
Tak ... tak ... Tak
Dilla melangkahkan kakinya masuk rumah, saat ia memarkirkan mobilnya di garasi tadi, belum tampak mobil suaminya di sana, sudah dapat di pastikan jika suaminya ini belum pulang.
Brukk
ia langsung mendudukkan bokongnya di sofa, menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan di kaki kanannya. Ia melemparkan begitu saja tasnya ke sampingnya, setelah ia merogoh ponselnya dari dalam. "Mbak, bawain minum dong," teriaknya pada asisten rumah tangganya.
"Iya, Non."
Langsung saja terdengar suara sahutan dari arah belakang, sembari menunggu minumannya datang, ia pun lebih memilih untuk memainkan ponselnya. Tentu saja sosial media yang pertama kali dikunjungi adalah instagram.
Bibirnya langsung melengkung membentuk senyuman saat melihat banyaknyan like yang didapatkannya usai mengunggah fotonya pagi tadi, tentu saja diiringi dengan banyaknya komenan yang masuk pula.
Jari jempol Dilla terulur untuk men scroll kolom komentar, di situ ia menemukan banyak sekali tulisan yang di unggah.
'Wah ... cantik sekali'
'Mau dong tukeran muka sama Mbaknya'
'Mukanya baby face banget'
'Body nya idaman banget, MbakðŸ˜'
Semacam itulah deretan komentar yang didapatkannya, memang hal yang biasa ia dapatkan usai mengunggah fotonya di sosial medianya, membuatnya tak terkejut lagi.
Tiba-tiba asisten rumah tangganya pun datang dengan membawa minuman dingin dan juga beberapa camilan di letakkannya di atas nampan, wanita itupun langsung menyajikannya di atas meja. "Ini, Non."
Dilla pun tersenyum. "Makasih, Mbak." Ia meletakkan ponselnya begitu saja dan langsung meraih minuman dingin tersebut sebelum kemudian langsung menenggaknya secara terus menerus hingga hanya bersisa setengahnya saja.
"Ahhh ...." Dilla kembali meletakkan sisa minumannya kembali ke atas meja.
Seperti inilah kegiatannya saat sedang tak bekerja, menikmati hidupnya seorang diri saat sang suami masih harus berkutat dengan pekerjaannya sendiri.
Memang sedikit susah mencari waktu longgar untuk suami-istri yang masih setia mempertahankan jenjang karirnya masing-masing.
Mungkin inilah yang membuat banyak wanita harus menggugurkan impiannya pada karir yang telah lama di tekuninya saat sudah berumah tangga. Dengan begini para wanita akan lebih fokus dengan kehidupan keluarga seperti mengurus rumah tangga dan mengurus anak.
Tak ada yang salah dengan keputusan tersebut, lagi pula semua orang memang memiliki pilihannya masing-masing, termasuk dalam hal ini.
Tapi menurutnya, alangkah baiknya jika wanita tidak benar-benar bergantung pada suami dalam segala aspek kehidupan. Paling tidak ibu rumah tangga harus memiliki pegangan untuk hidupnya sendiri.
Tentu saja Dilla menyimpulkan hal ini atas berbagai macam alasan. Seperti karena tak ada jaminan rumah tangga yang dijalaninya akan bertahan selamanya, rumah tangga seperti misteri box, yang artinya tak ada satu orang pun yang tau bagaimana isi di dalamnya.
Namun, sudah pasti ada dua kemungkinan besar kejutan yang didapat dalam ikatan pernikahan tersebut. Pertama, pernikahan yang utuh hingga sampai usia tua, atau justru yang kedua, yaitu pernikahan yang bisa dibilang gagal dan mengharuskan harus berpisah. Entah itu perpisahan karena orang ke tiga atau karena hal lain.
Apapun itu, setidaknya bentengilah diri sendiri dengan perbelakan yang cukup. Ratukan diri sendiri, dan jangan menunggu di ratukan oleh orang lain.
