat tubuhnya dengan baik? Bukankah itu menjadi faktor utama yang mendasari banyaknya kasus perselingkuhan? Seperti suami yang tak puas dengan penampilan sang istri yang tak pandai berias hingga tak sedap di pandang mata, sangat jauh berbeda dengan wanita lain di luaran sana yang masih tampak modis.


Atau? Mengapa sebagai seorang ibu rumah tangga tidak bisa masak? Bukankah itu adalah hal pokok yang harus dimiliki seorang wanita? Lihatlah ... Diluaran sana banyak laki-laki yang terjerat dengan pemilik warung karena sangat ahli dalam mengolah bumbu-bumbu dapur hingga membuat lidah dan tubuh bisa bergoyang.


Setidaknya lihatlah dari berbagai sudut pandang semacam itu, jangan hanya melihat dari satu sisi dan menjadikannya senjata untuk menyudutkan pihak lain.


"Kayak di drama apa, sih? Aku lupa judulnya, pokoknya laki-lakinya pengen punya anak gitu ... tapi, istrinya gak mau. Ya ... Kayak kamu ini, Dil," sahut Siska ikut menimpali.


Lah??


Mereka ini juga ibu-ibu halu, kebanyakan nonton film dan nggak bisa memfilter mana yang harus di serap dan di buang. Drama kok di bawa-bawa ke kehidupan nyata. Jangan, jangan mereka juga pada percaya kalau meninggal ketiban beras sekilo itu karena azab durhaka sama orang tua.


Lagian mereka juga pada sok tau, menghakimi tanpa tau kebenarannya. Hanya bisa adu argumen dengan urat yang menonjol keluar, menandakan type orang yang tak mau kalah dan harus menang dalam pentas adu bacot.


Kata siapa suaminya pengen punya anak? ia yang statusnya sebagai istri saja tak pernah mendengar suaminya pengen punya anak kok. Lagi pula, suaminya juga sudah setuju dengannya untuk tidak memiliki anak. Kalau dua-duanya setuju, di mana letak kesalahannya?


Hidup ini penuh dengan pilihan, hidup juga sementara dan hanya sekali. Jadi sebaiknya pilih, pilihan mana yang membuatmu senang dan bisa menikmati hidup dengan enjoy.


Untuk apa hidup kalau tidak dinikmati?


"Lah ... Emang kalian juga nggak tau apa kalau banyak suami selingkuh karena muak lihat istrinya cerewet dan nggak bisa jaga tubuh sampai kepincut janda pirang?" tanya Dilla balik dengan nada menyindir.


Sontak saja semua teman-temannya itu langsung diam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Mungki saja ada kata-katanya yang sempat menampar kesararan mereka.


Dilihat-lihat, disini hanya Dilla lah yang memiliki tubuh terawat dan terbilang masih bagus. Tubuhnya yang ramping dan masih terlihat jelas lelukan tubuhnya yang indah. Tentu saja berbanding terbalik dengan teman-temannya yang lain, yang body nya sudah berubah lurus tanpa lekukan dan tentu saja melebar seperti gentong. Bahkan, bisa diterawang bagaimana dalamnya, sudah pasti banyak gelambir-gelambir yang menghiasi tubuhnya dan mungkin saja ditambah dengan corak streetmark yang bertebaran di mana-mana.


Sebaiknya berkaca dan urus diri sendiri sebelum mengurus dan mengomentari hidup orang lain.


"Ya sudah, mendingan cepet kocok deh. Udah siang banget ini, bentar lagi anak-anak juga pada pulang sekolah," sahut Winda dengan rona wajah tak suka dan terlihat jelas penuh kobaran amarah.


"Oke-oke, aku kocok sekarang." Siska pun langsung mengocok botol yang menjadi wadah buliran-buliran kertas kecil yang digulung dan dimasukkan ke dalam potongan sedotan plastik tersebut.


Dan ....


"Siska, aaa dapett," rona kebahagiaan terpancar dengan jelas menghiasi wajah Siska, bahkan secara refleks ia langsung berdiri dan jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan ibunya.


"Jangan lompat-lompat, inget, lagi hamil!" Rini menarik pelan tangan Siska, membuat Siska langsung terdadar dan segera menghentikan aksi lompat-lompatnya tersebut.


Dengan cengingisan, Siska kembali mendudukkan bokongnya ke tempatnya semula. "Hehe, maaf ... Maklum, lagi seneng banget."


Dilla hanya mengglengkan kepalanya pelan, sedikit heran dengan reaksi tak terduga yang diberikan Siska barusan. Lagi pula, uang yang didapatkan juga nggak yang besar-besar amat, terlalu berlebihan reaksi yang diberikan.


"Ya udah, kalau gitu pulang dulu, ya. Sampai ketemu lagi bulan depan," Dilla pun langsung meraih tas miliknya yang tergeletak di sampingnya dan lekas bangkit dari posisi duduknya.


Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, yang juga langsung bangun dari tempat duduknya masing-masing. Terkahir, Rini yang kembali harus bangun dari posisi duduknya dengan penuh kehati-hatian sembari masih menepuk pelan bokong anaknya.


"Dil," panggil Siska tiba-tiba.


Dilla yang hendak melangkahkan kakinya itupun langsung mengurungkan niatnya, berbalik menatap Siska yang masih menatap ke arahnya juga. "Ada apa, Sis?"


"Aku boleh nebeng, nggak? Kita kan searah juga, jadi ya sekalian. Tadi aku nggak kepikiran mau nebeng, ciba aja kalau kepikiran mending aku berangkat bareng kamu aja, gak perlu naik ojek,"


Haha ... ada sensasi menggelikan yang Dilla rasakan, untung saja ia masih bisa mengontrol wajahnya agar tak kelepasan.


"Ya, sudah. Ayo!"


"Bye ...."


Dilla langsung melangkahkan kakinya tanpa menunggu lama lagi, sementara Siska masih sibuk say good bye dengan Rini dan juga Winda. Jangan lupakan adegan dramatis peluk-pelukan yang mereka lakukan. Dilla? Tentu saja dia tidak mau melakukan hal itu karena dianggapnya terlalu alay dan norak.


Setelah selesai berpamitan dengan teman-temannya, Siska pun langsung bergegas menyusul Dilla yang pastinya saat ini sudah duduk cantik di dalam mobilnya.