
Sesampainya di kantor, aku melangkahkan kaki menuju ruanganku dengan perut keroncongan karena jam makan siang yang terlewat.
Kubuka pintu dan melangkahkan kaki masuk. Ah... syukurlah... jimin belum kembali.
beberapa menit setelah aku duduk mengerjakan tugasku, terdengar pintu terbuka pertanda ada seseorang masuk.Sementara aku enggan untuk sekedar menolehkan kepala ku untuk melihat. siapa lagi yang berani masuk begitu saja keruangan ini selain aku dan jimin. Pikirku...
Wangi buah masuk ke dalam indra penciumanku.siapa lagi pemiliknya kalau bukan jimin. Dapat ku lihat dari ekor mataku, kalau ia saat ini tengah duduk di kursi kebesarannya yang di hadapkan menyamping ke arahku.
sekitar 10 menit, Aku pun mulai merasa gugup. karena jimin yang belum juga memutarkan kursinya. Apa yang sedang ia pikirkan? apa dia masih saja menatapku?
Karena penasaran, akupun menolehkan kepala guna melihatnya. Astagaa.... dia tertidur.
Bagaimana bisa dia tertidur di posisi seperti itu.Dia terlihat sangat kelelahan.Bagaimana ini? apa aku harus membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke sofa?
setelah berkutat dengan pikiranku, aku memberanikan diri mendekatinya dan berjongkok di depannya. Kalau di lihat seperti ini, dia terlihat 2 kali lebih tampan dari biasanya.
" Tuan... tuan jimin. " ucapku pelan sembari menggoyang goyangkan tangannya.
ia melenguh pelan kemudian membuka matanya.
" m-maaf tuan saya tidak berniat mengganggu tidur tuan. Tapi kalau di biarkan tidur dengan posisi seperti ini, leher tuan bisa sakit"
Entah apa arti tatapan mata jimin saat ini. Tapi tatapan nya tidak menunjukkan kalau saat ini ia sedang marah. Aku berdiri dan hendak kembali ke sofa, namun langkahku terhenti ketika sebelah tanganku di cekal.
" Ada apa tuan? "
" Maaf. "
" untuk? " tanyaku.
" Maaf karena aku selalu mengganggumu "
Entah harus bagaimana aku menanggapinya, aku hanya menjawab nya dengan senyuman manisku lalu menarik pelan tanganku dan kembali duduk di sofa.
Entah aku pun bingung dengan perasaanku saat ini. Bukankah seharusnya aku marah?
" Bagaimana? apa kau mau memaafkan ku? "
aku terlonjak kaget saat mendapati jimin sudah berada duduk tepat di samping ku.
Dia benar benar manis kalau seperti ini. ku tatap tepat di manik matanya. Bagaimana bisa ia memiliki mata seindah itu?.
Sekitar 5 detik saling tatap, aku mengalihkan tatapanku ke arah lain.
" Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau ku traktir makan malam? " tanyanya.
" Baiklah" ucapku begitu saja karena enggan berdebat.
...----------------...
Saat ini aku sedang berdiri di depan cermin besar di kamarku. Memandangi penampilanku sesekali memiringkan badanku ke kiri dan ke kanan. Perasaan gugup sudah pasti karena Ini kali pertama aku pergi bersama lelaki dan tepatnya adalah bosku sendiri.
" Non, tuan jimin sudah menunggu di luar. "
ucap bi amma di balik pintu yang terbuka sedikit.
Aku mengangguk kemudian mengambil tas kecil yang hanya berisi ponsel di meja riasku sebelum berjalan keluar.
kulihat jimin saat ini duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel di tangannya.
" Kau sudah siap? " tanyanya saat aku sudah berada di dekatnya.
" sudah "
...****************...
" Kau sudah punya kekasih? " tanya jimin di sela sela makannya.
Kini kami sudah berada di sebuah restauran mewah sekitar 20 menit yang lalu.
"Belum"
ia tak menanggapi apapun setelah nya. Hening menerpa sekitar 10 menit. Sebelum seorang perempuan cantik datang menghampiri meja kami.
Malu.
hanya itu yang kurasakan saat ini. Tapi, perempuan saat ini bukan perempuan yang waktu itu keluar dari ruangan jimin. Apa yang ini pacarnya? pasalnya kalau di lihat, jimin nampak tak keberatan sama sekali.
" Bela" ucapnya tersenyum dan menyodorkan tangan ke arahku.
" Nicole" balas ku.
kemudian ia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda kepada jimin sebelum berjalan menjauh dari meja yang kami tempati.
" Saya ijin ke toilet dulu tuan" ucapku berdiri melangkahkan kaki tanpa menunggu jawaban dari jimin dan mencari dimana letak kamar kecil tersebut yang ternyata, terletak di ujung ruangan.
Setelah membuang air kecil, Aku berjalan menuju wastafel yang masih berada satu ruangan. Ku pandangi wajahku dan ku perbaiki rambutku yang terlihat sedikit berantakan.
Sekitar 5 menit aku melangkahkan kaki keluar dan tanpa sengaja bahuku sedikit menyenggol seorang pria yang hendak masuk.
" M-maaf saya tidak sengaja" ku dongakkan kepalaku guna melihat wajah pria yang baru saja ku tabrak lantaran tinggi badan ku dan badannya berbeda jauh.
" Nicole" ucapnya dengan alis terangkat.
" Seokjin Sunbaenim "
" Waaah, lama sekali ya kita tak bertemu. " ucapnya.
" Mungkin sekitar 4 tahun yang lalu" timpalku tersenyum manis.
Kim Seokjin. Lelaki tampan yang pernah menjadi kakak kelasku saat SMA dulu. Tampan, pintar, dan mempunyai tingkat percaya diri yang sangat tinggi.
" omong omong kau sendiri? " tanyanya.
" Aku bersama bosku. Sunbaenim sendiri? "
" Oh tidak juga. aku kesini untuk bertemu dengan kolega bisnisku. "
Aku hanya mengangguk anggukkan kepalaku.
" Kalau ada waktu luang, boleh aku mengajakmu makan malam? "
" Boleh"
" kalau begitu, berikan nomormu"
Ku sebutkan nomor ponsel ku sementara Seokjin mulai mengektiknya di layar ponselnya.
" Baiklah sunbae, aku kembali dulu. sampai jumpa " ku langkahkan kakiku pergi setelah Seokjin menjawab dengan anggukkan kepala dan senyum manisnya.
Ketika langkahku mendekati meja dimana aku dan jimin berada, ternyata ia tak ada disana.
ku edarkan pandanganku ke sekitar.
Namun tetap saja aku tak menemukan sosok yang saat ini ku cari.Kalau memang ia pergi ke toilet, bukankah seharusnya kita berpapasan?
Ku rogoh tas kecil ku dan mencari nomor yang bertuliskan park jimin.
Tuuutt... Tuuutt..
Tak ada jawaban.
Ku dudukan diriku di kursi. Yang ada di fikiranku saat ini adalah. apakah karena tadi aku meninggalkannya ke toilet terlalu lama sehingga membuatnya kesal? .