Brumm ... brumm
Terdengar suara deru mobil di luar sana, seketika saja bibir Dilla langsung melengkung membentuk senyuman. Sudah dapat di pastikan itu adalah mobil milik suaminya, karena ia sendiri sudah hafal dengan betul bagaimana suaranya.
"Sayang." Bagas sendiri juga semakin mempercepat langkah kakinya, tak lupa juga ia ikut merentangkan tangannya.
Bukkk ....
Bagas membawa Dilla ke dalam pelukannya, sudah seharian ini ia merindukan bau tubuh sang istri yang menenangkan untuknya.
Tak mau kalah dengan sang Suami, Dilla juga memepererat pelukannya. "Kenapa pulang telat?" tanyanya tanpa ada niatan untuk melepaskan pelukannya.
"Maaf, ya ... tadi ada kerjaan tambahan, jadi ya harus aku kerjain," balas Bagas sembari mengecup puncak kepala sang istri, sebelum kemudian ia menarik diri dan membuat pelukan keduanya berakhir.
"Ya, udah. Ayuk, masuk." Dilla langsung menarik tangan suami, setelah ia mengambil alih tas kerja suaminya untuk kemudian di bawanya.
Ceklek ....
Dilla melepaskan tangannya saat sudah sampai di kamar, ia langsung melangkahkan kakinya menuju meja kecil yang menjadi tempatnya menyimpan tas sang suami.
Sementara Bagas sendiri langsung berjalan menuju sofa dan lekas melepaskan sepatu yang sudah seharian ini di kenakannya.
"Ahhhh ...." Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sembari menarik dasinya yang sudah seharian ini mengikat di lehernya. "cape banget,"
"Mau aku pijitin nggak?" tawar Dilla yang kemudian langsung berjalan ke arah suaminya.
Bagas pun tersenyum mendengar tawaran dari sang istri, tak lupa dengan kepalanya yang lekas mengangguk samar. "Boleh."
Inilah saatnya bagi Dilla beralih mode menjadi istri yang baik untuk sang suami. Meskipun sebenarnya ia sendiri tak pandai dalam melakukan hal ini, setidaknya ada niatan baik yang ia lakukan untuk sang suami.
Jari-jarinya bergerak di pundak sang suami, entah bagaimana rasa pijitannya itu hingga membuat Bagas memejamkan kedua matanya, entah karena menikmati pijitan yang diberikan sang istri atau justru menahan rasa sakit atas pijitan yang tak karuan ini.
Lima menit pun berlalu, Bagas menarik pelan tangan sang istri, hingga membuat pijitan itupun terhenti. "Sudah. makasih, ya."
Dilla pun tersenyum mendengarnya, ia menarik ke dua tangannya dan memutar langkahnya menuju kamar mandi. "Aku siapin air hangat buat mandi, ya?"
"Iya,"
Bagas pun memperhatikan tubuh istrinya yang kian menjauh darinya tersebut, sebelum kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia pun langsung melepaskan dasi yang tadi sudah ia longgarkan, tak lupa juga dengan ikat pinggang yang sudah terasa menyesakkan tersebut.
Sementara di dalam kamar mandi, Dilla mengisi bath up dengan air hangat, tak lupa juga dengan tetesan aromatheraphy yang menenangkan tersebut.
Setelah memastikan air terisi hampir penuh, ia pun lekas keluar dari kamar mandi, belum sampai keluar langkah kakinya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin. Ia pun langsung melangkahkan kaki semakin mendekat ke arah cermin tersebut dan lekas mencondongkan tubuhnya.
"Kulitku kok kering banget, ya?" gumamnya.
Beberapa saat kemudian Dilla pun keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun ia tak menemukan sosok suaminya di dalam kamar.
Samar-samar ia mendengarkan suara seseorang yang tengah bertelefon, Dilla langsung menajamkan pendebgarannya mengikuti arah sumber suara yang akhirnya membawanya ke balkon kamarnya.
"Iya aku janji, kamu sabar dong," ucap Bagas pada seseorang di seberang sana.
Dilla mengerutkan keningnya mendengar suaminya yang tampak berusaha menekan suaranya agar tak semakin terdengar. "Mas?"