Changing Fate

Changing Fate
Bab: 19 Derita Dari Kehidupan



Rizal berjalan keluar dengan Ragu-ragu sambil sesekali melihat kebelakang ke arah Rio


Pelayan perempuan tersebut masih dalam keadaan bersujud sambil menangis dan mulutnya tidak henti mengucapkan Minta maaf


Lalu Rio mendekat kearah pelayan itu dan menghela nafas panjang mengatakan bahwa karma itu selalu berjalan.


Jika kita melakukan hal baik maka akan mendapatkan hal baik pula, jika melakukan hal jahat maka hal jahat yang akan kita dapatkan.


"Hufft...Karma Selalu berjalan, Apa yang kamu buat kamu pasti akan menerima karmanya, baik itu karma buruk maupun karma baik, seperti pepatah kuno mengatakan


Apa yang kamu Tanam, Maka Itulah yang akan kamu tuai, semoga kejadian ini menjadi peringatan dan pelajaran kepadamu agar kamu tidak sombong lagi, kamu dengar kan!"


Lalu pelayan itu mengangguk dan segera menatap kearah Rio.


"Tuan Rio, Saya mengerti, saya sudah bersalah, ini adalah karma karena kesombongan saya, saya mohon maaf karena telah menghina tuan Rio sebelumnya, saya buta tidak dapat membedakan langit dan jurang, saya mohon maaf tuan Rio".


Rio mengarahkan tangannya dan mengangkat tubuh pelayan tersebut dan mengajaknya berdiri dan meberikan beberapa nasehat.


"Tapi pertemuan kita ini pasti adalah sebuah takdir, semua yang terjadi juga pasti sudah memiliki jalannya sendiri, karma juga termasuk kedalam bagian dari Takdir,


Sekarang kamu sudah di pecat dan tidak punya pekerjaan kan, lalu kamu bilang kamu punya 2 orang adik, sekarang kamu keluar dulu, kamu tunggu aku, kamu bersama rizal aja dulu, aku masih ada urusan,


Nanti aku temui kamu lagi, ingat kamu harus menunnguku di luar jika kamu berani pergi dan tidak menungguku kamu bakalan menyesal seumur hidupmu, paham kamu"(Suara keras)


Pelayan perempuan itu Hanya diam menangguk dan gemetar mendengar suara Rio yang keras


"Ba...Baik...Tu..Tuan Rio, Saya Akan segera pergi keluar dan menunggu tuan Rio diluar bersama tuan Rizal, Kalu begitu saya pamit dulu, tuan Rizal"


Pelayan perempuan itu kemudian dengan keadaan lemah berjalan menjauhi Rizal menuju pintu keluar Tokoh, perempuan itu masih menangis terseduh seduh.


Tiba-tiba Rio mengehentikan pelayan itu


"Tunggu, kenapa kamu masiih menangis"


"M...aaf..Tuan Rio, Hiks..Hiks...Saya Mohon maaf"


"Hufft...Sudahlah Ambil Ini, Lap Air matamu dengan Ini"


Rio merogoh kantongnya dan mengambil sapu tangannya dan memberikannya kepada Pelayan itu.


Pelayan itu ragu-ragu dan enggan mengambil sapu tangan itu, namun karna Rio memaksa pelayan itu mengambil sapu tangannya dan menunduk mengucap terima kasi kepada Rio, kemudian bergegas pergi keluar.


Lalu Rio merasa bahwa saatnya dia memilih Hadiah terbaik untuk ibunya.


Rio berjalan-jalan mencoba memilih hadiah yang paling bagus


"Hm....Hadiah ini cukup bagus, namun ini terlalu mencolok, kalau yang ini.....Hmm...Bagus sih, tapi terlalu besar dan tidak bisa dibuat jadi kejutan,


Hm....Oh....Yang ini bagus, ibu pasti akan menyukainya, aku harus membungkusnya dengan secantik mungkin, hehehh"


Rio mengambil Benda yang ingin dijadikan hadiah untuk ibunya dan membayarnya di kasir dan sekalian menyuruh kasir membungkusnya.


"EH...Kakak, saya mau yang ini... Tolong Bungkus secantik Mungkin yh, ini Hadiah Special buat orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai"


"Eh...Yang Ini yah, Baik Tuan Muda Rio, Kami Akan segera Membungkusnya"


Rio berjalan kembali ke ruang tunggu dan menunggu Beberapa Menit.


Beberapa menit kemudian Setelah Rio menunggu, Pemilik Tokoh berjalan kearah Rio dengan Membawa sebungkus kotak Hadiah yang telah dihias Secantik Mungkin,


Pemilik tokoh menyerahkan kotak tersebut kepada Rio


"wOW...Hiasanya cantik sekali, Teroma kasih tuan pemilik"


"HEHHHE...Tuan Rio biasa saja,Itu sudah menjadi tugas saya, dan saya harap Tuan Rio datang lagi ke seini yah saya akan menyambut anda"


"Hm..Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu yah"


Rio kemudian Menyimpan Hadiah itu kedalam Tasnya Dan berjalan keluar.


Rio melihat Rizal dan pelayan itu sedang duduk Diluar menunggu Rio, Pelayan itu masih menunduk dan Gemetar.


Rio berjalan menghapiri mereka dan mengajak mereka keluar untuk makan siang.


"Eh....Sudah Jam segini Rupanya, Aku sudah lapar, bagaimana kalau kita makan dulu saya, Gimana?'"


Awalnya Rizal Ragu-ragu dengan ajakan Rio namun Karna Rio memaksa akhirnya Rizal setuju.


Kemudian mereka berangkat menuju Rumah makan, ketika mereka hendak berangkat Rio melihat bahwa pelayan itu masih duduk dan melihat kearah mereka.


Wajah dan mata pelayan itu memerah, karena lelah menangis, Rio kemudian mengajak perempuan itu makan bersama mereka, namun dia menolak


"Hei...Kenapa kamu diam saja, ayo ikut kami makan bersma, apa kamu tidak lapar, ayo bururan kami sudah lapar nih"(ucap Rio)


"A...ku..Ti..Tidak Lapar kok, aku masih kenyang"


Kruyuuuk....Kruyuuk....(Perut perempuan itu berbunyi)


Seketika Rio langsung Tertawa


"Hahhaaa, kenyang dari mana.udah ayo..kita pergi makan bersama, tenang saja aku yang bayarin kok"


"Ta..tapi...baju saya basah semua, dan saya bau keringat, nanti tuan Rio tidak selera makannya"


Rio membuka tasnya dan mengambil baju dari dalam Tasnya.


"Pakai Saja ini, Ini adalah baju ganti yang selalu aku bawa jika terjadi hal yang tidak diinginkan, Tenang saya itu masih bersih dan belum aku pakai kok, dan yah...ukuranya lumayan kecil tapi ini masih muat kok dipakai kamu"


Awalnya perempuan itu ragu-ragu karena baju milik Rio adalah baju Mahal namun karena paksaan dari Rio, Akhirnya dia mengambil baju Rio dan segera bergegas ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Rio dan Rizal menunggu perempuan itu mengganti baju sambil saling mengobrol.


"Rio, Kenapa kamu mau membantu aku dan Pelayan yang menghinamu, padahal kamu ini anak orang kaya loh, setau aku anak Orang kaya tidak mau Dihina oleh Orang Miskin?"


Rio tertawa mendengar pernyataan Rizal


"Kamu benar Rizal, Rata-rata Anak orang kaya pasti sombong dan angkuh karena orang Tua mereka memanjakan mereka,


Namun orang tuaku selalu menekankan kepadaku agar selalu berbaur dengan orang miskin dan selalu membantu yang lemah, ibuku sering menasehatiku untu selalu rendah hati,


Dan semua omongan Ibu sangat aku patuhi karna mereka adalah orang yang paling aku cintai Didunia ini"


Rizal Tersenyum namun diwajahnya tersirat kesedihan mendengar perkataan Rio, Rio penasaran dengan ekspresi Rizal Lalu menayakan kenapa Rizal Tampak sedih


Rizal menatap kearah Rio yang menatapnya dengan tatapan Tulus, dengan Berat hati Rizal menceritakan kisah hidupnya kepada Rio.


'"Aku adalah Anak dari pasangan Miskin yang hidup di daerah kumuh, beberapa tahun Lalu ketika aku masih SMP, Ayahku ketahuan selingkuh kemudian dia meninggalkan Aku Ibuku dan juga adikku, Ibuku sangat terpukul atas kejadian....


>>>>>>> Bersambung<<<<<<<


Yah....Sudah Habis ceritanya, Gimana seru tidak, kalau seru like yah, dan jangan lupa berlangganan oke.